
Tiga bulan setelah malam itu, tepat di hari Jumat minggu tenang, kami bertiga sekarang sedang berada di tempat psikoterapis. Kuanggap ini sebagai mengantar kepergian Bang Taka, aku dan kedua orang di sampingku ini berusaha keras untuk menutupi kesedihan.
Bang Taka masih memberikan senyum terbaiknya saat mata kami bertemu, untuk pertama kalianya aku benci melihat lesung pipi itu. Dia menggeleng samar kepadaku seolah memberikan isyarat agar aku jangan menangis dan jangan bersedih. Aku hanya mengangguk dan ikut tersenyum untuk menunjukkan sikap tegar yang penuh kepalsuan.
Hatiku sangat teriris. Teriris membayangkan apa yang sebentar lagi akan laki-laki yang ada di hadapanku ini hadapi. Aku juga membayangkan bagaimana kalau aku juga ikut berada di posisinya. Kenapa dia ingin pergi sedangkan aku sangat ingin hidup.
Aku bertanya-tanya kenapa dia tidak menceritakan kesulitannya padaku dan datang dengan kabar ingin meninggalkanku. Aku sangat ingin menangis sekarang karena membayangkan tubuh Bang Reyndra akan tetap berdiri tegar dengan kenyataan bahwa Jayantaka sudah tak ada lagi di sana.
Orang-orang bisa dengan mudah membual mengatakan kalau Jayantaka tidak menghilang melainkan bersatu dengan core-nya. Aku dan Jayantaka itu sama, apapun yang mereka bilang, sembuh ataupun bersatu, kenyataan yang akan kuhadapi tetap sama. Aku tetap hilang. Ke mana perginya Yessica Effendi. Bagaimana aku tetap bisa dikatakan ada sementara aku sudah tak bisa melihat senyum pemilik tubuh ini lagi. Aku ingin hidup. Aku hanya ingin hidup.
“Jayantaka.”
Kami bertiga langsung ikut berdiri saat nama itu dipanggil. Bang Taka menepuk pundak sahabatnya yang sudah menangis itu sambil memeluknya dan mencoba menangkannya. Dia juga pamit pada Kayana yang sudah menangis.
Dia berdiri di hadapanku dan tersenyum. Tak ada ketakutan di wajahnya, dia sudah siap mengorbankan dirinya untuk Bang Reyndra. Aku memberikan senyum terbaikku mengantar kepergiannya. Hanya kami berdualah yang tidak menangis di sini. Saat ini aku menggunakan topeng yang sangat tebal. Hatiku sudah sangat sakit dan aku sudah berteriak-teriak dalam hatiku ini sedari tadi. Aku mengutuk keputusannya.
Dia berbalik dan menuju ke pintu, aku berharap dia mengatakan selamat tinggal. Setidaknya itu memberiku pecutan untuk tidak mengharapkan kepulangannya. Dia tidak mengucapkan selamat tinggal juga tidak menghiburku dengan kalimat sampai jumpa. Tidak mengucapkan selamat tinggal seolah dia sedang memberitahuku kalau sebenarnya dia sangat ingin tinggal. Tidak mengucapkan sampai jumpa seolah dia sedang memberitahuku kalau dia tidak akan kembali lagi.
Aku langsung melepas topengku saat punggung itu sudah hilang ditelan pintu, aku keluar dan pergi dari sini dalam keadaan kantung mataku yang sudah tak mampu lagi membendung air mata ini. Aku sudah sangat muak dengan sikap yang sedari tadi kutampilkan. Aku meninggalkan Bang Rudra dan Kayana tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku tak mau ikut melihat tubuh itu keluar lagi dari ruangan tadi.
Yesseh, kumohon jangan bunuh aku juga. Aku tahu sebenarnya ujianmu sangat berat.
Aku benar-benar terpukul hingga sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi aku belum bisa tertidur. Aku takut core kami ikut memutuskan ingin fushion juga.
“Kau tahu, Dokter. Sebenarnya aku benci semuanya.”
“Aku benci DID-ku.”
Dia mengatakan itu dengan sangat datar, tapi aku tahu dia sedang dikuasai kebencian.
“Aku sudah sangat muak berada di dunia yang bangsat ini.”
Dokter Syifa menanyakan apa mau Yesseh.
“FUSIONKAN KAMI!”
Ucapannya itu berhasil membuatku histeris.
“SISAKAN YESSI!”
Itu lebih membuatku histeris dan berteriak-teriak mengatakan kalau aku tidak mau.
“Dia sangat ingin tubuhnya sendiri. Akan kuserahkan tanggung jawab tubuh ini sepenuhnya pada Yessi.”
Aku tidak mau hidup tanpa yang lain. “AKU JUGA AKAN BUNUH DIRI.” Aku terbangun mendengar teriakan yang hanya ada dalam mimpi itu.
Aku sadar kalau aku bersalah pada Yessehku sehingga dia datang di mimpiku dengan sangat marah. Aku bangun dan kembali memastikan kalau aku masih di malam yang sama. Aku bersyukur, itu benar-benar hanyalah mimpi bukan celah memori.
Aku mengambil jaket Yessehku dan tidur dengan memeluknya. Masih ada wangi aroma green tea di sana. Itu membuatku tenang, seolah Yesseh sedang memelukku dan berkata, “jangan takut, Baby Girl, ada aku.”