
Aku memainkan pulpenku di bawah dagu sambil memikirkan apa lagi yang harus kuceritakan pada Dokter Syifa. Aku melihat kertas yang sudah penuh dengan coretan tak beraturan ini. Yessehpun mungkin akan memuji betapa jeleknya tulisanku saat ini. Akupun memutuskan untuk menyimpan kertas itu ke laci meja yang ada di hadapanku.
Sekarang aku memikirkan hal lain. Tentang Reyndra dan Jayantaka, aku berpikir mungkin mereka berdua kembar. Aku mati-matian mengingat sosok orang yang membuat Yesseh frustasi pagi tadi. Aku mencoba mengingat apa orang itu tadi memiliki lesung di pipi kiri. Tidak. Aku sama sekali tidak melihat lesung pipi, atau mungkin karena mukanya yang memang selalu ditekuk tadi.
Aku menusuk-nusukkan telunjukku ke pipi kiri. Aku memutuskan untuk mencoba membuktikan sesuatu, aku menyambar ponsel yang sejak tadi kuangguri. Aku membuka aplikasi Instagram dan mengetikkan username adr_jayantaka di kolom pencarian. Aku memeriksa following-nya. Akun mengetikkan Reyndra dan ketemu.
Akun dengan username reyndra_jayantaka itu privat. Aku mengklik follow. Tak kusangka dia menerima permintaan mengikutiku dan mengirim permintaan mengikuti akunku balik. Aku menerimanya. Aku menstalking akun itu, tak ada yang kutemukan. Postingannya tidak ada, foto dari akun lain yang menandainya juga tidak ada, followingnya hanya lima. Aku, Bang Rudra, Kayana, akun yang mengirimkan pesan padaku, dan Bang Mihran.
Aku mengikuti akun Bang Rudra dan Kayana, tapi tidak mengikuti akun Bang Mihran. Percuma saja, yang dia kenal adalah Yesseh bukan aku. Aku mendapat ide yang mungkin bisa membenarkan dugaanku. Aku mencoba mengirimkan pesan ke akun adr_jayantaka.
Setelah memikirkan pesan apa kiranya yang bisa aku kirimkan tanpa terkesan modus sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kualifikasi apa yang harus aku penuhi kalau aku ingin mendaftar menjadi sekretaris menggantikan kepengurusan mereka nanti. Tidak ada balasan. Biasanya dia cepat sekali membalasku, dan kebetulan Reyndra tadi sedang online, dugaanku semakin kuat.
Aku mengalihkan perhatianku dengan menyalakan laptop dan mengerjakan tugas kuliah, lalu tidur di jam tidur yang sudah Y System sepakati.
Hari sudah pagi dan masih aku yang fronting. Bukan hal yang langka karena memang hanya aku dan Yessehlah yang sering bangun di pagi hari. Karena posisi kami berdua adalah host dan co-host.
Aku sudah mandi dan sengaja belum mengganti baju santaiku dengan gamis. Ada kelas di jam sepuluh, itu masih satu jam lagi. Aku membuat kopi karena tadi sudag sarapan. Aku sedang berusaha mengubah kebiasaanku yang selalu ngopi di pagi hari dalam keadaan perut kosong.
Aku membawa kopiku ke meja dan membaca novel romansa. Lampu notifikasi ponsel yang sedang berada di hadapanku itu berkedip. Aku menyambarnya karena berharap itu balasan darinya.
"Nanti kutanya Kayana, ya."
Tebakanku benar. Dia baru membaca dan membalas DM-ku pagi ini.
Sebenarnya sama sekali aku tak memiliki keinginan untuk menjadi pengurus. Aku tahu menjadi anggota saja aku pasti akan memiliki banyak kendala.
"Iya, makasih, Bang." Aku ingin bertanya kenapa dia baru membalasku, tapi aku bukan siapa-siapanya, takutnya dia salah paham. Sedari tadi yang kulakukan adalah mengetik sesuatu dan kembali menghapusnya.
"Mau bilang apa?"
Aku merasa malu karena ternyata dia memerhatikan aku sedari tadi sedang mengetik. Kukira dia sudah pergi dari ruang obrolan.
"Abang punya akun berapa?" Aku memberanikan diri menanyakan hal itu setelah memastikan pertanyaanku cukup sopan dan tidak terkesan menuduh.
"Satu. Akun ini aja."
Aku hanya membaca pesan itu karena bingung harus menjawab apa.
"Kalau Yessi?" Dia mengirimkan pesan lagi.
"Akun personal di IG cuma satu, tapi kalau di FB ada dua. Satu akun kepenulisan, satunya lagi akun random dan ngebucin."
