Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Riwayat



"Dia sebenarnya anak yang baik." Aku menceritakan tentang Yessehku pada Dokter Syifa agar Dokter Syifa punya gambaran mau dibawa ke mana pembahasan terapi mereka di sesi berikutnya.


"Kami tidak terlalu dekat dengan orang tua." Aku menceritakan papa yang kerja di kehutanan sehingga dia memang susah untuk selalu ada di rumah. "Dulu kami sudah pernah pindah ke Sumsel tapi pindah lagi ke sana karena Yesseh kecil selalu sakit-sakitan jauh dari papa."


Aku menceritakan pada Dokter Syifa tempat tinggal kami di waktu kecil berada di kawasan mess sehingga memang sangat sepi. "Teman Yesseh hanyalah adek laki-laki kami. Sepi sekali sehingga yang terdengar hanya suara kambing dan ternak lainnya."


Aku menceritakan riwayat Yesseh yang keracunan obat saat dia muntaber. Dia pernah dilarikan ke Tanjung Selor di usianya yang ke empat bulan, dan saat diperiksa darah hasilnya positif tifus dan demam berdarah. Sepanjang dirawat di sana, tidak ada tanda-tanda kesembuhan, sebaliknya badannya malah semakin menghitam. Jarum infusnya selalu bengkok dan harus diganti dan dipindah posisinya ke urat yang lain.


"Mamaku tahu ada yang salah, dia mengamuk sambil meminta infusnya dilepaskan. Pihak rumah sakit mengatakan mereka tidak akan bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Yesseh dilarikan ke Tarakan."


Ternyata dia tidak tifus dan demam berdarah, hanya muntaber. Dia mengalami keracunan obat yang fatal. Dia harus transfusi darah. Dia sempat meninggal sesaat. "Henti jantung. Dokter mencoba menyelamatkannya dengan memasukkannya ke dalam box berisi es. Dia kembali dan menangis."


Aku mengusap mataku yang mulai berkaca-kaca karena menceritakan bagian ini. "Di Long Tungu kental dengan mistis." Mamaku pernah bercerita kalau dia hamil bersamaan dengan kedua temannya, tapi salah satu temannya merasa ngantuk saat menjelang Maghrib, dia tertidur dan saat terbangun perutnya sudah kempes. Aku tak bisa memastikan itu berhubungan dengan hal gaib atau itu hamil anggur.


"Dia menjadi sedikit stress, Dokter. Dia selalu membawa Yesseh yang masih bayi ke rumahnya." Aku menceritakan kalau Yesseh sering jatuh dari ayunan saat berada di bawah pengawasannya dan kemungkinan ada cedera kepala. Bisa jadi cedera kepala itu terjadi berulang.


"Mama bilang kalau dia mencoba mengambil Yesseh, temannya itu akan histeris. Mama kasihan."


"Maaf, apa Yesseh menunjukkan gejala kelainan pada otaknya di masa kecil seperti perkembangannya terlambat?"


"Seingatku tidak, Dokter. Yesseh sangat pintar. Kemampuan eksaktanya sudah terlihat sejak kecil. Dia sudah bisa membaca di usia 4 tahun. Tapi, aku melihat buku TK-nya, semua angka yang dia tulis itu terbalik. Seperti pantulan cermin."


"Apa dia dyslexia?"


"Sepertinya tidak. Mungkin hanya seorang anak yang baru belajar menulis."


"Apa kau tahu sejak kapan ada rasa ingin membunuh itu?"


"Kurasa sejak kecil. Sejak kecil perasaannya yang seperti itu ada, hilang timbul. Kupikir itu wajar karena manusia memiliki amarah yang dia simpan di hatinya, dan rasa ingin membunuh adalah hasilnya."


Dokter Syifa mengatakan bahwa hal itu tidak bisa dibilang wajar. "Bagaimana interaksinya dengan teman-teman?"


Aku berhenti sebentar untuk mengambil napas. "Masa kecil di Long Beluah sangat menyenangkan. Kami memainkan permainan anak tradisional, di sana desa yang listriknya akan padam di jam enam pagi dan nyala lagi di jam enam sore. Nyala lampu kami menyebutnya. Itu adalah patokan untuk anak-anak kecil berhenti bermain dan pulang. Ingin menonton TV. Kami tidak terkontaminasi gadget pada saat itu. Semuanya menyenangkan."


