
"Hey!" Suara itu tidak terdengar asing.
Aku menoleh dan menemukan sang pemilik suara. Dia mendekat, tatapannya tampak tenang. Itu tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Bermaksud pulang ke rumah setelah bertemu Riski, malah bertemu Indra di sini.
"Kamu ngapain di sini?" lanjutnya mendekat. Laki-laki berbaju oranye itu terlihat menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku—"
"Oh ya, rumah kamu di jalan bougenvile ‘kan?" potongnya menunjuk sisi kiri persimpangan jalan, aku mengangguk diam.
"Jalan-jalan sore ya?" lanjutnya lagi. Aku masih terdiam beberapa detik. "Na?" panggilnya menyadarkan aku.
"Iya ... Kamu sendiri lagi ngapain di sekitar sini?"
"Habis belajar dari rumah Icha!" jawabnya ringan, ada sesuatu yang menggelitik perutku, membuatku salah tingkah mendengar hal itu.
Icha? Batinku miris.
"Oh iya, rumah Icha nggak jauh dari sini ‘kan? Aku juga baru tahu," ucapku mencoba tenang.
"Iya ... oh ya ... mau jalan sama-sama sampai ke persimpangan jalan itu?" tawarnya terasa manis. Ah, orang ini.
"Boleh ...."
Kami berjalan ringan, tanpa sepatah kata pun. Tak lama langkah ini mulai terasa berat. Matahari di hadapan tampak menyilaukan, membuatku ingin segera pulang ke rumah.
"Kamu pulangnya jalan kaki?" tanyaku mencairkan suasana.
"Tidak, aku mau pulang sama Riski. Katanya, Riski ada janji di sekitar sini, jadi aku tunggu dia saja!" katanya mengingatkanku pada Riski.
Aku berbalik ke belakang dan bergumam, "Riski?"
"Kalian balikan ya?"
Pertanyaan itu ingin kujawab, tapi aku merasa tak pantas menjawabnya. Aku hanya mengangkat pundak.
"Oh ya, kamu nggak mau tanya kenapa aku belajar sama Icha padahal kita nggak satu kelas?" Pertanyaan macam apa itu?
"Maaf aja sih, aku nggak peduli tuh! Wassalamualaikum!" jawabku tersenyum dan belok di persimpangan menjauhinya.
Apa yang sedang terjadi diantara keduanya bukan menjadi pertanyaan besar bagiku. Masalahnya adalah, apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku sulit mengendalikan diri sendiri?
***
Jam telah menunjukkan pukul 06:15 Am, aku pun sudah bersiap pergi ke sekolah seperti permintaan Riski, meskipun jadwal kelas tambahan kami baru akan dimulai pada pukul 09:30 Am.
Mengabaikan Doraemon demi mereka berdua lebih menyesakkan dada. Tak apa-apa Doraemon, bersabarlah, kita bertemu minggu depan saja. Aku juga harus ikut kelas tambahan ‘kan.
Namun, aku begitu penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi antara kami. Apa hal yang membuat Yani tiba-tiba membenciku? Apa yang membuat Indra dingin padaku? Apa yang terjadi antara Riski dan Indra?
Semuanya kini ada dalam kepalaku, Riski harus bertanggung jawab atas rasa penasaran ini. Setidaknya Riski bisa meringankan beban ini. Sangat tidak mungkin aku berlari menemui Indra hanya untuk bertanya apa dia masih menyukaiku. Harus kusebut kebodohan macam apa itu?
***
Aku menunggu di taman sekolah, duduk sendirian sebelum yang lain datang.
Dia terlambat dan menciptakan kekesalan untukku. Kaki ini mulai mondar-mandir mengitari bangku kecil, angin yang mengembuskan sejuta pertanyaan, meraba wajah dingin dengan sejuta rasa yang ada saat ini.
Dua puluh menit sudah berlalu, Riski akhirnya datang juga. Semburat wajahnya tampak ragu, ada sesuatu dalam benak yang terpampang jelas dalam caranya memandang.
"Maaf terlambat!" datarnya.
"Ada masalah apa sih? Kok sekarang kamu jadi hobi telat gini?"
"Aku, aku bertemu Indra di depan rumah," lanjutnya duduk di hadapanku. "Lalu, apa yang mau kamu tanyakan?" Mulainya terdengar gentleman.
Aku mulai menginterogasi Riski, kejujurannya sangat dinantikan. Berharap ia menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi? Juga, apa maksud ucapan kak Iwan yang berkata kalau Indra mau mengutarakan perasaannya, yang kutangkap bukan sekadar candaan sama seperti waktu itu. Waktu di mana aku dan Riski memutuskan berpura-pura. Aku mencoba menerawang kepala Riski.
"Kamu ingat nggak? Waktu dulu kamu memergoki Indra pacaran?" potongnya. Aku memperhatikan.
"Semenjak hari itu—"
Riski mulai menceritakan sesuatu kepadaku, bak pendongeng professional dia membagi detik dan waktu yang masih tersisa diingatannya.
***
Dari pagi hingga siang ini, Riski terus saja memerhatikan Nana, tatapannya tak bisa hanya melirik Nana sekali saja. Tak puas rasanya membiarkan kepolosan itu terabaikan.
Setelah menggodanya atas apa yang terjadi beberapa saat lalu, Riski masih setia melihat Nana dalam balutan rasa penasaran.
***
Hari ini Riski hendak menceritakan perasaannya pada Indra, namun Indra berkata lain. Ada sebuah pesan yang ditangkap oleh Riski, mengisyaratkan sesuatu yang mematahkan hati. Tanpa sengaja Indra menceritakan rencana taruhannya kepada Riski, membuat Riski mulai merasa kesal.
