
Beberapa minggu kemudian.
Aku berdiri di sisi balkon apartment. Indra datang membawakan alat kerjaku. Kini aku kembali ke Korea. Usia pernikahan kami baru akan memasuki bulan kedua. Tapi, bulan madu kami, hampir setiap kali dia datang ke Korea.
“Sobang-nim,” panggilku ramah.
“Apaan sih, Na? Subang? Mau ke Subang?”
“Nggak jadi,” ujarku gagal romantis.
"Nanti setelah kelulusan, kamu baru akan pulang ke Indonesia ‘kan? Jadi aku bisa seenak udel datang ke sini, bisa lihat festival musim gugur yey," ucapnya sedang menatap jendela.
"Masih jauh itu. Hmmm, jadi kapan kamu balik? Jangan lama-lama di sini, nanti bisa kecantol cewek Korea," tanyaku padanya.
"Minggu depan. Lah, ‘kan cantikan istriku dibanding mereka."
"Alaaah, bisa aja. Loh, tapi, bukannya kerjaan kamu yang di Malaysia itu ada masalah ya? Kok malah nanti minggu depan ke Indonesia, nanti bisa kelupaan loh?"
"Kan, itu ada pendataannya loh, Bu."
"Hehehe, maaf lupa. Aku juga nggak ngerti yang gitu-gitu. Mau aku buatkan teh nggak?"
"Masa sudah mau dua bulan nikah masih harus permisi untuk membuatkan teh? Kamu kasih racun aku juga mau kok!" rayu Indra.
"Iya, nanti aku buatkan racunnya ... eh, teh maksudku ... teh yang paling manis!" jawabku memeluknya.
"Itu sama aja mau ngeracunin aku, Na, kalau aku diabetes gimana?" ujarnya tertawa.
Aku bergegas ke dapur, membuatkan apa yang dimintanya. Menambahkan beberapa sendok gula dalam cangkir beruap tipis. Lalu kembali ke kamar.
"Yeobo, igeo-igeo...," ujarku sok imut ala drama Korea.
"Jadi, kamu sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Indra membuka pembicaraan, mengabaikan sikap sok imutku. Sambil sesekali memegang pinggiran cangkir teh, setelah kuperhatikan itu adalah kebiasaannya. Aku mengangguk, kesal.
Dasar tidak peka, atau memang nggak ngerti ya? Batinku berunding.
"Kamu tuh nggak perlu kerja, ‘kan kamu orang kaya!" sindirnya tiba-tiba.
"Kaya karena kamu? Ngomong apaan sih?"
"Maaf ya ... sewaktu orang tua kamu bangkrut dan kamu dibuang ke Korea aku nggak pernah ada buatmu …," ucapnya tertawa.
"Hmm? Apaan sih! Siapa yang dibuang, orang aku kabur.”
“Dasar anak nakal,” ujarnya tersenyum.
“Aku juga nggak terlalu dekat dengan mereka kok, selama delapan tahun aku tinggal sama tante dan kakakku saja. Oh ya? Waktu Papa kamu meninggal aku juga nggak ada kan, kita bahkan belum bertemu lagi saat itu."
"Tapi, ngomong-ngomong soal masa lalu nih, mantan pacar kamu yang di sini udah tahu kalau kamu menikah? Si Cowok Korea …."
"Sudah! Tapi, pacar apaan sih? Orang kita cuma temanan aja."
"Yakin temanan doang? Pasti dia kecewa tuh! Dasar tukang PHP kamu! Dari dulu sampai sekarang bisanya PHP-in orang melulu."
"Jangan dibahas! Aku ngambek nih!"
"Ternyata, Nona Nana Rahayu yang terhormat aslinya begini ya?"
"Oh ya? Terus kamu apa? Playboy PHP aslinya begini? Tukang ngorok!"
"Hey, kamu!" kelitiknya membuatku terpingkal-pingkal.
***
Aku dan Indra yakin, perjalanan kami masih panjang. Semua yang terjadi kini hanya antara aku dan dia. Hanya antara keluargaku dan keluarganya. Sebuah awal sudah terjalin, awal yang tak pernah kulupakan.
Karena yang kupilih adalah yan terpilih.
***
Dua tahun setelah tinggal di Seoul, aku tidak sengaja bertemu dengan Icha di jalanan Gwanghwamun. Kami pun menjadi teman baik walau tak terlalu dekat, cukup lah untuk saling bertegur sapa dan bertukar tawa.
Icha mengalami sedikit masalah selama liburan ke Seoul. Karena aku tinggal di sana, menjaganya adalah pilihanku. Ditambah, Icha rupanya memendam rasa terima kasih karena sudah menolong sepupunya dari tragedi masa lalu.
Hal itu diutarakannya kepadaku pada pertemuan kami. Ya, masalah bullying yang membuatku hidup penuh penyesalan saat masih di bangku Sma itu.
