
Ini hari ketiga Nana, di sekolah ini. Dia diam, tak banyak bicara. Pagi ini dihabiskannya mengumpul sampah bersama Ani. Si gadis berkulit putih dengan tinggi badan lebih pendek dari Nana.
Aku berdiri di pintu, bersama Riski, Haryo dan beberapa anak laki-laki dari kelas lain. Hanya bisa menatap Nana yang berjalan menuju ke arahku.
Haryo tiba-tiba mendorong tubuhku menghalangi jalannya. Nana terkejut dan mundur beberapa langkah. Aku lekas memberinya jalan. Gawat! Bisa ketahuan aku.
"Nana?" Haryo memanggilnya dan membuat Nana berbalik.
"Ya?" Bibir kecilnya membentuk senyum indah. Aku tiba-tiba gugup, padahal yang ditatapnya adalah Haryo.
"Rumah kamu di mana? Pulang sekolah kita mampir ya!" Haryo menjurus.
"Di kompleks Bougenvile," jawabnya.
"Tipe berapa?" tanyaku tak tahan ingin bicara dengannya.
"Tipe X," singkat Nana masuk ke kelas meninggalkan kami. Aku hanya bisa tertawa dengan selera humornya. Tipe X? Tip-ex buat menghapus tinta?
Sepanjang pelajaran Biologi, Nana sangat sibuk mencatat. Wajah serius itu menandakan bahwa Biologi adalah pelajaran kesukaannya.
Nana bahkan mengangkat tangannya saat Pak Guru menanyakan tentang materi keanekaragaman hayati. Jawaban Nana tentang persebaran makhluk hidup, dapat ditentukan oleh geografis seperti ketinggian (altitude), garis lintang (latitude), dan keadaan iklim seperti curah hujan (presipitasi), suhu, radiasi cahaya. Sangat memukauku.
Dia tampak percaya diri menjawab, dan menjadi malu-malu saat dipuji oleh Pak Guru. Tipikel anak yang tidak makan puji.
***
Pada hari keempatnya, Nana tiba-tiba tidak masuk sekolah. Aku bertanya kepada Ani. Tapi, Ani bilang bahwa Tantenya hanya menitipkan surat sakit. Tanpa pernyataan apa pun.
Ya, anak seperti Nana memang tampak lemah.
"Semoga dia lekas sembuh," ucapku pada Ani. Lalu, pergi dan memilih nongkrong di kantin depan sekolah. Tempatnya agak jauh dari sekolah, harus menyeberang jalan raya dulu.
***
Pada hari kelima dan seterusnya Nana kembali aktif. Seolah-olah segar bugar, tak pernah izin sakit. Aku merasa lega.
Dua minggu berlalu, aku terasa semakin jauh dengannya. Pun hanya bisa memuji Nana dari kejauhan. Aku tak ingin mengganggunya.
Pagi ini, Lian mendatangiku. Gadis yang baru beberapa hari kupacari. Berwajah anak-anak. Usianya jauh lebih muda. Tapi, berhasil lompat kelas saat kelas 3 SMP. Gadis pintar, memang tipikal kesukaanku.
Gadis ini terlalu menyukaiku. Sejujuranya, aku bosan dengan tipikal perengek. Tapi, apa daya. Aku butuh tulisan cantiknya untuk mencatat pelajaran Sejarah dari Ibu Clara.
Riski dan beberapa teman berjaga di pintu depan. Lian suka jengkel jika ada yang masuk ke kelas saat sedang bersamaku.
"Beneran nggak mau ke kelasku?" tanya Lian memaksa.
"Di sini aja!" Aku menatapnya dengan senyuman.
"Iih jangan senyum!" Lian menutupi wajahnya dengan jaketku. Aku menarik Lian, bersama-sama tenggelam dalam permainan di balik jaket.
Suara ricuh di luar sana terabaikan sudah. Bodo amat, hanya ada aku dan Lian di balik jaket.
Ini hanya antara, aku, Lian dan bibir.
"Astaghfirullah!" Ucapan itu menyusul suara sesuatu yang dibanting ke meja. Aku dan Lian kaget, lalu keluar dari balik jaket.
Itu Nana, dia melihatku yang tengah asyik di balik jaket bersama Lian. Aku menatap wajah Lian, dia pun tampak kaget. Kualihkan tatapan pada Nana yang membeku di depan tempat duduknya.
M*mpus aku!
Nana tiba-tiba bergerak kaku. Aku yakin, dia mendadak salting.
Sambil tertawa, Riski menarik Nana. Mataku dan Nana untuk sesaat beradu pasti. Aku bisa melihat bahwa dia sedang ketakutan.
