Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Menjauh Kalau Kau Takut



"Minggu lalu Yessi menceritakan tentangmu." Dokter Syifa membuka percakapan.


"Apa dia menceritakannya dengan baik?" tanya Yesseh datar.


"Ya, dia cerita banyak."


"Saya memang tidak seharusnya meragukan skill story telling-nya Yessi."


Dokter Syifa mengatakan di sesi kali ini, dia ingin mengonfirmasi informasi yang dia dapatkan dariku.


"Kenapa kau tidak melawan saat dirundung."


"Aku melawan." Dia menjawab santai. "Sedikit."


"Apa karena melindungi adek laki-lakimu yang sakit-sakitan?"


"Itu hanya salah satu alasannya. Sebenarnya waktu kecil dulu aku masih sangat bodoh." Dia mengeluarkan seringainya. "Aku tak tahu kalau anak di bawah umur pasti akan lolos dari hukum."


Dokter Syifa menatapnya dan menunggunya melanjutkan. Mungkin dia sengaja tidak ingin memotong ucapannya.


"Kalau aku menebas lebih dari enam anak, menurutmu apa aku tetap akan lolos?" Dia bertanya dengan santai tapi serius. "Aku takkan ditangkap kalau mereka tak tahu siapa pelakunya."


"Aku juga baru tahu kalau sekolah takkan mengeluarkan anak yang bermasalah atas dasar menyelematkan akreditasi." Dia menggaruk dagunya. "Aku hanya tak ingin mengecewakan orang tuaku." Dia tersenyum manis.


"Bisa aku berbicara padanya?"


"Siapa?"


"Anak kecil itu."


"Yessa? Yumna?"


"Inner child-mu."


Yesseh tertawa sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Kenapa kau mau menemuinya?"


"Ingin mengajaknya berbicara agar dia memaafkan semuanya."


"Aku tak mau memaafkan mereka, aku mau mereka binasa! Aku akan mengadukan mereka pada Rabb-ku untuk membinasakan mereka semua."


Kejadiannya sudah lebih dari 12 tahun lalu, ternyata dia masih menyimpan semua lukanya dengan sangat rapi. Yesseh mungkin sangat pede karena sejak dia masih kecil, Tuhan selalu menjawab doanya. Termasuk doa meminta penyakit asma adekku dipindahkan padanya, Tuhan mengabulkannya dan dia sekarat, tak sanggup menahan beban yang dimiliki oleh adek.


Lalu dia berpikir kalau itu teguran darinya kalau manusia sudah diberi porsi ujian sesuai dengan kesanggupan mereka masing-masing.


Aku memperingatkannya kalau doa yang buruk kemungkinan akan berbalik kepada diri sendiri. Meski aku tahu kalau dia pasti sangat tahu kalau tak ada hijab untuk doa orang yang dizolimi. Aku tetap tak mau orang-orang yang pernah menyakiti kami mati bergelimpangan.


"Aku tak tahu kemana doaku akan melesat." Yesseh meralat kata-katanya. "Pada anak-anak sialan itu, atau pada orang tua yang tidak mampu mendidik mereka. Kucabut doaku, tak menguntungkan melihat balasan mereka di dunia."


"Bisa aku berbicara dengannya?"


"Kau mau apa? Bukankah aku tak mempan dengan hipnotismu?"


Sekarang suasana formal di antara mereka berdua mulai mengikis.


"Aku bisa kalau kau mengizinkannya."


"Lakukan!" Dia menjadi lebih serius kali ini. "Aku ingin lihat apa dia bisa memegang pisau dengan benar."


Dokter Syifa memulai sesi hipnoterapi mereka, karena nama Yessica Mayasari yang selalu dipanggil, aku mulai mengantuk dan menghilang. Padahal aku juga ingin menemui Yessica Mayasari kecil, aku ingin memberikan sedikit cinta yang kupunya. Aku bahkan bersedia memberikan semuanya untuknya.


Aku bangun lagi entah di hari apa.


"Pagi, Baby Girl. Nyenyak tidurnya?"


"Pagi, Ayang. Ini Minggu, ya?"


Aku menebak seperti itu karena nampaknya Yesseh sedang sangat santai sekali. Dia membaca bukunya dan menselonjorkan kedua kakinya di meja.


"Jumat."


"Kok Ayang gak kuliah?"


"Tanggal merah. Kamu tidur 2 Minggu."


"Lama juga," pikirku. Sepertinya itu efek hipnoterapi kemaren. Aku penasaran dengan hasilnya dan bertanya dengan hati-hati.


