YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 23: Rahasiaku (1)



Usianya beberapa tahun lebih muda dari bibiku, dan setahun lebih tua dari kakakku. Wanita berhijab itu duduk manis di bangku taman. Aku menghampiri dan bicara kepadanya. Ada raut wajah penyesalan yang coba ditunjukkannya.


“Kak Lisa minta maaf, nggak seharusnya kak Lisa bilang seperti itu. Sekarang kamu pasti kesulitan menyembunyikan semuanya.” Dia menatap penuh harap. Aku tersenyum ringan dan membiarkannya bermandikan kata-kata. “Maafkan kak Lisa, Na ….”


“Terima kasih, aku sekarang nggak apa-apa kok. Menyimpan sedikit rahasia tidak terlalu buruk. Makasih ya … Kak!” ucapku memegang tangannya yang terasa dingin.


“Apa teman-temanmu sudah tahu soal asrama dan kebohongan kak Lisa?” Dia masih ragu memalingkan pandangannya dari mataku. “Kak Lisa dengar ada kubu di kelas kamu, dan kemarin kamu dipaksa pindah ke kelas B? Maaf kak Lisa nggak bisa bantu soal itu!” lanjutnya.


“Kubu? Geng? Itu bukan masalah Nana kok. Lagian udah nggak ada uga kok, cuma waktu kelas sepuluh aja dan tentang kejadian itu, Nana anggap memang kesalahan teknis.”


“Kalau mereka tahu soal pembully-an di sekolahmu dulu, mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Makanya, kak Lisa sebisa mungkin membujuk anak kelas sebelas dan duabelas untuk bilang kenal denganmu, beruntung teman-teman yang kenal kamu juga ikut menyebarkan rumor itu.”


“Tapi, pasti ketahuan kok! Cepat atau lambat. Seperti Sinnta … pada akhirnya mereka akan bertanya-tanya siapa dia? Kenapa dia pindah di saat-saat terakhir dan sebagainya. Itu nantinya akan terjadi pada Nana juga kok.”


Bu Lisa, ah tidak! Kak Lisa terlihat benar-benar menyesal. Dia pasti tidak berniat jahat. Tapi, aku benar-benar berterimakasih kepada kakak sepupuku ini.


Jika dia tidak berbohong, mungkin aku akan berakhir sama seperti yang terjadi di asrama dulu. Sebuah kejadian yang sama pasti akan terulang kembali. Meskipun aku dirundung rasa takut, karena bisa saja kebohongan itu terungkap dan tentu saja hal yang lebih buruk akan terjadi.


Setidaknya aku pernah memiliki banyak teman yang akan mendukung, meskipun tidak seyakin itu. Apapun konsekuensinya akan kutanggung jika memang benar fakta ini terungkap. Semoga Allah melindungiku.


***


Aku mulai merasa bahwa semua hal yang terjadi belakangan ini adalah dikarenakan oleh ulah dan salahku sendiri. Bukankah perempuan dan laki-laki telah dibatasi pergaulannya oleh Islam?


Bukankah seharusnya aku lebih teliti lagi dalam memahami arti pertemanan lintas genre? Tak memberi harapan yang dianggap sebuah madu bagi laki-laki. Tak terlalu dekat tapi tak dianggap sebagai kesombongan oleh mereka.


Tapi, semuanya kulakukan dengan pasrah.


Berteman baik, tapi tak dianggap lebih dari sekadar teman. Saat kaum perempuan terlalu jauh mengenal orang, pasti akan tumbuh rasa cemburu dan hati yang tak keruan terlebih dia seorang laki-laki. Menjaga hati benar-benar menyusahkan.


***


Mereka menatap kami aneh. Sebuah rumor kembali merebak. Pertemuanku dengan Indra dan Riski berakhir gosip. Entah apa yang mereka pikirkan tentang pertemuan dua hari lalu itu, terkadang aku berpikir bahwa sekolah ini mulai tampak mengganggu.


Tampak jelas tatapan tak asing, tatapan di mana aku dikucilkan. Tatapan yang sama, sebelum datang ke tempat ini.


"Kita ke kantin yuuk!" seru Ani mengajakku yang diam dalam lamunan. "Nana, nggak perlu dipikirkan! Mereka kan nggak tahu kamu ketemu mereka kemarin karena apa dan untuk apaan?" lanjutnya.


"Iya, ayo ke kantin," ujarku lemas menggandeng mereka berdua.


"Semangat dong ...." Ani dan Sinnta terus mendukungku, tak pernah lelah menjadi penyemangat.


***


Sebuah surat tergeletak manja di mejaku, surat itu diletakkan di bawah sebuah kotak kecil. Ragu, aku hanya menyentuhnya. Kumantapkan hati dan membuka surat itu.


♪♪♪


Untukmu gadis berhijabku.


Assalamualaikum.


Aku pertama kali melihatmu, saat masih duduk di bangku Smp. Aku seorang adik kelas yang mengagumi kelembutan dan keceriaanmu, kepolosan yang tersembunyi di balik jilbabmu.


