
Riski masuk ke dalam kelas, memecah kekacauan. Dia duduk di sebelah dan menopang dagunya di meja, matanya tak henti melihat padaku, senyumnya pun terlihat sungguhan. Aku membalas senyumannya dan kembali menatap Yani.
Aku tahu Yani mendukung hubunganku dan Indra. Meskipun tahu untuk alasan apa dia mendukungku, kalau bukan karena taruhan sialan itu.
Tapi, yang sudah kulakukan tentang gosip itu pasti akan membuatnya marah. Dugaanku, dukungannya hanya sekadar untuk memenangkan taruhan mereka dan masih tidak tahu apa yang akan didapatkan Yani jika Indra berhasil memacariku. Semuanya masih tampak abu-abu.
Tampak jelas Yani menulis sesuatu pada secarik kertas, tangannya cekatan hingga bibir pun dikulum menandakan keseriusannya. Aku memberi isyarat pada Riski tentang apa yang sedang dilakukan Miss Kepo itu.
Tak berapa lama memperhatikan Yani, dia meminta Alisa mengantar sebuah surat. Aku tak membacanya dan memilih memberikannya kepada Riski. Terlihat jelas sesuatu di matanya, Yani berdiri di depan jendela membelakangi kami.
★★★
*Kepada
Nana Rahayu
Sayang sekali kita nggak bisa berteman. Aku sangat terkejut dengan kabar yang beredar, kalau kamu dan Riski sedang pacaran. Ini terasa lucu, kudengar dari Indra dan beberapa teman yang lain, kalau kamu tuh nggak akan pacaran.
Waah ... Selamat!
Kemunafikan kamu terbongkar!
Akan kubuat hidupmu seperti neraka di tempat ini!
Yani C*.
★★★
Riski berhenti membaca surat itu dan menatapku. Yani melengos pergi melewati kami, tatapannya penuh arti. Memang dasar Riski! Dia membaca surat kaleng Yani seolah sedang berpidato. Mulutnya bahkan muncrat saat membaca surat itu.
"Kamu nggak perlu takut!" ucap Riski saat melihatku tampak tegang setelah mendengar pembacaan surat beracun dari Yani.
"Apa rencana ini salah?" Raguku tiba-tiba datang.
"Ini sudah benar!"
"Bukan cuma Indra dan Yani, Ima juga sedih mendengar kabar itu. Daritadi dia tidak mau bicara denganku!" lanjutku.
"Kenapa?"
"Bukannya kamu dan Ima saling menyukai?"
"Suka? Aku suka semuanya! Kalian semua teman-teman aku 'kan ...," jawabnya santai.
"Riski!"
"Aku yang akan bicara dengan Ima. Dan untuk kamu, jangan duduk atau keluar kelas sendirian ya. Aku nggak mau ancaman ini akan terjadi!" pintanya peduli.
"Seperti yang kamu bilang aku nggak perlu takut!" ujarku melempar senyum, mencoba tenang.
***
Kak Iwan datang menemuiku di kelas. Karena gosip yang terlanjur beredar kemarin, dia pasti khawatir.
"Kamu dan Riski beneran pacaran?"
"Nggak kok, kita cuma dekat saja!" sanggahku.
"Jangan bohong deh, Nana! Kamu bilang kamu nggak mau pacaran, kenapa sekarang kamu tiba-tiba pacaran dengan Riski?"
Hah, kenapa semua orang menjadi tertarik dengan kehidupan percintaanku. Siapa pun yang bertemu pasti akan menanyakan hal ini.
"Kak Iwan, ada hal yang tidak seharusnya aku ceritakan kepada Kakak." Aku meninggalkannya begitu saja.
Maafkan aku kak, ini jauh lebih baik. Jika kuberitahu yang sebenarnya, akan menimbulkan masalah untukku.
***
Sekarang Ima menjauh dariku, senyumannya tampak padam. Ada rasa bersalah di hati. Tidak seharusnya kepura-puraan ini berlanjut. Kuputuskan untuk mengakhiri hubungan pura-pura ini.
Aku menemui Riski di lapangan basket, anak-anak sebelah sibuk menggoda dan mengganggu kami. Sadar akan hal itu, Riski mengajakku ke ujung lapangan.
"Kita harus berakhir!" ucapku serius, layaknya pasangan yang benar-benar akan mengakhiri hubungannya.
