Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
You Bastard



UAS selama 2 Minggu ini akhirnya berhasil kami lewati. Lebih tepatnya, Yesseh yang lewati, karena UAS benar-benar mentrigger dirinya untuk tetap berada di depan menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa. Aku sedikit membantunya di belakang karena ada materi yang lebih aku kuasai daripada dirinya.


Yesseh keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan ujian yang terakhir. Akhirnya aku bisa kembali mengoceh dan mengganggunya setelah dua Minggu lebih berpuasa. "Gimana, Ayang, UAS-nya?"


"Easy."


Itulah Yessehku dengan gaya songongnya, meskipun itu susah dia akan tetap mengatakan easy. Karena, percuma saja menangisi sesuatu yang sudah lewat.


"Yesseh."


Aku sudah familiar dengan suara gadis yang barusan berteriak memanggil nama Yesseh. Dia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan kakak kembar tercintaku ini.


"Aku Zinnia." Dia mengatakan pada Yesseh mereka berdua belum sempat berkenalan.


Yesseh menatapnya agak lama sambil berpikir darimana dia bisa membedakan antara Yesseh dan Yessi. Memang penampilan kami berdua sangat kontras, tapi aku belum menceritakan kondisi kami yang DID pada gadis yang barusan memperkenalkan dirinya pada Yesseh itu.


"Hai ...," dia menjawab dengan sangat datar dan berusaha keras untuk bersikap ramah, "Zinnia."


Yesseh kembali berjalan dan Zinnia mengekorinya. "Tahu dari mana tentang aku?"


"Tak susah mencari tahu tentang kalian karena kalian tak berusaha menutupinya."


"Kurasa kau benar, yang susah adalah mempercayainya."


"Tak susah untuk orang sepertiku."


Yesseh tersenyum miring memikirkan apa maksudnya. "Aku tak butuh dipercayai oleh orang-orang."


"Tapi Y System butuh." Zinnia masih berusaha menyamai langkah Yesseh yang lebar dan cepat itu. "Kau tidak kesepian?"


"Aku suka sendirian." Yesseh terus berjalan menuju parkiran dan membiarkan gadis di sampingnya ini mengikutinya. "Kau bawa motor?" Yesseh menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


Zinnia mengatakan kalau dia akan pulang dengan temannya dan menunjuk ke arah gadis yang sedang melambai-lambaikan tangannya. "Bye, Yesseh." Dia berlari kecil menemui temannya itu.


Yesseh hanya melihatnya dan tersenyum sekilas. "Kita pulang, Sayang?"


"Pulang," aku mengeluarkan cengiran manjaku padanya, "mau lihat Ayang ngonten." Aku juga memintanya untuk mampir ke tempat penjual es tebu di perjalanan pulang nanti.


"Es tebunya di kulkas, ya, Sayang."


"Makasih, Ayang."


"Anything for you, Baby Girl."


Dia memang akan selalu menuruti permintaanku selama itu masih di batas wajar. Aku menunggunya membuat video, tapi dia malah kembali mengambil buku pemberian dari Bang Reyndra dan membacanya lagi.


Dia sangat fokus dan akan selalu mengerutkan alisnya saat ada bagian yang masih sangat asing baginya. Sudah sejam dia membaca buku itu, rekor yang cukup lama untuk seorang yang sudah muak berkutat dengan DID.


"Dia gak banyak omong." Aku membuka obrolan tepat saat dia sudah menutup bukunya.


"Bagus, kan."


"Tapi terlalu pendiam kan tidak baik."


"Terus apa?"


"Tidak tahu."


Aku cemberut.


"Kamu hanya duduk di hadapannya selama 2 jam, satu hari dalam seminggu. Waktu sesingkat itu tak bisa digunakan untuk membaca orang lain. Manusia bisa sangat berlapis-lapis seperti bawang merah, yang kita lihat hanyalah kulit luarnya saja."


Dia ada benarnya. Bahkan orang-orang yang satu atap dengan kami lebih dari setahun saja tidak tahu siapa Yessica Mayasari sebenarnya.


"Orang pendiam hanya butuh pendengar yang tepat."


Sekarang aku memancingnya untuk membuat video. Aku ingin mengoleksi lebih banyak draf video lagi.


"Mager."


Aku menyatukan kedua alisku membuat ekspresi khas kesalku yang akan selalu dia bilang lucu.


Lampu notifikasi ponselnya berkedip dan dia memencet tombol power sekali untuk melihat notifikasi dari layar kunci.


"Coba di detik yang paling awal." Pesan dari sebuah kontak yang sudah Yesseh namai Reyndra itu mengirim pesan.


"Mager." Yesseh mengetikkan balasan itu hanya dari notifikasi.


"Konten kreator kok mageran."


Yesseh tertawa melihat pesan balasan y


yang datang tak sampai hitungan detik itu dan membuka aplikasi WA-nya. Kali ini dia benar-benar membuka dan mengetikkan balasannya dari ruang obrolan. "Mau jadi videografer?"


"Mau bayar berapa?"


"Sesuai dengan rate gaji videografer abal-abal."


Aku tertawa membaca percakapan mereka.


"Apa susahnya bilang pemula."


"UMR Jogja gimana?"


"Tidak sepadan karena ini mengancam keselamatan jiwa dan raga."


"Kita bukan syuting di tebing."


"Masih mending di tebing. Yang jadi masalah adalah klienku itu kamu Yessica Mayasari."


"You bastard."


Sepertinya aku menemukan sekutu baru untuk profesi meroasting Bang Yesseh.