
"Besok kita mulai masuk minggu tenang." Bang Rudra memutar-mutar gelas kopinya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Udah siap ngadepin ujian?" Kayana bertanya sambil tetap sibuk dengan buku-bukunya.
"Siap atau tidak, yang namanya ujian tetap harus dihadapi."
Yesseh menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Bang Reyndra. "Kau tetap harus menyiapkan amunisi."
"Amunisimu siap?"
"Belum." Dia tertawa.
"Hidupmu tanpa beban, ya, Yes." Bang Rudra menyedot kopinya. "Bahkan santai amat ngaku SSA."
"Kenapa memangnya?"
"Gak apa-apa."
"Kalian hanya akan menemukanku di barisan orang-orang yang memiliki kelainan pada seksualitasnya, takkan kalian temukan aku di barisan yang lain."
Bang Rudra menanyakan maksud ucapan Yesseh pada Bang Reyndra, karena katanya hanya Bang Reyndra lah yang paham tiap perkataan yang Yesseh keluarkan. Bang Reyndra menyuruhnya untuk berpikir sendiri.
"Gak mau balik normal?"
"Balik itu kalau sesuatu punya asal. Kalau asalku memang begini, mau diapakan? Aku suka ini." Dia tersenyum ke arah seseorang yang katanya akan selalu mengerti maksud dari perkataannya.
Orang itu hanya melihat Yesseh datar. Entah apa yang dia pikirkan.
"Paham, Reyn?" tanya Bang Rudra menoleh pada orang yang sedang Yesseh tatap itu.
"Paham." Satu kata dan anggukan yang mantap itu menandakan tak ada keraguan dalam dirinya.
"Kabar baiknya sekarang sudah sangat mudah." Yesseh menyesap kopinya dan menjilat bibir bawahnya. "Aku tak perlu menyusup ke toilet wanita untuk melihat cewek dengan dalaman. Aku hanya perlu membuka sosial media. Bahkan, sekarang mereka sangat berani berkeliaran di jalan-jalan."
"Itu kabar baik atau kabar buruk untukmu?" tanya Bang Reyndra dengan tatapan yang sangat datar.
"Kabar buruk." Dia kesal karena laki-laki yang duduk di hadapannya ini ternyata sangat paham ke mana arah pembicaraannya. "Untukku dan untuk semua pihak."
"Lagian kenapa Yesseh harus nyusup?" tanya Kayana heran. "Yesseh kan wanita."
"Lah?" Sekarang dia melemparkan pandangannya ke atas. "Iya, ya?"
Aku memijat keningku karena dia lupa gendernya lagi. Sekarang dia melemparkan pandangannya ke bawah meja dan senyum-senyum sendiri, memikirkan apa yang ada di pikiran laki-laki. Dia berpikir mungkin lebih parah dari pikirannya. Karena Yesseh sangat tahu, meski dia gadis tak normal tetap saja dia memiliki hormon yang berbeda dengan laki-laki yang sangat normal. "Aku akan bertanya pada Yohan," batinnya.
"Kenapa sih, Yes, senyum-senyum?" tanya Kayana lagi.
"Kalau aku sedang melamun, berarti hanya ada tiga kemungkinan. Berbicara pada diriku sendiri---"
"Pada Yessi?"
"Kubilang pada diriku sendiri." Dia hampir mengencangkan urat lehernya, tapi dia memilih untuk tidak marah pada Bang Rudra. "Berbicara pada Rabb-ku," dia melanjutkan penjelasan yang tadi sempat terpotong, "dan merencanakan pembunuhan."
Bang Rudra langsung diam.
"Tumben gak ketawa, Rud?"
Kali ini gantian Bang Reyndra yang meledeknya.
"Harusnya itu dark joke," Bang Reyndra mengarahkan telunjuknya pada si pelempar joke, "tapi kalau dia yang ngomong ...," Bang Rudra memilih untuk tak melanjutkan kata-katanya.
Mereka pulang lebih cepat dari biasanya karena ingin mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester. Aku bertanya pada Yesseh kegiatan apa saja yang akan kami lakukan di minggu tenang ini. Dia menjawab sama seperti biasanya, terapi dan ikut kelas dance.
Dia mengambil air putih dan mengambil buku pemberian core Jayantaka. Dia melihat tulisan di bagian halaman paling depan itu sambil tersenyum. Dia bahkan mengelus-elus nama yang tertoreh di sana.
