
Dokter Syifa kembali berusaha mengajak Yesseh berbicara mengenai keluarga. Aku tahu Yesseh benci membahas keluarganya karena dia merasa menjadi seorang anggota keluarga yang gagal. Dia merasa menjadi seorang kakak yang gagal, seorang anak yang gagal. Dia benci membahas kegagalannya.
Dia ingin mengatakan dia menyayangi keluarga, tapi sikapnya malah menunjukkan sebaliknya. Itu hanya membuatnya merasa menjadi seorang pembual. Dia ingin ada keselarasan antara ucapan dan juga sikap yang dia tunjukkan. Sebenarnya itu alasan dia datang kemari. Aku sudah menceritakannya pada dokter Syifa.
Dokter Syifa berusaha membuat Yesseh terbuka dan mengatakannya sendiri. Dia harus bisa mengeluarkan racun yang ada dalam pikirannya itu. Pembahasan mengenai kegagalannya pasti selalu membuatnya marah. Akhirnya. Dokter Syifa menyerah membuatnya bersuara.
"Apa yang kau rasakan saat ini?"
"Aku tidak merasakan apapun."
"Kenapa menghindari orang-orang?"
"Aku tak suka orang-orang."
"Apa kau punya perasaan takut tertolak dan tidak diterima."
"Aku tak takut apapun, Dokter." Rahangnya mengeras. "Aku tak butuh orang lain untuk menerimaku, aku bisa melakukannya sendiri."
Dokter Syifa sekarang fokus menggali tentang rasa haus darahnya. Dia bertanya mengenai trigger apa saja yang bisa memicu munculnya perasaan itu dan juga apa reaksi tubuh yang dirasakan.
Yesseh mengatakan kalau jantungnya seperti ingin meledak, dia merasa sangat terbakar, dan otot-ototnya juga sangat menegang. Salah satu alasan kenapa dia lebih suka tinggal sendiri adalah untuk menghindarkan orang lain dari monster yang ada dalam dirinya itu.
Dokter Syifa bertanya mengenai buku kesukaan dan film kesukaannya. Dokter Syifa menanyakan apa persamaan dari semuanya. Yesseh mengatakan kalau dia suka tontonan yang berhubungan dengan medis, hukum, DID, dan beberapa film yang mengandung kekerasan lainnya.
"Kenapa menonton adegan kekerasan?"
"Karena aku tak bisa melampiaskan emosiku di dunia nyata."
Dokter Syifa menyimpulkan mungkin saja haus darahnya itu muncul akibat tontonan. Yesseh membantahnya.
Tentu saja kepribadian Yesseh tidak berdasarkan apa yang dia baca dan apa yang dia tonton. Dia sangat tahu seperti apa dirinya itu, dia bukanlah orang yang terombang-ambing.
Dokter Syifa sekarang memastikan apakah Y System hanya berjumlah sembilan, barangkali ada satu orang lagi yang belum kami kenali. Yesseh juga membantahnya dan mengatakan kalau itu memang dirinya sendiri.
"Aku bukan pengecut yang akan melemparkan keburukanku pada orang lain yang tidak bersalah."
Dokter Syifa kembali bertanya apakah Yesseh punya fase di mana dia bisa merasa sangat bahagia, dan fase di mana dia merasa sangat depresi. Yesseh tidak memiliki dua fase yang seperti itu. Dokter Syifa sedang memastikan apa dia punya gejala bipolar atau tidak.
"Apa kau pernah memiliki hubungan percintaan?"
Jangankan percintaan, kepincut sedetikpun pada makhluk bernama laki-laki saja dia tidak pernah. Dia tidak memiliki trauma apapun yang berhubungan dengan kaum adam. Kali ini Dokter Syifa mencoba menanyakan mengenai orientasi seksualnya.
"Aku aromantic, asexual, same *** attraction." Sekarang Yesseh kesal karena pembahasannya lari ke mana-mana. Dia ke sini tidak untuk membahas hal yang bukan menjadi masalah baginya.
Dokter Syifa menanyakan apa Yesseh tidak punya keinginan untuk membentuk sebuah keluarga impian, untuk itu, dia harus berusaha mengembalikan diri ke fitrahnya.
"Hidup sendiri, tinggal sendiri, mati sendiri adalah impian."
Anak satu ini memang sangat keras dengan prinsipnya.
Dokter Syifa mengatakan dia bingung menentukan diagnosis yang tepat untuk core tercinta kami ini. Diagnosis yang tepat penting untuk menentukan solusi yang tepat. Dokter Syifa sempat mengira kalau Yesseh mengidap gangguan kepribadian menghindar, tapi itu tidak cocok karena Yesseh bukan takut ditolak melainkan memang tidak suka dengan orang lain. Dia tidak peduli dengan orang lain, dia hanya ingin sendiri.
"Sesi kita habis, Dokter."
"Aku akan mengevaluasi ini." Dokter Syifa menyimpan kertas catatan terapi hari ini.
"Tak usah buru-buru, Dokter. Saya masih betah ...," dia mengeluarkan seringainya, "menjadi klien anda."