Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Pasien Ruang Melati 3



Harusnya ini hari pencoblosan, tapi Yesseh malah pergi ke rumah sakit. Dia mengenakan semua yang kemaren kupakai, kecuali sepatu. Dia merencanakan sesuatu. Dia masuk ke dalam ruangan dan langsung melihat ke arah CCTV. Dia menatapnya lama sampai lampunya berkedip, dia tersenyum dan berpose di sana dengan manis. Dia tahu itu aktif.


Ada seseorang terbaring di brankar sana, ternyata dia datang menemui anak yang kemaren. Dia hanya menatapnya lama, bergeming, entah apa yang sedang dia rencanakan. Untungnya ada CCTV di sini, dia mulai berjalan mengitar. Dia memerhatikan sekeliling tanpa menggunakan tulang lehernya, yang bergerak hanyalah bola matanya.


Ada sebuah kertas yang tercecer di bawah, dia berhenti sebentar dan membaca apa yang tertulis di sana tanpa bergerak sedikitpun, hanya mengarahkan dan memfokuskan bola matanya ke kertas yang jatuh itu. Dia tersenyum miring, aku tahu dia menemukan sesuatu. Dia melihat ke botol cairan infus. "Gelafusal." Aku bisa mendengar suaranya yang pelan saat membaca jenis cairan infus apa yang diberikan pada anak yang sedang terbaring lemah ini.


Dia kembali ke sisi anak tadi, sepertinya dia hanya menunggunya bangun. Kenapa Yesseh masih bisa berkeliaran padahal sudah melukai seseorang dengan sangat fatal seperti ini. Aku memang tidak ingin kami semua mendekam di penjara, tapi aku heran cara kotor apa yang dia gunakan sehingga masih berkeliaran bebas seperti sekarang.


Anak itu membuka matanya dan langsung terkejut saat melihat Yesseh yang tersenyum kepadanya yang seolah mengatakan, "halo, kita ketemu lagi. Bagaimana keadaanmu?"


Entah kenapa dia langsung mengalami kejang-kejang. Seorang perawat yang tiba-tiba masuk langsung memeriksa keadaannya. "Kenapa dia?" tanya perawat dengan ekspresi panik.


"Tidak tahu." Dia memainkan ekspresi seorang gadis polos dengan sangat baik.


Tiba-tiba reaksi kejang-kejangnya berhenti. Perawat itu memeriksa denyut nadinya. "Henti jantung." Dia langsung melakukan RPJ dengan segera.


Yesseh hanya tersenyum dan masih sempat memberikan sebuah saran. "Kau harus memompanya lebih cepat."


Akhirnya perawat itu berhasil mengembalikan denyut jantung pasiennya.


"Jangan tinggalkan pasienmu seorang diri."


Ternyata perawat ingin mengambil berkasnya yang tertinggal. "Anda siapanya pasien?" tanyanya sambil memeluk berkas sekaligus memungut kertas yang tadi tercecer.


"Teman mainnya," jawabnya santai. Dia berjalan dan berbisik ke telinga orang yang hampir mati tadi untuk mengatakan kalau besok dia akan kembali lagi karena tadi tak sempat membeli buah tangan.


Yesseh menunjukkan sopan santunnya pada perawat tadi sebelum pergi dari ruangan itu dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


Yesseh adalah orang yang menepati janji, esoknya dia datang lagi dan sedang berhenti di sebuah toko roti dan melihat-lihat kue-kue yang ada dalam etalase kaca.


"Kalian punya kue apel?" Yesseh bertanya pada satu pegawai wanita. "Yang sudah tidak kelihatan apelnya."


Dia mengangguk dan memberikan kue yang Yesseh minta. Dia juga mengambil minuman berperisa apel dan juga sebotol air mineral. Dia keluar dari sana dan kembali membeli apel di tukang buah terdekat.


Kali ini Yesseh datang dengan wujud aslinya, mengenakan pakaian serba hitamnya. Dia meletakkan semua yang dia bawa tadi di meja dan langsung pergi dari sana.


Esoknya dia datang lagi membawa pisang dan susu. Rahangnya mengeras saat melihat apa yang dia bawa kemaren sedikitpun tak berkurang, tapi sudah berpindah posisinya. Dengan kesal dia mengambil satu apel dan langsung menggigitnya dengan gigitan besar.


Perawat yang sama masuk ke ruangan. "Dia alergi apel."


Yesseh berhenti mengunyah apel yang seharusnya sudah bukan haknya itu lagi. "Alergi berat?" tanyanya datar.


"Biji apel juga mengandung sianida."


"Butuh 200 biji apel untuk menyebabkan kematian." Dia menjulurkan lidahnya yang ada biji apel di sana dan menelannya.


"Mengonsumsi pisang dan susu juga bisa menyebabkan keracunan."


"Dia tak harus mengonsumsinya bersamaan."


"Bagaimana kalau dia tidak tahu?"


Dia menatap pasien yang lemah itu dengan tatapan tajamnya dan rahangnya mengeras, tak lama dari itu dia langsung tersenyum. "Limit nyawamu ternyata memang masih panjang," batinnya.


"Apa dia sudah disuntik vaksin tetanus?" Dia bertanya pada perawat yang itu. "Dia ditusuk dengan pisau berkarat."


Perawatnya mengangguk dan bertanya dari mana Yesseh tahu kalau pisaunya berkarat.


"Karena aku ada di lokasi kejadian." Dia kembali menggigit apelnya dan mengangkat satu kakinya ke lutut


Dia pulang karena jam besuknya sudah habis. Besoknya dia datang lagi dan pasien itu tak ada lagi di tempatnya. Dia langsung menuju ke kamar jenazah dan bertanya pada petugas yang kebetulan baru keluar dari sana. "Apa kemaren ada pasien yang meninggal?" Dia juga menyebutkan waktu setelah dia keluar dari ruangan.


