
Hari berganti hari, semua yang terjadi sudah terjadi. Daripada menangisi hal yang sudah berlalu. Aku memilih melanjutkan minggu-minggu sibuk.
***
Kelas 3 SMA.
Aku, Ima, Sinnta dan Ocha kami menjadi teman sekelas lagi. Hati ini senang, meskipun beberapa orang menyebalkan itu juga ikut menjadi bagian dari kelas baru kami.
Ani dan sepupunya menjadi teman sekelas, hampir setiap hari keduanya datang ke kelas kami saat istirahat tiba. Ani tampak tak rela meninggalkanku di tempat ini, dia bahkan menyarankanku ikut membimbing adik kelas untuk pelajaran bu Usi.
Lagi-lagi ini sudah hari minggu, lagipula aku selalu dilanda kebosanan dan tak ada rencana untuk pergi ke manapun. Kuputuskan saja untuk bersepeda keliling kompleks.
Pemandangan ini setidaknya akan membuatku terasa nyaman. Melupakan sejenak beban yang entah apa selalu bersarang di kepala kecil ini.
Aku terhenti di depan rumah seseorang, di sana ramai. Beberapa teman yang kukenal berada di rumah itu, termasuk Riski. Kuperhatikan lebih jauh apa yang sedang mereka lakukan, terlihat jelas Riski dan Icha sangat dekat.
"Ngapain mereka? Issh."
Tanpa disadari aku mengumpat, mengerucutkan bibir dan bergegas kembali ke rumah. Entah kenapa mendadak kesal, melihat keduanya tadi?
***
Di tengah perjalanan pulang. Langit dipenuhi suara burung, sesekali kutengok ke atas guna melepaskan energi negatif ke langit. Hmmm, jadi pengin makan rujak.
"Nana!" Suara yang memanggilku tampak jelas. Aku menoleh dan segera berhenti mengayuh.
"Indra?" Dia tersenyum, seolah menungguku di tengah jalan. "Hey?" ujarku memperhatikannya, yang datang dari arah berlawanan.
"Kamu ngapain di sekitar rumah Icha?" tanya Indra memarkirkan motor. "Jalan-jalan? Rumah kamu sebelah mana?" lanjutnya penuh pertanyaan.
"Iya," jawabku sekenanya, "oh, kalian lagi belajar bareng ya? Banyak tugas kelompok kan akhir-akhir ini."
"Nggak! Aku anterin Riski aja, aku dan Riski kan nggak sekelas lagi," jawabnya super santai. Orang ini sepertinya sudah lupa apa yang terjadi di antara kami.
"Oh ...."
Aku ingat Riski dan Icha jadi bagian dari kelas khusus yang berisi 20 siswa terbaik di sekolah kami. Terbaik dalam segala aspek. Aku tidak dimasukkan ke kelas itu, karena sering sakit-sakitan dan nilai semesterku juga sempat turun.
"Riski nggak cerita ya?" Aku hanya mengangguk. "Kenapa?" tanyanya semakin mendekat.
"Sayangnya, semenjak rumor tentang aku yang mengajak kalian bertemu waktu itu. Riski menjauhi aku, aku juga nggak tahu kenapa? Jadi ya ... aku nggak tahu apa-apa soal kalian lagi," ungkapku santai.
"Hmmm, oh ya tentang buku itu. Aku sudah selesai baca kok, tapi belum bisa bersikap sesuai bukunya, jadi ...," ungkapnya ragu.
"Eh, iya, nggak apa-apa kok. Itu terserah kamu juga ...."
"Mau ke taman?" tawarnya memecah acuhku.
"Boleh," anggukku ringan.
"Kalau begitu, kita pulang ke rumah kamu dulu, nanti kita naik motor barengan aja ke taman ya..."
"Jangan modus deh, Ndra!" ujarku tertawa, kembali mengayuh sepeda. Meninggalkannya sendiri.
***
Aroma pagi begitu kental. Masa libur sekolah di hari minggu seharusnya tampak seperti ini. Anak-anak sekitar kompleks rumah bermain riang di taman pasir, ada yang duduk bermain ayunan dan petak umpet pun terlihat mengasyikkan.
"Kamu mau es krim rasa apa?" tanya Indra duduk di sebelahku, memecah bait-bait kata dalam benak.
"Vanilla." Ya, aku menurutinya. Entah setan apa yang membujukku pergi ke taman bersamanya.
"Bukan strawberry?" ucapnya menyodorkan cup es krim. "Oh ya, ini tentang buku itu."
"Apa?"
"Kamu bilang, siapa yang pertama kali mengembalikan buku itu akan dapat maaf dari kamu, 'kan?"
