YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Vol.2-Prolog



VOLUME.2 : SHE'S MINE


***


Hai, setelah sebelumnya YOU OR YOU Volume 1 sudah tamat. Maka, aku akan memposting Volume 2-nya ya.


Seharusnya ini menjadi bagian dari novel seri kedua. Tapi, karena kurangnya jumlah kata. Maka, aku tambahkan di sini saja.


Mohon dukungannya ya.


Volume 2 ini akan berada pada sudut pandang Indra. Mari kita jelajahi isi hati dan pikirannya.


***


Wanita berwajah sendu itu, kini tidur seranjang denganku. Nasibnya pun kini berakhir dalam pelukanku. Sebagai pria, aku lah sang pemenang.


"Kamu mau sarapan apa hari ini?" tanyanya dengan suara serak.


"Bikinin makanan Gorontalo ya! Aku kangen terong santan." Dia tertawa mendengar ucapanku.


"Cari santan di sini susah, Bapak. Kamu harus keliling di supermarket Asia gitu. Malas lah, harganya juga mahal." Dia bangun dan mengikat rambut panjang sepinggang. Aku mengusap punggungnya.


"Aku bikinin bibimbap ya ...."


***


Semangkuk besar nasi dengan campuran sayuran dan telur mentah, tersaji di meja. Enggan sebenarnya memakan masakan ini, kalau bukan bibimbap dia akan memasak pasta. Aku bosan.


Aku mengambil piring dan memeluknya sejenak dari belakang. Menciumi kepalanya mesra.


"Makan aja!"


"Kamu ingat, nggak?"


"Nggak!" selanya.


"Belum selesai, woy!"


"Apa?"


"Kamu ingat, nggak, gimana kita bisa ketemuan?" Wanita di hadapanku tersenyum, lalu menggeleng. Dia bergerak ke arah speaker bluetooth, menyetel sebuah lagu kesukaannya. Lagu dari penyanyi Korea Selatan, Lyn yang berjudul LOVE. Lagu yang memang romantis.


"Kamu?" tanyanya tiba-tiba.


"Ingat banget lah! Kamu juga ingat kalau aku pernah ngajakin kamu nonton?"


"Nggak pernah!" jawabnya mengarahkan sesuap besar bibimbap ke arah mulut ini. Aku pun segera mengunyahnya. "Emang pernah ya?" lanjutnya, membuatku hampir tersedak karena menahan tawa.


"Aku udah baca semua part Chapter loh dan kamu nggak ada bahas soal nonton, satu pun!"


"Ya, aku emang nggak ingat. Gimana dong?"


"Hari itu--"


"Jangan hari itu!" selanya.


"Hah?"


"Kata 'hari itu' adalah opening komik Chapter!" Dia tertawa, aku pun ikut tertawa.


"Oke, kamu ingat atau nggak sih? Soalnya Chapter tuh banyak info yang salah!"


"Apanya yang salah?"


"Wah, soal buku. Aku tuh aslinya kan nggak suka baca, demi kamu aku suka baca."


"Oh ya?" Nana tersenyum menggenggam tanganku. Ingatanku melayang jauh. Sangat jauh hingga hari pertemuan kami untuk pertama kalinya.


***


Hari itu, Haryo menepuk pundakku. Teman yang duduk tepat di barisan belakang. Dia menunjuk seorang gadis yang tampak tegang berdiri di depan pintu. Sepatu birunya mencolok, tas cokelat polosnya benar-benar sederhana.


Setelah bicara sejenak dengan guru, dia berjalan ke arahku. Semakin dekat, dengan senyum canggung.


Hari itu, aku duduk di sini, di sebelah gadis beraroma peppermint. Sesekali mengintip untuk menyaksikan gadis bermata sendu, yang sibuk dengan pena di jemari lentik.


Tampak serius, dia terus mengabaikanku. Seolah malas karena anak di sebelah yang tak mampu membuatnya bersemangat; mungkin. Bahkan tawaranku untuk meminjamkan buku, ditolaknya ramah. Hingga pelajaran bahasa Arab berakhir, tak ada hal khusus yang terjadi di antara aku dan dia.


***


Semua orang, ramai bertanya, seperti apa gadis di sebelahku tadi?


Aku kesal karena mereka memberikan pertanyaan yang sudah jelas. Kuminta saja Yani untuk mendekati murid pindahan itu, berharap dia mau menawarkan nama panggilannya, agar bisa lebih akrab dengan kami.


***


Keesokan harinya.


Dari kejauhan aku bisa menafsirkan gelagat gadis itu. Wajahnya tampak tak nyaman, senyuman itu seolah dipaksakan. Aku harus bagaimana ini? Padahal Yani sudah sangat bersikap ramah, memakai topeng persahabatannya. Tapi, dia tampak kikuk. Seolah enggan dunianya diganggu.


