Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Blending



Tadi pagi aku terbangun saat mendengar azan Subuh dan memutuskan untuk salat meski aku sendiri tidak tahu siapa sebenarnya aku. Sampai sekarang aku masih tidak tahu siapa diriku dan sedang bingung memilih pakaian siapa yang akan kupakai hari ini. Aku memutuskan menggabungkan semuanya style dan menggunakan long coat untuk luaran.


Aku memarkirkan motorku saat sampai di Starbuck dan mencari mereka bertiga. Aku tahu mereka, tapi masih tidak terlalu kenal.


“Kau nampak berbeda.” Gadis yang kutahu bernama Kayana ini heran penampilanku.


Aku hanya mengulas senyum karena aku juga sedang bingung.


“Siapa ini?” Laki-laki di hadapanku dengan kondisi yang sama dengan kami ikut menanyaiku.


Aku menggeleng. “Tidak tahu.”


“Blending?”


Aku mengangguk.


Dia mengangguk paham dan mengatakan nanti juga akan tahu siapa yang fronting. Kami lanjut bercakap-cakap. Reyndra menanyaiku tentang KKN kemaren.


“Yaren dan Yohan yang handle,” jawabku.


Mereka berdua sedang co fronting dan aku tahu mereka sedang bergantian berbicara denganku.


“Kira-kira kenapa kamu suka banget sama es tebu?”


“Itu kesukaan Yessi.”


“Dance, kenapa suka dance?”


“Itu kesukaan Yesseh.”


Dia terus mengangguk setiap aku menjawab pertanyaannya. “Jadi, siapa ini?”


Aku tersenyum memahami ternyata ini tujuan mereka berdua menanyaiku banyak hal sedari tadi. Sekarang aku tahu siapa aku.


“Aku Reyndra, kamu?”


“Yaisa.”


“Hai, Yaisa.” Kayana dan Rudra berbarengan menyapaku.


“Hai.” Aku senang bergabung dengan mereka.


Rudra bertanya blending itu apa karena dia tidak terlalu paham. Kayana bertanya aku dan Reyndra yang menjelaskan atau dia saja. Kami berdua mempersilakan Kayana untuk menjelaskan pada Rudra.


Dia mengeluarkan semua peralatan make up yang ada dalam tasnya. “Tenang aja, aku putri seorang terapis dan sudah sangat terlatih di lapangan.”


Reyndra terkekeh mendengar itu.


Dia melipat tiga lembar uang berwarna merah dan menyusunnya menjadi tiga baris. Dia menjadikan itu dan peralatan make up-nya sebagai alat peraga. Gadis cerdas.


“Ini,” dia mengangkat satu lipsticknya ke depan muka Rudra dan meletakkannya ke barisan uang yang paling depan, “namanya fronting.”


“Ini,” dia mengambil satu lisptick lagi dan meletakkannya di samping lipstick yang sebelumnya, “namanya co fronting.”


“Ini,” dia mengangkat lip gloss dan meletakkannya di barisan uang yang kedua, “namanya co consciousness.”


“Ini,” dia mengangkat lip tint dan meletakkannya di barisan uang yang ketiga, “juga sama co consciousness.”


“Fronting adalah aktivitas mengendalikan tubuh, pengendalinya disebut fronter. Co fronting, yang fronting ada dua dan sama-sama bisa terhubung dengan dunia luar.” Rudra meminta konfirmasi apakah kesimpulannya sudah benar.


Kayana mengangguk dan menyuruhnya melanjutkan.


“Co consciousness itu berbagi kesadaran. Makanya meski tidak fronting, mereka tidak mengalami amnesia.”


“Benar.” Kayana menunjuk yang di barisan ketiga. “Apa beda sama yang ini?”


“Semakin jauh di belakang, maka perasaan terhubung juga semakin jauh? Seolah-olah mengalami mimpi yang sangat samar?”


“Anggaplah begitu.”


“Pintar kau, Rud.” Reyndra memujinya.


“Udah sering bareng kalian, kok.” Rudra meminum kopinya. “Kalau blending?”


Kayana membuka semua alat peraganya tadi dan menghamburkan semua tutup dan badan pewarna bibir itu ke atas uang.


“Berantakan.” Rudra melihat keadaan di atas meja yang sudah kacau balau itu dan menoleh pada Kayana yang tertawa.


Kami semua memutuskan untuk pulang. Aku bingung ketika baru saja melangkahkan kakiku melewati pintu. “Motorku yang mana?” batinku.


“Itu motornya.” Reyndra menunjuk motor hitam seolah bisa membaca pikiranku.


Aku hanya berdiri di depan motornya dan bingung mau kuapakan.


“Jangan bilang gak bisa naik motor?”


Aku mengangguk.


“Jangan bilang juga lupa arah jalan pulang?”


Aku tersipu karena tebakannya benar semua.


“Kay.”


Kayana datang menghampiri dan Reyndra memintaku untuk ikut bersama Kayana dan dia yang membawa motornya.


“Yakin bisa?” Rudra menggodanya dengan mengatakan khawatir Reyndra akan menabrak.


“Kalian tahu alamatku?”


Aku baru tahu kalau Rudra dan Kayana pernah datang ke rumah.


“Mana kuncinya?”


Aku lupa belum memberikan kunci motor Yesseh pada Reyndra. “Kamu gak bawa motor?” Aku menyerahkan kunci itu padanya.


“Tadi dia nebeng sama aku,” jawab Rudra kesal.


“Kau jangan cuci baju pake detergent-ku, ya.”


“Ya Allah, Reyn. Perhitungan amat sama sahabat sendiri.”