
Dia duduk lama termenung berusaha menetralisir kemarahannya. Dia berdiri dan bertanya kepada seseorang apakah ada bengkel di dekat sini. Orang itu memberi tahunya posisi bengkel yang berada tak jauh di depan sana dan menawarkan bantuan.
“Saya bisa sendiri.” Yesseh berterima kasih atas tawaran yang baik itu. “Sebelah kiri atau kanan?”
“Kanan.”
Dia pun mendorong motornya mencari bengkel yang dimaksud. “Pecah ban,” ucapnya tanpa basa-basi sebelum ditanyai.
Dia duduk lalu kembali berdiri untuk menanyakan lokasi musola atau masjid terdekat, dia baru ingat kalau tadi sempat mendengar azan Zuhur saat masih di perjalanan. Setelah salat, dia kembali dan ingin duduk ke tempat duduknya tadi namun sudah diambil alih orang lain. Dia memilih duduk ke tempat yang lain.
“Yesseh?” sapa orang yang duduk di tempatnya tadi itu. Dia berdiri untuk menghampiri dan memastikan. “Yesseh?”
“Siapa kau?” Dia heran ada orang asing yang kenal dengannya.
“Dafa.”
“Dafa?”
“Ini bukan hutang, kau bisa mati dengan tenang.”
Yesseh tertawa mendengar dia menggunakan ucapannya sendiri waktu itu untuk membuat Yesseh kembali ingat padanya. “Aku yang terlalu lama absen dari dunia atau kau memang sangat berubah?”
Wajar saja Yesseh tak mengenalinya, aku saja sampai pangling dengan perubahannya.
“Iya,” dia tersenyum, “aku jatuh cinta.”
Yesseh mengangguk paham kalau kekuatan memang sangat dahsyat dalam merubah seseorang. “Selamat dan hati-hati.”
“Hati-hati?”
Mereka mengobrol dengan posisi berdiri, aku yang merasa pegal di sini.
“Seseorang bisa melakukan dosa dengan senang hati dan akan sangat membanggakannya saat sedang jatuh cinta.”
Dafa mengangguk-angguk. Dia tidak mengenakan kaca mata lagi dan menggantinya dengan lensa kontak. “Pengalaman?”
“Pengamatan.” Mereka berdua duduk berhadapan. “Aku tidak punya cinta. Tidak suka mencintai dan dicintai. Aku benci cinta.”
“Kau punya.” Dafa menjawab seolah dia sudah sangat kenal Yesseh. “Y System. Merekalah cintamu.”
Yesseh diam saja karena posisinya sekarang sedang sangat marah padaku.
“Aku bertemu Bang Yohan dan katanya kau sudah tidak pulang sejak lama.” Dia juga mengatakan tidak terlalu paham dengan kondisi kami, tapi dia mengucapkan selamat datang kembali.
Yesseh mengangguk lesu, sepertinya dia terpaksa kembali.
“Aku punya permintaan.” Dafa memberikan ponselnya yang menampilkan sebuah brosur di sana. “Untuk agenda UKM Media.”
“Bukankah Yessi sudah mengundurkan diri?”
“Tidak meminta bantuan sebagai pengurus, tapi sebagai pembicara.”
Mereka mau merealisasikan rencana seminar DID yang kemaren tidak sempat terealisasi. “Kudengar tanggal 5 Maret adalah DID Awareness Day.” Dia mengatakan seminarnya akan dilaksanakan pada tanggal tersebut.
“Aku mau kalian mengganti judul seminarnya.”
“Menjadi apa?”
“Mengenal multiplicity dalam gangguan identitas disosiatif.”
Dafa menyetujui untuk mengganti judulnya dengan itu. “Nama siapa yang akan kutulis di brosur dan spanduk?”
“Yessica Mayasari.” Dia juga kembali menjelaskan hal yang sama seperti dia bercakap-cakap dengan kedua resepsionis tadi. “Jangan tambahkan embel-embel apapun.”
“Siapa Dokternya?”
Senyum miring Yesseh langsung keluar saat mendengar nama itu. “Duluan.” Yesseh mengangguk untuk pamit sebelum pergi meninggalkan Dafa yang masih menunggui motornya yang belum selesai diservis.
Dia langsung melepas jilbab dan kemejanya saat sampai di rumah. “Aku marah padamu.”
Aku sudah menyiapkan mentalku untuk menerima kemarahannya.
“Mari kita selesaikan ini.”
Jantungku berdegup kencang karena aku tahu dia akan mengeluarkan semua yang dia simpan dalam hatinya.
“Aku tidak suka mengungkit apa yang sudah kulakukan untuk kalian.” Dia mengatakan muak menghadapi overthinking-ku.
“Sembuhlah, aku tak masalah kalau aku akan hilang.” Ucapan itu yang dia berikan padaku saat aku masih mengira akulah core-nya.
“Kubiarkan kau memakai namaku hanya karena tak mau menyakitimu. Kubiarkan kau memakai sosial mediaku hingga orang-orang lebih kenal kaulah pemilik akun daripada aku.”
Dia benar-benar menumpahkan semuanya.
“Kuberikan nama belakangku saat kau sedih tak memiliki nama belakang.” Tangannya mulai menunjuk-nunjuk. “Kau ingat saat takut menggunakan namamu sendiri di akun LinkedIn?”
Aku sangat ingat.
“Aku bilang apa?”
Dia mengatakan aku bisa memakai namaku dan kalau kami terjerat pasal pemalsuan identitas, dia siap menghadapinya.
“Saat itu aku bahkan tak punya uang untuk menyewa pengacara kalau kita benar-benar terkena masalah. DO WHAT YOU WANT!”
Dia tidak pernah mengekang kami semua.
“SAY WHAT YOU WANT!”
Aku hanya diam dan menerima semuanya.
“Aku selalu mendahulukan kepentingan kalian. Bisa-bisanya kau menyamakanku dengan core orang lain.”
Aku sudah tidak kuat.
“KURANG?!” Dia mengulangi pertanyaannya. “Masih kurang?
“IF YOU DIE, YOU’LL DIE WITH ME.”
Dia selalu mengatakan itu pada kami semua.
“Tak ada yang bisa menyakiti kalian, Y System. Aku yang terlebih dahulu akan membunuhnya.”
Semuanya juga hanya diam melihat core kami mengamuk.
“KALIAN DENGAR?”
Kami semua hanya mengangguk.
“Mau menangis? Menangislah. Hanya tangisanmu yang mampu menyakitiku di dunia ini.”
Aku tidak akan menangis kalau Yessehku akan tersakiti.
“Ayang.”
“Iya?” Nadanya masih terdengar datar.
“Maaf, Ayang.” Aku hanya mampu mengeluarkan dua kata itu padahal aku sudah sangat memaksakan tenggorokanku.
“Kamu mau es tebu, Baby Girl?”