
Kami pun bergegas ke tempat duduk masing-masing. Aku melihat Icha, ia tanpa rasa malu tersenyum bangga dengan karya orang lain. Sebenarnya lumayan menjengkelkan sekali. Tapi, kutahan saja, toh dia yang akan membalas di akhirat nanti.
Aku memilih lebih fokus menjalani ujian semester, daripada harus melayani Icha. Setidaknya, hal ini membuatku semakin mengenal watak teman-teman sekelas.
***
Aku memandang ibu Usi yang hari ini menjadi penjaga ujian di kelas kami. Dia tersenyum, aku pun membalas.
"Oke, kerja bagus, Nana," ujarnya tiba-tiba. Aku terkejut. Ujian bahkan belum dimulai, lalu apanya yang bagus? "Ke depan!" perintahnya.
"Hah?" Aku terkejut. Ibu Usi memperlihatkan gerakan tangan mengayun, renda di lengan bajunya tampak melambai. Aku pun berdiri, sembari memperhatikan tatapan tajam teman-teman dari geng Yani berasal.
"Kenapa, Bu?" tanyaku saat sampai di mejanya.
"Sepulang sekolah nanti, ke ruangan saya ya, kita bedah puisi," tawarnya dengan suara volume satu, sembari memberikan sesuatu.
"Iya, Bu." Aku mengangguk, mengambil tumpukan kertas yang diberikan dan bergegas membagikannya ke meja peserta ujian semester.
Dia tahu itu aku, kalau begitu aku akan baik-baik saja. Ini sudah cukup.
Aku teringat pelajaran ibu Usi, dia pernah mengatakan bahwa setiap penulis punya gayanya sendiri. Rajin mengasah diri, dapat membuat perbedaan pada tulisan. Jika diibaratkan anak, penulis dan karyanya adalah keturunan yang sama. Ibu dan anak yang saling terhubung satu sama lain.
Bahkan puisi tanpa judul itu, bisa mengubah kata teman menjadi sahabat. Sebuah verb yang sering kugunakan akhir-akhir ini. Ya, sesekali aku memang harus nekad.
Meskipun debaran jantung terasa di dekat leher dan degupan itu membuatku gemetar. Aku tetap harus mencoba sesuatu seperti itu. Memanfaatkan apapun yang bisa digunakan, bahkan puisi dan mading sekalipun.
***
Setelah ujian berakhir, aku semakin dekat dengan para sahabat baik hati ini, terutama Riski. Ya, walau terkadang mereka akan bersikap menyebalkan, terlebih si Nirmala pecinta dinding, yang suka mendadak tuli kalau dimintai tolong ke kantin.
Aku dan Riski lebih banyak menghabiskan waktu berdua, entah untuk menyelesaikan soal matematika bekas ujian, maupun menemaniku menggambar. Aku suka membuat sketsa kasar di belakang buku pelajaran. Selain, pemandangan depan pintu kelas. Riski bersedia menjadi objek sketsaku.
Dia juga menjadi lebih rajin, ketika kumintai tolong untuk membelikan makanan atau minuman di kantin. Terkadang, aku masih harus memaksanya sih. Tetapi, jika aku sudah merajuk. Riski akan memaksa mengajak Ima, walau dia enggan pergi ke kantin.
Ani dan Ima juga sering merecoki Riski, karena sering bergabung bersama kami, yang semuanya adalah perempuan.
"Hati-hati, entar kamu minta-minta lipstick dan pinjam cermin saku ke kita," ujar Ani tiap kali berantem dengan Riski.
Sepulang sekolah, aku pun pergi ke ruangan Bu Usi lebih dulu. Selama berhari-hari kami membedah puisi, bertukar pikiran tentang sastra dan dunia literasi. Ini jauh lebih menyenangkan.
***
Semester baru, hari baru.
Pagi ini kami sudah memulai piket baru. Belakangan terungkap, kalau Yani lah yang meminta dan merekomendasikan agar aku diberikan piket kebersihan juga walau sering sakit dan hal itu juga membuatku berada satu kelompok dengannya.
