Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Prolog



Tiongkok sedang memasuki musim gugur. Dua manusia pencinta warna hitam sedang berada di dalam hutan untuk mencari sesuatu.


"Sebenarnya apa yang kau cari?" tanya laki-laki itu pada wanita di hadapannya yang sedari tadi sibuk menyibakkan dedaunan kering di bawah setiap pohon yang mereka lewati.


Wanita itu meregangkan pinggangnya yang mulai terasa pegal. "Bunga kematian." Terdengar bunyi 'kretek' saat dia meregangkan punggungnya.


"Bunga kematian?" Lelaki itu berpikir sejenak. "Oh, maksudmu Monotropa Uniflora?"


Wanita itu mengangguk.


"Pantas saja kau membawaku gelap-gelapan ke hutan di musim gugur begini." Lelaki itu tahu bunga kematian yang dimaksud oleh wanitanya tadi hanya tumbuh di musim gugur dan di tempat yang gelap.


Wanita itu hanya terkekeh dan lanjut mencari tumbuhan yang sedari tadi belum mereka temukan.


"Memangnya mau diapakan?" Lelaki itu bertanya sambil ikut kembali menyibakkan dedaunan.


"Gabut," jawabnya sambil menatap lelakinya itu datar lalu menyeringai.


Lelakinya itu menghela napas. "Gabutmu sangat merepotkan," bisiknya pelan karena takut terdengar.


"Kau bilang apa?" tanyanya dengan nada dan tatapan yang ingin membunuh.


"Aku bilang gabutmu itu sangat bermanfaat." Dia mengacungkan kedua jempolnya karena takut wanitanya mengamuk. "Kita bisa mengubah dunia dengan kegabutanmu itu."


"Aku membaca katanya lapisan tubuh Monotropa Uniflora itu tembus cahaya. Aku datang untuk membuktikannya."


"Ketemu." Lelaki yang sedang mengenakan topi hitam itu berjongkok di hadapan kumpulan tumbuhan berwarna putih seperti anggrek dengan kepala yang merunduk. "HOOOY! KETEMU."


"MANA?!" Wanita itu tadi langsung lari ke arah lelakinya yang berteriak dan langsung ikut berjongkok melihat apa yang mereka temukan.


"Mau bawa pulang?" Lelaki bertopi itu mengambil ancang-ancang untuk mengeksekusi apa yang dia pikirkan. "Akan kuangkat sama tanah-tanahnya."


Lelaki itu tahu Monotropa Uniflora akan layu dan menghitam jika disentuh, membawa itu beserta tanahnya mungkin adalah solusi, itulah pikirnya.


"Tidak perlu." Wanita itu menahannya. Percuma saja membawanya pulang karena tak ada yang ingin dia lakukan dengan tanaman putih merunduk yang ada di hadapannya ini. "Aku hanya ingin lihat."


"Kutinggalkan kalian." Selayaknya kedua orang yang butuh privasi, sang lelaki meninggalkan wanita itu bersama kumpulan bunga kematiannya. "Jangan lupa ambil foto yang banyak," ucapnya lagi sebelum melihat ke bagian hutan yang lain.


Wanita itu mencari ranting kayu untuk menyibakkan dedaunan yang menghalangi sinar matahari dari bunga ini. Ternyata pohon-pohon itu sangat tinggi. Tak sudi untuk kehabisan akal, dia memikirkan solusi konyol dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia akan menggunakan flash dari ponsel itu.


Lelakinya tadi menemukan pemandangan yang tak biasa. Dia berpikir wanita tercintanya juga harus melihat apa yang sedang dilihatnya ini sekarang juga. "HOOOY!"


Wanita itu terkekeh dan memijat keningnya sambil menggeleng kecil setiap mendengar teriakannya.


"CEPAT SINI!"


Dia mengurungkan niat untuk menggunakan flash dan kembali memasukkan ponsel yang sedang dia pegang itu ke saku celana hitamnya. Lelakinya itu lebih penting dari apapun. Dia berjalan menuju ke arah suara yang tadi berteriak memanggilnya dan pergi meninggalkan kumpulan bunga kematiannya. Dia menyambut uluran tangan dari prianya itu dengan sedikit berlari dan tersenyum sempurna, sehingga ia benar-benar keluar dari tempat yang gelap menuju ke tempat yang penuh cahaya.