Yani, sesama perempuan saja, bisa membuatnya tidak nyaman. Apalagi aku, yang hanya sebutir nasi di bibir Riski.


"Woy, liatin apaan?" Si gigi kelinci melingkarkan tangan di pundakku; mesra.


"Liatin jodoh," ujarku menunjuk gadis di sebelah kemarin.


"Ooh, Nana dalam? Itu sih jodohku."


"Memangnya kenal dia? Di mana? Kenalin ke aku dong?"


"Dia tuh kakak kelasku dulu, waktu SMP. Tahu deh, kenapa bisa ada di sini?"


"Oh ya? Kenapa nggak ke sana aja?" Aku tiba-tiba berharap lebih.


"Nggak ah, dia tuh orangnya ... gimana ya. Susah dijangkau," jawab Riski di sebelahku. Kami berdua pun bersama-sama menatap gadis itu.


"Kenalin dong, kemarin aku duduk di sebelah dia dan rasanya tuh aneh banget. Malu."


"Seorang Indra Gunawan? Tukang mainin cewek, malu? Nggak salah tuh?" serbunya singkat meninggalkanku sendiri.


Aisshh, Riski ada benarnya juga. Kenapa aku malu?


Kembali kupandangi Nana, keelokan wajah imutnya mampu membuat serangga-serangga sepertiku, Riski dan lainnya mendekat.


Sayang, dia masih terlalu jauh untuk direngkuh. Membuatku tak mampu bertahan untuk duduk sebelahan dengannya dan hal itu pula yang membuatku pindah ke tempat lain. Dengan begitu menjadi satu-satunya cara agar membuatnya tetap nyaman di sekolah barunya ini.


***


Aku pindah ke bangku belakang, dengan ini pula aku semakin leluasa memandanginya. Menyimpan segala kekaguman yang ada di hati. Matanya kecil. Tapi, berbinar indah. Sangat luar biasa bila aku bisa dekat dengannya nanti.


Nana Rahayu, selama dua hari ini namanya terngiang. Aku bahkan lupa kalau sudah punya pacar. Siapa pacarku? Hah, aku jomlo!


***


Pemilihan ketua kelas akhirnya akan digelar. Itu bukan pemilihan besar-besaran ala Pilkada. Ini hanya sebuah acara pemungutan suara sederhana, dengan tiga peserta yang menjadi kandidat utama.


Kandidat pertama adalah Icha, dia gadis yang selalu tampak cantik dengan jam berwarna hijau lumut di tangan kirinya. Orang kaya, dia ganti tas melulu dari OSPEK. Berbadan sedikit gempal. Tapi, cukup ideal.


Kandidat kedua ada si Yani tentunya. Sahabatku yang paling ricuh. Dia ini sangat berambisi untuk menjadi ketua kelas. Rela melakukan apa saja biar terpilih jadi ketua kelas. Aku sih malas banget lihat Yani kalau sedang kampanye. Serasa melihat calon anggota DPR yang suka tidur di rapat. Omongan dan tindakan sering tidak sinkron.


Kandidat terakhir, adalah aku. Cowok paling keren semester ini. Oh iya dong, kakak kelas cewek selalu antre pengin lihat aku sejak OSPEK. Padahal, waktu belajar di sekolah ini baru semingguan.


Untuk keadilan, kami bertiga hanya boleh memilih di antara dua kandidat. Karena aku gak sudi Yani yang jadi ketua kelas. Maka aku memilih Icha. Sebelum pulang sekolah, kami pun akhirnya membulatkan suara demi sebuah cepat pulang.


***


Setelah pemilihan ketua kelas berakhir, Icha lah yang menang. Dia pasti akan semakin popular, setelah menjadi ketua kelas. Aku tertawa bahagia saat Icha menang dengan hasil voting 12 suara dari 25 siswa.


Nah, kalau ada ketua kelas, tentu ada wakilnya 'kan?


Ya! Itu, aku! Dengan voting sebanyak 8 suara, cukup banyak untuk menjadikanku wakil ketua kelas. Juga berhasil bkin Yani cemberut dan bersungut kesal tidak keruan. Untuk mengobati sakit hati si anak manja ini. Kami sekelas memilihnya jadi sekretaris kelas saja.


Dia bisa bantu aku nanti, saat ingin bolos atau ingin pacaran.


Ini bukan hanya tentang kami semua.


Ini tentang aku, yang telah mempermainkan sebuah hati dan ingin mengemis pada hati yang telah membeku itu.


***


Bersambung