Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Aku Datang Berdua



Aku sudah berada di Starbuck yang Bang Taka maksud. Aku memutuskan untuk datang lebih awal karena tak enak kalau merekalah yang tiba duluan dariku. Aku langsung masuk ke dalam dan langsung memilih meja yang jumlah kursinya ada empat.


Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan mengetikkan DM ke Instagram Bang Taka. "Yessi udah sampai, Bang."


Sepuluh menit berlalu pesanku belum juga di-read. Sepertinya mereka sedang dalam perjalanan. Aku melipat kedua tanganku di atas meja dan menenggelamkan wajahku ke sana. Aku bosan. Sedikit menyesal karena memutuskan datang terlalu cepat.


"Yessi."


Suara berat dari seorang laki-laki membuatku mengangkat wajahku kembali. "Iya, Bang. Yessi."


"Sendiri?"


Entah dia sedang berbasa-basi atau apa. "Seperti yang abang lihat."


Dia mengangguk kecil dan mengambil posisi tepat di hadapanku. "Aku datang berdua."


Aku mencari keberadaan yang satunya lagi ke arah jalan masuk. "Mana?"


Laki-laki yang mengenakan kaos dan jeans putih itu tersenyum. "Ada."


Aku kembali melihat ke arah tadi dia datang. "Oh, bareng Kak Kayana." Ada Bang Rudra juga di belakangnya.


"Bang, Yes, udah nunggu lama?"


Bang Rudra langsung mengambil kursi di samping Bang Taka dan menepuk pundaknya. "Udah lama, Bang?"


"Baru, Rud. Yessi yang udah lama kayaknya." Dia melihat ke arahku.


"Gak terlalu lama, kok."


Mereka semua datang di bawah pukul sepuluh. Aku yang berlebihan datang di pukul sembilan lewat. Kak Kayana mengambil posisi duduk di kursi yang tersisa di sebelahku.


"Ayo, pesan dulu." Bang Taka memasukkan ponsel yang tadi dia lihat ke sakunya. "Sorry, tadi di jalan gak lihat hape," ujarnya padaku.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Masih kaku berada di tengah-tengah seniorku ini.


"Aku pesanan biasa, Bang." Kak Kayana menyingkitkan anak rambutnya yang mengganggu mata.


"Aku juga biasa, Bang."


"Yessi?"


Aku hanya menggelengkan kepalaku karena tak tahu harus pesan apa. Ini pertama kalinya aku ke sini.


Dia berdiri dan mengajakku ikut bersamanya, tubuhku ini rasanya bergerak sendiri karena aku otomatis mengikutinya di belakang.


Bang Taka memesan pesanan mereka bertiga sedangkan aku hanya berdiri mematung memerhatikannya. Baristanya menoleh dan tersenyum ramah padaku, refleks aku membalas senyumannya.


"Mau yang dingin atau panas?"


"Dingin," jawabku singkat.


"Mau berapa shot?"


"Shot itu apa?" Ingin rasanya aku menghilang dari sini. Harusnya tadi aku sedikit membaca tentang Starbucks terlebih dahulu.


"Yessi mau yang manis atau yang pahit?" Kali ini Bang Taka yang menanyaiku.


"Manis."


Dia terus menerus menanyakan sesuatu dan aku menjawabnya sesingkat mungkin.


"Ini shift aku, Ka, bukan kamu." Baristanya protes.


Bang Taka tersenyum menampilkan lesung pipi kirinya dan deretan giginya yang rapi. "Sorry, sorry."


Kami kembali ke meja tadi dan mulai mengobrol ringan. Baristanya berteriak menandakan pesanan kami harus diambil. Bang Taka yang mengambilnya, kali ini dia tak membiarkanku ikut bersamanya.


"Abang kerja di sini?" tanyaku.


"Iya." Jawabannya memang singkat namun tetap terdengar ramah. Dia meletakkan masing-masing kopi yang kami pesan.


Melihat namaku 'Yessica Effendi' tertulis di dinding gelasnya membuatku senyum-senyum sendiri. "Nothing's better than having your own name in your Starbuck's cup." Aku jadi paham maksud cuitan di Twitter dari akun teman kami yang sesama system.


"Kok, ada namaku?" Aku tak ingat tadi menyebutkan namaku di sana, baristanya juga tidak bertanya.


"Tulis sendiri." Bang Taka memberikan spidolnya.


