
Waktu memang cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemaren Yesseh menyelesaikan UAS semester 4, sekarang kami sudah berada di semester 6. Aku memutuskan untuk keluar dari UKM Media setelah kepengurusan Jayantaka dan kawan-kawannya digantikan. Aku sengaja karena sering sekali membolos di pertemuan dan Yesseh juga tidak menggantikanku. Aku tidak memaksanya karena dia tidak akan suka. Aku mengundurkan diri karena sadar diri tidak bisa menjalankan amanah sebagai anggota. Aku memutuskan untuk fokus ke perkuliahan kami berdua saja karena semester depan mungkin kami sudah akan menjalani PPL dan KKN.
Selama beberapa bulan belakangan ini aku merasa ada yang berubah pada Bang Taka. Entah karena mereka kecapekan menjalani PKL atau ada masalah lain. Itu menjadi bahan overthingking-ku selama seminggu belakangan ini. Bang Rudra dan Kayana juga nampak berubah, seperti ada yang mereka tutupi dariku.
Aku berusaha keras memikirkan apa aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari, atau hanya perasaanku saja. Saat aku bertanya untuk memastikan agar semuanya menjadi jelas, mereka bilang memang tidak ada masalah yang mereka tutup-tutupi. Untuk kali ini aku tidak bisa percaya. Aku bukan anak kecil yang bisa mereka bohongi, karena sudah sangat sekali ada hitam di atas putih.
Tapi aku memutuskan untuk bersabar, mungkin saja memang belum waktunya aku mengetahui hal itu. Aku juga sangat yakin kalau aku tidak membuat kesalahan yang tidak kusengaja. Aku sebenarnya sangat ingin mengorek-oreknya, tapi mengingat mereka semua yang menghargai privasiku saat itu, aku mengurungkan niatku untuk memaksa salah satu dari mereka menceritakan masalah apa sebenarnya yang ada hingga berhasil membuat jarak di antara kami semua makin jauh terbentang seperti sekarang.
Aku memutuskan untuk mengalihkan perhatianku dengan melakukan hal-hal yang berada dalam kendaliku. Aku memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugas yang ada, tiba-tiba ada panggilan audio masuk di Whatsapp. Kayana menelponku, aku tahu ada hal yang tak biasa yang ingin dia ceritakan karena ini kali pertamanya dia melakukan panggilan audio denganku.
Aku mengangkat telpon itu dan langsung disambut dengan tangisannya. Dia sangat terisak, aku yang mendengarnya saja bisa ikut merasakan sesak seperti yang dia mungkin rasakan. Berulang-ulang dia menyebut nama Bang Taka. Aku memutuskan untuk mendengarkannya dulu dan membiarkannya menumpahkan semua air matanya hingga dia tenang dan bisa cerita dengan jelas.
Jantungku degupnya sudah tak karuan, aku tahu akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak hanya dengan dengan membaca kondisi mental Kayana yang terguncang saat ini. Saat dia sudah berhasil menghentikan tangisannya dengan susah payah, aku mencoba bertanya apa yang terjadi dengan Jayantaka.
Dia hanya mampu meneriakkan satu kata kemudian kembali menangis seperti tadi. “FUSION!”
Ternyata mereka berencana fusion, sudah kuduga ada hal besar yang mereka tutupi. Aku bertanya kenapa mereka menutupi ini dariku, Kayana bilang itu permintaan Jayantaka karena katanya aku akan mendapatkan kesedihan yang lebih berlipat daripada Bang Rudra dan Kayana.
Aku sudah tak mampu membendung air mataku karena ternyata dia memikirkan aku. Dia tahu kalau luka yang akan didapatkan oleh Bang Rudra dan Kayana hanyalah luka karena karena kehilangan sedangkan aku akan mendapatkan luka yang satunya lagi. Luka karena ketakutan akan berakhir sama seperti dirinya.
Semuanya sudah menjadi jelas sekarang. Aku bingung harus bereaksi seperti apa, senang kah atau sedih kah. Aku tak ingin egois pada Bang Reyndra, tapi juga tak ingin kehilangan Bang Taka.
Yesseh mengambil alih karena tak mau melihatku bersedih terlalu lama dan mengatakan pada Kayana dia akan mengatasi masalah ini. Kayana takut kalau kedua core ini akan bertengkar, tapi Yesseh memastikan mereka akan baik-baik saja.
Dia benar-benar menelpon Bang Reyndra dan menanyakan posisinya.
Yesseh mengusap mata ini yang sudah terlanjur basah karena tangisanku dan menyambar jaketnya. Dia menuju ke Sayyidan dan langsung berhenti saat melihat sesosok laki-laki yang mengenakan kaos hitam berdiri memandangi apa yang ada di bawah jembatan itu.
Aku bisa melihat kondisinya sepertinya dia juga sedang sangat kacau. Ada apa sebenarnya. Yesseh bertanya apa alasan mereka fusion dan apakah Jayantaka setuju. Bang Reyndra mengatakan itu keputusan Jayantaka sendiri.
Aku tak habis pikir, apa sebenarnya yang Bang Taka inginkan. Apa dia bosan hidup di dunia dengan kondisi yang seperti ini.
“Bagaimana sikapmu?”
Bang Reyndra menggeleng, dia juga sedang sangat bingung. Yesseh bertanya mengenai komunikasi antar mereka berdua. Ternyata mereka berdua tidak memiliki hubungan dan komunikasi yang baik.
“Kalau kau tak mau fusion, tidak ada yang bisa memaksa kalian meski dia seorang ahli jiwa sekalipun.” Core kami itu sepertinya sudah mulai marah dengan sikap Bang Reyndra yang sama sekali tidak menunjukkan ketegasan.
“Aku tidak sepertimu, Yesseh.”
Dia mengatakan hal buruk tentang system kami dan itu membuat Yesseh marah sehingga langsung menendang dadanya sekuat tenaga. Bang Reyndra nampak terkejut dengan penyerangan itu.
Yesseh mau mendekatinya dan Bang Yohan langsung datang untuk menahan Yesseh dengan segenap tenanganya.
“YES, SADAR!”
Bang Yohan juga memperingatkan Bang Reyndra untuk pergi dari sini. Bang Reyndra tidak pergi. Kedua core ini sedang berdiri berhadapan dengan jarak yang terbentang, saling menatap. Yang satu menatap dengan tatapan ingin membunuh, yang satu lagi menatap dengan tatapan heran.
“KAU BENAR! KAU TIDAK SEPERTIKU DAN AKU TIDAK SEPERTIMU.”