"Terus kenapa dia masih marah? Hari ini ada ujian praktek kesenian. Kalau dia seperti itu gimana dong?"
"Dia cuma pura-pura, supaya hubungan kita tampak nyata kok." Mendengar itu aku terkejut, ternyata bukan hanya aku yang bisa menyembunyikan hal seperti itu. Ima pun bisa.
"Jadi?"
"Kamu tenang aja! Kalau ada yang tanya tentang hubungan kita, cukup tersenyum dan jawab kamu nggak tahu apa-apa!" ungkap Riski.
"Terus kamu?"
"Itu urusan aku, InsyaAllah kamu tetap aman!"
"Terima kasih banyak ya."
"Seperti yang kamu minta, kita berakhir saat Indra punya pacar baru."
"Kita deal lagi!" ucapku mengulurkan tangan kanan.
"Deal!" katanya menjabat tangan yang mulai beku.
"Tapi ingat! Ini cuma pura-pura. Aku punya syarat."
"Apa itu?"
"Jangan pegang dan sentuh aku tanpa izin, jangan bilang dari mulut kamu kalau kita pacaran, jangan panggil aku sayang. Kalau kita duduk berdua, kita akan membahas tentang pelajaran. Dan satu lagi, kamu harus ingat ada Ima yang menunggu kamu!" pintaku.
"Aku juga punya syarat untuk kamu!"
"Apa?"
"Jangan pernah menolak bantuan aku dan biarkan geng Kimia membantu!"
"Pasti dong!" Sebuah negosiasi yang berakhir memuaskan.
Akhirnya aku punya pacar, lebih tepatnya pura-pura punya pacar. Ini sebuah bentuk penyelamatanku dari rencana Indra, tapi sebuah jalan menuju masalah baru; Yani.
***
Bingung!
Itu yang aku ungkapkan pada Sisi. Mendengar cerita itu, Sisi tidak terdengar setuju. Kata-katanya selalu menolak apa yang kupikirkan. Sisi berkilah, meskipun semua itu hanya pura-pura pasti salah satu dari kami akan ada yang terluka. Sebuah pemikiran bijak dari anak yang tak pernah serius, membuatku lagi-lagi berpikir ulang tentang rencana itu.
Baru tadi pagi aku membuat kesepakatan pasti dengan Riski. Namun karena Sisi, aku kembali dibuat bingung dengan keputusan ini.
***
Aku dan kawan-kawan menyusuri lorong menuju kelas seni, hari ini akan ada pelajaran seni. Katanya praktek, tapi yang terjadi justru melantai sambil menulis beberapa materi yang pak Deni berikan. Katanya kalau kita berhasil menulis, nilai praktek akan diambil dari hasil tulisan. Aku bingung, ini kelas Seni atau kelas bu Usi?
Aku, Ani, Sinnta, Riski dan Indra berada di tim yang sama. Duduk di lantai sambil mendengarkan perkataan guru ternyata cukup mengasyikkan, apalagi saat pak Deni tiba-tiba pergi dan meninggalkan materi kepada Icha.
Pulpen yang aku gunakan tintanya habis, meminta pada Ani dan Sinnta bukanlah jawabannya. Sedangkan Riski, mewakili Ani pergi bertukar pikiran dengan kelompok Ocha dan Yaya. Meminta pada yang lain juga bukan pilihan yang tepat. Mau tak mau, bicara pada orang itu adalah penyelesaiannya.
Hah? Kenapa dia seperti rumus, terkadang tak ingin berjumpa. Tapi jika tak jumpa, masalah ini tak akan selesai. Aku memutuskan mendekatinya, ini ‘kan sudah hampir sebulan, mana mungkin dia masih tak ingin bicara denganku. Terkecuali dia sudah terpengaruh gosip itu.
"Indra!" panggilku.
Dia menengok, sayangnya bibirnya menguncup. Membuatku takut dan mengurungkan niatan ini.
Astaga, kenapa meminjam pulpen saja terasa sangat berat. Ada apa denganku?
Indra masih diam dan memalingkan wajah. Aku memutuskan untuk memanggilnya lagi. "Indra, boleh pinjam pulpen?"
"Kenapa nggak pinjam ama Riski aja!" sinisnya.
Aku hanya mengangguk dan duduk kembali pada posisi awal. Menjauhinya yang tampak tak senang berada satu tim denganku atau mungkin tak senang setim dengan Riski.
***
Bersambung
Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih.