YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 11: Aku Cemburu



Riski dan Ani, duduk di sebelah. Kami pun bercerita tentang beberapa hal. Hingga tanpa sengaja menyentuh beberapa kejadian dalam obrolan kami.


"Hati-hati, Indra itu bukan laki-laki yang baik. Sudah banyak korbannya di kelas lain," ucap Riski mengingatkanku.


"Tapi, kamu tahu nggak? Semenjak kejadian dulu, yang waktu itu loh. Dia selalu mendekati aku terus," ujarku mengingatkan Riski saat kejadian orang di balik jaket.


"Oh! Yang itu?" tanya Riski mengerti.


Sesaat kemudian Riski malah tertawa, aku bingung kenapa dia tertawa. Mungkin sedang meledek karena mengingat kepolosanku waktu itu. Ternyata tidak, dia mencolek bahuku dan membuat gerakan aneh.


"Itu ...." Tunjuknya pada sosok Indra yang datang ke kantin bersama Icha si Ketua kelas. "Sepertinya kamu nggak perlu hati-hati lagi deh! Dia sudah dapat mangsa baru!" bisiknya berdiri lalu pergi meninggalkan aku dan Ani.


Diam, aku melihat mereka. Indra tampak santai di samping Icha, begitu pula dengan Icha. Hanya saja teman segengnya sangat ribut, seolah-olah mengisyaratkan ada sesuatu di antara mereka. Aku mendadak merasa aneh, tepian bibir terasa berat, jadi malas tersenyum.


***


Malam ini aku duduk sendiri di depan tv, bibi dan Kakakku sedang pergi ke hajatan tetangga. Dingin mulai menyerang, membuatku mengambil jaket cokelat milik Kakak. Astaga, ini menyebalkan. Kenapa jaket selalu saja mengingatkan tentang kejadian itu? Tidak, ini hanya mengingatkan tentang dirinya.


Apa aku mulai luluh, dengan sponsor perhatian yang Indra berikan? Atau ini hanya sekadar rasa normal yang juga aku rasakan pada Riski? Entahlah ... ini mulai membingungkan. Toh, aku dan Indra tidak sedekat itu.


***


Rintik hujan ini datang di penghujung Februari, rindu akan sosok sahabat terasa mendalam. Seminggu sudah Riski tidak datang ke sekolah, tak ada kabar, tak ada wujudnya. Sangat mencurigakan.


Apa dia sakit? Atau keluarganya yang sakit? Riski pernah cerita kalau dia punya burung kakaktua, apa burungnya yang sakit? Entahlah, aku mulai khawatir.


Terkadang, saat-saat aku bersama Riski terasa sangatlah sebentar. Apalagi saat aku sakit, hanya bisa bertemu seminggu beberapa kali saja. Itulah yang membuatku sangat rindu pada Riski, padahal kami tidak sedekat itu. Seminggu aku sekolah, malah Riski yang tidak masuk sekolah.


Aku duduk di beranda kelas. Ani menghampiri, sembari berbisik, "Masuk! Lagi hujan nih, nanti kamu sakit lagi."


"Oh ya ... sudah ada kabar dari Riski belum?" Ani menggeleng dan ikut selonjoran di sampingku.


"Kangen ya?" tanya Ani mengambil buku yang kupegang.


"Iya ... Kangen Riski yang suka jailin kita, tahu!" Ani memegang tanganku, dia memintaku menengok ke belakang.


"Assalamualaikum." Suara itu tidak asing.


"Kak Iwan? Waalaikumsalam."


"Lagi ngapain?"


"Lagi nunggu guru matematika nih, Kak ...."


"Oh ya, tidak biasanya adikku ini merenung seperti ini. Ayo cerita, ada apa?"


"Dia kangen Riski!" celetuk Ani.


"Oh, lagi jatuh cinta ya?"


"Apa? Tidak!" tolakku mentah-mentah.


"Ahh yang benar nih?" Kak Iwan menggodaku.


"Iya lah, siapa yang jatuh cinta sih?" sanggahku lagi.


Astaga, bagaimana bisa kedua orang ini menganggap aku sedang jatuh cinta? Aku ini sedang mengkhawatirkan teman.


Aku mencoba berdiri untuk menghadap Kak Iwan, tangannya terulur padaku. Tanpa ragu kugapai dan menggenggam tangannya. Kini berdiri di hadapan dan dia tersenyum seperti biasa. Aku yakin dia ingin menggoda agar aku terpancing dan menceritakan hal-hal aneh. Tidak! Itu tidak mungkin!


"Ani, ayo masuk! Hujannya tambah deras nih, nanti sakit!" ujarku menarik Ani dari duduknya.