"Terus?"
"Bagaimana kalau seandainya, kita berdua nggak pernah mengembalikan buku itu?"
"Ya, terserah kalian! Buku itu hanya untuk mencegah rasa aneh di hati kalian, agar tidak tumbuh terlalu jauh. Nah, itu berhasil 'kan. Lihat Riski, bukan hanya perasaannya saja yang menjauh, tapi orangnya juga jadi jauh banget," jawabku sok bijak.
"Aku sudah maafin kalian kok, jauh sebelum kalian minta maaf. Aku hanya tidak ingin kehilangan sahabat, itu saja."
"Tapi, kenapa?"
"Hm? Kenapa apanya?"
"Kenapa kasih buku itu?"
"Hmmm, bagaimana kalau salah satu diantara kalian memang jodohku nanti? Aku tidak akan takut, karena kalian pasti tahu apa yang harus dilakukan di usia remaja saat ini. Minimal, buat jaga diri lah." Indra tersenyum, lalu terkikik menahan tawa. "Apa itu lucu?" sergahku melihat tingkahnya.
"Iya, lucu. Jadi siapa yang kamu suka? Setidaknya, salah satu pasti ada yang lebih banyak 'kan?"
"Itu ...."
"Kamu peduli 'kan? Pada siapa? Siapa yang sesungguhnya ingin kamu ubah?" tanya Indra.
"Es krimnya bisa mencair." Aku mencoba menghindar.
"Lihat aku, Na?" Aku melihat sesuai keinginannya. "Kamu tahu, kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi."
"Kesempatan?" Aku bingung mendengar perkataannya.
Perlahan-lahan Indra mendekatiku, tanpa dipaksa, tanpa diminta aku menatap matanya dalam-dalam. Terlihat jelas apa yang coba dia sampaikan. Aku tersadar dan berpaling, menundukkan pandangan sambil mengaduk es krim yang mulai mencair.
"Setelah lulus nanti, mau nggak ta'arufan denganku?" tanya Indra menghentikan tanganku.
Apa? Batinku bingung. Aku pun masih menunduk malu. Perlahan mulai salting, tanganku kini menyentuh ujung jilbab biru berbintik putih, yang duduk manis di pundak.
"Riski tidak akan pernah menyatakan perasaannya padamu, ini tuh hanya cinta Monyet. Dia nggak tulus!" lanjutnya.
"Tentang Riski, itu bukan urusan kamu!" Aku beranikan diri bersikap tegas.
"Riski, tidak sebaik yang kamu kira dan itu faktanya!"
"Indra, berhenti!"
"Kenapa? Sekarang aku tahu, siapa yang sebenarnya ingin kamu ubah. Pasti si Riski, kamu ingin Riski menjadi seperti yang kamu mau. Iya 'kan?"
"Sudahlah Indra, aku mau pulang."
"Jadilah pacarku! Please!"
"Indra!" Aku mulai marah. Orang ini belum sadar. Sia-sia saja aku bicara baik-baik dengannya.
"Setelah lulus, kita bisa putus. Mari kita buat Riski cemburu," ujarnya mengagetkanku.
"Kamu gila ya? Mau melakukan hal sama seperti yang dilakukan Riski? Kamu nggak belajar dari apa yang sudah Riski lakukan. Kalian itu--"
"Aku, sayang kamu," potongnya.
"Sayangnya, kamu belum belajar apa-apa!" kesalku, hendak pergi.
"Mari kita buat perjanjian! Kamu mau Riski 'kan? Tidak, kamu mau orang yang akan jadi imam masa depanmu 'kan ...," paksanya.
"Cukup Indra, kamu apa-apaan sih? Udah gila ya?"
"Apa kamu sama sekali tidak punya perasaan padaku? Sedikit saja." Manik matanya seolah berbicara. Aku pun bisa melihat jelas, bahwa orang di hadapanku ini juga sedang dipenuhi kekalutan.
"Oke, aku jujur. Aku mulai suka Riski, terkadang kita menyadari orang yang berharga saat dia tidak ada. Aku terlambat dan meskipun tepat waktu, aku tidak bisa menerimanya dan tidak akan pernah bisa menerima siapa pun. Karena saat ini, belum waktunya."
"Maksud kamu?"
"Perjalanan ini masih panjang, Ndra. Umur aku tuh baru mau 18 tahun. Bagaimana bisa aku menyerahkan hidup pada orang yang sudah bohong?" ungkapku kesal membanting cup es krim ke bangku sebelah kanan.
"Nana?"
"Kamu puas, hah? Aku pikir, kamu tuh udah bisa diajak bicara baik-baik. Tapi, aku salah!"
***
Bersambung