Setelah kelulusan, aku tak langsung kuliah di Korea. Aku menganggur selama setahun demi hobi jalan-jalan. Untuk itu kuliahku belum selesai padahal kawan lainnya sudah selesai kuliah.
Selama di sini aku terus mengabari sahabat-sahabatku. Bahkan aku juga mengirimkan surat bagi orang spesial dalam hidupku.
***
*Mau kuceritakan, bagaimana aku dan Indra bisa bersama? Jodoh? Mungkin memang dia yang Allah takdirkan untukku?
Siapa yang bisa menebak bila seorang yang kau kenal anak nakal, badung dan jahil bisa jadi sebaik Indra. Hidup tidak seperti drama, Indra masih tetap jahil. Dia masih sering menggangguku, tapi apa kelebihan Indra sehingga aku memilihnya?
Seingatku, hari itu datang terlambat Emi. Para murid bahkan sudah memulai aktivitas belajarnya. Pelajaran Bahasa Arab yang sedang dijelaskan guru berkerudung hijau tosca itu bukan merupakan pelajaran yang baru, dan membuatku bersikap santai saat mendekati pintu.
Namun, setelah diantarkan masuk ke depan pintu kelas oleh Bibi. Tiba-tiba saja semuanya mulai terasa aneh. Entah aku yang kegeeran, atau memang seperti itulah yang terjadi. Sepertinya, kini semua mata yang berada dalam kelas, langsung melirik kaku ke arah kami berdua.
Beberapa murid-murid mulai memandang dengan wajah serius, seolah bertanya siapa diriku ini? Terlihat beberapa diantaranya adalah teman masa smp, lebih tepatnya adik-adik kelasku dulu. Itulah yang membuat tubuh kecil ini sedikit canggung berada di sini, tempat yang asing.
Saat itu, aku dipersilakan duduk di bangku terdepan oleh Ibu guru.
Ini bukan sebuah cerita yang bisa diabaikan begitu saja, ada kisah dan rahasia yang tercipta di antara kami semua. Jujur, saat itulah aku mulai mengenal sosok baru teman masa putih abu-abu. Karena kisahku akan abadi dalam ingatanmu, ini sebuah cerita dan kenangan yang terjadi karena mereka juga karenamu.
Janji. Aku dan Indra akhirnya menepati janji satu sama lain. Bila suatu saat kami bertemu kembali dan saat itu kami masih menjombo, maka aku akan membuka hati ini untuk Indra.
Begitulah kenyataannya. Aku bertemu kembali dengan Indra di Malaysia setahun lalu, dia rupanya terus membawa buku itu dan memberikannya kepadaku walau terlambat. Indra Gunawan, Inspirasiku untuk Serial Chapter. Kawan-kawan dan sahabatku adalah pena dalam mengisahkan setiap serial dari Komik Chapter.
Oh ya, Emi? Ada lagi yang ingin kukatakan.
Maafkan aku. Setiap bait dari lembaran suratku takkan bosan kuakhiri dengan kata ‘maaf’.
Tertanda NR*.
***
Aku melipat kertas bertinta itu dan memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyimpan di dalam tas besar berwarna hijau tua. Warna kesukaan Emi.
Aku harap Emi menerima surat-suratku selama empat tahun belakangan ini. Meskipun hanya dalam mimpi, kuharap bisa mengucapkan maaf pada sahabatku itu.
Kulepaskan pandangan ke jendela besar, menatap bias senja yang memantul di kaca gedung apartment yang saling beradu. Kugeser sedikit indra penglihatanku, menuju kartu nama berwarna hijau. Aku tak begitu mengingat lagi bagaimana sesungguhnya jalinan persahabatanku dengan Emi. Tapi, aku tetap melakukan kegiatan ringan ini.
Aku bertemu seorang hypnoterapis di Seoul, dia menyarankanku untuk membuat ungkapan tulus kepada sosok yang memicu trauma. Itulah sebabnya kukisahkan semua detil kehidupan ini pada Emi.
Karena dia lah, akhirnya aku bisa bertemu Indra. Karena dirinyalah aku punya sebuah Cerita dan Kenangan yang bisa kubagikan, walau hanya dalam doa. Karena Emi pula-lah aku bisa melihat lelaki dengan badan kurus itu berada di ranjang, tempat biasanya aku beradu mimpi.
Kenangan bersama mereka, cerita bersama mereka, hidup bersama mereka dan kebersamaan yang begitu indah. Akan tetap kukisahkan selama aku dan Indra masih diberi umur panjang. Akan kukisahkan kepada cucu dari cucuku, bahwa tak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni persahabatan.
Satu pihak akan terluka, bila persahabatan itu telah melewati batas suci yang disebut cinta. Cinta tak memilih pada siapa dia akan bersarang.
***
TAMAT
***
Next: YOU OR YOU? VOLUME 2