Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Hadiah Kepulangan



Sekarang Yesseh sedang menghadap dosen pembimbing dan persis seperti dugaanku, beliau mempermasalahkan absen Yesseh kemaren.


“Saya mengurus seseorang yang sedang sekarat.” Yesseh menjelaskan alasan absennya dengan santai. “Dia sudah hampir mati.” Yesseh tersenyum.


Dokternya mengatakan harusnya mengonfirmasi agar beliau tidak menunggu. Yesseh meminta maaf atas kelalaiannya yang satu itu. Dia sedang berusaha menjaga sikap. Untungnya pembahasan mengenai hilangnya Yesseh tidak berlanjut, mereka lanjut membahas judul skripsi.


Yesseh menyerahkan beberapa judul dan terjadi diskusi sengit antara mereka. Yesseh mempertahankan salah satu judulnya dan tidak mau kalah dengan mudah. Yesseh tidak suka kekalahan.


“Baiklah.” Akhirnya beliau meng-acc salah satu dari ketiga judul tadi. “Kau sudah bisa membuat proposal skripsi.”


Yesseh mengangguk dan tersenyum karena bangga bisa memenangkan pertarungan dan pamit undur diri.


“Saya merasa kau sebelumnya tidak seperti ini.”


Aku bisa merasa darah Yesseh langsung mendidih, dia benci kalau salah dikenali.


“Kau sangat berbeda. Semuanya, penampilan, gestur, cara berbicara dan berargumentasi.”


Dia hanya tersenyum kecut karena dari tadi aku sudah mengajaknya pergi dari sini sebelum dia mengamuk. Dia hanya mengangguk dan pamit pergi meninggalkan dosen pembimbing kami. Untungnya aku punya jurus yang sangat ampuh karena sangat rasional, aku mengatakan padanya kalau dia berani membuat masalah, itu hanya akan memperlambat kepergian kami dari Indonesia.


Yesseh pulang dan tanpa buang-buang waktu, dia langsung memulai proses penyusunan proposal. Dia menggesek-gesekkan kedua tangannya karena merasa dingin, tangan ini rasanya membeku. Dia menggeser kursinya sedikit ke belakang dan berdiri untuk membuat kopi. Dia membawa kopinya ke meja dan sesekali menempelkan tangannya ke dinding gelas agar merasa panas.


“Kopi kita mau habis.” Dia memintaku untuk memberi tahu mama agar mengirimkan kopi lagi dari Pagaralam. Kopi jeme dusun.


Dia fokus menyusun proposalnya sambil sesekali membuka aplikasi Douyin untuk istirahat kalau badannya sudah pegal. Yesseh mengambil kertas HVS kosong dan pulpen lalu mulai mencoretkan banyak hal di sana. Konsentrasinya sedang terpecah antara proposal dan seminar yang juga ikut menjadi tanggung jawabnya.


Dia berdiri dan mendekat ke dinding lalu menempelkan kedua sikunya ke sana kemudian meregangkan punggungnya. Dia berada di posisi seperti itu lumayan lama. Setelah itu dia kembali duduk dan menyeruput kopinya. Dia sudah mematikan laptopnya dari tadi karena sedang dicas.


“Ayang.” Aku memberitahunya kalau kami memiliki banyak hadiah untuknya.


Dia bertanya hadiah untuk apa. “Ultah kan bulan depan.”


“Hadiah kepulangan.”


Dia tersenyum dengan lembut dan menanyakan itu ide siapa. Aku memberitahunya kalau itu usul Bang Taka.


Dia langsung melihat ke lemari bawah yang kumaksud. “Why? Poisonous Animals and Plants.” Dia mengangguk-angguk sambil memajukan bibir bawahnya saat membaca judul buku yang kubelikan. “I think I’ll like this book.” Dia mengangkatnya. “Thanks, Baby Girl.”


Aku tersenyum senang karena dia menyukainya.


“Those bear is a lil bit scary.” Dia memuji gambar beruang di hoodie hitam yang sedang dia coba. “It suits me.” Dia mengangguk-angguk pede.


Aku terpingkal memegangi perutku yang sudah sangat sakit.


“Apa ini?” Dia terkejut melihat benda berwarna cerah itu.


“Couple.”


Aku terbahak mendengar Dedek Yessa tiba-tiba muncul.


Kakak Yessehnya itu langsung tersenyum kecut. “Ini dari Dedek?”


Yessa menganggukkan kepalanya semangat sementara aku semakin terpingkal melihat gadis sangar itu tak berkutik.


“Siapa yang ngajarin couple, Sayang?”


“Abang.”


Yesseh mengorek-orek abang mana yang menjadi biang keroknya.


“Mampus Bang Reyndra. Ketahuan kau, Bang,” batinku.


Yesseh terpaksa memakai semua pemberian kami dan berdiri melihat pantulan dirinya di dalam cermin besar ini. Dia mendengkus. “Sendal bebek dengan warna kuning cerah?” dia berkacak pinggang, “sangat menggambarkan kepribadianku yang begitu ceria.”


Aku sudah tidak sanggup lagi menahan sakit di perutku yang sedari tadi selalu mengencang ini.


“New Year …, new look.” Dia merentangkan kedua tangannya pasrah dan memutarkan badannya untuk melihat penampilannya depan belakang kemudian mengangguk-angguk lagi. “Oke lah.”