
Aku melihat teman-teman berkumpul di depan pintu kelas, suara teriakan saling bersahutan pun sangat keras. Aku bergegas menghampiri keramaian itu dan menjumpai hal yang sangat memalukan.
Indra dan Tri sedang bertengkar, jemari Indra tak hentinya menunjuk wajah Tri, penuh emosi. Teman-teman meneriaki mereka agar terus berdebat. Mereka membuat situasi semakin memanas, mereka mengadu Indra dan Tri seolah-olah dua orang ini adalah ayam petarung.
"Kamu pikir aku mau minta maaf ke cewek sombong kayak kamu! Hah! Cewek gila," teriak Indra.
"Oh ya? siapa yang lebih sombong? Aku atau geng kamu itu! Ngaca dong! Ngaca, sadar diri. Gila, kok teriak gila. Dasar!" lanjut Tri mengabaikan Ani dan Ima yang sedang mencoba mencegatnya.
Aku berdiri di depan pintu, dengan jelas melihat pertarungan ini. Hujan deras yang mendukung, bahkan tak mampu menutupi kekacauan yang sedang terjadi.
"Mulut kamu itu dijaga!"
"Sudah Ndra, tampar aja!" perintah Yani memanas-manasi.
"Woy! Mulut kamu tuh yang dijaga!" seru Tri berbalik menunjuk Yani, Yani melangkah membusungkan dadanya, menantang Tri.
Ima menahannya agar tidak bertindak bodoh. Tri menurut, tapi mulut itu berkata lain. Dari mulut Tri keluar kata-kata yang memancing amarah Indra, yang membuatnya tak henti memaki Tri.
Ini membuatku kecewa, bukannya meminta maaf, dia justru bertengkar. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku mendekati Tri yang tersudut dengan serangan-serangannya.
Indra terlihat sangat marah, wajahnya memerah. Kakiku melangkah ringan berdiri di antara mereka berdua. Bukannya berhenti Indra justru meneriaki aku dengan sepenuh tenaga.
“Indra!” panggilku mencoba menengahi.
“Kamu jangan ikut campur!” Dia melihatku penuh amarah. Bahkan aku bisa merasakan, percikan air yang keluar dari mulutnya. Hanya menatapnya diam, itu yang kulakukan.
Indra terdiam saat melihat wajahku, aku berkaca. Mata ini tertahan, saat melihat amarahnya.
Batinku berteriak, "Kau bodoh! Seharusnya kau minta maaf, bukannya membuat keonaran seperti ini? Apalagi sampai muncrat di wajahku." Aku menyeka wajah dengan tangan.
Indra menarik napasnya dalam-dalam, suara berisik itu tertahan sejenak. Dia kembali melihatku dengan rasa marah.
"Minggir!" ucapnya mendorongku.
Aku tersudut ke dinding membentur si putih itu cukup keras. Melihat perlakukan itu, Tri semakin marah. Gilirannya yang memaki Indra. Akhirnya Riski datang untuk melerai, karena melihat kami yang mulai tersudut.
"Bukan urusan kamu!" Indra mengatur napasnya, berbalik menatap ke arah Riski.
"Malu dong! Kamu tuh cowok, jangan malu-maluin kaum lelaki dong! Ketua kelas mana?" Indra diam, dia menengok Tri yang masih tampak siap bertarung.
"Mulut teman kamu itu yang dijaga baik-baik!" kata Indra dengan nada sedikit merendah.
"Oke! Oke! Sekarang kamu duduk di sana!" ucapnya menunjuk tempat duduk Indra.
Masih kesal, Indra menabrak Riski dengan badannya dan pergi meninggalkan kelas bersama teman-teman yang menyebalkan itu. Sepertinya dia lupa posisinya sebagai wakil ketua kelas.
***
Air ....
Riski menyerahkan minuman botol pada kami berempat. Karena terlibat langsung dengan pertengkaran itu, ini terasa sangat melelahkan. Aku, Tri, Ima dan Ani seperti pejuang yang baru selesai bertarung.
"Ibu Clara ke mana? Kok dia nggak masuk?" tanyaku pada Ima sembari memberinya air minum.
"Dia melahirkan. Kamu tahu kan tadi gerimis, jadi pertengkaran itu tidak terdengar,” jawab Ani.
“Ibu Clara melahirkan di ruang guru ya?” tanya Tri tulalit. Aku dan yang lainnya hanya meliriknya sambil bergeleng.
Astaga, apa yang sudah Indra lakukan padanya?
"Kelas kita di ujung sekolah," sela Ocha menghampiri Tri.
"Kamu baik-baik saja ‘kan?" Riski mengambil botol minum yang kembali teroper padaku.
"Shock! Sangat shock! Waah … udah lama aku nggak ikutan berantem," ujarku menggeleng.
“Kapan terakhir berantem, Na?” tanya Riski membuatku tertegun. Ingatanku perlahan melayang ke hari menakutkan itu. “Nana?” panggilnya menyadarkanku.
“Dulu, biasa lah. Cewek.”
"Sudah aku bilang, dia nggak akan mungkin minta maaf. Dia nggak akan semudah itu minta maaf padamu atau Tri, dia orang yang tidak kenal malu, Na." Riski sepertinya sudah tahu akan jadi begini.
"Intinya, dia itu orang yang menyebalkan!" sela Tri lemas.
