YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 26: Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)



"Wajah polos itu cuma topeng, aslinya sih ... bahkan lebih jahat dari kita. Iya nggak, Icha?" tutur Yani memecah keheningan di tempat ini.


Namun, tak ada balasan. Icha tertegun, ia berjalan pelan menghampiriku. Mengelilingi dengan tatapan aneh, tatapan tak biasa.


"Desi? Vivian Desi maksud kamu?" tanya Icha menarik Yani ke belakang, mungkin agar dia bisa menikmati hinaannya.


"Ke-napa?" Aku mulai takut.


"Vivian Desi itu kakak sepupuku. Jadi, orang yang bantuin Desi waktu itu, kamu? Nana Rahayu? Perempuan berinisial NR itu kamu?" Icha sebelumnya berlari kecil ke arahku, kini menggenggam tangan beku ini.


Entah tangan siapa yang sedang dipegang Icha, aku merasa telah membeku seperti mayat, aku merasa itu bukan jemariku lagi. Aku menjawab serak, Icha terdiam. Aku tak mampu membaca apa yang ada dalam benak gadis bertubuh gempal ini. Wajahnya mendadak pucat dan melemparkan tangan ini, kemudian berlalu meninggalkan kami begitu saja.


Aku, Ani, Ima, Indra dan Riski terdiam di depan papan mading. Sementara yang lainnya telah kembali ke kelas masing-masing. Sepertinya aku mulai tenang setelah Ani mengusap lembut punggung yang terasa berat.


Perlahan wajah Ani menjadi kabur dan pelan-pelan menghilang dari pandanganku. Saat itulah aku rasakan tubuh menjadi sangat berat, napas tak keruan. Di kepala dan bayanganku hanya ada darah dan semuanya perlahan memudar, lantas menghitam.


***


Aroma itu tidak asing lagi, aku sangat familiar dengan bau ini. Pelipis masih terasa sakit, kubuka perlahan mata ini dan melihat sekitar.


Sepi, tak ada siapa pun di sini. Jam menunjukkan pukul 13.20 siang. Sepertinya yang lainnya masih di dalam kelas. Lalu, apa yang aku lakukan di sini?


Bayangan di cermin menyambut dengan wajah datar. Kami saling bertatap mesra, aku tersenyum ringan melihat wajah pucat itu.


"Hai, kita ketemu lagi," ucapku pada bayangan di sana.


Sepertinya aku pingsan lagi. Sepertinya suasana barusan membuatku mengingat semua kejadian buruk itu.


Itulah sebabnya aku tak ingin berurusan dalam segala hal yang berbau kelompok atau geng-gengan. Lihat saja, saat semua terbongkar yang menjadi korbannya tetap lah diriku. Melelahkan dan aku benci ini semua.


***


Pintu ruangan dibuka perlahan. Aku penasaran dan menunggu siapa sosok yang datang. Gadis itu tentu saja sangat tidak asing, dia membawa loyang aluminium kecil beserta handuk ungu yang dikaitkan di lengan kirinya.


“Nana, kamu sudah bangun ya?” ujarnya saat melihatku yang sudah duduk di atas tempat tidur. “Ani dan Ima aku suruh balik ke kelas dulu, nggak apa-apa ‘kan?” lanjutnya meletakkan loyang yang bagian atasnya sedikit beruap.


“Kamu ngapain di sini, Icha?”


“Bentar ya, aku ambil air dinginnya dulu. Ini terlalu panas, buat ngompres kamu.”


“Udah kok, aku nggak apa-apa. Istirahat sudah lebih dari cukup.” Aku tersenyum takut, Icha pun membalasnya.


"Aku--"


Ramai. Tiba-tiba saja tempat ini jadi ramai. Icha pun terhenti bicara.


Ani, Ima, Indra dan Riski datang menemuiku. Riski segera menyentuh pundak Icha, mengisyaratkan langkah selanjutnya akan diambil alih mereka berempat.


Icha mengangguk dan beralih memberikan ruang bagi ke empat orang ini. Mereka pun memulainya dengan mewawancaraiku dan memberikan pertanyaan seputar sakit yang diderita.


