Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Yin dan Yang



Aku membaca ulang laporan individu KKN kami yang sudah disusun oleh Bang Yohan dan Kak Yaren. Aku langsung mengirimkan laporan itu ke DPL secara daring. “Kak Yaren jadi kumpul bareng mereka?”


Semalam Bang Reyndra meminta salah satu di antara Bang Yohan ataupun Kak Yaren untuk bergabung bersama mereka, tapi dia berpesan untuk tidak datang kalau ada aku. Aku menebak mungkin ada hal penting sehingga dia meminta salah satu dari mereka datang. Sepertinya dia ingin menepati janjinya untuk tidak muncul di hadapanku dulu sampai aku sendiri yang menemui mereka karena itu tandanya aku sudah siap.


Kak Yaren bertanya apakah aku akan tidak apa-apa kalau aku melihat dia. Aku mengangguk dan mengatakan kalau aku ingin melihatnya. Aku meminta agar Kak Yaren tak perlu memberi tahu kalau aku ada di belakang


.


Karena aku yang memintanya, akhirnya Kak Yaren mengganti pakaiannya dan langsung pergi ke tempat di mana biasa kami berkumpul. Kami sedikit terlambat karena tadinya Kak Yaren memang berencana untuk tidak datang, sesuai dengan permintaan Bang Reyndra.


Ternyata Bang Reyndra ingin menanyakan sesuatu tentang Yesseh dan system ini. Aku heran kenapa dia masih penasaran dengan DID padahal urusannya dengan ini sudah selesai sejak hari itu.


“Pemikiran Yesseh sangat kompleks.” Kak Yaren juga mengakui kalau pemikiran manusia memang sangat kompleks tak hanya pemikiran Yesseh saja. “Kalau kau bertanya padanya, dia pasti akan menjawab ini anugerah dari Tuhan.”


Kak Yaren terkekeh mengingat adeknya yang sedang tidur lama itu. Kak Yaren memilih untuk menceritakan bagaimana kepemimpinan Yesseh pada system ini karena kalau ditanya landasan pemikiran, Kak Yaren masih belum tahu jawaban pastinya.


“Yesseh menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang kusuka dan tak perlu repot mengurus rumah saat aku punya waktu fronting.”


Yesseh tahu Kak Yaren tidak punya waktu sebanyak kami berdua makanya dia mengatakan hal itu. Urusan rumah, biar menjadi urusannya dan urusanku saja.


“Kalau dia menawarkan sesuatu dengan menanyakan padaku terlebih dahulu, itu tandanya dia sedang tidak punya uang dan aku akan mengatakan aku tidak menginginkan apa yang sedang dia tanyakan itu.”


Yesseh memang akan langsung membelikan apapun kalau dia rasa cocok untuk kami tanpa bertanya dan meminta persetujuan dulu kalau dia sedang punya uang.


“Dia sangat protektif. Dia memilih untuk bertanggung jawab dengan anggota systemnya.”


Kak Yaren meminta Bang Reyndra untuk menyimpulkan sendiri seperti core Y System itu dari semua cerita yang sudah dia bagikan.


“Kau bisa tanyakan sendiri kalau dia sudah pulang,” usul Kak Yaren.


Bang Reyndra mengangguk. Aku berusaha mencari perpaduan antara dia dan Jayantaka di sana, tapi tak bisa kutemukan.


“Terakhir kali kami bertemu, dia menendangku dengan sekuat tenaga.” Bang Reyndra menceritakan kejadian di jembatan itu. “Dia benar-benar ingin membunuhku.”


Kak Yaren sangat paham kenapa Yesseh bisa sangat marah karena ucapan Bang Reyndra waktu itu. “Ternyata kamu sudah bertemu dia, ya.”


“Dia siapa?”


“Yesseh dalam mode terburuknya.”


“Kupikir ada yang lain.”


Kak Yaren tertawa dan mengatakan yang dia maksud adalah monster yang ada dalam diri Yesseh. Sisi terburuk Yesseh.


“Kenapa gak pergi, Reyn?” Kak Yaren menanyakan alasan kenapa dia tidak pergi padahal Bang Yohan sudah berkali-kali memperingatkannya untuk pergi waktu itu.


“Kalau dia seperti itu kamu benar-benar bisa mati terbunuh, Reyn.” Kak Yaren juga mengatakan dia bersyukur karena ada Bang Yohan yang menahannya.


“Kalau Yessi bagaimana?”


“Yessi orang yang suka overthingking. Mereka berdua seperti hitam dan putih, kiri dan kanan, Yin dan Yang. Yessi dan Yesseh bagai dua sisi koin yang bertolak belakang dan tak bisa dipisahkan. Yang satu takkan lengkap tanpa kehadiran yang lain.” Kak Yaren menjelaskan panjang lebar mengenai diriku. Apa persamaan kami berdua dan apa perbedaan kami berdua. “Oh, ya, satu lagi. Yesseh penuh kebencian, Yessi penuh cinta.”


“Aku merasa sakit saat melihat Yessi.”


Dia terlihat murung, itu membuatku berpikir aku sudah melakukan kesalahan karena berusaha menghindar darinya.


Kak Yaren menanyakan alasannya. “Apa kalian bertengkar?”


Bang Reyndra menggeleng. “Tidak bisa dibilang bertengkar. Aku paham dia butuh waktu untuk bisa kembali melihatku.”


“Apa sebelumnya pernah merasakan sakit saat melihat Yessi?”


Dia menggeleng dan dari ekspresinya dia juga sangat bingung.


“Sepertinya perasaan itu milik Jayantaka.”


“Kalau itu masuk akal, tapi kenapa sakit?”


“Apa kalian tidak pernah membicarakan ini?”


Dia menggeleng. “Kami jarang berbicara satu sama lain. Aku sengaja selalu menghindarinya.”


Aku penasaran apa alasannya, apa karena dia tidak terima dengan keadaan dan keberadaannya? Apa ini alasan Bang Taka mengorbankan dirinya? Demi adiknya.


“Mungkin saja itu perasaan sebelum dia meninggalkan semuanya.”


“Aku mau ke laut,” ujarnya lesu.


Kedua temannya yang sedari tadi hanya diam membiarkan mereka berdua berbicara ini akhirnya bereaksi saling pandang satu sama lain.


“Laut mana, Reyn?” Bang Rudra bereaksi dengan cepat, bukan karena dia semangat ingin ke pantai karena liburan semester. Nada bicaranya terdengar khawatir.


“Iya, laut mana, Bang?” Kayana sudah memanggilnya dengan sebutan Bang.


“Parangtritis.”


Mereka menyetujui keinginan laki-laki yang nampak sedih ini. Mereka bertanya apa Kak Yaren akan ikut.


“Bang Yohan yang akan ikut kalian.”