“Hey hey hey!” Mike, laki-laki hitam manis itu datang menghampiri kami. Wajahnya terlihat kesal. "Aku tadi dengar kalau teman-teman yang lain sudah bergabung dengan geng Yani. Sekarang mereka punya nama!"
"Apa?" Riski tampak kaget.
"Geng Fisika!"
"Tri?" lanjut Ocha melirik Tri yang tampak lelah.
"Mereka pasti bakal musuhin kita?" timpalku takut.
"Sabar aja kak ... Aku sudah lelah!" jawab Tri.
"Riski?" ratapku padanya.
"Serahkan semuanya pada Allah, semoga kita semua bisa kuat dari bully-an mereka!" tambahnya.
"Makasih ya ... Mike …," ucap Ima terdengar lemah.
"Sama-sama. Oh ya, satu lagi.” Mike duduk bersama kami. Semua mata menuju Mike berharap pernyataan itu bukan hal yang menyeramkan. “Icha gabung dengan mereka.”
Aku, Tri, Ani, Ima, Ocha dan Riski hanya bisa saling menatap satu sama lain. Hujan di luar semakin deras, tapi tidak bisa menghapus kekesalan kami semua. Kenapa di musim panas harus hujan? Sepertinya langit pun menangisi nasib kami.
***
Jam dua siang lebih beberapa menit, hujan mulai reda. Aku berdiri di bawah pohon menunggu Sisi, hari ini aku tidak dijemput oleh tante maupun mobil Ayah.
Kejadian tadi masih membekas di kepala, wajah penuh amarah dari orang-orang sekelas pun mulai menari-nari di otakku. Terbayang lagi. Selalu begitu.
Seseorang yang tidak kuinginkan datang menghampiri, wajahnya tampak kalut dan resah. Indra datang sendiri menghadapku. Menunggunya akan menyakitkan, jadi kuputuskan berjalan perlahan di bawah gerimis yang hampir reda untuk menjauhinya.
"Nana?" Aku menghiraukannya. Dia terus mengikuti, hingga aku memutuskan bertanya apa maunya.
"Biarkan aku bicara sebentar saja! Kasih aku waktu? Please!"
"Untuk apa lagi sih? Apa kamu nggak bosan, terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali? Jujur, aku udah bosan dengerinnya."
"Nana, maafkan aku!" ucapnya terus mengikutiku.
"Kamu pikir memaafkan itu tidak sulit? Oke, aku mungkin bisa memaafkan kamu, tapi untuk apa? Apa yang harus aku maafkan darimu? Tentang taruhan? Menyakiti aku dan Tri? Atau tentang yang terjadi hari ini?" ungkapku berhenti.
"Maaf, karena aku sudah menjadikanmu barang taruhan dan mendorongmu tadi,” lanjutnya secepat kilat. Seolah-olah dia baru saja menghapalkan kalimat itu.
"Bukan itu! Hah.” Aku tertawa sejenak.
Apakah dia pura-pura polos? Indra terus saja menatapku, ingin sekali rasanya meletakan mikrofon di dalam kepala besarnya, agar aku dapat mendengar isi otak dari anak berandal ini.
"Maaf."
“Tahu nggak? Ini tuh bukan permohonan maaf, itu cuma basa-basi. Bukan begini caranya minta maaf."
"Terus aku harus bagaimana?" tanyanya terdengar polos.
"Lebih dari sepuluh bulan aku bertemu denganmu kan, kita sama-sama masih muda kan. Tapi, kenapa pemikiran kamu tuh sangat pendek? Sebentar lagi kita naik kelas loh, apa kamu nggak bisa melakukan hal yang sesuai dengan usiamu?" Tak tahu lagi apa yang sedang kukatakan.
"Maaf!" Dia terus saja mengulanginya.
"Kamu sadar ‘kan? Maaf itu tidak semudah ucapan. Aku mau kamu meminta maaf pada Tri, karena aku ingin tahu seperti apa bentuk ketulusan permohonan maafmu. Tapi apa? Kamu tuh penipu."
"Iya, aku penipu! Penipu yang tertipu." Aku mendadak bingung mendengarnya. "Hatiku hancur saat, hmm, saat Tri bilang aku tidak pantas untukmu," lanjutnya.
"Kalau aku boleh jujur, Ndra. Tidak ada siapa pun yang pantas untukku saat ini!"
"Selama ini aku memang bohong, pura-pura suka. Tapi hari itu, saat kamu membiarkan aku mengantarkan kamu pulang. Aku tidak bisa menipu lagi, Na, aku ingin kamu tahu jika ini bukan pura-pura lagi!"
"Sayangnya sudah terlambat, Ndra!"
"Nana!"
"Aku mohon, jangan ganggu aku! Masalah kamu dan Tri, tetap jadi masalah kalian. Aku tidak ikut bertanggung jawab."
"Harus bagaimana?"
"Meminta maaf itu datang dari hati, Ndra! Kamu saja sulit meminta maaf, apalagi memberikan maaf pada orang yang melukai perasaanmu. Coba kamu pikirin bagaimana perasaan aku? Perasaan Tri?" Aku meninggalkannya pergi menjauh.
"Aku akan dapatkan kamu dan juga maaf dari Tri! Itu sumpah aku, Na!" teriaknya. Entah ucapan apa lagi yang pantas untuk pengecut sepertinya.
***
Bersambung