"Ngebucinin siapa?"
"Yesseh aku." Aku mengirimkan tiga emot nyengir.
"Oh, gitu, ya."
"Iya. Ya, udah, Bang. Yessi mau kuliah dulu."
Pesan apa yang barusan aku kirimkan. Jari ini memang sangat lentur sekali dalam urusan ketik-mengetik.
"Iya, semangat kuliahnya."
Aku tidak membalas lagi dan hanya memberikan reaksi love pada pesan terakhir itu.
"Jangan lupa nanti ada pertemuan udah Zuhur."
Sebuah kehormatan bagiku seorang ketua menyampaikan hal ini secara langsung via chat personal. Dia bahkan belum mengirimkan pemberitahuan ke grup.
"Jam berapa, Bang?"
"Jam 1."
"Gak salah ketik kan, Bang?"
Dia mengirimkan sebuah emot tawa.
"Abang murah tawa kayaknya."
"Murah tawa." Dia mengakhiri pesan itu dengan emot tawa juga.
Aku malah terbayang dengan lesung pipi kirinya. Aku menutup wajahku yang mungkin sudah memerah. Malu.
Begitu kelasku berakhir, aku langsung menuju ke perpustakaan digital sesuai dengan arahannya di grup tadi. Aku mengeluarkan KTM Yesseh saat sudah menginjakkan kaki di gedung perpustakaan digital ini. Aku pergi ke bagian informasi untuk menanyakan pertanyaan konyol apakah aku bisa membuat kartuku sendiri karena namaku dan nama Yesseh hanya berbeda di bagian belakangnya saja.
Tentu saja jawabannya tidak bisa. Aku sudah sangat tahu. Aku mengangguk pada petugas yang ada di hadapanku dan pergi dari sini. Tentu saja aku tidak merasa sedih sama sekali karena sudah terbiasa.
Aku mengirim pesan lewat Instagram pada Bang Taka. "Yessi udah di perpustakaan digital. Ruangannya yang mana, Bang?"
Pesan balasan muncul kurang dari hitungan menit. "Lantai 3, Collaborative room. Kalau Yessi mau salat, musholanya ada di lantai 2."
"Makasih, Bang. Yessi naik sekarang."
"Iya, pake lift aja biar gak capek naik tangga."
Setelah berpikir ulang, sepertinya akan membosankan kalau aku menunggu di ruangan itu sendirian. "Yessi mau room tour dulu."
"Room tour. Vlogging nih."
Aku tertawa membaca pesan itu. "Videoin ruangan doang gak seru, aku kan juga mau ngoceh-ngoceh di depan kamera. Gak ada videografer, abang mau?"
"Boleh?"
"Wuahahaha. Becanda."
Bisa-bisanya dia menyanggupi tawaranku dengan serius. Padahal belum apa-apa, aku sudah mati kutu.
"Sana room tour. Awas nyasar."
"Ciyaaap."
Aku naik ke lantai dua menggunakan tangga yang berbentuk spiral. Di lantai dua ini adalah ruang privat makanya diberi sekat menggunakan bilik warna biru sehingga persis seperti warnet. Aku masuk ke mushola untuk mendirikan salat.
Aku naik ke lantai tiga dan berhenti di depan kaca di mana aku bisa melihat gedung perpustakaan buku fisik dari sini. Aku memutuskan untuk menuju collaborative room. Aku bisa melihat ada seorang lelaki di dalam karena dinding dan pintunya terbuat dari kaca. Aku memutuskan untuk melanjutkan room tour-ku saja.
"Udah room tour-nya?" Aku membulatkan mataku dan tidak langsung berbalik karena ternyata yang di dalam tadi adalah dia.
"Udah." Sepertinya aku salah jawab dan aku meralatnya. "Belum."
"Udah apa belum?"
"U-belum."
Dia terkekeh dan menyuruh aku masuk dan dia mengatakan biar dia saja yang menunggu di luar.
"Duduk di kursi, ya, jangan di lantai."
"Iya." Aku berlari karena malu. Kalau aku punya kekuatan gaib yang bisa menembus dinding, mungkin aku takkan mendorong pintunya terlebih dahulu.
Anggota yang lain mulai berdatangan, Bang Taka ikut masuk saat ruangan itu sudah ramai. Kami memulai pertemuan hari ini di waktu yang telah ditentukan. Kali ini yang datang lumayan banyak, sepertinya mereka belajar dari pertemuan yang sebelumnya.
