
Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menginjakkan kampus ini untuk mengumpulkan laporan hasil PPL yang semalam sudah aku selesaikan dan bersiap untuk mendapatkan bimbingan mengenai KKN.
Aku akan berusaha mengambil tanggung jawab KKN ini sehingga tak harus merepotkan abang dan kakakku seperti PPL kemaren. Setelah selesai dengan urusanku, aku memutuskan untuk langsung pulang.
“Kita pulang, Baby Girl?”
Aku tersenyum kecut saat mengingat pertanyaan rutin yang selalu Yesseh tanyakan padaku itu. Nada dan suaranya bahkan terdengar sangat jelas di telingaku. Terus-menerus seperti ini, aku takut kalau aku akan mengalami delusi.
“Pulang aja, tapi beli es tebu.” Tanpa kusadari bibirku bergerak sendiri mengucapkan hal itu.
“Yesseh ….” Aku mengusap mataku yang selalu berair saat aku mengingatnya. Aku bahkan hampir menabrak seseorang karena aku berjalan sambil menunduk menutupi wajahku yang mungkin memerah ini. Untung saja aku sempat menghentikan langkahku sebelum menabrak tubuh laki-laki yang ada di hadapanku ini.
“Kenapa kau menghindariku?”
Aku tahu siapa pemilik suara itu dan langsung sedikit memundurkan langkahku. Aku berusaha menetralkan ekspresi wajahku sebelum mengangkat muka ini. “Aku tidak menghindar.”
Aku berusaha tersenyum menatap laki-laki pemilik lesung pipi yang hanya ada di sebelah kiri ini. Aku melihat Bang Rudra dan Kayana berada di sampingnya. Kuharap mereka berdua juga sudah tidak lagi menunjukkan sebuah ketegaran yang palsu. Aku menjelaskan padanya kalau kami sangat sibuk sehingga tak sempat mengabari.
“Bang Yohan bilang kau juga dormant.”
Bisa-bisanya aku tidak kepikiran kalau pastinya Bang Yohan akan menggantikanku berkumpul bersama mereka.
“Aku baru bangun, Bang. Beberapa hari lalu.”
Aku tahu memilih fusion bukanlah kesalahan karena baik fusion maupun functional multiplicity, keduanya merupakan solusi dari DID. Aku tak bisa membenci laki-laki yang ada di hadapanku ini, aku juga tak bisa menghukumnya dengan terus menghindarinya atas keputusan yang bukan berasal dari dirinya.
Untuk sekarang aku masih belum sanggup menerima kenyataan kalau Jayantaka sudah tak ada lagi di sana. Aku meminta sedikit waktu lagi padanya agar aku benar-benar siap bergabung dengan mereka bertiga lagi. Aku juga meminta padanya agar tidak muncul di hadapanku dulu seperti ini.
“Apa Abang bahagia?” Aku bertanya untuk memastikan kalau pengorbanan Jayantaka tidak sia-sia.
“Apa kau bahagia?”
“Kuharap Abang bahagia.” Aku meninggalkan mereka bertiga, aku hanya menganggukkan kepalaku untuk memberikan salam perpisahan pada dua orang yang sedang bersamanya yang sedari tadi hanya diam saja membiarkan kami berdua berbicara.
“Dek.” Bang Yohan memanggilku dengan sangat hati-hati karena kupikir dia tahu kalau aku sedang bersedih.
“Iya, Bang?”
Kami membahas krisis keuangan yang sedang kami alami dan Bang Yohan mengatakan untuk kembali menerima endorse-an dan biar dia saja yang membuat video kontennya.
“Tapi Abang gak mau pake jilbab, ya.”
Di sela-sela kesedihanku, mendengar itu aku berhasil tertawa. Aku mengusulkan untuk menutup bagian kepala dan leher menggunakan topi hoodie saja.
“Berarti terima endorse bawahan aja, dong?”
“Amat pelik.”
Kami berdua tertawa.
“Nanti ku-cek lah apa aja yang bisa Abang ambil.”
“Ada alkohol?”
“Sembarangan.”
Kami berdua kembali tertawa.
“Yesseh kan emang suka sembarangan anaknya.”
“Kalaupun ada gak bakal Yesseh terima, Bang.”
“Yesseh atau kamu yang gak nerima? Kan kamu adminnya.”
Aku tertawa mengingat asal-usul aku bisa menjadi admin Yesseh. Yesseh memang tidak cocok berkompromi, Yesseh terlalu straightforward, dia sangat berterus terang. Terkadang kaku, seperti kanebo kering.
Aku menjelaskan pada Bang Yohan kalau Yesseh memberikan kriteria barang seperti apa saja yang mau dia terima, dan kalau ada barang yang masih abu-abu, aku akan kembali mengonfirmasi padanya dulu.
“Kita mandiri banget, ya, Bang.” Mau bagaimana lagi, Yesseh tidak bisa selalu stand bye dengan koneksinya kalau dia ikut manajemen. Jadilah aku yang menjadi manajernya. “Nanti kita buka manajemen, Bang. Y System Management.”
Meski aku sedang berandai-andai, Bang Yohanku tetap mengaminkan. Aku meminta Bang Yohan untuk mencoba penampilan yang bisa menutup leher itu tanpa harus mengenakan jilbab. Dia mengeluh sangat kepanasan karena aku menyarankan memakai dua atasan.
“Abang pake akun sendiri aja, lah.”
“Abang kan gak punya followers.”
Kami berdua kembali terbahak. System ini memang akan pincang kalau ditinggal oleh core kami. Core kami sangat kuat sehingga pundaknya selalu sanggup menanggung beban untuk mengurus kami berdelepan.
