
Deg.
Rasanya aneh saat ia menyentuh tanganku.
“Tolong, saya mau duduk ya?" tanyaku meminta, menepis lengannya perlahan. Karena meminta dengan amarah diabaikan begitu saja olehnya, jadi kucoba bicara baik-baik dan tentu saja itu berhasil.
"Iya, Nana, silakan!" jawabnya terdengar canggung.
"Oh ya, lain kali jangan seperti itu ya, bukan muhrim! Kamu kan pasti tahu itu," ujarku asal-asalan, sambil melewatinya.
"Oh itu ... iya, maaf ya ...," katanya tampak menyesal.
"Iya!" jawabku jutek.
Anak laki-laki itu pun perlahan pergi, dia berjalan mundur sembari tersenyum. Aku merasa geli dengan wajah anehnya.
Ketika terasa semakin jauh beberapa meter, dia masih terus menatapku, dan entah kenapa aku juga harus terus melihat ke arahnya? Bahkan saat sudah sampai di tempat duduk geng-nya, dia terasa masih saja terus melirik ke arahku.
“Gila,” gumamku mengalihkan pandangan dan menatap Ima yang terdiam.
Aku yakin Ima menyaksikan kejadian barusan, bahkan anak itu tadi menyenggol-nyenggol meja tempat Ima meletakkan kepala berharganya.
Apa ini yang namanya kegeeran? Tapi, aku bisa merasakannya, karena siulan-siulan itu belum berhenti. Entah kenapa, akhirnya aku menoleh ke belakang dan ya ... yang terlihat dia memang sedang menatap dengan senyuman khasnya. Membuat jantung ini, rasanya aneh.
***
Setelah kejadian itu aku menjadi sedikit tidak nyaman bila berada di dalam kelas sendirian, entah tanpa Ani, Ima atau siapa pun. Malu karena dilihatin orang sekelas, marah karena ada laki-laki yang berani pegang-pegang dan kesal karena nggak bisa marah ke dia di depan teman-temannya.
Hah, inilah awal ketidaksukaanku pada kelas ini. Tapi, siapa yang tahu, ini juga menjadi gerbang pembully-an yang 'mereka' lakukan.
***
Dua bulan kemudian.
Selama berhari-hari, dimulai sejak hari itu. Aku merasa seperti tahanan yang terus-menerus diawasi. Yani yang merupakan teman se-geng anak laki-laki itu pun semakin hari semakin sering mendekatiku.
Hingga pada akhirnya kami menjadi akrab dan Yani memberikan saran agar bergabung dengan geng-nya. Setiap hari selalu saja begitu, dia terus merayu dan meminta bergabung dengannya.
Hah! Di zaman yang sudah canggih seperti sekarang dan tempat ini juga sudah termasuk lingkungan perkotaan. Kenapa masih ada yang main geng-geng-an atau kelompok gitu ya?
Jadi serasa artis dadakan, hingga pada akhirnya aku mulai bosan dengan ajakan yang selalu ditolak baik-baik. Jika diibaratkan tong penampungan air, aku ini sudah penuh diisi dengan sejuta ungkapan mutiaranya, yang sama sekali tak menarik bagiku.
"Gimana kamu mau nggak? Mau ya …," ucap Yani memaksa disela-sela percakapan kami. Hah, orang ini teguh sekali!
"Bagaimana ya ... Yan?"
"Padahal kalau ada kamu di geng kita, pasti jauh lebih seru belajarnya loh, kamu kan pintar. Sudah tiga bulan lebih di sini, setiap dibacakan hasil tes atau ulangan, kamu selalu tuntas dengan nilai yang memuaskan!" ungkapnya mulai memuji habis-habisan.
"Maaf ya, Yani, bukannya aku nggak mau loh. Tapi, aku itu nggak suka kumpul-kumpul seperti itu. Nggak nyaman!" tolakku halus, meskipun sebenarnya aku mulai kesal.
"Tapi 'kan, kita kumpulnya belajar kok! Bukan berbuat yang aneh, daripada kamu kumpul-kumpul sama anak-anak itu," katanya melirik Ani dan Ima yang sedang menuju ke arah kami.
