
Aku mulai menyukai Dokter Syifa karena dia benar-benar melihatku sebagai Yessica Effendi. Aku terus menceritakan banyak hal tentang Yesseh, beliau mencatatnya untuk bahan sesi terapi mendatang. "Apa yang saya katakan bisa saja meleset dan tidak valid, Dokter. Anda harus mengonfirmasinya lagi pada Yesseh."
Tentu saja aku menceritakan tentang Yesseh dari perspektifku sendiri. Aku hanya bisa menilai Yesseh dari apa yang dia tampakkan, apa yang dia katakan, maupun diamnya dia. Aku benar-benar tak bisa mengetahui apa yang sebenarnya dia sembunyikan. Yesseh sering menyembunyikan banyak hal termasuk kepada kami anggota system-nya sendiri.
"Dua sesi kita habis, Yessi."
Dokter Syifa mengingatkanku kalau satu setengah jam waktu yang kuambil ternyata sudah tak ada sisanya lagi.
"Terima kasih telah mendengarkan saya, Dokter. Maaf, kalau saya banyak bicara."
"Itu lebih baik daripada ada seseorang yang duduk membatu di hadapan saya tanpa mengatakan apapun selama lebih dari tiga puluh menit."
Aku tertawa karena tahu siapa orang yang beliau maksud. Aku pamit undur diri dan langsung menuju ke Starbuck menemui para seniorku yang sudah bisa kukatakan menjadi temanku. Sebelumnya aku sudah mengatakan kalau aku mungkin akan telat karena aku ada urusan. Aku memesan dan langsung mencari mereka bertiga. Entah saat ini mereka sedang bertiga atau berempat.
Aku langsung duduk di kursi yang masih kosong saat menemukan meja mereka. Bang Rudra bertanya mengenai urusan penting yang kumaksud.
"Maaf, Bang. Privasi." Aku tersenyum agar dia tidak kecewa karena aku menolak untuk menjawab pertanyaan itu.
"Gak apa-apa."
Syukurlah mereka semua bukan orang yang suka mengorek-orek privasi orang lain. Mereka juga mendoakan supaya urusan yang kukatakan privasi itu tadi bisa terlesaikan dengan lancar. Aku beruntung berada di lingkaran pertemanan yang sehat. Aku berdiri mengambil pesananku tadi dan kembali lagi pada mereka.
Mereka membahas rencana lepas jabatan yang akan dilaksanakan dua bulan lagi dan sekarang sibuk membicarakan tentang kandidat.
"Kemaren Yessi nanya tentang sekretaris, kan?"
Aku melebarkan senyumku ternyata Bang Taka masih ingat dengan itu. "Kayaknya gak jadi deh, Bang. Yesseh gak bisa diajak kompromi, Bang, yang ada dibubarkannya itu UKM."
Mereka bertiga tertawa mendengar alasanku.
"Ini suka banget me-roasting kembaran sendiri." Bang Taka menyugar poninya ke belakang karena mengenai mata.
"Harus itu."
Mereka belum tahu saja kalau sebenarnya lidah Yessehlah yang lebih tajam kalau me-roasting. Aku merasa pusing di tengah-tengah keseruan obrolanku dengan mereka dan hampir jatuh ke belakang. Mereka bertiga bertanya aku kenapa.
"Switch?"
Aku bangun lagi dan di tempat yang tidak familiar. Aku pernah melihat tempat ini, dari hawa dan suasananya sepertinya ini sudah malam. Aku melihat Yesseh sedang serius melakukan sesuatu.
"Kita di lab kultur jaringan." Dia tahu aku bertanya-tanya kami sedang berada di mana. "Hanya membedah lumut kecil yang lucu dan menggemaskan. Dia sudah lama memanggil-manggilku."
Haus darahnya sepertinya sedang kumat. Lumut kecil yang lucu dan menggemaskan ternyata yang jadi pelampiasan.
"Apa kau hanya datang ke sini untuk menggunakan lab?"
Kenapa harus ada seseorang yang datang di saat yang seperti ini. Namun, aku bisa tenang karena ruangan ini memiliki CCTV. Yesseh akan berpikir ulang sebelum melakukan hal yang macam-macam.
"Masalah?" tanyanya tanpa menoleh. "Aku selalu membereskan semuanya ketika aku selesai." Dia masih sibuk dengan lumut lucunya dan melihat struktur jaringannya menggunakan mikroskop.
"Aku belum pernah melihatmu datang lagi ke pertemuan sejak hari pertama itu."
"Kau mendengarku?! YESSI!"
"NAMAKU YESSEH."
Dia benar-benar menoleh dan berteriak kali ini.
"Sopan pada seniormu." Kali ini perempuan yang berada di samping laki-laki itu ikut bersuara.
Tangan Yesseh refleks mengarahkan pisau bedah yang dia pakai tadi ke arahnya. "Aku bisa membelahmu."
"Kau sakit jiwa?"
Rahangnya mengeras, waktunya bagiku untuk menyelamatkan mereka berdua. "Ayang." Aku berusaha menariknya ke permukaan.
"Iya, Baby Girl?"
"Sekarang kau berbicara sendiri. Kau benar-benar sakit jiwa."
Yesseh berjalan mendekatinya.
"CCTV!" Aku memperingatkannya. Lebih tepatnya, mencoba menghentikannya dengan itu.
"Lidahmu terlalu panjang." Dia mulai bicara dengan suara yang mulai menghilang. Dia mulai berpikir dosa pertama yang diadili adalah dosa pembunuhan, dia berpikir untuk mengambil solusi dengan menikam titik vital mereka di bagian paha yang tidak langsung menyebabkan kematian.
Aku langsung membalikkan badannya dan mendorongnya ke arah pintu keluar. Mereka berdua seharusnya berterima kasih padaku karena telah menyelamatkan mereka. "Ayang, es tebu." Aku hanya sedang beralasan.
"Kau dikeluarkan!" teriak senior laki-laki itu.
"Dikeluarkan?" batinnya. "Tak masalah, aku tak suka perkumpulan. Aku hanya perlu berteman dengan laboran untuk bisa mengakses lab ini."
"Kau dilarang masuk ke lab lagi."
Dia tertawa karena sepertinya senior itu mendengar isi hatinya.
Aku terus mendorongnya dan tak membiarkannya berbalik ke arah mereka dan menuju ke tempat yang mungkin dia memarkirkan motornya di sana. Aku tidak tahu di mana dia memarkir motornya. Hari juga sudah gelap.
"Aku bisa jalan sendiri, Baby Girl."
Aku tak bisa percaya kata-katanya kalau dia belum sepenuhnya sadar.
"Kenapa Kau menciptakanku dengan setengah-setengah seperti ini. Kau memberiku rasa haus darah, tapi tetap membiarkanku memikirkan tentang akhirku. Kenapa Kau tak membiarkanku menjadi seorang pembunuh berantai?"
Aku hanya diam mendengar batinnya protes pada Tuhannya. Akhirnya aku menemukan motornya dan membawanya ke sana. "Cepat, Ayang, es tebu."
Dia menghembuskan napasnya kasar dan menurutiku. "Iya, Baby Girl." Dia duduk di joknya dan memasukkan kuncinya ke dalam kontak motornya dengan sekali hentakan.
"Ayo," dia keluar dari parkiran dan memutar gasnya dengan penuh, "kita beli es tebu."