Ia pun mulai menceritakan apa yang terjadi kepada mereka berempat, semuanya diceritakan tanpa meninggalkan remahan kisah di balik sakunya. Bahkan statusnya sebagai kakak sepupuku pun dibukanya tanpa jeda.


Akhirnya, semua telah terbongkar. Aku kini dijauhi, kecuali oleh mereka yang memang dekat denganku. Sepertinya, terbongkarnya kejadian itu membuatku melakukan seleksi alam pada teman-teman di sekolah ini.


***


Ya, betapa bahagianya aku karena mereka menerimaku dengan alasan, bahwa dalam kasus itu aku hanya membela diri. Mereka terus di sisiku sampai akhir. Mereka akhirnya tahu, penyakit yang kuderita dan apa hal yang membuatku menderita penyakit aneh ini. Sebuah trauma psikologi, yang membuatku kadang seperti pengidap asma, kadang seperti pengidap jantung koroner.


Trauma yang sering membuatku melakukan ‘dissociation’, yaitu kondisi di saat aku mencoba membekukan pikiran dengan cara mengindari suatu kejadian. Itulah mengapa, aku menghindari geng antar murid, menghindari percakapan tentang diskriminasi, bahkan menolak membahas masalah hati. Aku juga sering terkena vertigo, begitulah caranya untuk melindungi diri dengan rasa sakit lainnya.


Aku tidak gila, aku penderita PTSD. Post Traumatic Stress Disorder, kini sudah lebih dari tiga tahun penyakit psikologi ini bersamaku. Bahkan saat aku pingsan di sekolah, aku bukan mendatangi dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam. Aku malah bertemu dokter psikologi untuk melakukan terapi dan meminang beberapa antidepresan dosis rendah.


Untungnya aku tidak separah penderita PTSD lainnya. Bisa dikatakan aku masih berada di tahapan awal saja. Mungkin selama sepuluh bulan setelah kejadian Emi, aku memang mengalami depresi akut, setiap melihat darah atau melihat tempat duduk di kelas.


Itu semua lah yang menjadi penyebabnya, aku tidak sanggup melanjutkan sekolah di tempat lama hingga memutuskan berhenti sekolah dan pindah ke sekolah baru, lalu kembali menjadi murid kelas sepuluh.


Namun, di tempat ini aku mulai bisa melupakan kejadian itu. walau terkadang insomnia melanda dan menyebabkan aku kelelahan dan sering pingsan.


***


Setidaknya aku berhasil bertahan di sini selama tiga tahun. Mencoba menahan traumaku, walau dengan sistem pertahanan diri yang buruk.


Setelah terbongkarnya masalah sekolah lama, selama sebulan penuh aku dicibir, tapi tak apalah. Mereka yang mencibir hanyalah penikmat sampul dan blurb novel di toko buku, bukan pembaca dan pembeli buku. Maka, aku harap maklum saja.


Tak ada hal yang bisa memicu rasa takutku lagi. Karena Yani dan kawan-kawan, tidak lagi mengganggu. Itulah yang membuatku nyaman hingga akhir.


***


Ujian dan pengumuman kelulusan pun sudah dilaksanakan. Aku lulus dengan hati yang sebagian sedih sebagiannya lagi bahagia. Aku pikir bisa menyembunyikan semuanya sampai akhir. Aku pikir masa putih abu-abu ini akan sama seperti yang lainnya. Memliki akhir bahagia dengan tawa perayaan kelulusan penuh keceriaan.


Tapi kisahku, tak pernah berakhir, kisahkau tak pernah selesai. Karena selalu ada potongan yang hilang. Entah potongan seperti apa itu? Yang pasti hidupku tak pernah sempurna.


***


*Footnote:


Dissociation: Gangguan disosiatif, ditandai dengan perubahan indvidu untuk memisahkan, menjauh, dan menghindar dari peristiwa traumatic masa lalu.


Post Traumatic Stress Disorder (PTSD): Kondisi mental di mana seseorang mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Mengalami kejadian* *traumatis adalah hal berat bagi siapa pun


Hipnoterapi: Terapi yang dilakukan pada subjek dalam kondisi Hipnosis. Kata "Hipnosis" adalah kependekan dari istilah James Braid's (1843) "neuro-hypnotism", yang berarti "tidurnya sistem syaraf". (Sumber: Wikipedia*)


***


Bersambung


Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih.