
Aku mengunci pintu dengan cepat dan langsung membuka kaos kakiku kemudian menuju kasur untuk tiduran. Rasa kantuk yang teramat sangat tadi itu sudah menghilang tanpa aku sadari.
"Ganti dulu gamisnya, Baby Girl."
"Gak mau." Aku menggeliat dan memeluk guling. "Punggungku mau paaataaah!"
Seperti biasa kamu akan mengatakan kalau aku sangat dramatis. "Cuci kaki dulu, Sayang."
"Iyaaa." Aku bangun dari tidurku dan bergegas ke kamar mandi dan mencuci kaki. Tentunya sambil memanyunkan bibirku.
"Hobi amat pake kaosku." Kamu protes saat aku mengganti gamisku dengan kaos hitammu.
"Pinjam lah." Aku menjawabmu dengan sedikit sewot. "Yang ini bahannya adem, aku suka." Aku berkaca dan membenarkan posisi liontin kalungku.
"Oh, suka yang itu." Kamu mengangguk kecil. "Nanti kubeli lagi banyak-banyak."
Kebiasaanmu memang suka sekali berlebihan. Padahal tidak perlu banyak-banyak, tiga lembar saja sudah cukup.
"Kuliah offline ternyata capek, ya, Bang."
"Kemaren kuliah online kamu ngeluh, sekarang kuliah offline ngeluh juga."
Hehe. Aku hanya terkekeh sambil nyengir kuda. Kamu sangat benar. "Hobi amat langsung nge-ulti."
Kamu tertawa. "Belum terbiasa aja itu, Sayang."
Perutku berbunyi karena cacing-cacing di dalamnya sudah berdemo. "Aku lapar."
"Ayo, kita makan."
Aku langsung bangkit dengan senyum sumringah. "Makan di luar, ya, Bang. Sekalian beli es tebu."
"Gak."
Aku merengut.
"Tadi pagi kan aku masak. Mubazir kalau gak dimakan."
Aku makin merengut. "Iya." Aku menuju dapur dengan langkah yang sedikit kuhentam-hentamkan. Rasa kesalku tidak berlangsung lama karena aku suka makan masakanmu.
Aku makan dengan lahap karena tadi pagi kamu memasak makanan kesukaanku. Orang Besemah menyebut masakan ini dengan sambal dadu, biasanya dihidangkan di acara-acara pernikahan atau acara sejenisnya.
Setelah makan aku kembali mengambil buku yang tadi kubaca di perpustakaan dan mulai memahami isinya lagi.
"Bagus isinya?"
"Bagus tidaknya belum bisa kusimpulkan, Bang." Aku menjelaskan panjang lebar kendalaku membaca buku ini karena bahasa inggrisku yang tidak mumpuni.
"Nanti kubaca juga bukunya. Kita bisa diskusikan isinya sama-sama."
"Nah, gitu dong."
"Sekalian kubuat terjemahannya."
Mataku membulat senang karena aku belum sempat merengek memintamu melakukannya, tapi kamu sudah mengatakan kamu akan menterjemahkan ini untukku. "Beneran, Bang?"
"Iya, Baby Girl."
"You're the best. Mwah."
'Iya, Baby Girl' merupakan jawaban template-mu. Tak apa, aku suka. Semua tentangmu pastinya aku suka. Akan suka. Selalu suka.
Temanku pernah berseloroh, jika suatu saat dia ingin mempromosikan suatu produk padaku, dia akan membawa-bawa dirimu. Dia bilang produknya pasti akan langsung habis karena kuborong semua.
Aku menutup bukunya namun memberinya batas dengan jempol kananku. "Bang, lihat deh di halaman sembilan Romawi ini," aku membuka halaman yang tadi kubatasi untuk menunjukkan kalimat yang kumaksud, "psikiaternya ngucapin terima kasih ke kliennya karena dari pengalaman mereka dia juga dapat pembelajaran."
Kamu diam saja mendengarku berkeluh kesah.
"Aku mau dapat terapis yang begini."
"Agak susah, tapi buat apa? Kamu tahu kan aku gak suka bahas DID."
"Tapi kan kalau dia tahu kita DID jadi lebih enak. Gak ada yang perlu ditutup-tutupin ngobrolnya."
