
Sesampainya di rumah, aku benar-benar blank. Bagaimana caranya pacarin Nana? Aah aku pusing!
Tapi, aku harus bergerak. Bagaimana pun caranya!
***
Hari ini, seperti biasa Nana tidak pergi ke kantin. Dia menitip untuk dibelikan makanan dan minuman dingin. Di hari yang sangat panas ini, pasti Nana memang tak ingin keluar.
Dari tempat dudukku, aku terus memperhatikan Nana. Dia sedang berdiri di depan jendela. Setelah kuamati, tempat itu memang sering digunakan Nana untuk menunggu teman-temannya.
Angin yang menembus pinggiran jendela, membuag Nana sesekali menyipitkan matanya. Dia tersenyum sembari melihat sesuatu. Ingin rasanya segera berlari menuju Nana. Punggung dan pinggang kecilnya sangat imut.
Aku membuat isyarat pada teman-teman agar tenang. Aku ingin mengejutkan Nana yang serius memandangi luar jendela. Ini akan menjadi usaha pertama dan batu loncatan menuju kedekatan dengan Nana.
Tiba-tiba, Ani kembali ke kelas. Aku terhenti, sambil membuka buku yang ada di meja. Entah buku siapa ini?
"Mana?" tagihnya tampak tak sabaran. Padahal Ani belum ada lima menit meninggalkan kelas.
"Cuma mau ambil dompet, sabar ya, Bu!" ucap Ani tertawa dan mengelus kepala Ima yang sedang menunduk di meja, lalu lekas berlalu.
Dia pun ikut tertawa gembira dan lekas membalikkan badan sambil membelakangi meja. Kaki kirinya diketuk-ketuk ke lantai. Ia pun mengembalikan pandangan pada hal yang sedari tadi dinikmati dari balik jendela.
Sesekali dia coba bercakap dengan Ima yang menunduk di meja. Aku akan menutup matanya!
“Nanti minta Ani yang nyatet bukumu ya Ima, biar—”
Nana terhenti berucap. Aku kini menutup matanya dengan tangan. Dengan cepat, aku sudah berdiri di belakangnya. Dia tampak terkesiap. Pada saat bersamaan teman di belakang sana bersiul ramai. Aku menoleh dan meminta mereka untuk diam.
Ima di sebelahku mengangkat kepalanya, lalu menggeleng dan melanjutkan hobi menunduknya itu.
"Ani?" panggilnya sembari menggenggam tanganku. Sepertinya Nana sedang menerka siapa aku. Aku mendadak gugup, karena tangan kecil nan lembut itu sedang mengusap tanganku. Aku bahkan kesulitan bernapas.
Nana perlahan melepaskan tanganku dari matanya, aku pun menurut dan memandangi kepala Nana. Ia mencoba merapihkan kerudung instan. Aku pun memindahkan tangan ini ke bahunya. Sepertinya Nana masih belum sadar.
"Nirmala?" ucapnya berbalik ke arah kiri dengan senyuman yang sangat manis."Astaga!" serunya kaget tersandar ke jendela, saat melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya. Aku hanya bisa tertawa.
“Hai!” ucapku tersenyum. Memandangi setiap inchi wajah Nana.
Nana terdiam. Dia tampak sangat kaget. Aku harus membuatnya suka padaku. Harus!
"Lagi apa?" tanyaku semakin mendekatkan wajah ke arah wajahnya. Aku memegangi pundaknya. Lembut.
"Minggir!" dorongnya tiba-tiba menyentuh dadaku.
Deg!
"Eh, tunggu dulu!" ucapku cekatan memegang tangan kecil itu. Apa yang barusan kamu lakukan, Na? Batinku kacau.
Nana membanting tangan ini dan tampak melirik sejenak ke arah teman-temanku. Mereka asyik tertawa disertai siulan-siulan kecil, semakin membuat ruang kecil di hatiku terasa mau pecah.
"Maaf," ucapku tersenyum dan melangkah mundur, melepaskan genggaman tangannya. Aku harus mengatur napas ini. Bukan begini caranya!
"Ssa-sa-saya mau duduk!" ucapnya menunduk melangkah ke kanan, sepertinya tak mau melihat orang yang sudah berani menyentuhnya. Kulihat Ima kembali terbangun dari posisinya, kali ini menatap bingung.
Apa dia marah? Ya, Nana tampak kesal! Aku harus bagaimana?
"Boleh bicara nggak?" tanyaku menghalangi jalannya. Dia menggeleng tanpa melihatku.
"Soal, soal yang waktu itu." Nana mulai bicara. Hah? Tiba-tiba? "Hhm, anggap aja saya nggak lihat! Saya nggak bakal bilang siapa-siapa kok! Tenang aja. Iya," jawabnya lancar dalam satu tarikan napas.
