Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Zinnia



Sir Steven sedang menjelaskan materi di depan dan aku sangat mengantuk sehingga mampu berkonsentrasi di kelas saat ini. Entah apa yang Yesseh lakukan semalaman sehingga aku bangun dengan kondisi tubuh yang lemas dan mengantuk seperti ini. Tak biasanya dia begadang.


Kelas saat ini sedang hidup dengan suasana tanya jawab, aku berdoa semoga keberuntungan ada di pihakku agar Sir Steven diri yang sedang sangat mengantuk ini. Nyawaku rasanya sedang menyangkut di antara dua alam.


"You," Sir Steven ke arah barisan sini, "the one who wear Yellow Dress."


Ternyata aku mendapat kesialan bukan keberuntungan, beliau benar-benar menunjukku. Hanya aku yang sedang mengenakan gamis dengan warna Baby Yellow di kelas ini.


"What's your name."


Pertanyaan yang paling kubenci di keadaan yang sangat formal seperti ini sehingga aku rasanya tak berkutik dan aku harus pasrah menyebutkan nama yang sesuai dengan nama siapa yang terdaftar di kampus ini. "Yessica Mayasari."


Beliau melontarkan sebuah pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Aku bahkan tak mengerti apa maksud dari soalnya. Ternyata ada orang lain yang sedang co-fronting bersamaku, dia yang menjawab pertanyaan itu sehingga Sir Steven merasa puas.


"Bang?" Aku memastikan siapa yang sedang berada di belakangku.


"Iya, Baby Girl."


Ternyata dia. "Thank you."


"Anything for you."


Kami berdua hanya bercakap dengan komunikasi internal kalau berbicara menggunakan suara saat ini, aku bisa dikira orang gila yang sedang berbicara pada khodam. Sebelum dia pergi, dia menitipkan padaku untuk mencari sebuah buku di perpustakaan saat kelas usai nanti. Aku mengangguk sebagai tanda mengiyakan permintaannya.


Aku tahu kelas ini sebentar lagi akan usai, aku sudah tak sabar untuk bisa sampai ke rumah dan menyembuhkan kleyengan ini dengan tidur siang. Berhubung dia memintaku mencari buku, rencana tidurku itu buyar. Sir Steven mengakhiri kelas dan aku juga langsung keluar menuju ke perpustakaan.


"Yessi!"


Suara seorang gadis memanggilku dan aku membalikkan badanku untuk melihat siapa dia. Dia sedikit berlari untuk mengurangi jarak yang ada di antara kami.


"Hai." Aku menyapanya sambil tersenyum saat dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Jujur saja aku lupa siapa namanya, yang pasti dia berada di kelas yang sama denganku.


"Mau ke mana?"


Kami lanjut berjalan.


"Ke perpustakaan. Ikut?"


"Iya." Dia mengangukkan kepalanya dengan semangat.


Dia adalah orang pertama yang berbicara denganku sejak hari pertama kuliah offline. Aku sengaja menghindari interaksi dengan orang-orang. Bukannya tak bisa bergaul, hanya saja malas memperkenalkan diri dan juga malas menjelaskan kondisi kami.


Dari gelagatnya sepertinya dia punya sesuatu yang ingin dia tanyakan padaku. "Apa? Bilang aja."


"Kenapa tadi lama mikirnya waktu Sir Steven nanya nama kamu?"


Ternyata dia memperhatikan gelagatku, wajar saja karena tadi dia duduk tepat di sampingku. "Aku punya nama yang sedikit berbeda dengan apa yang tertulis di dalam dokumen resmi. Jadi, tadi aku bingung mau menyebut nama yang mana. Namaku atau nama yang ada di dokumen resmi."


Aku tidak berbohong juga tidak bisa disebut sepenuhnya jujur.


"Begitu, ya."


"Begitulah."


Hening hingga kami sampai di depan perpustakaan.


"Bukannya kamu tidak punya dokumen resmi?"


Aku menatapnya curiga. Siapa orang ini.


"Mau nyari buku apa?"


Untungnya dia tak berusaha menggali lebih lanjut.


"Buku titipan kakak kembarku." Aku menjelaskan buku yang ingin kucari. "Buku tentang tanaman langka dan beracun yang ada di China."


Kami berdua masuk dan mengeluarkan kartu tanda mahasiswa untuk diberikan kepada petugas agar di-scan terlebih dahulu. KTM yang tidak bertuliskan namaku, tapi mungkin tak ada yang tahu. Kecuali, gadis yang sedang berada di sampingku ini.


Suasana di dalamnya lumayan sepi, hanya ada tujuh mahasiswi, sembilan termasuk kami. Wajar kalau tak ada laki-laki karena kemungkinan semuanya sedang bersiap-siap untuk salat Jumat. Aku menyusuri rak bagian biologi dengan cepat dan fokus dengan bagian punggung buku yang berisi judul. Bolak-balik aku mencarinya namun buku yang Yesseh mau itu tidak ketemu. Atau saja bukunya luput dari pandanganku yang kabur karena sedang mengantuk ini.


"Dapat?" Aku bertanya singkat pada gadis dengan kuncir ekor kuda itu. "Maaf, ya, tapi aku lupa namamu."


