
"Nama lengkap Yessica Mayasari."
Seorang terapis yang nampaknya berusia 40-an namun masih terlihat muda di hadapan Yesseh itu sedang membacakan formulir pendaftaran klien yang semalam sudah kuisi. Karena Yesseh tak ada dan beliau memintanya malam itu juga, terpaksa aku yang mengisinya.
"Ya, Dokter."
Seperti biasa Yesseh memang sangat irit kata. Dari papan nama yang diletakkan di meja, aku tahu terapis yang sedang duduk berhadapan dengan Yesseh saat ini bernama Syifa.
"Panggilan Yesseh." Dia melihat Yesseh seolah ingin mengonfirmasi apa yang tertulis di sana itu benar.
Yesseh mengangguk.
"Kelahiran Tanjung Selor, 1 Maret 2000?"
"Ya."
"Di mana Tanjung Selor."
"Kaltim. Sekarang Kaltara."
Dokter Syifa mengangguk. "Di sini tertulis anda pengidap Dissociative Identity Disorder."
Yesseh menahan senyumnya hingga membuatku berpikir menuliskan itu adalah sebuah kesalahan yang kulakukan.
"Anda tak harus percaya itu kalau anda tak mau. Saya datang ke sini, tak ada hubungannya sama sekali dengan DID."
Aku berusaha menenangkan Yesseh dari sini agar dia tidak berlaku kasar pada orang tua.
"Dokter."
"Iya?"
"Jangan macam-macam dengan system-ku."
Bahkan terapispun tak luput dari ancamannya. Dari dalam sini aku hanya bisa menghela napas dan meminta maaf kepada dokternya atas ketidaksopanan Yesseh, meski aku tahu, beliau tak bisa melihat dan mendengarku.
"Saya punya seorang putra yang juga memiliki DID. Saya akan berusaha memahami kalian semua."
Aku senang mendengarnya seolah sedang mendapatkan berlian. Berarti aku bisa ikut muncul di hadapannya sebagai diriku sendiri---Yessica Effendi. Yesseh tak meresponnya karena dia sudah terlalu muak berkutat dengan pembahasan mengenai DID. Dia datang ke sini untuk tujuan lain.
"Baiklah, Yesseh. Di sini tertulis kalau anda memiliki kelainan emosi."
Yesseh menahan tawanya.
"Anger issue."
Tawanya hampir lepas karena baginya itu lucu.
"Di sini juga tertulis kalau anda pernah punya keinginan bunuh diri. Suicidal thought."
Dia sudah tertawa meski tak terbahak. Aku jadi merasa apa yang kuisi semalam bukanlah formulir data diri melainkan materi stand up comedy.
"Apa yang tertulis di sana tidak valid." Bahunya masih bergoncang karena tawa. "Untuk suicidal thought, Yessi berbicara tentang dirinya sendiri."
Aku nyengir kuda mendengar itu dari sini.
"Berikan formulir kosong, saya isi sekarang."
"Tidak usah. Saya tanya dan anda tinggal menjawabnya."
Yesseh setuju.
Beliau mengambil pulpen yang disangkutkan ke saku yang ada di dadanya itu dan memencet tombol atasnya agar mata pulpennya keluar. Dia mulai pertanyaan pertama.
"Jadi, apa keluhannya?"
Yesseh tersenyum lebar. "Tidak tahu."
Yesseh memang punya masalah dalam mengekspresikan perasaannya.
"Kalau begitu apa tujuan anda datang ke sini?"
"Meminta bantuan anda."
"Bantuan yang seperti apa?"
"Saya ingin memiliki emosi yang normal, seperti manusia pada umumnya. Itu saja."
"Ada apa dengan emosinya?"
"Tidak lengkap."
Dokter Syifa menghela napas. Dia menuliskan sesuatu di atas kertas, sepertinya catatan terapi hari pertama ini. Yesseh tak mengatakan apapun lagi. Sepertinya waktu empat puluh lima menit yang singkat bagiku ini akan berlangsung sangat lama baginya.
"Bagaimana masa kecilmu?"
Yesseh mengernyitkan keningnya. "Saya tak suka bahas masa kecil. Saya hidup di masa sekarang, apa hubungannya dengan masa kecil."
"Pembentukan karakter dimulai sejak kecil."
"Saya tidak suka membahas masa kecil." Kali ini rahangnya sedikit mengeras.
"Baiklah, tidak usah dipaksakan."
Dokter Syifa melihat ke formulir tidak valid yang kuisi semalam.
"Apa kau pemarah?"
"Sepertinya tadi sudah ada testimoninya," batinku.
"Ya." Yesseh mengangguk.
"Apa saja."
"Saat marah apa kau melempar barang-barang atau melukai seseorang?"
"Harusnya. Saya mau begitu."
"Kalau pikiran bunuh diri."
"Saya lebih ingin membunuh orang lain."
"Siapa?"
"Empat puluh lima menit kita sudah habis."
Dokter Syifa melihat jam di pergelangan tangan kanannya dan menatap Yesseh dengan heran. "Kau benar, 45 menit kita ternyata sudah habis. Sampai jumpa di sesi berikutnya, Yesseh."