Apa kau sadar, saat itu kita masih anak-anak yang baru memasuki remaja, tapi kau berbeda. Kau tahu Nana? Saat kusadari usia kita seumuran, apa yang muncul dalam benakku? Ya, aku pasti bisa mendapatkanmu. Sayangnya aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bicara denganmu.


Hari itu saat kau datang di kelas. Menjadi teman sekelasku, kau tahu berapa banyak aku bersyukur? Aku tak pernah berhenti bersyukur bahkan sampai hari ini. Itu hal indah yang kutunggu. Terlebih saat kau menjadi sahabat dan pura-pura jadi pacar. Aku bangga, sangat senang.


Maaf, jika saja aku tidak menerima tawaran pura-pura itu. Mungkin kau dan Indra, sudah menjadi pasangan baru. Kau pasti sudah melanggar janjimu untuk tetap terus menjomlo sampai waktunya tiba. Karena Indra adalah orang yang sulit ditolak perempuan.


Maaf, hanya itu yang bisa orang ini ucapkan. Akan kubaca buku yang kau berikan, mungkin lama baru bisa diselesaikan. Akan kulakukan setiap petunjuk dalam masing-masing bab. Terima kasih untuk senyum indahmu.


 


♪♪♪


 


"Riski ...."


 


Air mataku menetes begitu saja, melewati sudut mata. Aku bisa merasakan ketulusan Riski dalam setiap kalimat yang diukirnya.


Kuambil kotak kecil di hadapan, selembar sapu tangan beserta kertas kecil ada di dalamnya. Tapi, aku merasa jengkel dengan ucapannya yang berkata aku bisa saja melanggar janji demi Indra. Aduh, memangnya Indra siapa?


"Gunakanlah jika kau menangis."


Kuambil sapu tangan itu usai membaca sobekan kertas bertuliskan empat kata, dan menggenggamnya erat. Membiarkan air mata ini berenang bebas.


"Temanku, sahabat yang ada untukku. Kau orang yang berarti lebih dari apapun," gumamku. Aku pun hendak keluar kelas untuk mencarinya.


"Mau ke mana?" tahan Ani dan Sinnta, aku menoleh dan hanya menggeleng ragu.


"Kenapa menangis? Sebentar lagi guru masuk nih."


"Riski ... Riski jahat."


"Duduk dulu ayo ...." Ani mencoba memenangkan hati yang sedang kebingungan ini.


Entah rasa apa yang sedang berkecamuk di batin dan pikiranku, semoga semua ini hanya mimpi. Aku ingin terbangun di hari pertama datang ke tempat ini, lebih baik kumulai dari awal saja.


***


Dua bulan, sudah berlalu begitu saja.


Aku pun jarang bertemu dengan mereka berdua, kami hanya bertemu di kantin atau di luar kelas, hanya berpapasan tanpa ada sapaan apa-apa.


Canggung, itu yang terjadi. Perlahan-lahan kisah kami memudar, tak ada lagi gosip Cinta segitiga di sekolah ini. Bahkan Yani tidak terlalu sering menggangguku lagi, karena dia sudah menggunakan Icha sebagai sarana untuk menggangguku.


Bagaimana cara Icha melakukannya? Dia terus melibasku dengan nilai ujiannya yang semakin membaik. Meskipun aku tak begitu paham mengapa Yani terus menindasku, aku rasa ini lebih baik.


***


Dia menemuiku, aku sangat senang saat Indra datang ke kelas. Dia membawa sebuket kecil bunga berwarna merah. Aku yang berdiri jauh dari pintu masuk hanya bisa tersipu malu melihatnya.


Sial, Icha berdiri tepat di situ. Bunga cantik itu pun kini mendarat di tangannya. Ah, jadi itu bukan untukku. Aku membanting halus kepala di jendela sembari menutup mata. Ah, Nana Rahayu apa yang sedang kau harapkan?


Aku membuka mata kiri dan mengintip keadaan, ada Riski di situ. Dia tersenyum, melihat Indra dan Icha. Ah, bahkan nama mereka terdengar serasi.


Setelah kejadian itu, Bu Lisa mengingatkanku untuk fokus dan lulus dari sekolah ini dengan baik dan tidak terlalu ikut campur dengan masalah antar geng. Dia khawatir rahasiaku bisa terbongkar, dan tentu saja akan memicu amarah warga sekolah.


Selama kelas sebelas ini hari-hariku hanya diisi dengan belajar giat. Banyak teman-teman yang berguguran karena menikah di kelas sebelas. Jadi fokusku, telah mendapat ruangnya tersendiri.


Aku memilih banyak beristirahat, belajar secukupnya walau harus turun peringkat lima. Dan, Ani mengambil posisiku selama tiga semester sebelumnya. Aku rela dia yang menggantikan posisiku, sebagai juara ketiga.


***


Bersambung