"Kak, kita masuk dulu ya ... Ada yang salah tingkah nih ...," ucap Ani terkikik. Terlihat jelas, bagaimana wajah Kak Iwan. Dia mengolokku, pasti.


Saat masuk ke kelas, Indra menyambangiku. Dia duduk di tempat Ani. Ini tidak mengherankan lagi, dia sudah jadi terbiasa duduk di tempat Ani. Bahkan Ani kadang harus mengusirnya dulu, karena kami memang sudah cukup akrab, mungkin itu sebabnya dia bertingkah sok kenal dan sok dekat.


Aku teringat kata-kata Yani dua hari lalu. Jika Indra itu, tahu informasi tentang Riski, hanya saja aku memang tidak ingin ada urusan dengan anak aneh itu.


"Belum!" jawabku.


"Syukurlah!" Ucapan itu terdengar aneh, ada rasa satire di dalamnya.


"Hah?"


"Iya, syukur!" tegasnya. Aku ternganga mendengarnya, teman macam apa dia ini?


"Ih, kamu itu gila ya! Teman kita lagi nggak ada kabar, kamu malah bilang syukur? Aneh ya kamu!"


"Kenapa kamu marah?" tanya Indra terdengar menyebalkan. Aku diam mendengar pertanyaan itu, lebih tepatnya menghindar. "Memangnya kamu pacarnya Riski?" lanjutnya tiba-tiba menyerang. Aku menatapnya tajam, pertanyaan macam apa itu?


"Sudahlah, aku nyesel baik-baik ke kamu selama ini. Harusnya aku tuh dengar kata-kata Riski!"


"Kok kamu jadi marah?"


"Sudahlah! Minggir!" Dorongku menjauh dari tempat duduk dan berjalan menuju Ani yang berdiri di depan meja Ima.


"Riski di rumah sakit!" ujarnya dengan santai.


"Apa?" seru Ani terkejut mendengar ucapan Indra, kami hanya saling menatap mendengar kabar itu. "Kamu tahu darimana info itu?" lanjut Ani penasaran.


"Dia 'kan tetangga aku!" singkatnya.


"Hah?" Kaget, bagaimana bisa mereka tidak cerita pada kami bahwa mereka berdua adalah tetangga.


"Ani, mana Nirmala. Kita harus jenguk Riski nih," panikku, meminta Ani mencari teman yang lain.


"Nana? Kenapa kamu sampai segitunya sih?" sindir Indra dengan nada tak suka. Dia melihatku sinis.


"Bukan urusan kamu ya!" singkatku pergi.


"Kamu tuh jangan terlalu dekat dengan Riski!" serunya menghentikan langkahku.


Aku berbalik, kelas yang ramai ini mulai terasa hening. Feeling-ku tidak enak, ada sesuatu yang tak ingin kudengar, mungkin saja akan diucapkannya. Kata horor yang kutakutkan.


"Riski terus, Riski lagi!" lanjutnya menikamku.


"Yah, emang kenapa?" Aku menantangnya.


"Aku cemburu!" jawabnya berhasil mematikan mesin penghasil kata-kata. Aku terkesiap, mengerjap beberapa kali.


Siapa dia? Berani-beraninya bilang begitu, bahkan teman-teman dan Kak Iwan tidak pernah melakukannya.


"Hah!" Aku menghela napas. Lalu menggeleng sembari berjalan menuju Ani dan kugandeng tangannya menuju ke luar kelas.


Hanya mengabaikan kata-kata Indra, mungkin dia mengantuk karena dininabobokan oleh rintikkan hujan dan mendungnya langit. Saat kaki mulai melangkah, aku merasakan sesuatu menyentuh jemari. Terhenti dengan hal itu, aku berbalik dan membanting tangannya. Melepaskan sentuhan yang tidak kuhendaki.


"Maaf!" selanya serius.


"Mau kamu apa sih? Jangan pernah sekali lagi kamu pegang-pegang saya ya!" kesalku.


"Nana?"


"Kamu tahu apa alasan saya bersikap baik ke kamu selama ini? Karena saya menghargai Yani!" ungkapku formal. Kesal, sangat kesal hanya itu yang bisa kurasakan sekarang. Tapi, kesal karena apa? Aku tak paham.


Percekcokan ini berhenti saat teman-teman yang lain masuk ke dalam kelas. Tri dan beberapa teman lainnya yang sedari tadi duduk diam di tempatnya, melihat ke arah kami yang berdiri di depan pintu kelas.


Ani menarikku kembali duduk dan perlahan mulai mengatur ulang napas ini. Menghilangkan kekesalan yang tadi sempat melanda. Jangankan menatapnya, mendengar namanya dipanggil saja aku enggan. Riski, tolong cepat kembali ke sekolah. Aku rasa, aku merindukanmu.


****


Bersambung