Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Clue Tiga Kata



Senin pagi ini aku memutuskan ke tempat di mana kami sering berkumpul, aku ingin mengetik novelku dan merasa sangat suntuk sendirian di rumah. Makanya aku pergi dan membawa tas berisi laptopku ke sini.


"Selamat pagi, Mbak. Pesanan biasa?" Seorang barista laki-laki dengan lesung di pipi kiri itu tersenyum ramah.


"Bang Taka," aku tersenyum padanya dan berusaha untuk tidak salah tingkah, "iya, biasa."


Aku mencari kursi kosong sembari menunggu pesananku dipanggil dan langsung menyalakan laptopku untuk membuka Libre Office. Aku mendorong layar laptopnya sedikit ke belakang dan hanya menatap kursor yang hilang timbul itu. Aku berpikir keras memikirkan lanjutan untuk plot novel pertamaku.


Aku punya satu masalah yang sampai sekarang bingung apa solusinya. Yesseh memintaku untuk membuat cerita mengenai bagaimana caraku menemukan abang iparku sebaik-baiknya dan berdoa agar itu menjadi nyata. Aku tahu itu hanya pengalihan isu karena dia sudah muak dimintai abang ipar olehku.


Aku juga tahu dia menggunakan dirinya sendiri agar aku semangat untuk menyelesaikan naskah, karena tak ada pecutan yang lebih ampuh untuk seorang Yessinya Yesseh kecuali Yessehnya itu sendiri. Dia ingin membaca novel pertamaku, kuharap dia tak menyesal karena telah menantang seorang penyuka genre romansa sepertiku.


Aku tahu Yesseh akan berusaha untuk lari dari kisah cinta yang akan kubuat, tapi aku tidak akan kalah. Setiap pelarian yang dia usahakan, akan kubuat itu menjadi senjatata makan tuan. Akan kubuat segala usaha pelariannya itu menjadi sia-sia, akan kukembalikan pelurunya. Itulah tekadku yang sangat bulat. Aku kenal Yessehku luar dalam, aku hanya perlu menemukan solusi untuk masalah yang menghadangku saat ini.


"Yessica Effendi." Barista yang sama yang tadi menyambutku meletakkan gelas kopiku di meja. "Dipanggil-panggil dari tadi."


Aku hanya cengegesan karena aku tak mendengar apapun, terlalu larut dengan permasalah yang sedang kuhadapi. Aku meminta maaf dan berterima kasih padanya karena telah mengantarkan kopiku.


"Bikin apa?" Dia mengangkat kedua alisnya.


"Novel, tapi Yessi bingung." Aku menceritakan kesulitanku dalam menciptakan karakter utama laki-laki dalam ceritaku ini karena Yessehku tak pernah jatuh cinta. Aku bingung menciptakan karakter laki-laki yang sesuai dengan seleranya karena dia tak pernah dan sangat tak suka membahas mereka. "Yesseh cuma ngasih satu clue."


"Apa clue-nya?"


Aku memberitahukan pada Bang Taka apa clue yang sudah Yesseh berikan.


"Itu tiga kata yang mencakup semuanya."


Aku bingung apa maksudnya. "Tapi Yessehku tempramental."


"Pasti ada makna lain dari kata-katanya itu." Dia memberiku semangat untuk menggali petunjuk yang hanya tiga kata namun sudah mencakup semuanya itu.


Aku mengangguk setelah dia pamit padaku untuk kembali ke depan sebelum ditegur yang lain. Ini sangat menantang, aku menciptakan kisah cinta yang protagonisnya adalah Yesseh. Entah aku akan berhasil atau tidak.


Aku menyedot kopiku dan membiarkanku laptopku dalam keadaan terbuka dan tetap menampilkan naskahku yang sudah beberapa Minggu terbengkalai. Sengaja kuabaikan yang ini dan fokus memecahkan petunjuk yang Yesseh berikan, karena tanpa memecahkan clue itu, cerita ini tak bisa kulanjutkan. Aku tersenyum saat melihat namaku tertulis di gelas kopi ini. Entah aku tersenyum membaca namaku atau karena itu tulisan milik Jayantaka.


Sekitar tiga jam aku berada di sini. Tiga jam yang terbuang itu untungnya tidak sia-sia. Aku sudah berhasil menemukan jawaban dari petunjuknya, pernikahan adalah hubungan antara laki-laki dan wanita. Aku paham akan membuat karakter male lead yang seperti apa. "Lihatlah, Yesseh, aku akan berhasil membuat kisah cinta untukmu," batinku.


Aku memutuskan keluar dari sini dan pergi Gramedia. Awalnya aku mau pamit pada Bang Taka, tapi dia tidak ada. Motornya masih ada di depan saat tadi aku keluar, berarti dia belum pulang. Tak apa lah, aku juga sedang buru-buru. Aku memutuskan untuk salat Zuhur dulu di masjid terdekat.


Aku langsung ke Gramedia yang ada di Malioboro, kali ini aku fokus pada satu tujuanku saja.


"Ketemu di sini." Seorang laki-laki yang lebih tinggi sekitar sejengkal dariku itu mengambil sebuah buku di rak atas.


"Bang Taka? Nyari apa?"


"Hum, tapi ada tujuan lain kan?"


"Beliin setelan jas untuk Reyndra wisuda."


Aku merasa sedikit aneh, mereka bahkan belum PPL dan KKN, kenapa dia sudah mempersiapkan jas wisuda untuk adeknya.


"Yessi nyari apa?"


"Male book."


"Masih yang tadi, ya?"


Aku mengangguk. Aku mengurungkan mencari male book dan menawarkan diri untuk menemaninya mencari jas untuk Bang Reyndra. Dia setuju.


"Kok cepat amat belinya?"


"Takutnya gak punya waktu lagi."


Kuharap ucapannya barusan bukanlah pertanda buruk.


"Yessi mau abang ipar yang seperti apa?"


"Yang bisa kenal dan paham kami semua. Abang pasti mau ipar yang seperti itu juga, kan?"


Dia tersenyum kecut. Ada mendung di wajahnya.


"Yang kanan." Aku menunjuk setelan yang ada di tangan kanannya. "Simple dan elegan."


Dia menerima saranku dan kami pergi membayar. Dia benar-benar hanya membeli yang satu itu dan juga sepatu pantofel.


"Yessi mau diantar?"


"Yessi naik Gojek."


Dia mengatakan akan ikut menunggu hingga Gojekku tiba.


"Yessi gak mau tinggal di rumah yang membuat Yessi harus berpura-pura menjadi seorang singlet ... lagi." Aku mengeluarkan curahan hatiku padanya.


"Aamiin."


Kali ini tak ada lesung pipi.