Lampu notifikasi ponselku berkedip. Aku mengeceknya, notifikasi muncul di layar kunci menunjukkan ada pesan yang masuk ke penyaringan di Instagram. Itu tandanya pesan itu berasal dari akun yang tidak kuikuti. Sebuah akun dengan username adr_jayantaka mengirimiku pesan langsung. "Sore, Yessi. Hari Minggu, aku, Rudra, dan Kayana mau nongkrong ke warung kopi. Ikut atau tidak?"
Dia sangat to the point. Aku sedikit heran kenapa mereka mengajak junior sepertiku. Aku mengetikkan pesan balasan. "Sore, Bang. Ada kegiatan apa?"
"Gak ada, ngobrol biasa aja."
Aku sedang berpikir aku akan ikut atau tidak. Menurutku, tidak ada hal penting sehingga mereka harus mengajakku.
"Yessi bisa ajak kembarannya juga."
Dari mana dia tahu kalau aku punya kembaran.
"Siapa Jayantaka?" tanyamu. Nadanya tidak santai terdengar ingin membunuh.
"Ketua UKM Media."
"Mau apa dia?"
"Ngajak ke warung kopi. Boleh, Bang?" Aku sedikit takut saat meminta izinmu.
"Masih ada uang?"
"M-masih." Aku mengangguk.
"Kalau kurang ambil di dompetku."
Atas izin darimu aku langsung mengetikkan balasan. "Iya, Bang. Yessi ikut."
"Sip. Minggu kita ketemunya di Starbuck jam 10."
Aku tersenyum kecut dan meraup wajahku saat tahu ternyata definisi warung kopi antara aku dan mereka amatlah berbeda.
"Starbuck mana? Omong-omong itu jamnya gak salah ketik lagi, kan?" Aku bertanya untuk memastikan kejadian seperti kemaren tidak terulang. "Abang pernah dengar pepatah? Orang ngaret berasal dari orang tepat waktu yang tersakiti."
Dia mengirimkan sebuah emot tawa. "Samping Empire XXI. Tenang, aku jarang typo. Hahaha."
"Iye ke?" Bahasa Melayu pun keluar.
"Iye lah."
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Aku bisa menebak kalau tadi aku switch denganmu saat masih mengobrol dengan Bang Taka di DM. Aku melihat dirimu yang sudah rapi dan wangi. Kamu memakai pakaian serba hitam. Pakaianmu memang hitam semua, jadi warna apa lagi yang akan kamu kenakan.
"Sudah salat Isya, Bang?" Aku memastikan agar perjalananmu tenang karena tidak ada kewajiban yang belum kamu jalankan.
"Sudah sebelum kamu bangun."
"Mau ke mana, Bang?" Aku bertanya karena penasaran tak biasanya kamu keluar malam kecuali aku yang mengajak.
"Nge-date."
"Haaah?!" Keningku berkerut karena aku tak tahu kamu mengencani seseorang. "Nge-date sama siapa?"
"Kenapa nanya?"
Tentu saja aku heran karena kamu tak memiliki ketertarikan pada laki-laki. "Jangan bilang itu cewek, Bang."
Kamu malah tertawa. Aku ingin mencakar mukamu.
"BANG?!"
Kamu masih tertawa dan membawa sepatu di tangan kananmu.
"Bukan cewek, kan?"
Tawamu biasanya bermakna iya. Darahku mendidih.
"Hari Minggu aku gak jadi ngopi."
"Kenapa?" tanyamu heran.
"Gak apa-apa!"
Keningmu berkerut. "Ngambek nih?"
Aku diam.
"Kamu cemburu atau apa?"
Aku membuang mukaku ke atas. Huh!
"Gak heran sih. Sama benda mati aja kamu cemburu."
Aku benar-benar ingin mencakar mukamu.
"Ikut tidak?"
"Gak."
"Ya, udah. Aku ngedate, ya." Kamu sangat terbahak.
"HIIIH!"
"YESSEH ...!"
"Ayo, tadi siang kamu minta makan di luar sekalian beli es tebu dan lihat lampu-lampu." Kamu memasukkan kunci motormu ke kontak dan memutarnya.
