
“Saya semakin yakin kalau salah memberi diagnosis.” Sebuah pesan masuk dari kontak yang sudah dinamai dengan nama Dokter Syifa.
Aku menebak mungkin Bang Yohan yang bertukar kontak dengannya. “Itu kabar baik atau kabar buruk, Dokter?”
“Bisa kau menemuiku, Yessi?”
“Sekarang, Dokter?”
“Secepatnya.”
Aku langsung bersiap-siap dan menuju ke kliniknya. Aku bahkan meninggalkan sarapanku hari ini. Yessehku jauh lebih penting, aku bisa mencari makan setelah aku menemui beliau.
Dokter Syifa memintaku untuk menceritakan semua kegiatan kami semasa SMA. “Kami pernah ikut perlombaan beberapa kali.”
Beliau memintaku menceritakan tentang lomba-lomba itu.
“Lomba OSN Matematika. Kami menang tingkat kota dan kalah di provinsi.”
“Siapa yang ikut lomba?”
Aku menggeleng tidak yakin. “Anggap saja kami berdua.”
Aku menceritakan lomba penelitian belia yang kami ikuti juga. “Bidang matematika juga, Dokter. Judul penelitiannya Mengaplikasikan Eksponen, Akar, dan Logaritma pada Permainan Kartu Remi.” Aku menceritakan kami berhasil mendapat juara tiga se-Sumsel. “Awalnya …, penelitian itu di bidang biologi.”
“Kenapa menjadi matematika?”
“Seingatku karena objek penelitian untuk biologi lumayan susah. Itu kerja tim, aku berdua dengan anak dari kelas sebelah.”
“Apa Yesseh memang tertarik pada biologi?”
Aku mengangguk. “Bisa dikatakan begitu.”
“Kenapa dia tertarik dengan itu?”
“Mungkin karena sejak kecil dia bercita-cita menjadi dokter bedah.”
Dokter Syifa bertanya apa ada lagi lomba-lomba yang kami ikuti. Aku berusaha mengingat dan yakin sekali sudah menceritakan semuanya.
“Tunggu, Dokter,” aku teringat satu lomba yang luput dari ingatanku, “kelas sepuluh kami pernah ikut lomba tingkat provinsi juga.”
“Lomba apa?”
“Tap MPR Empat Pilar di tahun 2016.”
“Tap MPR?” Dokter Syifa menebak itu perlombaan yang berkutat dengan hukum perundang-undangan.
Aku mengangguk. “Selama bimbingan, kami dituntut untuk bisa menghafal isi UUD di luar kepala.” Aku juga menceritakan tak hanya UUD yang harus kami pahami. Masih banyak hal-hal yang berhubungan dengan hukum lainnya. “Bahkan kami harus mengetahui perbedaan dari isi antara amandemen satu dan yang lain, Dokter.”
“Jadi, Yesseh paham hal-hal tentang hukum?”
Aku ragu tentang itu.
“Apa yang dia lakukan di rumah sakit.”
Aku menceritakan semuanya dengan rinci tanpa ada yang kututupi sama sekali.
“Kertas apa itu?”
“Sepertinya rekam medis, ada catatan riwayat alergi di sana.”
“Apel?”
Aku mengangguk.
Aku mengangguk. “Iya---”
“You talk too much, Baby Girl.”
Aku kaget saat Yesseh memotongku.
“Yesseh?” Dokter Syifa juga sedikit kaget. “Sejak kapan di sana?”
“Sejak lama.” Dia tersenyum. “Mendengarkan semuanya.”
Aku mengutuk diriku sendiri yang tak menyadari kehadirannya. “Sial, aku kecolongan,” batinku.
“Anda sangat suka berbicara dengan Yessi, Dokter?” Dia terkekeh. “Sesi kalian sudah lama habis.”
Aku bisa merasakan aura yang tidak enak, aku memutuskan pamit pada Dokter Syifa dan mengajak Yesseh pulang. Sesampainya di rumah, dia tidak membahas apapun mengenai pertemuan tadi dan sibuk dengan proposalnya karena Jumat nanti dia akan menjalani sidang.
“Itu udah gak ada lengannya, masih juga digeser-geser.”
Dia tertawa dan melihat pundaknya yang terbuka. “Panas, Baby Girl.”
Dia bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Membuka kulkas, mengambil es batu dari sana dan memukulnya dengan batu cobekan. Dia membuat es teh seteko kecil dan membawanya ke meja depan.
Dia menuangkan isi tekonya untuk memenuhi gelas besarnya dan dia langsung meminumnya hampir habis. Dia melihat lampu notifikasi berkedip dan memencet tombol power untuk melihat pemberitahuan apa yang masuk.
Pesan dari Dokter Syifa yang mengatakan kalau dia semakin yakin salah diagnosis itu muncul di layar kunci. Yesseh hanya tersenyum miring dan menggeser pemberitahuan itu untuk menghilangkannya dan kembali sibuk dengan proposalnya. Dia memegang gelas besar berisi es teh itu di tangan kanannya. Dia mengecek notifikasi lagi saat lampunya kembali berkedip.
"Sepertinya itu Antisocial Personality Disorder."
Sebenarnya aku sangat penasaran ini lebih baik dari sebelumnya atau malah lebih buruk.
"Aku ingin memastikan satu hal. Bisa minta Yesseh melakukan MRI ke rumah sakit tempatku praktek?"
Kali ini Yesseh mengambil ponsel itu dan membuka pesannya dalam aplikasi.
Dokter Syifa mengirimkan nama rumah sakitnya beserta lokasi di Google Maps. "Dokter di sana bisa langsung mengirimkan hasilnya padaku."
"Masih buka?"
"Iya, Yesseh." Dokter Syifa memberitahu bahwa bagian radiologi tutup jam sembilan malam.
Yesseh langsung melepaskan gelang, anting, kalung, dan cincin yang dia pakai dan membiarkannya di atas meja. Dia menyambar jaketnya dan menuju ke rumah sakit itu dengan mengebut. "Kita salat Maghrib di sana."
Dia mengambil nomor antrian dan memastikan gilirannya masih lama dan langsung pergi ke mushola untuk salat setelah itu kembali lagi ke kursi tunggu. Dia berdiri saat nomor antriannya dipanggil dan menuju teller 1. Yesseh memberitahukan tujuannya datang ke sini untuk melakukan tes MRI otak. Kami diberi nomor antrian dan langsung pergi ke ruang Radiologi.
"Lepas semua logam yang melekat di badan."
"Sudah."
Dokternya memberikan baju khusus yang harus dipakai. Yesseh menerimanya dan menggantinya bajunya dengan itu dan langsung kembali lagi ke ruangan tadi. Kami disuntik sebelum merebahkan diri di atas tempat tidur untuk pemindaian. Setelah itu kami dimasukkan ke dalam sebuah tabung.
Tubuh ini mulai merasa berkedut, kesemutan, dan segala perasaan tidak nyaman lainnya karena sudah terlalu lama berbaring. Suara mesinnya juga sangat bising. Mesinnya berhenti sehingga aku bisa merasakan hening berubah menjadi sesuatu yang asing. Yesseh bangun dari pembaringannya.
"Mual?" Dokter menanyakan efek samping apa yang kami rasakan.
Yesseh menggeleng, efek samping tak penting baginya. "Bagaimana hasilnya?"
Dokter itu mengatakan bahwa hasilnya akan keluar sekitar seminggu lagi. "Nanti saya akan langsung mengirimkan hasilnya pada Dokter Syifa."