Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Kembalinya Jayantaka



Sekarang awal tahun 2024, aku memutuskan juga ikut membuka lembaran baru dan mulai menerima kenyataan. Aku kembali bergabung berkumpul bersama mereka bertiga seperti biasa yang kami lakukan di hari Minggu. Aku tak bisa terus-menerus menghindari Bang Reyndra, aku tidak menjadi teman yang buruk dan egois untuknya.


“Tiba-tiba pengen es tebu.”


“Buset, di Starbuck malah mau es tebu.”


Bang Rudra sama sepertiku---dramatis.


“Di sini gak ada es tebu, ya?” rengekku.


Bang Reyndra tertawa menampilkan deretan giginya yang rapi, aku kembali melihat lesung pipi kiri itu lagi. Kali ini aku berhasil menemukan tanda-tanda Jayantaka dalam dirinya, ternyata mereka benar-benar sudah fusion.


“Kay, kasih tips judul skripsi, dong.” Aku belum menyelesaikan kata-kataku, Bang Rudra sudah merespon dengan sedikit dramatis.


“Padahal aku punya tips bagus.” Dia ngambek karena yang ditanya hanya Kayana dan mengatakan tidak akan memberikan tips itu padaku.


Kami bertiga tertawa karena itu. Auranya Bang Reyndra sangat mirip dengan Bang Taka hari ini. Aku mengambil buku catatan kecil untuk mencatat tips dari mereka bertiga.


“Abang kenapa dari tadi ngelihatinnya begitu?” Tatapan teduh itu juga sangat mirip dengan milik Bang Taka.


Dia hanya menggeleng pelan dan tidak menjawabku. Aku menatapnya lekat-lekat untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang sedang berada di hadapanku.


“Taka itu.” Bang Reyndra langsung yang menjawabku karena mereka ternyata sedang co-fronting.


Aku bingung harus bereaksi seperti apa karena ternyata mereka benar-benar kembali pecah. Haruskah aku sedih karena mereka pecah lagi ataukah bahagia karena Bang Taka kembali?


“Bingung karena tidak tahu cara bereaksi?” Nadanya dingin seperti biasa. “Mungkin Rudra dan Kayana bisa bantu.”


“KAMI BAHAGIA.” Mereka berdua menjawab berbarengan dengan senyum yang merekah tanpa kepalsuan.


“Aku juga bahagia.” Bang Reyndra ikut mengakuinya perasaannya atas kembalinya Bang Taka. “Berbahagialah.”


Aku sangat bahagia, tapi reaksiku tidak mampu membuktikannya, karena aku masih memiliki kesedihan yang satu lagi. “Kenapa baru bilang?” Aku bertanya pada Bang Taka. Berarti kemaren aku tidaklah delusi. Yang ada di hadapanku ternyata benar-benar dia.


Dia tampak bingung menjawabku.


“Aku dan Kayana juga baru tahu.”


“Abang sembunyi, ya?”


Mengingat caranya mempersiapkan jas wisuda jauh-jauh hari, dia benar-benar mempersiapkan kepergiannya. Wajar kalau dia sembunyi dan tidak ingin Bang Reyndra menyadari kalau mereka kembali terdisosiasi.


Dia mengakui hal itu. “Anak ini berhasil menemukanku.”


“Selamat datang kembali.” Aku memberikan senyum terbaikku untuk menyambutnya.


Bang Taka tersenyum dan berterima kasih dan dia menanyaiku dengan sangat hati-hati. “Dengar-dengar Yesseh lagi piknik, ya?”


Mendengar nama itu disebut membuat hatiku sakit. Mataku sudah berkaca-kaca, padahal aku tidak mau menunjukkan kecengenganku di hadapan mereka. Cukup Yessehku dan anggota system kami saja yang tahu kalau sebenarnya aku sangat cengeng dan rapuh.


“Mau sambut kepulangannya?”


“Sambut?”


Bang Taka mengusulkan agar kami mempersiapkan hadiah untuknya dan dia bisa membukanya saat dia pulang nanti. Aku harus memberikan hadiah terbaik yang bisa kuberikan. Hadiah terbaik bukan hadiah termahal karena Bang Taka membatasi harganya tidak boleh lebih dari seratus ribu dan hanya boleh membeli satu tiap akhir Minggu.


Aku menyetujui usul yang sangat menyenangkan itu dan kami langsung memulainya hari ini. Aku mengajak mereka bertiga mencari buku yang belum sempat aku dan Yesseh temukan. Kami tidak bisa menemukan buku itu jadi sebagai gantinya aku membelikan buku yang sejenis itu.


Tubuhku berhenti sendiri saat melihat peralatan menggambar dan buku mewarnai. Pandanganku mulai kabur dan menghitam, aku bisa menebak siapa yang datang.


“Dedek.” Dia sudah di rumah dan sekarang asyik mengunyah marshmallow. “Enak?”


“Siapa yang antar Dedek pulang?”


“Dibonceng kakak.”


“Dedek udah mam?”


Dia mengangguk.


“Mam apa dedek?”


Dia bilang dia jajan bersama kakak dan abang. Untung saja Yessa berada di bawah pengawasan orang-orang yang paham kepluralan.


“Dedek bayar pake uang sendiri?”


“Abang yang bayar.”


Aku bertanya abang mana yang sudah mengeluarkan uangnya untuk dia.


“Abang.”


Aku tertawa karena aku tahu ada dua hingga tiga abang di sana. Aku bertanya warna baju dari abang yang dia maksud. Ternyata Abang yang dia maksud adalah Bang Reyndra. Aku menceritakan pada Yessa kalau abang yang itu kondisinya sama seperti kami dan dia mengatakan kalau ternyata dia sudah tahu.


Aku melihat kantong jajanannya banyak sekali, sepertinya mereka benar-benar memanjakan anak ini karena ternyata tak hanya Bang Reyndra yang membelikannya cemilan. Ada buku gambar, buku mewarnai lengkap pensil warnanya juga.


“Kok sendalnya dua, Dedek?” Aku bertanya saat melihat sendal bebek warna kuning cerah yang sama sekali tak ada bedanya itu.


“Couple.”


Aku memijat keningku dan bertanya-tanya siapa yang mengajarinya istilah itu. “Couple sama Kak Yessi?”


“Kak Yesseh.”


Aku benar-benar melepaskan tawaku, Yesseh pasti akan pasrah memakainya karena itu pemberian dari Yessa.


Aku meminta untuk tidur dan mengizinkanku untuk fronting, dia yang polos malah berlari ke kamarnya dan benar-benar pergi tidur.


“Ini mah tidur beneran,” batinku.


Aku paham Yessa tidak mengerti bagaimana cara mengizinkan yang lain fronting. Setelah dia tertidur, aku bangun dan mengirim pesan ke grup untuk berterima kasih karena telah menjaga adek bungsu kami. “Yessa nakal gak tadi?”


“Anteng kok dia,” jawab Bang Rudra.


Syukurlah didikan Yesseh padanya agar dia tidak tantrum saat bersama orang lain ternyata berhasil.


“Kay, makasih udah anterin Yessa.”


“Sama-sama, Yessi.”


“Makasih juga udah jajanin dia.”


Mereka mengatakan kalau itu bukan masalah.


Aku mengirimkan foto sendal bebek kuning yang baru saja kejepret langsung dari kamera WA. “Mohon penjelasan ini siapa yang ngajarin Yessa tentang couple?”


Bang Reyndra mengirimkan satu buah emot tertawa.


“Tuh, orangnya muncul,” balas Kayana.


“Ini biang keroknya.” Bang Rudra ikut mereply emoticon tadi.