Sepertinya Yesseh malas membahasnya.


"Sekarang gimana perasaannya?"


"Sama aja. Gak ada yang berubah."


Dia benar-benar tidak suka membahas itu, bisa terdengar dari nada bicaranya saat menjawabku. Aku tak perlu mengorek hal itu lebih lanjut. Aku mengalihkan pembahasan untuk memberitahunya kalau aku memutuskan untuk tidak tertarik lagi.


"Ayang pasti kesepian gak dengar ocehanku."


"Sepi ... dan tenang." Dia tersenyum lebar.


Aku mengerutkan keningku dan memajukan bibirku karena kesal. Aku tahu dia memang sengaja ingin membuatku kesal.


"Gak ada yang bakal ngamuk teriak-teriak gak jelas karena cemburu sama gadis lain." Dia tertawa meledekku.


Setelah mendapatkan kesempatan fronting, aku langsung membuka ponsel karena sangat penasaran dengan lampu notifkasi yang sedari tadi Yesseh abaikan. Ada banyak pesan belum terbaca di Whatsapp. Karena ini kejadian yang tak biasa, aku langsung membukanya.


"Hai." Aku ikut bergabung dalam obrolan. Tak lupa mengirimkan stiker imut yang selalu mubazir kalau aku tidak fronting.


"Baru aktif?" balas Bang Rudra.


"Baru bangun. Yesseh emang gak suka cek WA." Aku menanyakan hal yang membuatku penasaran. "Yesseh nemuin kalian, ya?"


"Iya. Dia datang Minggu kemaren. Minggu sebelumnya Bang Yohan."


"Waaaah, bahas apa aja?"


"Banyakan diam, sekali ngomong ngegas," jelas Kayana.


Aku tertawa membacanya.


"Eh, bukan ngegas. Apa, ya." Nampaknya Kayana kebingungan menjelaskannya.


"Berapi-api?" Bang Rudra ikut membantu.


"Menggebu-gebu dan penuh dengan nada yang ditekan?" Aku ikut membantunya juga memberikan opsi.


"Anggaplah gitu."


"Kayaknya dia mirip Reyndra. Cuek tapi care." Bang Rudra memiripkan sifat Yesseh pada temannya.


"Moodku tidak separah dia."


Yang bersangkutan akhirnya timbul setelah sedari tadi dia hanya menyimak.


"Berani di chat aja, Reyn?"


"Berani lah."


"Emangnya kenapa mereka? Bertengkar?" Aku penasaran.


"Adu elemen," balas Kayana.


"Elemen es dan api."


"Kadang pake bahasa batin."


"Kadang sama-sama ngencengin urat leher."


Bang Rudra dan Kayana sepertinya semangat sekali meroasting mereka berdua. Nampak dari stiker-stiker dan emoticon-emoticon yang mereka gunakan.


"Kalau Bang Yohan?"


"Bang Yohan ramah euy, bersahabat. Adem ayem. Ya, gak, Reyn?" Bang Rudra mengirimkan emoticon yang seolah menggodanya.


"Udah, Rud. Digodain mulu."


Masih dengan nomor Bang Reyndra.


"Sorry, Bang."


"Bang Taka? Kalian co-fronting?"


"Iya, Yessi."


"Kalian berdua jangan rebutan ngetik, Bang. Keributannya sampai ke sini."


"Kok tahu?" tanya Kayana.


"Ya, lah. Aku di samping mereka berdua." Bang Rudra mengirimkan potret laki-laki yang sedang mengenakan baju putih dari posisi samping, dia memegang ponselnya.


Selain lesung pipi, mereka juga memiliki hidung yang mancung. Refleks aku memegang hidung dari pemilik tubuh ini yang sangat pesek.


"Kutuntut kau atas pelanggaran privasi."


"Bang, ampun, Bang. Somasi somasi."


Aku tertawa karena ternyata kehebohan ini tak hanya ada saat kami berkumpul, tapi juga heboh sampai di grup obrolan.


"Aku same *** attraction."


"Waduh." Bang Rudra mengirimkan emot melotot.


"Yesseh itu." Aku menjelaskan agar mereka tahu kalau kami juga co-fronting.


"Ini untuk Kayana. Menjauh dariku kalau kau takut."


"Aku gak takut."


"Kenapa?"


"Kita sama-sama muslim dan manusia."


Yesseh terkekeh melihat jawaban itu dan meletakkan ponselnya ke meja.


"Puas kamu, Bang?"