"Tahu dari mana?"
"Dari caranya menarik kursi dan duduk di depan pintu saat kutinggalkan dia bersama Kayana. Bang Taka juga melakukan hal yang sama, dia mempesilakanku masuk dan dia yang menunggu di luar. Ayang menghormati laki-laki yang begitu, kan?"
Dia mengangguk. "Aku menghormati laki-laki yang seperti itu."
Dia sangat santai, bukannya mempersiapkan diri untuk ujian malah membuka buku DID. Ke mana perginya perasaan bosan berkutat dengan DID yang biasanya itu. Dia hanya mencari dan membaca coretan demi coretan yang Bang Reyndra tuliskan di buku itu.
Aku lupa kalau kami berdua memang penganut sekte sistem kebut semalam. Dia sambil memutar musik dan aku dari ikut berteriak-teriak bernyanyi dengan pronounciation yang sangat berantakan.
In another life
I would be your girl
We keep all our promises
Be us against the world
Dia hanya tertawa dan tetap sibuk dengan coretan-coretan yang ada di buku itu. "Adorable." Dia memuji pronounciationku yang berantakan.
Tiba-tiba imajinasi sebagai seorang penulis ini muncul. "Ayang, kalau reinkarnasi itu ada," aku menjeda ucapanku menunggu reaksinya yang akan menceramahiku dan mengatakan bahwa Islam tak percaya reinkarnasi.
"Apa?" Sepertinya dia paham kalau aku hanya sedang berkhayal.
"Aku mau jadi gadis imut dan lucu yang punya tubuhku sendiri. Ayang bakal jadi apa?" Aku mengeluarkan cengiran lebar berharap dia akan mengatakan sesuatu yang romantis.
"Salah satu jenis ular dengan bisa paling mematikan di dunia---YARARA GRANDE!"
Aku menyesal karena telah berekspektasi tinggi. Bisa-bisanya aku mengharapkan seorang Yesseh akan mengatakan sesuatu yang romantis. Terkadang dia memang romantis, maksudku romantisnya berbentuk sebuah keseriusan bukan kemanisan. Tadi, aku berharap dia akan mengatakan kalau dia akan menjadi seorang pria yang akan selalu bersamaku dan melindungiku.
"Untuk bisa menemuiku, kau harus menyebrangi benua Amerika."
"Bagaimana kalau kamu menggigitku?"
"Tidak akan," dia berdiri menuju ke depan cermin full body, seringainya itu muncul dengan mata elangnya, "karena aku akan langsung mengenalimu."
"Ular dengan jiwa pembunuh akan bisa langsung menganliku?" Aku menutup wajahku dan berguling-guling salah tingkah. "SO SWEET!"
Dia terbahak dan menggeleng pelan.. "Gak beres kamu, Baby Girl."
"Nanti aku mau bikin novel dengan judul itu."
"Novel pertamamu selesaikan dulu."
Kupikir dia ada benarnya. Karena tadi jiwa bucinku ini belum terpuaskan, aku tak kehabisan akal dan mencoba bertanya lagi. "Kalau aku jadi Cinderella, Ayang jadi apa?"
"I'll be your knight in armor."
"Gak mau jadi pangeran?" tanyaku lengkap dengan cengiran.
"Apa pangeran itu digambarkan sebagai sesosok orang yang selalu melindungi wanitanya?"
Aku ikutan berpikir mengenai gambaran seorang pangeran.
"THEN, I'LL BE YOUR KNIGHT IN ARMOR. KAN KULINDUNGI KAU DENGAN PERISAIKU. JIKA AKU GAGAL, KUPASTIKAN LEMPARAN TOMBAKKU AKAN LANGSUNG MENGENAI ORANG-ORANG YANG BERANI MENYAKITIMU, TEPAT DI DADA MEREKA."
Untuk yang satu ini aku berhenti salah tingkah. Membayangkan hal itu saja sudah amat mengerikan. Aku sangat tahu bahwa Yessehku tak pernah bermain-main dengan kata-katanya. Dia bukan pembual.
"Aku bisa berhenti karena kamu juga menjadi takkan bisa dihentikan karena kamu. Seseorang bisa selamat karena kamu, juga bisa celaka karena kamu. Jaga dirimu, aku takkan selalu berada di sampingmu. Jadilah Yessi yang tetap bisa berdiri sendiri, bukan Cinderella yang akan lumpuh kalau tak ada pangeran."