"Seperti yang kamu tahu, Nana itu anak polos. Aku dan Yani buat rencana ini cuma untuk senang-senang aja kok," lanjut Indra.
"Jadi itu alasan kamu kemarin deketin Nana?" tanya Riski menahan kekesalan. Indra temannya, maka dia harus mengontrol emosinya. Walau yang dia ceritakan terdengar gila.
"Kamu tahu darimana kalau aku lagi deketin dia?" Indra penasaran. Setahu Indra, baru hari itu dia bercerita soal rencana membuat Nana jatuh cinta.
"Aku lihat kok, Nana juga cerita! Kamu kelihatan sekali kalau lagi ada maunya," seloroh Riski akhirnya tampak santai.
"Oh, jadi kalian sudah sedekat itu ya?"
"Iya ... aku minta jangan merencanakan hal yang aneh untuk Nana ya, Ndra ...."
"Loh, kenapa? Memangnya kamu serius suka sama Nana?"
"Siapa sih yang nggak suka sama Nana? Cuma orang bodoh yang nggak suka Nana ...."
"Maksud kamu?"
"Kamu nggak akan pernah bisa menang, Nana nggak mau pacaran. Itu aja yang aku tahu.”
"Jadi kamu mau taruhan denganku?" tantang Indra.
"Buat apa?"
"Asal kamu tahu? Kalau aku menang dalam taruhan melawan Yani, maka Yani tidak akan membully Nana."
"Maksud kamu?"
"Iya! Yani itu iri dengan Nana, kamu tahu kan kalau dia itu terlalu sempurna untuk ukuran yang katanya gadis dari desa. Dan ya, tahu aja Yani kayak gimana, munafik."
"Jadi, kamu mau pacarin Nana untuk menyelamatkan dia?" Indra mengangguk. "Kenapa?"
“Kenapa, kenapa?” tanyanya, “memang harus butuh alasan ya?”
“Iya.”
"Pertama, karena aku suka Nana dan kedua hadiahnya lumayan. Bisa mendapatkan Nana sekaligus melindunginya."
"Ini belum beberapa bulan, dan kamu sudah mau membela dan melindungi Nana sampai seperti ini?" Indra diam mendengar pertanyaan Riski.
Dia menatap Riski dalam-dalam. Indra pun mulai mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, rasa yang dirajut sejak kedatangan Nana. Rasa sekadar senang-senang semata yang sudah berubah menjadi perasaan ingin melindungi.
Riski cemburu, itulah yang sedang terjadi. Dia mulai mengantisipasi rencana-rencana Indra, terlebih takdir memihaknya. Karena tanpa sengaja Nana sudah mengetahui rencana itu. Yani pun semakin hari, semakin rajin menggosipkan Nana tanpa sepengetahuan Nana sendiri.
Setelah perkelahian Indra dan Tri. Riski mengantisipasi pemuda itu untuk mendekati Nana. Dengan menakut-nakuti bawha Indra kemungkinan besar akan mengungkapkan perasaannya pada Nana. Nana yang enggan pacaran dan risih pun memutuskan mengikuti cara lain.
Riski dengan sengaja menebar gosip lain. Setiap mendengar Indra mendekati Nana, Riski akan memperkenalkan dirinya sebagai kekasih gadis berhidung kecil itu pada orang-orang di sekitar Indra maupun Nana. Semua dilakukan tanpa sepengetahuan Nana, padahal perjanjiannya adalah membiarkan gosip menyebar, bukan malah disebarkan sendiri oleh Riski.
Mendengar Riski dan Nana pacaran, Indra patah hati. Bukan hanya Nana yang semakin menjauh karena dia sudah tahu yang terjadi, tapi juga sebuah fakta bahwa Riski berhasil mendapatkan Nana entah bagaimana caranya. Tapi satu hal yang tak diketahui Indra, mereka hanya pura-pura.
***
Hari ini, ada emosi yang tak bisa dibendung lagi. Indra menyambangi Riski dengan kemarahan, tanpa sengaja Ima menceritakan hubungan Riski dan Nana hanyalah kepura-puraan semata.
Kesal, Indra memaki dan mengajak Riski berbicara secara gentle. Tak ingin mendengar penjelasan apa pun dari mulut Riski, Indra terus menyalahkannya.
"Aku membiarkan dan mengabaikan Nana, karena kamu pacar dia. Aku menjauhi Nana, supaya Yani tidak bisa menyentuhnya, aku mendekati Icha biar Nana cemburu dan benci padaku. Tapi, apa ini? Pura-pura? Hebat kamu Ris, mempermainkan aku dan Nana!" Amarahnya tampak tertahan.
"Kita sudah sepakat, dia nggak suka kamu, Ndra! Itulah kenapa Nana minta bantuan aku!"
"Bantuan? Bukannya itu rencana kamu? Menjelek-jelekan aku di hadapan Nana, agar Nana mau pura-pura pacaran denganmu!" ucapnya berapi menarik kerah baju Riski.
"Ndra, biar aku jelaskan! Tolong tenang," pintanya menenangkan Indra.
Tak berguna, Indra melampiaskan kemarahannya. Adegan berdarah-darah itu menjadi hiburan bagi yang melihat.
Hingga tak lama berselang, Nana datang dan membela Indra. Membuat hati Riski terluka, ada goresan kecil di hatinya, dan rasa sakit itu lebih sakit dari sakit di badannya.
***
Bersambung