YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 6: Serba Salah



Hari ini aku bertemu Tri di toko buku. Kudengar, Tri lumayan suka membaca buku. Aku harus mencoba untuk mendekati Tri juga, kalau-kalau gagal dalam misi untuk meluluhkan hati Nana.


Misi bodoh, di mana Nana tak pernah menganggapku ada. Waktu sudah semakin sempit, besok sudah hari senin dan akan memasuki bulan kelima di semester satu. Aku bahkan tidak membuat progress yang jelas akan hubunganku dengan Nana.


Rasanya ingin menyerah saja.


Tatapanku dan Tri beradu. Dia tampak kageta saat melihatku, lalu tersenyum sambil menggeleng. Rambut panjang terikat ke samping.


Beberapa anak perempuan di sekolah, hanya memakai hijab di sekolah saja. Masih banyak yang tidak memakainya di rumah, hanya Ani yang pernah bertemu denganku dan dia memakai hijab. Saat itu, kami bertemu di pasar malam.


Aku penasaran, apa Nana juga berhijab saat berada di rumah?


"Ndra!" seru seseorang mengagetkanku. Aku menoleh padanya. Si pendek yang sejak kemarin mengikutiku, kini sedang menatap penasaran. "Kamu ngapain di sini?" lanjutnya.


"Aku dari toko kaset di sebelah, Kak. Mau cari kaset film," dalihku. Dia mengangguk. "Kak Ayu, ngapain di sini?"


"Aku lagi cari buku buat tugas Ekonomi. Kita jodoh ya, ketemu mulu!" Aku mendadak tersedak mendengar ocehannya. "Kamu kenapa?" lanjutnya menepuk punggungku.


"Nggak apa-apa, Kak!" Aku mencoba tenang. Kukembalikan pandanganku pada Tri yang sekarang sudah berjalan menuju kasir. "Permisi, Kak. Aku mau cari buku dulu!"


"Jangan!" cegahnya meremas lengan kemejaku.


"Eh?"


"Cari sama-sama aja!"


"Tapi--"


"Ayo!" Kak Ayu menarikku menjauhi kasir. Tri bahkan tidak melihat ke arahku. Haish, gagal lagi!


Perempuan berbaju serba hijau ini sibuk membaca cover buku. Sesekali dia bertanya padaku, tentang buku mana yang harus dibeli. Ini membosankan. Aku yakin, Tri pasti melihatku bersama Kak Ayu. Entah apa yang dipikirkannya.


"Kamu mau nggak jadi pacar aku?"


"Apa?" Aku terkejut mendengar ucapan Kak Ayu yang tiba-tiba itu. Seperti ada teflon besar yang memukul telinga kananku.


"Kenapa? Nggak mau?"


Aku terdiam. Apa ini soal tantangan itu?


"Kalau nggak mau, nggak apa-apa kok!" lanjutnya meletakkan buku ke tumpukan buku lainnya. Lalu, berjalan melewatiku, menuju meja kasir.


"Tapi ...."


"Tapi, apa?"


"Kenapa?" Aku memberanikan diri bertanya.


"Kamu kan jomblo, dan selama Ospek kamu tuh kesayangannya kelas sebelas. Ada alasan kamu nggak pernah digangguin."


"Apa?"


Kak Ayu mendekat padaku, aroma rambutnya yang tergerai dengan jepitan rambut putih berbentuk bunga, semakin dekat ke arahku. Dia tersenyum, sembari meletakkan tangannya di pundakku. Kepalanya sedikit miring.


"Karena kamu ganteng dan pintar!" jawabnya tersenyum. "Jangan tegang gitu dong, Ndra! Entar ada yang pikir aku udah ngapa-ngapain kamu lagi. Biasa aja!" lanjutnya memukul bahuku.


"Ee, itu--"


"Jawabnya boleh besok kok!" selanya berjalan meninggalkanku.


Tidak bisa mendekati Tri di sini, malah ditembak Kak Ayu. Sebagai laki-laki, ini sebuah prestasi yang pasti bisa bikin Haryo iri. Aku hanya bisa tersenyum, ada rasa bangga di hati ini.


Tapi, tantangan Nana?


***


Aku meminta Haryo untuk mencari tahu siapa Kak Ayu. Berdasarkan informasi dari Haryo. Kak Ayu adalah anak tiri salah satu guru kelas dua belas. Kak Ayu sendiri, adalah pengurus mading sekolah. Dia cukup cerdas dibandingkan anak kelas 11-IPS 2 lainnya. Peringkat kedua, dari 28 murid. Bahkan dia memegang juara umum ketiga, saat masih kelas sepuluh.


