Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Halusinasi



“Jangan melamun terus.”


Badanku sedikit tersentak mendengar teguran dari Bang Yohan, aku melihat sapu yang sedari tadi ternyata hanya kupegang karena sempat berencana ingin beres-beres rumah.


“Mikirin yang kemaren?”


“Menurut Abang kenapa dia lupa?”


“Kata Rudra dia trauma laut, mungkin saja Dissociative Amnesia.”


Bang Yohan ada benarnya. Tak heran kalau dia memiliki kemampuan berenang milik Jayantaka karena mereka berdua sudah fusion.


“Jangan mikir yang aneh-aneh.”


“Iya, Abang,” jawabku lesu.


Aku melanjutkan beres-beres rumah dan mandi lalu pergi ke perpustakaan kampus mencari bahan-bahan untuk menemukan judul skripsi. Aku memberikan KTM Yesseh dan meremas liontin kalung yang bersembunyi di balik jilbabku. Aku memakai kalung milik Yesseh, aku sangat merindukannya. Aku merindukan mereka berdua.


Ini hari Jumat, secara tidak sadar tanganku bergerak sendiri mengambil gamis yang sama yang kupakai saat bertemu dengannya pertama kali di sini. Awalnya aku ingin mencari bahan-bahan penunjang skripsi, tapi badanku malah bergerak sendiri pergi ke bagian rak biologi. Mencari buku yang sama yang tidak berhasil kutemukan waktu itu.


“Kembalilah, Yesseh, sebelum aku benar-benar menjadi gila,” batinku.


Aku tidak menemukan bukunya dan pergi ke bagian paling belakang dan duduk dengan memeluk kedua lututku di sana. Kali ini, tanpa membaca buku DID.


Pikiranku kosong, aku tidak mau menangis di sini saat ini, karena tangisanku sudah tak lagi mampu membuat Yesseh mendatangiku.


Aku merasakan kehadiran seseorang dan langsung mengangkat kepalaku memastikan siapa orang itu. “Bang Taka?” tanyaku lirih sambil memastikan aku tidak mengalami delusi. Karena dia juga sedang memakai baju yang sama seperti yang dia kenakan waktu itu.


“Hai.”


Aku tersenyum kecut dan bisa menebak halusinasi apa selanjutnya yang akan kudengarkan.


“Di sini juga?”


“Iya, di sini juga.” Aku membiarkan bibirku bergerak menjawab halusinasiku. “Abang cari buku apa?”


“Buku penunjang skripsi, sepertinya tidak ada di sini.”


“Ini kan bagian sastra, Abang bukannya teknik otomotif?”


Dialog kami waktu itu masih kuhafal di luar kepala.


“Duduk di sana,” dia menunjuk ke arah meja dan kursi yang disediakan, “gamismu nanti kotor.”


“Saya duluan, ya.”


“Iya.” Suaraku sudah hampir tak terdengar.


Aku memerhatikan punggung laki-laki itu yang semakin menjauh, aku kembali memeluk kedua lututku lagi saat punggungnya sudah menghilang ditelan pintu. Aku memutuskan berlari keluar dan mencarinya. Orang itu tidak ada. Dia hilang. Aku benar-benar mengalami delusi.


Azan Zuhur berkumandang, aku memutuskan untuk salat di musola yang ada di perpustakaan ini. Ada dua orang di dalam yang merupakan anggota UKM Media. Mereka berdua masih membaca Al-Quran.


Mereka berdua malah berdiri malah mengapitku di tengah-tengah mereka. “Kak Yessi imam.” Mereka mengatakan itu berbarengan.


“Aku tak bisa jadi imam,” jawabku datar.


Mereka tetap memaksaku dan tak terima dengan alasan kalau aku tidak bisa.


“Aku tidak mukallaf.” Aku ingin menangis saat mengatakan itu. “Aku orang gila, kalian dengar.”


Mereka berdua heran dan saling bertatapan.


“Aku bukan Yessica Mayasari. Terserah mau percaya atau tidak. Ayo kita salat sendiri-sendiri.” Aku berbicara tanpa jeda.


“DID dan fiqih?” tanya salah seorang di antara.


“Ya, makanya kemaren aku mengusulkan hal itu.”


Awalnya aku memang tidak bisa menerima kalau aku tidak mukallaf. Aku tidak bisa disebut gila, juga tidak bisa disebut mukallaf. Yesseh menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi, karena kunci kesadaran berada pada dirinya. Meski kami semua memiliki akal, tapi akal itu terpisah darinya.


Sekarang aku paham, DID memang sangat kompleks. DID adalah ujian bagi pemiliknya, core kami memang sangat tangguh, belum tentu dengan core-core yang lain. Tidak hanya tentang kesadaran, ini juga tentang seksualitas, gender, kepercayaan. Ada tiga di antara anggota Y System yang non muslim, kepada siapa akan ditimpakan dosa syirik itu? Memikirkan yang satu ini membuatku paham ternyata Islam sudah memberikan solusi atas semua masalahnya. Yessehku mengatakan kalau dia tidak bisa mendapatkan pahala dari kesempurnaan ibadah, dia akan mendapat pahala dari kesabaran.


Salah satu dari mereka bersedia menjadi imam. Kami akan salat berjamaah.


“Tunggu dulu,” aku menghentikannya sebelum dia bertakbir, “tukar posisi.”


Kami berdua bertukar shaf sehingga aku berada di sebelah kiri imam.


“Sawwu sufuufakum, fa inna taswiyatas shoffi min tamaamissholah.”


Kami mengangkat kedua tangan untuk takbiratul ihram setelah imam membaca takbir dan bersedekap.


“Allahu Akbar.”