Sejujurnya aku tak mau bersama dengan Yani karena ucapannya waktu itu dan sindiran-sindiran tidak beralasan yang sering dilontarkan Yani akhir-akhir ini. Tapi, karena ada Ima di tim ini maka tak apalah jika aku bergabung saja. Bukankan aku sedang mencoba untuk memanfaatkan situasi dan kondisi?
Kami harus bersama setidaknya sampai kenaikan kelas dan semua itu membuatku memiliki waktu, juga kesempatan. Setidaknya untuk semakin mengenal teman-teman sekelasku juga.
Ima, Mike, dan Yaya sangat perhatian padaku. Aku terkadang memaksa mengerjakan hal yang diperintah Yani. Nah, mereka bertiga ini yang melarangku untuk mengangkat benda berat, katanya sih saran Pak Farid.
Tapi Yani, hah anak ini sudah mulai menunjukkan sisi buruknya. Marah-marah tidak jelas, cemberut saat melihatku, tiba-tiba tersenyum aneh sembari menatap tajam dan perlakuan lainnya yang mulai membuatku sangat tak nyaman berada di dekatnya.
Kalau dia pacarku, sudah kuputuskan perempuan aneh seperti dia dan kubuang jauh-jauh ke Antartika.
***
Dua bulan sudah aku belajar di semester kedua ini, nilai ulanganku tak seburuk yang terpikirkan. Dua bulan juga aku melihat tingkah Yani yang semakin hari semakin aneh, hah, andai saja aku tidak setim dengannya di piket kelas dan grup kimia, pasti hidupku akan terasa lebih nyaman akhir-akhir ini.
Belakangan ini aku memang sering merasa sesak napas, selain karena Yani yang terus menindas dengan tatapannya. Kurasa penyakitku mulai kambuh lagi.
Akan sangat merepotkan kalau sampai aku pingsan di sekolah. Semoga saja aku tidak terlalu tertekan, itu harapanku setiap pagi. Juga itulah mantera penyemangat untuk pergi ke sekolah.
***
Hari ini pelajaran bahasa Inggris, ini kesempatanku memperlihatkan kecakapanku dalam fast reading di depan kelas.
Guru bahasa Inggris sangat memuji Icha si Ketua Kelas dan Indra si Murid yang sok jaim itu dalam materi yang coba diujikan. Tibalah waktuku, guru tahu jika aku termasuk aktif dalam pelajarannya hingga dia menantangku. Seorang anak pendiam atau lebih tepatnya pemalu, untuk melakukan fast reading.
Takut, tentu saja! Ini pertama kalinya aku berpartisipasi melawan ketua kelas dan teman segengnya. Namun ini lah yang aku tunggu, menguji tata bahasa dan kecepatanku dalam berbahasa inggris.
“Ladies and gentleman. Let me tell you a story! Once upon time, there was a poor widow who had an only son named Jack. They were so poor that they didn’t have anything except a cow. When The cow had grown too old, his mother sent Jack to the market for sell it.”
Aku akhirnya menyelesaikan sekitar delapan paragraf cerita dalam waktu 2 menit lebih 48 detik. Aku rasa sudah melakukan yang terbaik, teman-teman sekelas bersorak kepadaku, bahkan Indra pun tersenyum ke arahku.
Sebelumnya, setelah baru membacakan dua paragraf dongeng berbahasa Inggris dengan lancar. Aku mencuri lirik, melihat keadaan. Tampak wajah-wajah kesal teman lainnya, ya, mereka adalah geng Yani.
Bahkan, saat baru memulai dengan menyebut, "Ladies and gentleman!" Mereka terlihat pesimis padaku, dengan bibir yang dibengkokkan ke atas dan ke bawah. Mungkin berpikir mana mungkin tampang bodoh seperti ini bisa melakukan hal itu. Tapi, waktu berkata lain, kecepatan dan ketepatanku dalam membaca cepat jauh lebih tepat kata guru.
Jam ini berakhir dengan cepatnya. Tak berapa lama, aku menyadari sebuah kertas kecil terselip di resleting tasku.
Kamu keren! Pertahankan ya, Na … bacaku dalam hati.
Siapa? Siapa yang memberikan surat kekanakan seperti ini? Masa bodoh! Kuremas saja kertas itu dan membuangnya ke tong sampah.
***
Bersambung