Dia menggeleng. "Gak ada. Oh, ya, namaku Zinnia." Dia memberiku sebuah tawaran. "Mau kubantu cari di perpustakaan digital?"


Aku mengangguk dan mengiyakan itu. "Terima kasih sebelumnya."


Aku kembali sibuk dengan jejeran buku yang ada di rak. Karena merasa pencarianku ini sia-sia, aku pergi ke bagian paling belakang dan duduk di lantai bersandarkan dinding dan menghadap rak bagian sastra. Aku mengeluarkan buku dari tasku dan membacanya. Posisi membaca seperti ini adalah favoritku sejak dulu.


Aku menunggu Zinnia kembali sambil membaca buku yang kubeli dari Amazon. Aku sudah mengobrak-abrik marketplace dalam negeri, tapi buku seperti ini dan sejenisnya tidak berhasil kutemukan, bahkan bajakannya sekalipun. Aku fokus dengan kegiatan membacaku sembari keningku akan mengernyit setiap ada kata yang sangat asing bagiku. Bukunya menggunakan bahasa Inggris. Sepertinya aku akan merengek pada Yessehku agar dia mau menterjemahkan buku ini untukku.


Aku merasakan kehadiran seseorang dan langsung menutup bukuku karena aku mengira Zinnia kembali. Ternyata dia orang lain. Aku sengaja mencoba menutup bagian covernya dengan tangan kananku agar dia tidak bisa melihat buku apa yang sedang kubaca.


"Bang?" Dia seniorku si penghuni kutub utara.


"Hai." Dia menyapaku sambil tersenyum sampai aku baru menyadari ternyata dia memiliki lesung pipi yang hanya ada di sebelah kiri.


"Hai?" Aku membatin karena tak percaya dia menyapaku.


"Di sini juga?"


"Iya, di sini juga. Abang nyari buku apa?"


"Buku penunjang skripsi, sepertinya tidak ada di sini."


Aku membulatkan mataku mendengar alasan yang sedikit konyol tadi. "Ini kan bagian sastra, abang bukannya teknik otomotif?"


Dia hanya tersenyum kaku sambil memegang punggung lehernya. "Duduk di sana, gamismu nanti kotor." Dia menunjuk ke arah jejeran meja dan kursi yang tersedia di depan. "Saya duluan, ya." Dia pamit padaku sambil mengangguk kecil.


"Iya." Aku memasang senyum yang sangat kaku karena tak percaya dengan perbedaan sikapnya. Aku menatap punggung laki-laki yang sedang mengenakan kaos putih itu sampai dia benar-benar hilang dari pandanganku. Aku yang sedang berlebihan atau dia memang sangat berbeda dari siapa yang kutemui seminggu yang lalu?


Aku memutuskan untuk keluar dari sini dan menyusul Zinnia, ternyata saat aku baru sampai di pintu depan, dia sudah kembali dan menggelengkan kepalanya menandakan kalau dia juga tidak menemukan buku itu di sana. Aku berterima kasih dan kami berdua memutuskan untuk pulang.


Sesaat sebelum aku memesan ojek online, notifikasi mengambang muncul di atas layar ponselku, pemberitahuan dari grup UKM Riset yang Yesseh ikuti, hari ini pertemuan pertama mereka. Aku sangat tahu Yesseh takkan bisa menghadirinya sendiri jadi aku berinisiatif untuk tidak jadi pulang dan menggantikannya di pertemuan pertama ini.


Sebenarnya aku sengaja tidak memberinya kesempatan untuk lari ataupun mengurungkan niatnya ikut ini. Tujuanku hanya satu, aku ingin dia berkelompok dan berteman.


Kebetulan aku sedang uzur. Masjid dan mushola mungkin saja penuh oleh laki-laki yang sedang salat Jumat. Jadi, aku memutuskan untuk langsung ke Fakultas Biologi dan berkeliling terlebih dahulu. Waktu berkumpulnya juga masih lama. Aku memperkirakan mungkin saja jamnya juga akan molor seperti kami waktu itu. Aku berkeliling, ternyata fakultas ini memiliki beberapa laboratorium.


"Inikah alasanmu memilih UKM Riset?" batinku saat melihat peralatan-peralatan yang ada di sana hanya dengan melalui kaca pintu. Itu berhasil membuatku terpukau, mikroskop, pisau-pisau bedah, dan masih banyak lagi. Aku masih tidak tahu lab-lab ini menyimpan apa saja di dalam sana.


Waktu berkelilingku sepertinya sudah habis, aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang ditetapkan. Mereka semua sudah berkumpul, aku sedikit terlambat. Setelah meminta maaf atas keterlambatanku, aku pun ikut duduk dan bergabung dengan anggota lain.


"Maaf, Yesseh, aku membuat kesan pertamamu ini menjadi tidak baik," batinku.


Aku berdiri saat tiba giliranku untuk memperkenalkan diri. Aku sedang mencoba sebaik mungkin meniru intonasi Yesseh dan seperti apa kira-kira dia akan memperkenalkan dirinya.


"Namaku Yesseh. Yessica Mayasari."