Motormu membelah jalanan Yogya. Aku menyukai perjalanan di malam hari karena banyak lampu-lampu yang menyala.
"Baby Girl."
"Iya, Yesseh aku?"
"Pemikiranmu kadang sangat tak masuk akal. Bisa-bisanya cemburu buta dan sasaran cemburunya gadis pula."
Aku menyipitkan mataku bersiap-siap untuk menjawabmu dengan sewot. "Apanya yang tak masuk akal?! Pertama, aku sangat tahu kamu orang yang seperti apa. Kedua, kamu adalah gadis maskulin yang selalu lupa gender yang sekalipun dan sedetikpun tak pernah kepincut dengan makhluk yang disebut laki-laki, mana lebih suka dipanggil dengan sebutan bang. Ketiga, lihat penggemarmu di kalangan para wanita. Gimana aku gak cemburu."
Kamu terkekeh mendengar ocehanku.
"Mereka bilang mau Yesseh versi cowok."
"Itu karena mereka tidak tahu siapa aku. Kalau tahu, mereka akan lari."
"Aku gak lari."
"Itu kan kamu, Sayang. Satu hal yang pasti."
"Apa?!"
"Perempuan kalau cemburu, mereka akan meninggalkan akalnya."
Hobi amat langsung ulti, omongan kakak kembar satu ini memang suka sekali menusuk relung hati.
"Padahal gadis yang kumaksud adalah kamu sendiri."
Aku diam karena pipiku bersemu merah.
"Jangan salting kalau lagi co-fronting. Kita bisa terbalik."
Aku tertawa karena kamu sudah sangat paham dengan kebiasaan saltingku.
"Kita sampai." Kamu menurunkan standar motormu.
"Yeaaay, es tebu!"
"Mau berapa?"
"Tiga," jawabku tanpa berpikir lama.
Kamu memesan hanya dengan memberi isyarat menggunakan tiga jari tangan. Sekarang sedang sepi jadi kita tak perlu antri. Kita sudah pernah ke sini sebelumnya, jadi kamu langsung menyerahkan uang sejumlah lima belas ribu yang sudah kamu siapkan sedari tadi.
"Terima kasih." Kamu mengaitkan plastik itu ke pengait body motor dan kembali mengunci ritsleting tas selempang hitammu. "Banyak amat beli tiga." Kamu duduk di joknya dan memasukkan kontak motor. Kamu memutar kepala motornya untuk keluar dari sini.
"Satu untukku, satu untuk Dedek Yessa, satu lagi untukmu, Bang. Itu kalau kamu mau, kalau gak mau, aku rela kok bantu ngabisin biar gak mubazir."
"Aku rela kok bantu ngabisin biar gak mubazir." Kamu mengulangi perkataanku dengan nada yang mengejek. "Padahal memang itu maumu, kan, Baby Girl?"
Sialan, aku ketahuan.
"Kita mau ke mana lagi, Bang?" Aku sadar kalau motor kita tidak menuju ke arah jalan pulang.
"Toko parfum dan Gramedia kalau sempat."
"Pasti mau nyari tanaman beracun."
"Mana ada tanaman beracun di Gramedia."
"Buku maksudnya."
Kamu hanya terkekeh dan kita sampai di tempat tujuan dalam waktu yang singkat. Entah karena jaraknya memang dekat atau kamu yang terlalu mengebut. Aku menatap bangunan tinggi menjulang yang di hadapan kita.
"Ini bukan toko parfum. Ini mall Malioboro."
"Di dalamnya kan ada toko parfum."
Hmm, masuk akal.
Aku takjub dengan bagian dalamnya, seumur hidup aku hanya sekali ke mall. Itupun saat pulang lomba OSN tingkat provinsi saat kita mewakili kota Pagaralam di bidang matematika. Kita juga hanya dua kali ke Palembang, keduanya hanya untuk keperluan lomba.
"Kamu cuma ingat Palembang, ya. Waktu masih di Ma'had kan beberapa kali ke mall."
"Oh, iya, ya." Bisa-bisanya aku lupa dengan itu.
Sudah menjadi kebiasaanmu hanya akan menyelonong mencari apa yang sudah kamu targetkan. Kamu takkan tergoda dengan apa yang ada di kiri dan di kanan. Padahal aku sangat ingin cuci mata.
