
Saat melewati sebuah kelas, kami melihat sedikit kejahilan. Kukira takkan ada perundungan di bangku kuliah, ternyata sama saja. Yesseh berbalik dan menuju ke arah mereka. Hanya ada dua mahasiswa jahil yang mengoper-operkan kacamata dari laki-laki yang nampak sangat culun.
Melihat dari lawannya, aku tak perlu khawatir, karena kemungkinan terburuk dari perkelahian ini adalah Yesseh hanya akan terluka. Sebenarnya, aku tak mau Yesseh terluka, tapi tak apa lah. Aku juga kesal melihat perundungan ini, sepertinya Yesseh juga butuh melampiaskan nafsunya pada samsak hidup meski kemungkinan dia juga akan ikut babak belur. Setidaknya, dia akan puas.
Hampir saja Yesseh terpukul tapi satu laki-laki datang dan menangkis pukulan lawannya.
"Reyn?"
Pantas saja punggungnya nampak familiar.
"Laki-laki tidak memukul wanita."
"Dia wanita?"
Tentu saja mereka mengira Yesseh laki-laki karena dia memasukkannya jilbabnya ke dalam hoodie dan memakai topi hoodie di kepalanya. Postur tubuh Yesseh juga mirip laki-laki. Tangan Yesseh mengepal, amarahnya saat ini bercampur dengan amarahnya yang belum tuntas 12 tahun lalu.
Dia menyerahkan kacamata yang sudah hancur itu pada pemiliknya. "KENAPA KAU DIAM?!"
Sudah kuduga dia akan berteriak. Semua orang menoleh dan dia tak peduli. Buat apa dia peduli pada orang-orang yang tidak peduli dengan perundungan yang terjadi di depan mata mereka.
"Aku takut."
Yesseh pergi dari sana sebelum dia ikut melayangkan bogem mentahnya ke muka laki-laki polos itu. Dia juga sempat mendengar orang itu memohon pada dua laki-laki tadi karena tidak punya uang membeli kacamata baru kalau itu rusak. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan optik terdekat di pencarian.
Aku penasaran ke mana perginya Bang Reyndra setelah menghalau serangan tadi. Untung saja dia datang tepat waktu, kalau tidak aku juga akan ikut merasakan sakitnya terkena tinjuan. Yang lebih kutakutkan adalah Yesseh benar-benar akan mengamuk dan takkan bisa dihentikan kalau aku tersakiti.
Selesai kelas, Yesseh langsung keluar dan pergi ke kelas orang tadi dan menunggu di samping pintu. "Ikut aku," ajaknya tanpa basa-basi saat orang yang dia tunggu baru keluar dari pintu.
Dia menurut saja dan mengikuti Yesseh ke parkiran motornya.
"Kau bawa motor?"
Dia menggeleng.
"Tunggu aku di depan."
Yesseh mengeluarkan motornya dan dia pergi menunggu Yesseh ke tempat yang dimaksud. Dia sangat polos, wajar saja dia menjadi sasaran empuk perundungan dari orang-orang yang tak bisa disebut sebagai manusia.
Yesseh memerintahkannya untuk naik ke jok belakang. "Kita ke optik."
Dia sempat ragu dan mengatakan tidak punya uang. Yesseh mengatakan dia sudah tahu dengan hal itu. "Aku yang bayar."
Dia masih ragu.
"Ini bukan hutang, kau bisa mati dengan tenang."
Melihat wanita yang sempat dikira laki-laki ini mulai mengeraskan rahangnya, dia pun langsung naik. Mereka menuju ke optik. Yesseh membantunya memilih frame yang cocok dengan mukanya, setidaknya itu bisa sedikit memperbaiki penampilannya.
Setelah semuanya selesai, dia berterima kasih dan menanyakan siapa nama Yesseh.
Dia menggeleng.
"Kau benar, aku juga belum pernah mendengarnya."
"Kau yang di UKM Media, bukan?"
"Itu kembaranku. Dia cantik, kan?"
Pantas saja dia nampak familiar. Aku sedari tadi mengingat-ingat di mana aku pernah bertemu dengan orang ini.
"Ya, dan kau sangat mengintimidasi."
Yesseh tertawa dan berterima kasih atas pujian yang baru dia terima. "Kuberi tahu namaku, kau akan mati kalau kau salah menyebutnya nanti."
Dia mengangguk setuju dengan syarat itu.
"Yesseh. Yessica Mayasari."
Mereka berdua berpisah karena urusan mereka sudah selesai. Yesseh bahkan tak balik menanyakan siapa nama laki-laki yang ditolongnya itu.
"Baby Girl, kita ke Dokter Syifa."
Sesi dadakan ini menandakan dia memiliki hal penting yang harus disampaikan dan tak bisa ditunda.
"Ada apa, Yesseh?"
"Apa seseorang bisa menolong orang lain tanpa merasakan apapun?"
"Maksudnya?" Dokter Syifa serius menanti penjelasan dari gadis yang sudah menurunkan topi hoodienya ini.
Yesseh bingung menjelaskannya.
"Kau mau bilang, kau memiliki empati kognitif tapi tidak memiliki empati afektif?"
"Apa bedanya?" Yesseh bertanya karena belum dia pernah mendengar pembagian kedua empati ini.
Dokter Syifa menjelaskan kalau dengan empati kognitif seseorang bisa menunjukkan perilaku sosial yang positif seperti menolong, sensitif terhadap ketidakadilan tanpa harus merasa terganggu dengan emosi negatif yang orang lain keluarkan.
"Bukankah itu bagus?"
"Sisi gelapnya," Dokter Syifa memandangi Yesseh dan sedikit memiringkan kepalanya, "kau punya potensi untuk memanipulasi dan mengeksploitasi orang lain."
Dokter Syifa juga menjelaskan mengenai empati afektif yang berhubungan dengan emosi, seseorang bisa berbagi emosi dan merasakan kedekatan dengan orang lain karena peran dari empati yang ini. "Sisi gelapnya, itulah yang menyebabkan seseorang menarik diri dan menghindar dari lingkungan karena berlebihan menyerap emosi negatif."
"Kesimpulannya, kedua empati ini harusnya seimbang?"
"Tidak harus seimbang, tapi dalam diri seseorang haruslah memiliki dua jenis empati ini."