YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 25: Rahasiaku (2)



Napasku sesak, aku terlalu menanggapi Indra penuh dengan emosi. Samar-sama suaranya lenyap, aku tarik napas panjang dan mengedipkan mata beberapa kali. Mencari kesadaranku yang hampir sembunyi.


"Aku suka kamu, Na." Indra masih memaksa. Suaranya mulai jelas lagi.


"Jangan pernah paksa aku, Ndra. Hati aku nggak semudah itu bisa dibuka," kesalku bertambah.


"Mma-maaf!" ujarnya tiba-tiba.


"Kamu selalu minta maaf, apa nggak capek?" tanyaku.


"Beri aku kesempatan."


"Baik! Setelah lulus nanti, saat kita bertemu lagi. Jika di saat itu, kita bertemu dan masih dalam keadaan menjombo. Mungkin kita jodoh, akan aku pertimbangkan permintaanmu hari ini," ungkapku menahan amarah.


"Apa?"


"Kamu mau negosiasi 'kan? Oke, ini saatnya. Waktu bagi kamu untuk menunjukkan apa yang seharusnya kamu lakukan sejak dulu." Aku meninggalkannya begitu saja, menolak mendengarkan ocehannya. Meskipun begitu, kusadari langkahku terasa berat.


Dia. Indra, akhirnya secara tegas mengungkapkan perasaannya padaku. Mereka berdua mengungkapkan dengan cara yang berbeda. Indra membuatku memberikan sebuah janji atas masa depan kami, sedangkan Riski dia membuatku cemburu atas kedekatannya dengan Icha.


Sekarang apa yang harus kulakukan? Tangan siapa yang nantinya akan kugenggam dalam kehalalan. Wajah siapa yang akan hadir dalam sujud malam, suara siapa yang bisa meluluhkanku di masa depan.


Sahabat atau teman? Keduanya bukan hal yang kuinginkan. Sungguh!


Aku terus menghindarinya, selama berminggu-minggu mencoba tak bertatap muka dengan Indra dan membiarkan jarak luas terbentang diantara kami. Sampai dia percaya, bahwa aku serius dengan semua ucapanku.


***


Ujian dan pengumuman kelulusan masih beberapa bulan lagi. Aku merasa semuanya sudah baik-baik saja. Hidupku, sekolah, teman dan sahabat, pembenci bahkan cinta mewarnai perjalanan ini. Yang terpenting adalah rahasiaku tetap terjaga. Setidaknya sampai pagi ini.


Papan mading dikerumuni banyak orang. Pastinya ini belum waktunya diumumkan kelulusan dan mana mungkin kelulusan diumumkan di papan mading? Ada-ada saja sekolah ini. Aku hendak ikut berkerumun, namun Riski menahan. Wajahnya tampak panik. Senyuman yang kulemparkan diabaikannya begitu saja.


"Jangan ke sana!" ujarnya terdengar ragu, aku menatap dengan wajah bingung. "Artikelnya tentang kamu?" lanjutnya membuatku semakin tidak mengerti.


"Yani, menulis artikel untuk kamu!" sela seseorang mendekati kami.


"Artikel apaan?" Aku menatap lelaki berkulit putih yang menghampiri rapat singkat kami.


"Sekolah lama, teman lama dan kasus bullying yang kamu terima," jawab Riski.


"Jadi jangan ke sana!" lanjut Indra melarang.


"Aku ...."


Rasanya aneh, baru kemarin aku di sini, segera lulus dan menikmati kehidupan. Namun, ini sudah terbongkar. Secepat ini? Oh ini, bukan waktu yang cepat. Apa yang Yani pikirkan? Apa yang sedang terjadi? Bagaimana bisa dia tahu semua itu?


***


Mereka semua menatapku dengan tatapan benci. Namun, terlihat jelas duka dan luka di mata sahabat-sahabatku. Yani menghampiri, senyumnya mengembang. Dia seolah senang dengan kepedihan ini.


"Jadi, kamu tukang bully? Dan di sini menyamar jadi yang dibully?" Entah kenapa kata-kata Yani terasa lebih pedih dari sakit yang sering menderaku.


"Ooops!" Alisa tersenyum.


"Aah, nggak, nggak!!! Kabarnya, dia tuh nolongin teman yang dibully kok ... sayangnya cara nolongnya itu salah. Sampai si pembully masuk rumah sakit," jelas Yani sembil cekikikan.


"Untung aja kita-kita nggak diracunin ya ... iya nggak?" sela Alisa ikut campur.


Aku tidak tahu harus bicara apa. Bahkan untuk menatap mereka pun sangat menakutkan. Kepala ini mulai terasa berat, sepertinya aku tak sanggup menjelaskan apa pun. Oh, apakah ini pepatah 'tenang sebelum badai' yang terkenal itu? Pantas saja Yani terlalu diam, dia melemparkan bom waktu rupanya.


