
"Selamat pagi, Ayang."
"Pagi, Baby Girl." Dia memegang belakang leher dan meregangkannya.
Co-front maupun co consciousness membuat kami bisa saling mendengar dan berbicara satu sama lain. Makanya dia memilih mengontrak satu rumah seperti ini agar kami bisa leluasa berkomunikasi.
"Semalam aku bikin janji temu dengan Dokter Syifa." Dia mengaduk kopi hitam yang baru dia seduh.
"Semangat, Ayang."
"Makasih, Baby Girl."
"Macama." Aku memang suka menggunakan baby talk kalau sedang berbicara padanya. "Ayang ada jadwal apa lagi?"
"Dance doang nanti sore."
"Jangan lupa bilang makasih." Aku mengingatkannya untuk berterima kasih pada orang yang telah memberikan bukunya pada kami.
"Iya, Baby Girl."
Kami mendengar suara pintu yang diketuk, Yesseh memakai jilbabnya setelah memastikan siapa yang ada di luar melalui kaca jendela. Yesseh membuka kedua pintunya lebar-lebar dan mempersilakan tamu kami duduk.
"Jadi, beneran sendiri di sini?" tanya Bapak pemilik rumah yang kami sewa ini.
Yesseh merentangkan kedua tangannya. "Semuanya ada di sini."
"Kalau rame kan bisa lebih hemat."
Si bapak sepertinya tidak paham dengan apa yang Yesseh maksud.
"Uang tidak seberapa dibandingkan sebuah kenyamanan. Saya tidak bisa cocok dengan sembarang orang." Yesseh menaruh segelas air putih di meja karena si bapak menolak dibikinkan teh ataupun kopi.
Yesseh menanyakan apa maksud beliau datang berkunjung, tak mungkin masalah uang karena sewanya sudah dibayar lunas. Ternyata bapak itu mengeluarkan scrap book milik putrinya yang meminta tanda tangan.
Yesseh membuka buku itu dan mencari di bagian mana yang harus dia tanda tangani. "Saya harus tanda tangan di antara foto Seokjin dan Suga?" Dia terus membalik dan ketemu kumpulan fotonya, dia membubuhkan tanda tangannya di sana.
Dia menyerahkan scrap book itu kembali. "Anak Bapak cewek?"
"Anak Bapak cewek?" Aku mengulangi kalimat dengan nada yang kesal.
"Iya, cewek." Bapak itu mengangguk.
"Anak bapak tahu kan kalau Yesseh itu cewek?"
"Tahu."
Aku selalu mengulangi ucapan Yesseh sehingga Yesseh harus menahan tawanya.
"Kenapa senyum-senyum Bapak lihat dari tadi?"
Yesseh sengaja tidak menjawab pertanyaan itu. Si Bapak pamit pulang.
Aku langsung mengajaknya bertengkar. "Kenapa nanyain anak bapaknya, haaah?!"
Dia terbahak. "Astaga, Baby Girl. Aku basa-basi."
"Sekalian tanya anak bapak cantik tidak. Jomblo tidak. Anak bapak bisa main ke sini hari minggu soalnya saya free."
Dia mengambil lap dapur dan membersihkan meja kompor sambil tertawa. "Adorable."
"Stop bilang aku lucu kalau aku lagi ngambek. Akuuu marah!"
"Kan memang lucu."
Aku menautkan kedua alisku menunjukkan ekspresi kesal. Dia hanya menerima amukanku dengan sabar setelah itu kami berbaikan. Lebih tepatnya aku yang mereda.
"Ayang gak mandi?"
"Abis ini. Aku kan bukan kamu."
Baru saja kami berbaikan, sekarang dia sudah kembali menabuh genderang perang. Bisa-bisanya dia menyindir kegiatan mencegah pencemaran tanah dari bahan kimia yang selalu aku canangkan.
Dia melanjutkan kegiatan merapikan dapur dan melemparkan lap kotornya ke ember begitu dia selesai. "Ayo, mandi." Dia melemparkan handuk yang barusan dia ambil ke pundak kanannya. "Mandi bareng."
"Kupukul kau!"
Dia tertawa bahagia sambil menggeleng karena membayangkan segala pukulanku pasti akan terasa seperti pijat relaksasi baginya.
Selesai mandi dia langsung berpakaian rapi karena kami akan langsung pergi menuju klinik Dokter Syifa.
"Selamat ulang tahun, Y System."
Sepertinya Dokter Syifa mencoba membuka obrolan lagi setelah gagal berkali-kali.
"Ini 19 Maret, anda telat 18 hari. Ucapan itu lebih cocok untuk papaku, ulang tahunnya tiga hari lalu."
"Setelah sebulan menghilang, saya pikir anda tidak akan menemui saya lagi."
Aku juga memikirkan hal yang sama, makanya aku mengurungkan niatku untuk menceritakan banyak hal tentang Yesseh pada Dokter Syifa. Aku ingin memberikan keterangan untuk kemajuan terapi mereka. Yesseh kembali melanjutkan kegiatannya yang sedari tadi ia lakukan---tidak melakukan dan tidak mengatakan apapun.
"Saya berusaha mempelajari kepribadian anda dari pertemuan sebelumnya, saya pikir anda adalah orang yang tidak suka melakukan hal yang sia-sia."
"Saya tidak melakukan hal yang sia-sia."
"Lalu katakan, sedang apa anda sedari tadi?"
"Mencoba terbiasa dengan kehadiran anda."
"Bagaimana saya tahu tentang anda kalau anda tak mengatakan apapun." Dokter Syifa mengusulkan agar Yesseh memikirkan salah satu karakter yang bisa menggambarkan dirinya.