"Kita ke sini cuma nyari parfum, ya, Sayang." Kamu pasti membaca pikiranku. "Nanti kita luangkan waktu untuk mengukur luas, keliling, beserta volume gedung ini."
Aku menghela napas dengan kebiasaanmu yang suka sekali menggunakan bahasa yang tidak normal. "Apa susahnya bilang keliling cuci mata."
"Kan bahasa itu cocok untuk orang pencinta matematika sepertimu."
Kamu berdiri cukup lama di rak bagian parfum karena bingung mau memilih yang mana.
"Pilih, Baby Girl. Aku mau pakai parfum pilihan kamu."
"Gimana kalau Ayang gak suka?"
Selain 'bang' aku juga memanggilmu dengan 'ayang'.
"Kalau itu pilihanmu, aku akan suka."
"Green tea."
Kamu langsung mencari green tea dan butuh waktu lama untuk menemukannya.
"Semoga cocok."
"Pilih satu lagi untuk Yohan."
"Bang Yohan parfumnya abis juga?"
"Tinggal sedikit tapi tadi dia nitip."
Bang Yohan bosan dengan wangi parfumnya yang lama dan ingin mencoba wangi yang baru.
"Gimana kalau kita cium satu-satu."
"Enak aja."
Belum apa-apa hidung ini sudah terasa gatal. Kamu memanggil pegawai laki-laki untuk bertanya parfum mana kiranya yang cocok untuk laki-laki berusia 27 tahun. Parfum dengan wangi yang natural dan tidak menyengat.
Kita tidak sempat mampir ke Gramedia karena mall-nya hampir tutup.
"Santo Yohanes!" Kamu langsung mengencangkan urat lehermu begitu selesai mengunci pintu. "Lain kali kalau nitip sesuatu itu harus jelas."
"Abang lagi gak ada di sini."
"Oh, sia-sia dong kemarahanku tadi."
"Berantem mulu kayak Tom Jerry."
"Begitulah cara kami menunjukkan kasih sayang."
Aku pasrah karena itu adalah jawaban khas kalian bedua.
"Aku bersih-bersih dulu habis itu kita tidur."
Jam di dinding memang hampir menunjukkan pukul 11. Sudah molor dari waktu tidur tetap yang kita sepakati. Tak butuh waktu lama menunggumu selesai bersih-bersih. Kita sudah bersiap untuk tidur.
Kamu sudah mematikan lampu sehingga ruangan ini sudah gelap. Kamu menarik selimut hingga menutupi kaki hingga lehermu.
"Bang, ngomong-ngomong tadi siang aku gantiin kamu di pertemuan pertama UKM Riset."
"Gimana pertemuannya?"
"Gak gimana-gimana, cuma perkenalan. Tadi aku telat dikit. Maaf, Bang."
"Gak apa-apa, Baby Girl. Kamu gak salah sebut nama, kan?"
"Enggak, dong. Aku sebut nama Yessica Mayasari lah." Aku juga menceritakan usahaku yang berusaha sok cool tadi siang. "Emang tadi ke mana? Masa gak tahu bakal ada pertemuan."
"Kan dadakan. Mana kutahu."
Wajar kalau kamu tidak punya persiapan untuk ke depan, karena pertemuannya memang dadakan. "Besok-besok pasti udah serius, Bang. Kamu harus datang sendiri. Malas banget gantiin kamu bahas yang berat-berat." Aku mengoceh karena membayangkannya saja sudah membuatku lelah.
"Ya, lah. Kamu lebih suka lihat meme lucu dan debat gak mutu membela karakter anime di Facebook, kan?"
"Minimal skill satu dulu lah, Bang. Jangan langsung ulti."
Kamu tertawa lebar. Sangat disayangkan karena aku tak bisa melihatnya karena saat ini sedang tidak berada di depan kaca. Kita sudah tak saling berbicara. Hening. Aku bisa mendengar helaan napasmu yang halus dari belakang sini.
"Aku mencintaimu, Yesseh."
Bersamaan dengan terlelapnya kamu sebagai pemilik tubuh ini, aku juga ikut terlelap.