"Kan sudah saya bilangin! Jangan masuk!" Ucapan Riski sangat jelas. "Dibilangin sih, nggak mau dengar," lanjutnya tertawa lalu membawa Nana pergi ke luar kelas.
Aku dan Lian terdiam.
"Kan aku udah bilang ke kelas aku aja!" gerutu Lian tiba-tiba.
"Yang minta kamu datang ke kelasku, siapa?" bisikku menahan kesal.
Aku berdiri di jendela, dari dalam sini aku mengintip Nana. Penasaran akan seperti apa reaksinya. Aku jadi kepikiran, entah laki-laki macam apa aku ini di dalam benak Nana?
***
Hari ini pelajaran olahraga, Nana dan temannya Ima. Duduk bercanda di bawah papan tulis. Aku ingin mendekat. Tapi, ragu. Aku berjalan menuju Icha. Yang berdiri di depan, antara meja dan papan tulis.
"Aku mau bolos ya!"
"Apa?" Icha menoleh kaget.
"Bolos!" jawabku sengaja berteriak. Tapi, Nana cuek saja. Seolah aku tak ada di hadapannya.
"Bolos aja! Ngapain nanya-nanya?" Icha melengos pergi.
"Ndra, Lian minta kamu ke kantin tuh!" teriak Susan, teman sekelas Lian. Aku melirik ke arah Nana, dia tiba-tiba terdiam. Menatap lantai sembarang
Aku pun pergi menuju Lian. Entah mau apa lagi gadis ini?
"Aku mau putus!" sergahnya tiba-tiba. Belum juga sampai di mejanya. Lian sudah teriak minta putus.
"Ngapain minta putus pakai teriak-teriak segala? Mau lihatin ke orang-orang kalau aku bakal terima putus dari kamu! Gitu?" Aku menghampirnya menahan kesal. Cewek gila!
"Kamu tuh jadi cowok, nggak ada tanggung jawabnya!"
"Tanggung jawab apaan? Kan kita cuma ciuman?" ujarku tanpa dosa.
"Indra!" Lian marah sembari melirik-lirik murid-murid yang sedang ramai di kantin.
"Malu?"
"Kamu harusnya jaga privasi kita. Teman-teman kamu tuh nggak becus jagain kita kemarin."
"Ya udah, ayo putus!"
"Kok putus sih?"
"Kan kamu yang minta?"
"Ya? Dibujuk kek, ditahan. Ngapain malah diiyain? Jadi, laki-laki kok nggak pengertian banget sih!" ungkapnya dengan urat di kening yang menonjol.
"Ya coba aja kamu jadi laki-laki. Sanggup nggak? Punya pacar, tiap hari datang ke kelas minta pacaran. Tiba-tiba, minta putus."
"Diam!"
"Malu? Makanya, jangan coba-coba bikin namaku jadi buruk deh. Kamu tuh cewek. Minta putus ya baik-baik. Jangan kayak ayam gini, sekampung jadi tahu kalau kita mau putus."
"Udah lah, Ndra. Kasihan!" Icha datang ke kantin. Berdiri di antara aku dan Lian. "Ke lapangan aja, kita olahraga. Biarin aja si ulat di sini," lanjutnya menarik tanganku.
"Eh, rubah betina! Ngapain kamu pegang-pegang Indra? Indra itu masih pacar aku ya!"
"Kita udah putus Lian, kamu yang minta putus."
"Apa? Aku kan bercanda!" Suaranya hendak menangis.
"Makanya, kalau bertindak itu dipikir dulu. Jangan asal ngomong. Indra tuh, nggak suka cewek yang nggak punya pendirian tetap kayak kamu!" Riski tiba-tiba menimpali.
"Cabut aja, cabut! Ada jam pelajaran juga malah nongkrong!" ujar Icha menarik aku dan Riski. Riski memeletkan lidahnya ke Lian, sambil makan gorengan yang dibelinya barusan.
Tanpa alasan yang jelas. Aku dan Lian putus. Hanya dua minggu lebih kami pacaran. Lian jadi rekor cewek tercepat yang aku putusin.
***
Dua minggu kemudian. Juga merupakan minggu ke empat, Nana berada di sekolah ini. Dia yang awalnya pendiam, mulai terlihat suka tertawa. Apalagi, kalau sudah berkumpul dengan Ani dan Ima, aku bahkan bisa melihat matanya tinggal segaris saat tertawa.
Saat ini aku benar-benar hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Aku harus bisa mengumpulkan keberanian untuk mendekati Nana. Bagaimana pun caranya, nanti. Mengingat aku sudah dua minggu ini menjomlo. Why not?
***
Bersambung