"Jung Ba Reum."
"Saya bercanda, Dokter. Tak ada yang bisa menggambarkan siapa saya."
Dokter Syifa menghela napas sepertinya kehabisan kesabaran. Dia meletakkan penanya melintang di atas kertas polos itu.
"Sepertinya ada."
Dokter Syifa kembali menyambar pulpennya dan bersiap untuk mencatat. "Siapa?"
"Anda bisa menemukannya di Facebook ataupun Tiktok."
"Baik, siapa namanya?"
"Yesseh."
Dokter Syifa menghembuskan napasnya lagi dengan kasar.
"Empat puluh lima menit kita sudah habis." Yesseh sedikit memundurkan kursinya dari meja untuk mengambil ruang dan berdiri. "Terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya."
Dia keluar dari ruangan dan bertanya padaku aku ingin apa. Aku mengatakan ingin es tebu setelah itu langsung pulang saja. Sepertinya besok pagi akulah yang akan menemui Dokter Syifa. Mungkin aku akan mengambil dua sesi, sehingga aku punya waktu satu setengah jam untuk berbicara.
"Sayang, es tebunya di kulkas, ya."
Aku berterima kasih padanya dan dia mengatakan ingin tidur karena kecapekan. Dia pergi ke kamar dan merebahkan badannya. Wajar saja, berbicara tentang hal-hal yang berkaitan kondisi mentalnya akan selalu membuatnya lelah.
Aku terbangun pukul dua kurang, dan memutuskan untuk salat setelah aku mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih melayang. Ada pesan masuk di Instagram saat aku mengecek ponselku.
"Yessi bisa jelasin tentang fiqih itu?" Pesan dari Bang Taka. Dia mengirimkan dua buble chat. "Bukan untuk seminar, untuk paham kondisi kita aja."
"Aku dan Abang tidak mukallaf. Yang mukallaf hanya Yesseh dan Bang Reyndra." Aku menjelaskan panjang lebar mengenai ini.
Aku sempat mengira Yesseh atheis karena dia mengatakan ingin membuat tattoo di tangan kanannya. Makanya aku bertanya pada salah satu teman kami di Al Azhar sana, atas kebaikannya dia bersedia menyampaikan permasalahan kami pada pihak Darul Ifta.
Setiap penjelasan yang kukirimkan pasti langsung terbaca, itu tandanya dia memang tetap berada di ruang obrolan, tapi dia belum membalasku padahal aku sudah selesai sejak semenit lalu.
"Abang?" Aku sengaja memastikan kalau dia baik-baik saja.
"Iya."
"Abang sedih?"
"Enggak. Lagi mikirin sesuatu aja."
"Apa tu?"
"Berarti mulai sekarang aku harus menolak kalau diminta jadi imam."
"Oh, gitu rupanya."
"Iya. Yessi gimana?"
"Dulu sedih, sekarang dah agak biasa. Walau kadang ada nyelekit-nyelekitnya dikit." Aku mengirimkan tiga emot tawa.
"Yessi cepat amat ngetiknya, cocok ini jadi customer service."
"Abang yang lama ngetiknya." Aku memfoto layar laptop yang menampilkan naskah novelku. "Lagian Yessi kan penulis."
Aku lanjut mengetik naskah novelku sambil terus mengobrolkan banyak hal dengannya. Tak terasa sudah waktu Asar, Yesseh ada kelas dance sore ini. Berarti aku yang akan menggantikannya.
Setelah salat aku langsung mengganti pakaianku dengan pakaian Yesseh yang serba hitam. Aku berusaha bersikap se-cool mungkin. Tidak mungkin aku membuatnya malu dengan bertingkah konyol saat muncul dengan penampilannya.
Saat masuk ke kelas, ternyata Bang Reyndra sudah ada di sana. Dia senyum ke arahku. Aku langsung tahu kalau dia bukan Bang Reyndra. Aku dan penghuni kutub utara yang sangat menyebalkan satu itu belum bisa dibilang akrab, makanya tak mungkin dia melemparkan senyumnya ke arahku. Sekarang dia berjalan menghampiriku.
"Kamu lucu pakai baju itu."
"Aku pikir nampak cool." Aku memerhatikan diriku dalam penampilan Yesseh ini.
"Iya, iya." Dia memberikan dua jempolnya. "Cool."
Aku memaksakan senyumku.
"Kemaren Reyndra belajar apa?"
"Heel toe."
"Apa dia bisa?"
"Kemaren sih bisa, tapi mungkin belum lancar."
"Dia memang gak suka dance."
Aku mengangguk-angguk. "Yesseh yang ngajarin dan wajar aja kalau dia susah paham." Sekarang aku menyombongkan diriku yang memiliki kemampuan mengajar lebih baik dari kakak kembar tercintaku itu.
"Kalau begitu ajarin Abang sebelum kelasnya mulai."
Aku menyanggupi. "Abang tengok aku." Aku menjelaskan dan mencontohkan gerakannya.
Dia mengangguk-angguk nampaknya mengerti. "Coba ulangi lagi." Dia tersenyum dan memegang lehernya mungkin malu belum bisa melakukan gerakan itu.
Otakku langsung nge-blank. "Jangan Yessi lah yang ajar." Aku sedikit menjauh darinya.
"Katanya tadi Yessi yang jago ngajar."
"Abang carilah yang lain."
"Bener cari yang lain?"
Aku berlari sambil menutupi wajahku yang memanas keluar dari kelas ini. Aku akan masuk kalau Bang Mihran tiba. Kelas ini bahkan belum dimulai, tapi aku sudah sangat ingin pulang.