“Aku bawa masakan untuk kalian.” Kayana mengirimkan pesan padaku dan memintaku untuk mengirimkan lokasi rumah ini.
Aku tidak langsung membalasnya dan Bang Yohan sepertinya tahu kalau aku masih belum mau melihat mereka.
“Hanya aku dan Rudra.” Seolah Kayana mampu membaca isi hatiku.
Aku mengirimkan lokasi rumah ini dan tak menunggu terlalu lama. Mereka berdua sudah sampai dan membunyikan klakson motornya.
Bang Rudra langsung menyapa akrab Bang Yohan saat abangku ini membukakan pintu untuk mereka. Kayana memberikan rantangnya dan mengatakan mereka ingin langsung pulang karena hari sudah sangat sore. Bang Yohan mengucapkan terima kasih saat menerima rantang itu dan bertanya siapa yang memasak.
“Kayana anak teknik tataboga, Bang. Makanya suka masak-masak.”
“Masih panas, loh.”
Aku sedari tadi memang belum mengisi lambungku dengan apapun karena sibuk bersedih.
“Enak, Bang?”
Bang Yohan memuji masakan Kayana.
“Anak tataboga pastinya pandai masak.”
“Kamu juga harus belajar masak.”
Sebuah saran yang berhasil membuatku mengerucutkan bibir. Anggota Y System tahu kalau aku memang paling malas masak, aku lebih memilih membersihkan satu rumah ini daripada aku harus memasak.
“Katanya mau punya abang ipar, nanti abang ipar kamu mau dikasih makan apa?”
“Abang ipar yang ajar aku masak.”
“Iya, kalau abang ipar kamu bisa.”
“BISA!”
Bang Yohan menertawakan kepedeanku saat mengatakan itu tadi. “Satu kandidatpun kita tak punya.”
Hari sudah malam. Aku memakai jaket Yesseh dan pergi ke balkon atas. “Yesseh, the sky is beautiful, isn’t it?”
Aku tertawa saat menanyakan itu padanya, pada orang yang saat ini sama sekali tidak akan bisa mendengarku. Aku juga tertawa karena itu adalah salah satu judul cerita yang pernah Yesseh tawarkan padaku. Cerita yang sama sekali tidak seindah judulnya. The sky is beautiful, isn’t it?
Kak Yaren memperingatkanku untuk masuk dan segera tidur karena hari sudah sangat malam. Aku berhenti memandangi langit yang sangat berbintang dari atas balkon ini.
Keesokan harinya, aku terbangun di bangku tunggu yang sudah sangat familiar. Bang Yohan menyugar rambutnya saat poninya mengganggu mata.
“Yessica Mayasari.”
Bang Yohan langsung masuk ke dalam saat nama core kami dipanggil.
“Halo, Yohan.”
“Halo, Dokter.”
Ternyata Bang Yohan dan Dokter Syifa sudah saling kenal. Aku menyimpulkan Bang Yohan sering datang ke sini untuk menceritakan krisis system kami saat ini.
“Bagaimana keadaan kalian?”
Bang Yohan menceritakan kalau aku sudah bangun tapi Yesseh masih belum ada tanda-tanda kembali.
“Sudah berapa bulan Yesseh dormant?”
Bang Yohan mengerutkan keningnya karena sedang berusaha mengingat. “Terhitung pertengahan Juni, sekarang pertengahan Desember.”
“Berarti sudah enam bulan.” Dokter Syifa menuliskan sesuatu di kertas yang selalu dia siapkan untuk mencatat semua yang penting.
Bang Yohan juga menceritakan tentang PPL yang berhasil kami lalui dan juga menceritakan KKN yang sedang kami jalani. Semuanya bisa dihandle meski sedikit kesulitan. “Berapa lama lagi kami harus menunggu, Dokter?” terdengar sebuah kelelahan dalam nadanya bertanya.
“Dormant adalah kondisi di mana dia sudah terlalu berat menanggung beban.”
Aku menyalahkan diriku sendiri. Karena terakhir kali sebelum kepergiannya, hubungan kami berdua memang buruk.
“Biarkan dia istirahat hingga dia membaik. Mencoba mentriggernya dengan hipnoterapi bukan keputusan yang bijak.”
Percakapan Bang Yohan dan Dokter Syifa berlangsung sangat serius.
“Bisa aku bertanya sesuatu, Yohan.”
Bang Yohan mempersilakan.
“Ini tentang seksualitasnya Yesseh.”
“Dokter mengira ketertarikannya pada wanita itu ada hubungannya dengan kami yang laki-laki?”
Dokter mengangguk menandakan tebakan Bang Yohan tepat sasaran.
Bang Yohan menggeleng. “Semua anggota Y System itu straight kecuali Yesseh, Dokter.”
Dokter Syifa menanyakan bagaimana tanggapan Bang Yohan tentang ini.
“Yesseh tahu benar dan salah.” Bang Yohan tahu dan sangat yakin kalau adek yang selalu ingin memukulnya tidak akan berusaha membenarkan apa yang salah.
“Sebenarnya Yesseh itu kenapa. Dokter?” Kali ini pembicaraan kembali berfokus pada alasan utama Yesseh datang menemui Dokter Syifa.
Dokter Syifa mengatakan dia masih belum bisa menjatuhkan diagnosis. “Aku merasa Yesseh masih banyak menyembunyikan sesuatu. Dia tidak sepenuhnya terbuka padaku.”
“Dia punya banyak kelainan, tapi seolah itu bukanlah masalah.” Bang Yohan menghela napasnya. “Sebenarnya itu pertanda baik atau pertanda buruk, Dokter?”
“Baik atau buruknya tergantung kepada landasan berpikirnya Yesseh itu sendiri.”