Yesseh hanya mengangukkan kepalanya sekali dan langsung berlari ke parkiran begitu dia melangkahkan kakinya keluar dari pintu itu. Dia ada kelas dance hari Minggu pagi ini. Sepertinya kami benar-benar terlambat. Jadwal tetapnya harusnya berada di sore hari, khusus hari ini ada pertukaran jadwal.
Yesseh mengebut untuk menuju ke studio. Setelah memarkirkan motornya, dia langsung berlari ke dalam.
"Maaf, terlambat." Dia meminta maaf pada Bang Mihran selaku tutor di kelas ini.
"Kau punya tugas."
"Tugas apa?"
"Ajari dia."
Yesseh ikut menoleh saat Bang Mihran menoleh. Seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam persis seperti Yesseh saat ini. Bedanya Yesseh mengenakan hoodie, dia mengenakan kaos polos.
"Kenapa aku?"
"Kau terlambat."
Aku berusaha menenangkannya agar dia tidak mengamuk. Karena, biasanya ada yang terlambat namun tak pernah dapat hukuman. Yesseh membuang napasnya pasrah menerima hukuman ini dan berjalan ke arah calon anak didiknya.
Saat Yesseh sampai di hadapannya dengan berdiri tegap, dia ikut menegapkan posisi tubuhnya. Yesseh memasukkan tangan kanannya ke saku celana dasarnya dan dia juga ikut memasukkan tangannya ke saku celananya, dia memasukkan tangan yang kiri. Dia membuat seluruh cermin full body yang meng-cover dinding studio ini menjadi tidak berguna untuk Yesseh.
"Yesseh."
Seperti biasa, tanpa basa-basi.
"Reyndra."
"Reyndra apa?" dia mengeluarkan ekspresi yang selalu nampak ingin menerkam itu.
"Yesseh apa?"
"Yessica Mayasari."
"Reyndra Jayantaka."
Aku ingin menghilang dari sini sebelum mati terkena hipotermia. Orang yang berasal dari hutan hujan tropis sepertiku tak cocok berada di antara pertemuan dua penghuni kutub utara.
"Ajari dia heel toe!" teriak Bang Mihran sambil masih sibuk mengajari anak-anak yang lain.
"Heel toe or happy feet." Yesseh memutar kakinya menunjukkan seperti apa gerakan yang dimaksud. Anak didik Yesseh ini hanya diam, sepertinya berusaha mengingat gerakan yang baru saja Yesseh contohkan tadi.
Yesseh mengulanginya lagi berkali-kali step by step agar dia bisa mengikutinya, tapi dia kesusahan.
"Kau seharusnya di beginner, bukan intermediate. Kau bayar berapa?"
Dia menatap Yesseh datar. "Kuasa orang dalam. Nepotisme." Dia menoleh ke arah orang yang menyerahkan dirinya kepada Yesseh tadi. "Dia temanku."
Yesseh melihat ke arah sana hanya dengan menggunakan ekor matanya. "Berarti kau memang memilihku."
Mereka kembali dengan praktek ini. Yesseh tidak suka mengulangi kalimatnya lebih dari dua kali, itulah sebabnya Yesseh tak pernah cocok untuk mengajar. Yesseh memang memiliki pengetahuan yang selalu melampaui aku, tapi untuk urusan mengajar, aku jauh lebih baik darinya.
"Kau membuatku frustasi."
Aku sudah bisa menduga kalau kesabarannya pasti akan habis. Aku hanya mengulum senyum melihat pertengkaran kecil mereka berdua dari sini.
"Kau yang membuatku frustasi karena tak bisa mengajariku dengan benar."
Yesseh tak menjawabnya karena di hatinya dia mengakui hal itu. "Kalau kau tidak ahli dengan ini, kenapa kau harus berada di sini?"
"Kalau aku ahli dengan ini, aku tak di sini melainkan di panggung kompetisi."
Aku sudah tak kuasa menahan tawaku karena melihat Yesseh bertemu dengan counter-nya.
Yesseh pasrah dan menghela napasnya sekali. "Oke, Reyn. Fokus, ya."
Laki-laki itu menyingkirkan ujung poni yang mengganggu matanya dan dia sangat fokus dengan intruksi.
"Bagian ini," Yesseh menepuk bagian bawah telapak kaki yang dekat dengan jari.
"Metatarsal?"
"Iya," senyum miring khasnya itu terbit, "metatarsal."
"Kalau bagian metatarsal menempel di lantai, tumitnya jangan sampai nyentuh. Sebelah kanan sebaliknya."
Dia mengikuti step by step yang Yesseh contohkan.
"Putar ke satu arah, nanti akan membentuk huruf V."
Dia membuang napasnya sekali sebelum memutar kakinya. Kali ini dia berhasil melakukannya dengan benar. "Easy."
Rahang Yesseh sedikit mengeras karena kesal. "Easy?" Dia melayangkan tinjunya ke cermin namun sengaja tak sampai mengenai permukaannya. "EASY!"