"Bukan itu kok!" lanjutku mencoba tersenyum. Apa dia sedang membahas insiden jaket? Oh, lupakan saja itu!
"Hhh? Lalu? **-terus?" tanya Nana.
Aku tertawa mendengar itu. Aku pun berdiri tepat di sisi meja, menghalanginya untuk duduk. Dia menatapku kesal, Nana mencoba melangkah. Tapi, kucegat lagi.
Sudah berdua begini, bagaimana kalau dilanjutkan saja.
"Kita belum kenalan secara resmi ‘kan?" ucapku malu-malu. Apa ini? Kenapa aku jadi malu-malu begini?
"Hah? Oh iya, saya tahu kamu kok! Riski sudah jelaskan semua tentang kamu!" ungkapnya tiba-tiba percaya diri, dengan nada sedikit kesal.
"Riski?" tanyaku sembari bersandar ke meja, “Dia bilang apa aja ke kamu?”
"Iya, soal ini dan itu …,” jawabnya bergerak ke sisi kanan, masih mencoba menghindariku.
“Mau ke mana sih?” tanyaku memegang tangannya. Tangan Nana terasa dingin. Ini suhu tangan, orang yang sedang gugup. Aku bisa tahu, Nana gugup ada di dekatku.
"Tolong, saya mau duduk ya?" Nana meminta dengan lembut, menepis lenganku perlahan. Aku meleleh dong.
"Oh ya, lain kali jangan seperti itu ya, bukan muhrim! Kamu kan pasti tahu itu."
"Oh itu ... iya, maaf ya ...," kataku menyesal.
"Iya!" jawabnya jutek. Gila! Lagi jutek aja manis banget nih orang.
Aku pun perlahan pergi, berjalan mundur sembari tersenyum ke arah Nana. Bahkan saat sudah sampai di tempat duduk, aku masih saja melirik ke arahnya. Nana seperti medan magnet, di mana bubuk besi sepertiku ingin sekali menempel di dekatnya.
"Caraku keren kan? Tepati janji kamu!" ucapku pada Yani yang sibuk siul-siulan dengan anak lainnya. Mereka sedang menggoda Nana atau menggodaku? Kenapa aku yang kepanasan?
Untuk sesaat mataku dan Nana bertemu. Ia segera berpaling, sehingga membuat jantung ini, rasanya aneh.
***
Setelah kejadian itu aku menjadi semakin bersemangat mendekati Nana. Entah, aku yang sengaja duduk atau berdiri di dekatnya. Atau apa pun itu, yang terpenting Nana bisa melihatku.
***
Beberapa hari berlalu.
Sore ini, aku menemukan titik kejenuhan tertinggi. Sudah tiga hari Nana tidak masuk sekolah. Aku bosan setengah mati. Apa aku rindu?
Kuletakkan stik PS itu dan berjalan ke luar rumah. Dari sini, aku melihat Riski sedang sibuk mencuci motornya.
"Woy!" panggilku. Riski mengangguk, sambil menunjuk earphone yang ada di telinganya.
Sedang teleponan sama siapa dia?
Aku pun berjalan ke arah pagar rumahnya. Kembali menyapa Riski.
"Teleponan sama siapa?" tanyaku penasaran.
"Sama Ima--"
"Ooh ...."
"Dan Nana."
Deg!
Mereka sedang teleponan bertiga? Apa Riski dan Nana sudah sedekat itu?
Aku berjongkok, sambil menyirami motor Riski dengan air dari selang. Menunggunya selesai teleponan.
Lima menit berlalu. Riski pun mematikan teleponnya.
"Kamu kok teleponan sama mereka?"
"Aku juga baru gabung kok! Di teleponin si Ani." Riski mengambil kain lap dan meletakkan ponselnya di bangku dekat pot gantung.
"Jadi, sering gabung sama mereka ya sekarang?"
"Iya nih, Nana asyik banget ternyata!"
"Sebulan lebih, langsung akrab ya!" imbuhku kesal.
"Kan udah kenal dia waktu SMP. Kalau nggak sakit-sakitan, pasti dia enak banget diajak gabung geng Yani."
"Apa?"
"Hmm, aku sih setuju-setuju aja kalau Yani ngajak Nana gabung sama kita. Tapi, kalau Nananya nggak mau. Ya, aku aja yang gabung sama dia!" Riski tampak semangat membersihkan sisa air di motornya.
"Ooh, terus Nana sakit apa? Tiga hari ini nggak masuk?"
"Katanya sih cuma sesak napas. Besok, masuk kok!"
"Syukurlah! Oh iya, pinjam kaset The Walking Dead, dong!"
"Ambil aja, Boy! Di kamar!"
"Thanks, Bro!"
Sakit hati, nggak? Nana malah dekat banget sama Riski! Aku bergumam kesal ketika, masuk ke kamar Riski. Rasanya ingin aku hancurin kamar si rambut mangkok. Si*lan!
***
Bersambung