YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 12: Jangan Sakit, Ya



Gemerincing gelangnya sangat mengganggu, tawanya mulai menyebalkan. Aku hanya bisa menatap dahi tebal di wajah gadis berkulit gelap ini, dia terus saja mengajak kami bicara. Menceritakan hal-hal indah tentang gengnya. Tak menarik sama sekali, sungguh!


***


Yani masih terus saja mengoceh, setiap dia bicara gelang itu bergerak menciptakan suara yang tak ingin kudengar. Kali ini, dia bukan sedang promosi agar bergabung ke geng, tetapi sedang membanggakan kehebatan geng-nya dalam beberapa aspek.


Setelah Yayuk memenangkan juara 3 Tilawatil Qur'an dan Icha yang mulai produktif menulis di mading. Dia sibuk menyombongkan kebaikan hati Indra. Entah apa gunanya, aku pun tak tertarik sama sekali.


Aku hendak berlalu untuk mengabaikan ocehan Yani. Hingga aku tertegun melihatnya, dia datang dengan gayanya yang santai. Berdiri di depan mejaku, wajahnya masih sedikit pucat. Aku berdiri kegirangan.


"Riski?"


"Assalamualaikum ... ya ahli kubuuur ...,” teriaknya membuat sekelas riuh dan kesal. “Selamat pagi, pemirsah! Ada yang kangen padaku?" ujarnya membawa kembali senyuman kami.


Aku, Ani dan Ima begitu bahagia melihat si rambut mangkok yang tak lagi muncul dengan rambut mangkok. Bahkan Tri dan Ocha, segera berhambur ke tempat kami. Mereka pun senang melihat Riski kembali ke sekolah.


"Woy, potong rambut nih?" Mike menyelanya.


"Oh iya, dong. Biar tambah ganteng, Charlie ST12 mah lewat!"


"Iya, lewat belakang." Yani menyahut dan meninggalkan kami.


"Gimana? Ganteng kan?" tanya Riski melihat ke arahku. Aku mengangguk setuju tanpa dipaksa.


***


Aku duduk bersamanya di lapangan hijau sekolah. Sebelum pulang ke rumah, aku, Ani, Ima, Tri dan Riski duduk-duduk di sini.


Saat mereka pergi membeli jajanan, aku dan Riski memulai pembicaraan empat mata. Kuceritakan pula apa yang Indra katakan waktu itu. Riski pun hanya bisa menyayangkan sikap temannya tersebut.


 


"Dia bukan laki-laki baik, itu yang aku tahu sih. Dia berbahaya, dan aku juga tahu kalau dia itu tidak pantas untukmu, Na! Sangat tahu." Riski seolah menginginkan aku untuk percaya sepenuhnya dan ya, aku memang percaya pada orang ini.


Tapi, tidak pantas untukku? Aku kan sedamg membahas lingkaran pertemanan, mengapa kesannya Riski sedang menolak Indra dekat denganku lebih dari teman?


Ah, sudahlah. Yang penting Riski sehat wal afiat, mungkin otaknya agak mundur sedikit pas di rumah sakit.


"Aku tahu kok, sejak kedatangan pertama kali ke tempat ini. Bukan dia juga kok yang jadi pusat perhatian aku, tapi orang lain!" jawabku menanggapi pernytaan Riski.


"Kak Iwan ya?" tanya Riski mencela. Aku tersenyum mendengar ucapannya itu. "Kalau Kak Iwan, aku cemburu," kelakarnya tersenyum.


"Riski?" sambutku menatapnya dingin.


"Bercanda!" serunya berdiri sambil memukul topi yang kupakai, membuat jilbabku berantakan.


Aku tahu dia bercanda. Riski adalah teman terbaikku. Aku berharap hubungan ini bisa lebih dari sekadar teman. Aku ingin menjadi sahabat yang selalu hadir untuknya.


Meskipun aku sering berkata mereka semua adalah sahabat. Namun, khusus untuk Riski, aku terkadang masih menganggapnya sebagai teman saja. Menjadikannya sebagai sahabat dekat, cukup beresiko.


***


Beberapa hari berlalu. Persiapan mid-semester membuatku sedikit sibuk dan sering begadang.


Hari ini, kami sedang duduk-duduk di depan kelas usai menjalankan piket kebersihan.


Kepalaku tiba-tiba pusing, mata pun berkunang-kunang, sesaat pandangan ini membiru, ada flek di setiap wajah orang yang kutatap. Perlahan aku merasa ada gempa.