Serba salah!


***


Pagi ini, aku meminta Yani dan Alisa pergi ke depan toilet lama. Biar lebih aman saat membahas hal-hal kenegaraan.


Aku memberitahukan semuanya, tentang Nana yang tidak menganggapku ada. Tentang kemungkinan, Tri telah melihatku dan Kak Ayu bersama. Juga, perihal jawaban kepada Kak Ayu yang harus diberikan hari ini juga.


"Kalau menurutku, mendingan diterima!" Alisa serius menanggapi ceritaku.


"Aku setuju!" Yani menimpali.


"Tapi, kan--"


"Asal kamu tahu, dia lagi ikutan tantangan gila. Soal punya pacar sebelum kenaikan kelas. Aku nggak mau dia menang! Aku tuh nggak suka dia," ungkap Yani. Aku kebingungan. Haruskah aku menolak atau menerima?


"Terus?"


"Terima, terus putusin dia! Sebelum semester. Kamu kan jago tuh, mutusin cewek seminggu doang!" kata Yani bersemangat.


"Sst!" ucap Alisa tiba-tiba, sembari membuat gesture jari di bibir.


Nana melewati kami, sambil menunduk. Aku bisa melihat wajahnya pucat. Dia berjalan sangat cepat menuju kelas. Di belakangnya ada Kak Iwan yang mengekori. Dia lagi, dia lagi!


"Kenapa, Ndra?" tanya Yani.


"Hmm?"


"Cemburu lihat Nana? Hah!" imbuhnya tertawa. Aku terdiam.


"Yang kayak gitu mau dilindungi? Biarin aja Yani yang urus dia. Kamu pacarin aja Kak Ayu. Abis itu putusin!" Alisa tertawa.


"Kamu suka Nana? Benar-benar suka?" Yani mendekat.


"Aku cuma nggak ngerti aja alasan kamu paksa-paksa dia. Terus kemarin kamu juga nyindir-nyindir nggak jelas. Sementar, anak itu. Nana cuma diam aja. Nggak buat salah!"


"Nggak buat salah? Nana itu mencurigakan, Ndra. Dia sakit-sakitan. Tapi, kalau ulangan dadakan. Nilainya bagus. Guru-guru juga sayang sama dia. Nana nggak punya piket kelas. Sering bolos. Memangnya dia Siapa?" Yani tampak berapi-api.


"Bahkan dia udah bikin Riski nggak pernah gabung di geng kita lagi!" timpal Alisa.


"Dia nggak pantas diperjuangkan!" lanjut Yani menyentuh pundakku. Mata kami beradu, aku bisa melihat sesuatu di dalam mata itu. Sesuatu yang mencurigakan.


"Aku akan terima Kak Ayu. Tapi, tantangan Nana tetap jalan. Aku nggak mau mundur!"


"Gila!" seru Alisa pergi begitu saja.


"Ndra!" Yani memanggil. Panggilan tegas seperti ini selalu membuatku takut. Aku tahu benar siapa Yani. Dia rubah betina, yang bahkan siap bertarung dengan anj*ng. Dia psiko kelas teri. Apapun keinginannya harus terpenuhi. Termasuk keinginannya mengganggu Nana.


"Kamu tetap akan gangguin Nana, kalau aku mundur, kan?" tanyaku membuat Yani membuang wajahnya. "Lakukan seperti tantangan awal. Aku akan dapatkan Nana, bagaimana pun caranya dan kamu. Tahan untuk tidak gangguin Nana, sampai akhir semester!"


"Oke! Waktu kamu, satu bulan lagi. Kalau satu bulan, kamu bahkan nggak bisa temenan sama Nana. Kamu kalah. Kalau bisa berteman, aku tambah waktu kamu buat pedekate sama Nana. Karena aku tuh nggak benci Nana. Aku tetap menunggu Nana untuk mau gabung ke geng kita dan itu jadi tugas kamu!"


Yani pun pergi. Aku tidak bisa berbuat banyak. Perlahan-lahan tantangan bodoh itu justru semakin mengikatku. Aku masih tidak mengerti untuk apa mempertahankan tantangan itu, sementara Nana bahkan tidak menganggapku.


***


Aku pun menerima pernyataan cinta Kak Ayu. Tugasku hanya memutuskannya pada waktu paling lambat sebelum ujian semester atau paling cepat satu minggu.


Selama beberapa hari ini dia selalu menggangguku dengan ocehan bahwa kami pacaran. Si Ayu, seolah-olah ingin dunia tahu kalau aku adalah pacarnya.


Sangat mengganggu!


***


Bersambung