Petugas itu berpikir sejenak. "Ada."


"Pasien dengan luka tusuk?"


"Anak kecil korban tabrak lari."


Dia mengangguk dan langsung berbalik menuju ke ruangan tadi. Dia melihat ke sisi-sisi brankar mencari data pasien yang kemungkinan tertinggal, sudah tidak ada di sana. Baru kali ini aku tidak merasa kesal dengan kebiasaan Yesseh yang tidak peduli dengan nama dan identitas lawan bicaranya.


"Aku tidak punya kemampuan yang seperti itu."


Ternyata dia mendengar isi hatiku. Aku tahu dia masih tenggelam dan dia akan melakukan berbagai cara untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia langsung keluar dan berlari kecil menuju meja resepsionis.


"Pasien di ruang Melati 3, aku minta alamat ke mana dia dipindahkan." Tanpa basa-basi dia meminta itu pada dua resepsionis yang bertugas.


Keduanya saling menatap. "Kalau boleh tahu, mbak siapanya?" tanya seorang di antara mereka.


"Teman mainnya." Dia mengangkat telunjuk kanannya untuk menunjukkan kantong berisi roti tawar dan air mineral yang sedang dia bawa. "Aku ingin memberikan ini."


Mereka berdua meminta maaf karena tidak bisa memberikan data dan alamat pasien. Itu membuat Yesseh sedikit marah.


"Sejak kapan peraturan rumah sakit berubah?" Dia pergi.


Aku bersyukur dia tidak membuat keributan.


"Yesseh?"


Yesseh langsung berhenti dan menoleh kepada orang yang tadi berpapasan dengannya.


"Hi, Dokter." Dia mengulas senyumnya. "Long time no see."


"Ternyata kau sudah kembali." Dokter Syifa bertanya apa urusan Yesseh ke sini.


"Mengurus temanku."


"Kau mengurusnya dengan baik?"


Yesseh menggeleng. "I lost him."


"Dia meninggal?"


Dia kembali menggeleng. "No," dia tersenyum, "that's why I lost him."


Dokter Syifa menatap Yesseh dengan lekat. "Kuharap kita bisa kembali menjalankan sesi secepatnya."


Yesseh mengangguk dan mengatakan dia akan kembali menemui Dokter Syifa kemudian langsung berlalu. "Dokter." Dia memanggilnya tanpa berbalik.


"Ya?"


Kali ini dia berbalik. "Pastikan anda mengurusnya dengan baik."


Sepertinya yang dia maksud adalah orang yang ingin Dokter Syifa besuk. Dia menuju ke tempat motornya terparkir. Dia mengurungkan niatnya yang hampir memasukkan kunci ke kontak. Dia turun lagi dari jok dan kembali menemui bagian resepsionis tadi dengan marah.


"Security hanya mampu melindungi kalian berdua di sekitar area ini." Dia melihat dan menyebut nama keduanya setelah membaca name tag mereka. "Pasien di ruang Melati 3, akulah yang membuatnya menjadi seperti itu. Selanjutnya, kalian berdua yang akan menjadi sasaran amarahku." Dia menyelesaikan perkenalan dirinya. "Pasien di ruang Melati 3, siapa dia, berikan alamatnya padaku." Dia langsung saja ke intinya.


Mereka berdua terlihat takut dan saling sikut hingga akhirnya memberikan alamat data dan alamat itu pada Yesseh. Yesseh meminta kertas kosong dan pulpen kemudian menuliskan namanya di sana. "Yessica Mayasari." Rahangnya mengeras dan menunjuk nama yang tertulis itu dengan menghentakkan ujung penanya sebanyak dua kali. "S nya dua, Mayasari tanpa dispasi."


Dia marah karena kartu-kartunya biasanya akan memenggal nama belakangnya itu dengan spasi. "Kau harus menyebut dan menuliskan namaku dengan benar dalam laporanmu, akan kuperiksa. Kalau kau salah menuliskannya, kau akan menerima kemarahanku dua kali lipat."


Mereka hanya mendengarkan Yesseh dan takut memotong ucapannya. "Aku punya banyak uang." Yesseh mengingatkan mereka tentang betapa bagusnya hukum yang ada di Indonesia. "Aku akan keluar dengan cara kotor dan kalian berdua yang pertama kali akan kucari." Dia meletakkan pena itu di atas kertas bertuliskan namanya.


"Aku tidak mengancam, hanya memberikan pilihan takdir mana yang ingin kalian jalani." Dia meregangkan lehernya ke kiri dan kanan. "Silakan lakukan apapun kalau ingin bertemu denganku lagi."


Dia pergi setelah puas bercakap-cakap dengan mereka berdua. Dia mengetikkan alamat itu di Google Maps. "Ketemu kau." Suaranya hampir tak terdengar.


Dia keluar dari parkiran dan benar-benar mengebut sudah tak sabar menemui teman mainnya.


"Ya Rabb, tolong hentikan Yesseh. Tak ada yang bisa menghentikannya kali ini kecuali Engkau." Aku berdoa kepada pemilik dan pencipta orang ini. Aku terus mengulangi doa yang sama sampai keajaiban terjadi.


Dia memelankan laju motornya karena bannya tiba-tiba pecah. Dia mengumpat sekali dan gesit membuka ponselnya untuk memesan ojek online. Ponselnya juga langsung mati.


"Kau sudah dihentikan. Jangan kurang ajar dengan terus mencobanya." Aku memperingatkannya dengan sangat takut.


Tangannya mengepal dengan kuat dan melemparkan pandangan ke langit yang luas terbentang. Dia menyeringai.