"Kuaduin ke atasan, selesai kamu, Bang."


"Kan bukan shift aku, Rud."


Kayana melerai pertengkaran kecil antar sahabat itu. Kami melanjutkan obrolan dan aku lebih banyak diam untuk menyimak. Aku masih kaku berada di antara mereka apalagi merasa menjadi yang termuda di sini.


"Kalian lulusan tahun berapa?" Kayana bertanya padaku.


"Lulusan 2018."


Aku masih penasaran kenapa dia menyebut 'kalian' alih-alih menyebut 'kamu'.


"Tuaan kalian, dong. Aku 2001, kalian pasti 2000."


"Iya, kami 2000."


Aku lupa kalau aku dan Yesseh sempat berada di Ma'had bahasa Arab selama 2 tahun. Wajar saja kalau ternyata kami lebih tua dari Kayana. Aku menatap kedua lelaki di hadapanku dan ingin membuka mulutku untuk bertanya.


"Aku lulusan 2017."


Bang Rudra sudah menjawab bahkan sebelum pertanyaan yang di kepalaku ini kulontarkan.


"Kalau Abang?" Aku mengalihkan pandanganku ke laki-laki berkaos putih di sebelah Bang Rudra.


"Hampir 27 tahun."


Lumayan jauh usia kami terpaut. Aku teringat sesuatu. "Seumuran Bang Yohan."


Dia tersenyum dan aku refleks menutup mulutku karena keceplosan. Aku penasaran dengan apa yang dia lakukan di masa gap year-nya, tapi aku tidak ingin menanyakan itu. Takutnya itu adalah masa-masa sulit yang tak perlu diingat lagi.


"Jadi, Yessi punya saudara kembar? Panggil Yessi atau kakak nih?" tanya Kayana.


"Yessi aja." Aku sedikit tersenyum. "Iya, punya."


"Siapa namanya?"


"Yesseh." Aku sengaja tak menyebutkan nama lengkap Yesseh karena takut nanti mereka akan bingung.


"Perbedaan kalian berdua apa?" Bang Rudra menyeruput kopinya.


"Apa ya? Kalo fisik kembar identik. Aku punya tahi lalat dengan jumlah dan letak yang sama dengan punya Yesseh. Kami juga punya sidik jari yang sama. Kalau kepribadian, ada persamaan ada perbedaan. Kalau untuk kepribadian yang dominan, memang jauh beda, aku bisa dibilang mudah bersahabat, dia tidak."


"Kembar identik dengan jumlah tahi lalat dan letak yang sama mungkin hanya bisa terjadi karena dua hal. Pertama, kalian manusia kloningan. Kedua, kalian pengidap Dissociative Identity Disorder. Kalian yang mana?"


Aku mengeluarkan senyum miring mendengar pertanyaan laki-laki dengan kaos putih yang ada di hadapanku ini. Kali ini tone bicaranya sedikit berbeda. Terdengar lebih dingin dan serius.


"Reyn." Kayana melempar spidol yang tadi dia berikan pada Rudra ke arahnya.


"Nah, bagus, Kay. Untung dia belum sempat seminar biologi."


"Sorry." Nadanya terdengar datar.


"It's ok," jawabku santai.


Tak ada yang salah dengan apa yang dikatakannya, dia belum sempat menyelesaikan seminar biologinya. Bahkan manusia kloningan saja belum tentu memiliki sidik jari yang sama. Memang ada serius dalam yang tadi kulontarkan, respon seriusnya juga sangat tepat.


Aku sedikit heran, tadi memanggilnya dengan sebutan 'bang', tapi sekarang mereka hanya memanggilnya dengan nama depan.


"Selain kuliah, apa lagi kegiatan kalian?" Kayana berhasil mencairkan suasana yang sempat canggung tadi.


"Aku hanya kuliah, tapi Yesseh ikut dance center."


"Dance center mana?" sambar Bang Rudra.


"Yang di jalan Veteran."


"Hari apa aja?" Kayana bertanya lagi.


"Jumat, Sabtu, Minggu."


Entah kenapa mereka sepertinya sangat tertarik dengan kembaranku. Mereka sudah tidak bertanya lagi dan hanya mengarahkan pandangan mereka ke laki-laki di hadapanku yang mukanya sedang ditekuk itu. Aku penasaran apa orang ini memang mood swing-an. Aku merasa, dia adalah orang yang sama dengan yang kutemui waktu itu.