Hari ini kami akan membahas proker. Proker jangka pendek yang sudah diterima adalah membuat website dan kanal Youtube. Sekarang sedang mendiskusikan proker jangka panjang. Sebenarnya aku memliki usulan, tapi ragu untuk mengatakannya.
"Yessi?" Bang Taka bertanya apa aku punya usulan. Sepertinya dia melihat gelagatku.
Aku berdiri dan menyampaikan usulanku. Aku mengusulkan untuk mengadakan seminar yang membahas tentang DID secara rinci.
"Kenapa kita harus mengangkat tema itu?"
"DID selalu disalahpahami. Selain mengedukasi masyarakat awam, ada hal penting mengenai fikih yang harus orang dengan DID itu pahami." Aku menjelaskan kalau masalah yang satu ini nampaknya luput dari perhatian pengidap itu sendiri. Padahal, ini sangat penting untuk seorang muslim.
"Bukankah itu hak progeratif Allah?" Salah satu anggota ikut bersuara.
"Aku berbicara di ranah fiqih bukan ranah tasawuf."
Sepertinya usulku diterima dengan baik. Ternyata ada satu kendala.
"Punya pembicara?" tanya Bang Taka.
Semuanya menoleh menanti jawabanku. Aku menggeleng.
"Kalau begitu saran yang ini kita simpan dulu, mungkin akan tetap terealisasi meski bukan di masa jabatan kami."
Diskusi diakhiri sebelum azan asar. Aku memutuskan untuk salat di mushola yang tadi. Ternyata tiga serangkai itu juga salat di sini. Setelah menunaikan kewajiban, kami bertiga menuruni tangga spiral bersama.
"Padahal usulnya bagus. Kenapa tidak menawarkan diri?"
"Hah?" Aku sedikit bingung dengan maksudnya.
"Kau juga gak ngajuin diri, Bang."
"Bang?" Aku meminta penjelasan atas apa yang Bang Rudra katakan.
Kami memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia di lantai satu. Dia menjelaskan padaku kalau kondisi yang kami hadapi ternyata memang sama. Persis seperti dugaanku semalam.
"Tunggu dulu, kalian berdua singlet, kan?" Aku menunjuk Bang Rudra dan Kayana secara bergantian.
"Singlet." Mereka menjawab berbarengan.
"Sejak kapan kalian tahu?"
"Di pertemuan pertama kita."
"Di ruangan F44.81 itu?"
"Perpustakaan, depan rak sastra."
Sudah kuduga sedari awal aku memang salah orang. Berarti yang pertama kali yang kutemui bukanlah Jayantaka melainkan Reyndra.
"Pantas yang itu nyebelin." Aku menggerutu. "Kalian gak co-con, kan?" Aku memastikan takutnya dia bisa mendengarku.
"Aman."
"Syukurlah."
Bang Taka mengeluarkan buku yang sama dengan buku yang kubaca di depan rak sastra kemaren. "Yessi baca buku ini kan, kemaren? Understanding and Treating Dissociative Identity Disorder ditulis oleh Jo L.Ringrose."
Aku mengangguk mengiyakan. Aku merasa sangat senang bertemu dengan mereka berempat karena sepertinya kami bisa bertukar pikiran mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dunia persystem-an dan juga DID itu sendiri.
Dia mengeluarkan satu buku lagi yang berjudul sama namun ditulis oleh psikiater yang berbeda.
"Itu yang Elizabeth F. Howell, ya?"
"Iya." Dia menyerahkan itu padaku.
"Yessi gak punya yang ini." Aku membuka lembar demi lembar buku itu.
"Ambil aja."
"Bener?" Aku memang senang tapi teringat sesuatu. "Nanti Yesseh marah kalau aku terima pemberian dari laki-laki."
Dia tertawa sehingga memunculkan lesung pipinya. "Itu pemberian dari core-ku untuk core kalian."
Ternyata ini dari core untuk core. Aku meminta kepada Bang Taka untuk menyampaikan terima kasihku pada Bang Reyndra, aku akan menyampaikan amanah ini kepada core kami.
"Itu buku Reyndra, jadi nanti bakal nemu banyak coretan di sana."
Itu bukan masalah, justru bagus kalau banyak coretannya, kami bisa ikut membacanya juga. Aku mengangguk dan kembali membuka bukunya, kali ini melihat ke halaman pertama setelah cover. Ada tulisan tangan dengan tinta warna hitam yang dia goreskan di sana.
"Yang lebih penting daripada memahami isi buku ialah memahami diri sendiri." Dia juga membubuhkan tanda tangan dan juga menuliskan namanya di sana. "Reyndra."