"Aku tahu! Tapi, maaf, maaf banget ... aku rasa teman sekelas ya teman satu kelas, semua yang di sini sama, kita belajar sama-sama. Nggak boleh membanding-bandingkan!" ujarku bersikukuh dengan pendapat sendiri.
Aku pun hanya bisa terkikik takjub mendengar umpatannya. Setidaknya, mungkin akhirnya dia akan menyerah padaku. Tapi, sombong? Nggak kebalik tuh?
Semenjak itu Yani tidak sering mengajakku lagi. Setidaknya di depan teman-temanku dia tidak berlagak orang penting. Tapi, di belakang mereka. Yani terus saja membujukku, seperti sales yang sedang mengobral barangnya. Cukup kuat untuk memutuskan hanya berteman dengan Yani tanpa embel-embel geng atau kelompok.
***
Pagi ini, setiba di sekolah, aku memutuskan untuk pergi menemui teman semasa Smp dulu. Ituloh, Sisi namanya, orangnya lucu, jago menghayal dan polos banget. Kami pernah sekelas waktu Sd, tapi, tidak dekat.
Dia teman yang sangat baik, juga informan terbesar Tri. Karena setiap ditanya tentang informasi yang didapatkan, Tri pasti akan menyebut nama Sisi.
Kita sering bertemu hanya saat-saat pertama kali aku masuk ke sekolah ini. Kami janjian ngobrol berdua saat istirahat dan akan bertemu di depan kelasnya saja.
Hah, sudah empat bulan yang lalu ternyata aku di sekolah ini. Tidak terasa sudah lebih dari seminggu Yani tidak mengganggu, karena aku setuju berteman dengannya. Meskipun, status kami berteman, dia malah mulai berani menyindirku tidak jelas.
"Terus kenapa tidak mau? Kalau gini pasti udah jadi asistennya sekretaris kelas, bukan sekadar teman yang siap disindir melulu tiap hari," tanya Sisi menanggapi curhatanku.
"Malas ah ... asisten? Tak mau lah diriku! Hehehe. Kalau kumpul-kumpul seperti itu yang ada bukannya belajar, Sisi … malah bercanda, gosip atau pacaran. Mending nggak usah lah!" jelasku.
"Iya sih, betul juga!"
"Oh ya, kamu belum beritahu apa-apa ke teman sekelasku ‘kan?" Aku tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Tentang itu? Tenang aja, hanya teman-teman kita yang tahu. Kepala sekolah juga sudah minta teman-teman kelas sebelas untuk pura-pura tahu siapa itu Nana Rahayu. Kan ada si Pak Bos juga tuh!" bisiknya.
"Pak Bos? Hah? Kakak itu, sekolah di sini?" Aku terkejut dan hampir saja berteriak.
"Iya!” Sisi menyipitkan matanya.
“Kok aku belum pernah ketemu dia ya?” celetukku tersenyum.
“Orangnya sibuk kali. Oh ya, kenapa semuanya jadi begini sih?" tanya Sisi mempertanyakan sebuah masalah yang sedang berdiam dalam sekam dan kapan saja bisa berkobar ke permukaan.
"Ibu Lisa!" Aku teringat kelakuan Ibu Lisa.
"Dia pasti mau melindungi kamu. Kalau mereka tahu kamu dari asrama, habis kamu dikerjain sama Yani dan yang lainnya," ujar Sisi terdengar bijak. Aku mengangguk mengerti. “Tapi, semua baik-baik saja ‘kan?” lanjutnya memasang wajah khawatir.
“Iya, Insyaallah akan tetap seperti sekarang,” jawabku tertawa dan menggandeng tangannya.
Sungguh tak terasa, kami hampir menghabiskan waktu istirahat, hanya dengan mengobrol tidak jelas di luar kelasnya. Aku hanya bisa curhat tentang beberapa hal kepada Sisi.
Anak perempuan yang kulihat tempo hari, tak sengaja lewat di depan kami. Ingatanku pun melayang, kembali menuju ke hari sial itu. Hari yang mengurangi minatku bergabung dengan geng Yani.
Dia tampak santai, apa hanya aku di sini yang merasa tidak enak? Aneh!
***
Bersambung