"Bagaimana pengalaman di TK atau SD?"


"Di TK menyenangkan seingatku. Kurasa tak ada pengalaman traumatis. Di SD ada anak yang suka memalak dan meminta uang. Anak laki-laki yang tinggal kelas. Aku takut dan memberikan uangku sedangkan Yesseh tak pernah memberikan uangnya. Maaf, kepalanya sedikit besar. Aku bisa merasakan Yesseh untuk memecahkan kepala seseorang saat dia masih kecil. Untungnya kami berada di kelas sebelah."


"Kami kembali pindah ke Sumsel di kelas empat semester lima, menerima banyak bully-an fisik dan verbal. Karena kami pindahan luar pulau. Aku takut dan tidak nyaman berada di kelas empat karena dua kelas itu digabung menjadi satu. Tapi, Yesseh menghindari perkelahian karena melindungi adek laki-lakinya." Aku menceritakan pada Dokter Syifa kalau saat anak yang memalak itu tak mendapatkan apapun dari Yesseh, dia pernah mendatangi adek kami dan meminta uang padanya dengan alasan kakaknya menghancurkan barangnya.


"Adekku bercerita dengan polos, kami tidak tahu itu karena dia takut atau dia percaya. Saat itu kemarahan Yesseh semakin besar, tapi katanya anak perempuan tidak boleh berkelahi. Dia menyimpan semuanya dalam hatinya.


"Di kelas lima Yesseh pernah beradu fisik, luka di bagian alis kanannya, padahal dia dan anak laki-laki itu sama-sama menggunakan tangan kosong. Sepertinya pukulan itu terlalu kuat."


Aku menceritakan bahwa Yesseh selalu menutupi apapun dari kedua orang tua kami sejak dia masih kecil.


"Sekarang dia tumbuh menjadi anak yang tidak membutuhkan advice dari siapapun, Dokter." Aku menceritakan karakter Yesseh yang tidak suka diperhatikan, tidak suka dibantu. Baginya itu bukan bantuan melainkan gangguan.


"Di masa SMP dia bercermin pada dua orang di kelas kami yang memiliki tempramen buruk persis seperti dirinya, dia tahu itu tidak baik dan berusaha berubah. Bukannya berubah malah itu mendorongku untuk maju dan di sanalah aku mulai menjadi host. Penampilan Yesseh yang tomboy itu perlahan feminim." Aku terkekeh membayangkan kami sama-sama sempat mengira kalau kami berubah, padahal tak ada satupun di antara kami yang berubah. Karena Yesseh tetaplah Yesseh dan Yessi tetaplah Yessi.


"Dia dormant." Tapi, aku tidak yakin Yesseh benar-benar dormant selama 7 tahun seperti yang sebelumnya kukira. Sepertinya dia bangun sesekali.


Aku yakin dia bangun sesekali karena di masa SMA sepertinya dialah yang memilih ekskul yang diikuti. BARATA dan PKS, keduanya hampir sama seperti ekskul yang dia pilih waktu SMP, yaitu pramuka.


"Apa itu Barata dan PKS?"


"Barisan Utama dan Patroli Keamanan Sekolah. Intinya kedua ekskul ini adalah ekskul yang menuntut kekuatan fisik dan mental. Dulu aku memilih ekskul tari tradisional waktu SMP, tapi karena bentrok dengan pramuka, aku mengalah." Lebih tepatnya kalah karena Yesseh masih memegang posisi host saat itu.


Aku menceritakan pada Dokter Syifa kalau ingatanku dan dunia luar mulai terasa kuat saat aku berada di kelas 8. Sebaliknya, ingatan Yesseh mulai kabur bahkan dia tak terlalu banyak mengingat masa-masa di kelas 9. Dari sini aku bisa menyimpulkan posisi host benar-benar sudah kugantikan saat aku di kelas 8 semester 2.


"Masa SMP dan SMA tidak ada pembully-an, Dokter."