Tak tahan, kupegang Ima yang duduk di sebelah. Dia bertanya apa aku baik, dengan sedikit mengernyit aku mengangguk.


Pelan-pelan wajah Ima memudar, bahkan aku tidak tahu siapa yang datang menghampiri Ima. Apakah itu Yaya atau Ocha?


Brrukk!


***


Sesuatu menyentuh bagian tubuhku, perlahan mata ini mulai melihat berkas cahaya. Aku coba mengedipkan mata beberapa kalu, hingga gambar flickr itu perlahan membaik.


"NANA!" Suara itu terdengar lembut, aku menoleh pelan mencari arah suara. Karena merasa takut, napasku mulai memburu cepat dan terasa sesak di dada.


"Ani?" panggilku mencari suara Ani yang terdengar dekat. Akhirnya genggaman tangannya terasa juga di tangan kananku.


"Kamu lagi di ruang kesehatan, di UKS nih. Tadi kamu pingsan! Kamu kenapa? Kok bisa pingsan? Masih sakit kepala atau?" Ani menggeser kursinya. Jelas, raut wajah Ani kini tampak jelas penuh dengan kekhawatiran.


"Maaf."


"Kok minta maaf sih!" Ani menyentuh pundakku.


"Siapa yang bawa aku ke sini, Ni?" Lemah, aku pun bertanya.


"Kita semua yang bawa kamu kok, ada aku, Ima, Yaya, Riski, Indra ...."


"Hah? Ada laki-laki ya?" Aku terkejut.


"Tenang aja, mereka cuma bantu angkat di bagian kaki dan punggung kok. Perempuan ada di bagian yang kamu jaga,” ucapnya mengelus kepala yang terbalut kerudung. Aku tersenyum mendengarnya, mengembus napas lega, lalu Ani merapihkan hijabku yang miring karena berbaring.


"Jangan sakit, ya," ujarnya penuh kasih sayang.


***


Setelah sepuluh menit sadar dari pingsan, aku duduk menghadap cermin. Angin santai yang menyapu wajah dari jendela sisi kiri, membuatku kembali segar.


Pantulan gadis di cermin itu, membuatku marah. Aku marah dan kesal setiap kali melihat wajah itu di cermin. Pemilik wajah itu, terlalu lemah. Aku dulu membencinya, tapi kini mengasihaninya.


Ima dan Yaya masuk ke ruang kesehatan. Aku berhenti menatap wajah pucat di cermin, beralih pada keduanya.


"Sudah mendingan?" tanya Yaya menyentuh kakiku.


"Alhamdulillah ...."


"Lain kali, kalau kamu lagi sakit. Please, jangan memaksakan diri ke sekolah! Apalagi sampai ikutan piket. Begini kan jadinya ...," omel Ima padaku. Dasar, tukang ngomel. Padahal sakitku masih mendingan dibandingkan sakit yang dideritanya.


"Ini cuma kelelehan kok!"


"Yani sih, nyebelin banget!" Ima menatap Yaya kesal dan Yaya hanya mengelus pungging Ima. Jangan sampai anak ini marah, dia bisa pingsan juga dan menggantikanku di sini.


***


Aku kembali berbaring saat mereka semua kembali ke kelas, kakiku terasa dingin walaupun kaos kaki masih menempel di sana. Aku menarik selimut di ujung ranjang, dan menutupi kaki yang hampir membeku itu.Lalu tidur sejenak karena mata yang masih lelah.


***


Samar-samar suara salam laki-laki dari pintu depan terdengar begitu saja. Aku terbangun dan memperhatikan siapa yang datang. Aku bergegas duduk saat menyadari yang memasuki bilik ini adalah Indra. Dia berjalan pelan melihat ke arahku.


"Assalamualaikum …," ucapnya lagi.


"Waalaikumsalam,” jawabku datar. Indra pun masuk dan duduk di kursi dekat ranjang.


"Sudah waktunya pulang!" ujarnya setelah beberapa saat.


"Oh ya? Tapi, tas saya? Ani mana?" tanyaku tetap bersikap formal. Mengingat kejadian tempo hari. Memang, semenjak Riski pulang, aku tidak lagi bicara dengan Indra, terkecuali jika kita berada dalam satu kelompok untuk tugas tertentu.


"Ani masih di kelas, sebentar lagi dia ke sini dan bawain tas kamu." Canggung itulah kini yang terasa. Aku diam setelah penjelasan singkatnya.


"Jangan sakit, ya." Indra menatapku, lalu kemudian hening.


***


Bersambung