
“Kapan masuk kuliah?”
Aku tersenyum membaca pesan yang Bang Taka kirimkan dan meletakkan buku bacaanku di atas meja.
“Tiga hari lagi, Bang.”
“Oh, gitu.”
“Kalian kapan wisudanya?”
“Mei nanti.”
“Tapi jas wisudanya udah disiapin sejak lama, ya.”
“Hahaha pake diingat.” Dia mengirimkan emoticon tawa.
Aku mengirimkan satu stiker nyengir.
“Pemilu nanti pulang?”
Aku mengatakan kalau kami akan mencoblos di sini saja.
“Udah ngurus pindah pemilih, kan?”
“Alhamdulillah, sudah.”
Kami membahas tentang Yesseh karena besok aku harus membelikan sebuah hadiah lagi.
“Kaos, sweater, hoodie.” Aku kebingungan. “Entahlah.”
Hadiah pertama kemaren berasal dari Yessa atas konspirasi dari Bang Reyndra. Hadiah kedua aku memberinya buku tentang hewan dan tumbuhan beracun. Minggu ketiga baju tidur warna hitam karena dia tidak memiliki baju tidur. Memang dia tak terlalu butuh, tapi aku sengaja memberikan sesuatu yang baru untuknya.
“Liat besok aja deh, Bang.”
“Berarti kita ke distro aja, ya?”
“Iya.”
Kami pergi ke distro yang murah karena aturan dari Bang Taka aku tak boleh mengeluarkan lebih dari seratus ribu untuk hadiahnya. Aku masih bingung apa alasan di balik aturan yang satu ini dan tidak berniat untuk menanyakannya.
“Kenapa senyum-senyum dari tadi?”
Pertanyaan santai itu membuatku tersadar ternyata aku mengeluarkan ekspresi aneh. Aku sedang terinspirasi dari kesesatan yang Bang Reyndra pelopori. Aku ingin membelikan Yesseh hoodie dengan gambar yang imut dan lucu, tapi warnanya tetap hitam.
“Sesat ajaran si Reyndra, malah diikutin.” Bang Rudra menggeleng-geleng karena tak habis pikir. Bang Rudra tahu keimutan tidak cocok untuk Yessehku.
“Biarin lah.” Aku menjawabnya sedikit sewot.
Kayana juga ikut berbelanja, sudah menjadi tabiat dari kaum wanita kalau melihat benda-benda lucu pasti langsung diadopsi. Bang Rudra menemani Kayana berbelanja.
“Yang ini bagus, Bang?” Aku menunjukkan hoodie dengan gambar beruang lucu yang sedang kupegang pada Bang Taka.
“Yakin mau ikut ngejahilin dia?”
Bang Taka tertawa dan mengangguk sebagai isyarat kalau hoodie yang kupegang itu bagus. Seorang karyawan datang saat kupanggil.
“Ada yang ukuran XL?” tanyaku sambil menunjukkan hoodie yang kuinginkan.
“Ada, Kak.” Dia menyuruhku untuk menunggu sebentar dan dia pergi mengambil ukuran yang kuinginkan. Dia kembali dengan dua buah hoodie di tangannya. “Ini couple loh, Kak. Gak mau couple sama pacarnya?”
Aku menoleh ke arah Bang Taka sambil mengulum senyum. “Abang mau?” godaku sambil membayangkan dia menggunakan hoodie bergambar beruang lucu.
Bang Taka hanya menggeleng dan mengatakan dia tahu isi kepalaku. “Dia single, Mbak.” Bang Taka menjelaskan kalau kami bukan pasangan seperti yang mbaknya kira. “Dia gak butuh pacar, udah punya kakak kembar yang rangkap jabatan. Kakak kembarnya iya, abangnya iya, pacarnya juga iya.”
Aku tertawa karena omongan Bang Taka itu sangat benar. “Bisa ambil satu, kan, Mbak?”
Dia mengatakan bisa dan menanyakan aku mau yang hitam atau yang putih. Dia membungkuskan hoodie hitam yang menjadi pilihanku itu. Aku tidak membeli dua karena aku tidak suka memakai hoodie, sekarang kami juga sedang krisis keuangan.
Bang Taka menawarkan membawakan belanjaanku dan aku menolaknya karena memang hanya ada satu kantong.
“Yessi udah biasa ngangkatin belanjaan mama.” Aku juga menceritakan sejak kecil sudah terbiasa membawa dua ember berisi air.
Bang Taka sangat teduh.
“Kenapa?” Dia mengangkat kedua alisnya.
Aku hanya menggeleng padahal aku sedang memikirkan pasti banyak wanita yang menyukainya.
“Beli apa, Rud?”
Bang Rudra dan Kayana membawa banyak kantong belanjaan.
“Punya Nana semua, Bang.”
“Banyak amat, Na.”
Yang ditatap hanya nyengir kuda. Aku sendiri tidak heran dengan hal itu.
“Semua dibilang lucu sama dia, Bang.” Bang Rudra menggeruru dan menunjuk tersangka menggunakan dagu karena tangannya sudah penuh.
“Itu kamu yang bayar?”
“Gak mau dia dibayarin.”
Kayana mengatakan kalau belanjaannya bukanlah tanggung jawab Bang Rudra. Aku sangat setuju dengan itu.
Sekarang kami menuju ke tempat motor diparkir sambil membahas pemilu yang sebentar lagi.
“Pilih siapa, ya?” Kayana nampak bingung.
“Golput lah.”
Bang Taka menepuk pelan pundak sahabatnya yang tadi asal ceplos itu. “Gak boleh, Rud.”