"Nana?" panggil seseorang yang tak bisa kukenali suaranya.


"Jadi, Nana Rahayu ini adalah orang penyakitan yang suka nolongin orang lain ya? Sayangnya aku nggak tahu kamu sakit apaan, jadi nggak bisa aku tambahkan di artikelnya. Udah ngaku aja deh... sakitnya pasti bohong!"


"Yani, stop!" Indra terdengar kesal.


Ya, aku memang melakukan semua itu. Tapi, bagaimana bisa aku membiarkan seseorang yang begitu lemah menjadi bahan siksaan teman-teman di sekolah lama.


Aku adalah orang yang tak bisa tinggal diam saat melihat orang lain terluka. Lalu, apa harus kubiarkan, gadis lugu yang bahkan tubuhnya lebih pendek dariku dipukuli di depan mata?


Kutarik napas ini sangat dalam, memejamkan mata dan menunduk ragu. Ya, aku pembohong.


"Aku ... aku minta maaf." Keriuhan mereka terhenti.


"Kenapa minta maaf?" tanya Ima.


"Karena sudah buat kebohongan besar di tempat ini. Selama hampir tiga tahun, kalian tahu kalau aku pernah sekolah di sini. Itu bohong. Aku sebelumnya berada di sekolah asrama dan mendapat masalah karena membela teman yang terluka karena bullying. Makanya aku pindah ke sini. Semuanya nggak perlu aku jelaskan lagi, isi artikelnya memang benar! Meskipun, nggak sepenuhnya benar."


"Nana, kalau gitu kamu nggak salah dong, kamu kan cuma belain teman kamu." Ima menyentuh pundakku.


Aku mengangkat kepala dan mencoba menatapnya. Perlahan mata ini terasa perih, haruskah aku menangis dan berakting sebagai korban bully, seperti isi artikelnya?


"Emi, dia meninggal karena kejadian itu, Ima ... dia meninggal karena aku pukul dengan bangku yang digunakannya untuk memukuli Desi." Semuanya tercengang, bahkan Yani juga.


"Itu tidak sengaja, Emi memukuli Desi sampai berdarah. Saat melihat darah, fobiaku kambuh, pandangan menjadi agak kabur, aku tiba-tiba jadi sakit kepala karena lihat darah."


"Tidak sengaja?" hardik Yani.


"Tangisan Desi membuat aku marah dan mencoba untuk balas perlakuan Emi. Sementara memang, karena menolong Desi aku terkena pukulan bangku yang sama." Aku menelan saliva, mengatur pandangan dan tetap mencoba tenang menjelaskan kepada mereka.


"Cukup, Na!" ucap Ima menenangkan.


"Tapi, perkiraaan aku meleset. Bukannya memukul Emi di punggung, aku justru memukul kepalanya." Aku mulai menangis. Napasku semakin sesak, sepertinya aku ingin berlari dari tempat ini.


Ya, setiap mengingat kejadian itu aku bisa saja pingsan hingga berjam-jam, mungkin alam bawah sadarku begitu ingin melupakan kejadian mengerikan itu. Jika itu sebuah film, aku ingin sutradara menghapus bagian mengerikan yang entah kenapa bisa hadir dalam hidupku.


Aku tidak bisa melupakan bagaimana kepala Emi terus mengeluarkan cairan berbau amis, baju putihnya perlahan mememerah kental. Bahkan Desi juga mengeluarkan darah dari pelipis kanan, punggung kemejanya bernoda darah. Bagaimana bisa aku melupakan rasa mencekam saat melihat teman-temanku bermandikan darah.


Hingga tak lama berselang, aku tumbang dengan tangisan yang tercekat dalam perutku. Takut, sakit, sedih, aku pembunuh! Itulah sebutan mereka padaku. Pembunuh sahabat sendiri.


Aku ingat pandangan mata yang mulai memudar dan setelah itu tak mengingat apa-apa lagi. Saat terbangun, tubuhku terasa ringan, untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan cairan infus. Tiga tulang rusuk patah, dan aku telah dioperasi.


Diagnosa lainnya adalah trauma psikologi. Lalu, apa semua itu salahku? Apa aku memang dihukum oleh Allah, karena ketidaksengajaan? Entahlah .... Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tidak!


"Waaah!" Suara Yani membangunkanku dari ingatan itu.


Napasku masih sesak, bahkan bertambah berat. Sepertinya tulang rusukku yang telah dioperasi kembali patah dan terbelah. Aku mencoba mengatur napas, dengan mengucapkan istighfar berulang kali.


***


Bersambung