Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
She was a System



Pemilu semakin dekat, kampanye semakin gencar dilakukan, untuk orang sepertiku yang tidak mengikuti perkembangan politik, aku hanya berharap pemilu ini cepat berlalu. Politik penuh kepalsuan. Memasuki hari kedua masa tenang aku hanya sibuk memikirkan judul skripsiku yang berkali-kali ditolak.


Aku mengintip lewat kaca jendela melihat siapa yang mengetuk pintu rumah ini. Aku memakai jilbab dan membuka pintunya dan menyuruhnya masuk lalu menutup pintunya kembali.


“Aku bawa ini.” Gadis di hadapanku ini tersenyum ramah mengangkat kantong yang dia bawa.


“Apa itu?”


“Es tebu sama gudeg.”


“Kamu mau beli apa, Baby Girl?”


“Somay, Ayang.”


“Somay?” Suara angin di motor waktu itu sekarang juga terdengar sangat nyata di telingaku. “Kita pulang ke Pagaralam pun somay bertebaran, Sayang.”


“Terus apa?”


“Gudeg kek, apa kek, yang khas Jogja.”


Aku tersentak saat Zinnia menyentuh pelan pundakku. Aku mengusap mataku yang sudah mulai basah. “Aku teringat kenangan yang menyenangkan.” Aku berusaha tersenyum mengingatkan kenangan menyenangkan, tapi malah terasa sangat menyakitkan.


Zinnia mengatakan kalau aku bisa menceritakan semua yang aku rasakan padanya, untuk itulah dia datang untuk melihat kondisiku, ternyata dia tahu kalau Yesseh dormant. Entah bagaimana dia bisa tahu. “Aku pasti ngerti.”


Aku menggeleng tak percaya. DID sulit dipahami untuk pemula.


“I was a system.”


Aku tersenyum kecut mendengar itu.  “Bagaimana bisa orang yang lebih memilih final fusion daripada functional multiplicity bisa mengerti aku?”


Dia menceritakan semua masa sulit yang mereka jalani. Mereka tak punya dukungan dari siapapun, kebetulan saat itu mereka sadar kondisi di usia yang masih terbilang kecil. System mereka sangat tidak stabil, Sakura berulang kali mencoba untuk bunuh diri. Makanya, dia meminta fusion. Dia memilih bunuh diri dengan cara lain.


Sama sepertiku, aku kadang tidak percaya dengan kalimat orang yang mengatakan kalau dia akan mengerti aku. Karena seperti yang sudah-sudah, temanku hanya tersisa beberapa.


“Kamu tidak kehilangan siapapun, Baby Girl. Kamulah yang baru sadar sejak awal temanmu memang hanya beberapa.” Yesseh selalu bisa menenangkanku dengan otak rasionalnya.


Aku memeluk Zinnia yang mulai menangis mengingat masa-masa itu, aku membiarkan dia menceritakan semuanya dan untuk saat ini akulah yang menjadi pendengarnya. Mungkin lain kali barulah kami akan bertukar posisi. Saat ini juga tidak ada hal yang ingin aku ceritakan padanya, otakku sudah terlalu penuh hingga aku sangat bingung harus mengeluarkan yang mana dulu.


Kami makan apa yang dia bawa, gudeg dengan nasi. Karena dia hanya membeli satu es tebu, aku membaginya ke dua gelas.


“Menginaplah.” Aku menghentikan niatnya yang ingin pulang. “Aku sangat kesepian.”


Dia setuju. Aku meminjamkan baju tidurku agar dia bisa tidur dengan nyaman tanpa harus merasakan ketatnya celana jeans yang sedang dia pakai. Kami mengocehkan banyak hal hingga larut malam. Aku sangat senang memiliki teman mengobrol. Untung kasur ini muat menampung dua orang.


Kami memutuskan untuk tidur karena besok dia harus pulang pagi-pagi sekali.


Zinnia sudah tidak bersuara lagi sedangkan aku belum sepenuhnya tertidur. Tiba-tiba tubuh ini bangun dan melihat ke arah gadis yang tadi tidur di sampingku. Dia hanya menggeleng-geleng dan membenarkan posisi selimut itu, dia melepas bajuku dan mengganti dengan kaosnya yang tanpa lengan. Setelah dia mengambil kalungnya, aku tahu siapa yang bangun.


Dia membuka pintu dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Zinnia.


“Kirain kamu udah tidur.”


Ternyata dia tahu aku masih di sini.


Dia ke belakang dan mengambil gelas besar, aku menghentikan niatnya yang ingin membuat kopi dan mengatakan takutnya kami akan terjaga sampai pagi.


Akhirnya dia hanya minum air putih.


Kami memutuskan untuk mencari judul skripsi siapa tahu dengan cara ini kantuk akan datang untuk menyerang kami. Saat asyik membaca jurnal, pintu kamar terbuka. Ternyata dia bangun dan mungkin sedang mencari keberadaanku.


Zinnia langsung menjerit karena kaget dengan orang yang sedang duduk di hadapan laptop tepat di hadapannya. Abangku bangun dan mendekat untuk menenangkannya. Aku hanya tertawa mungkin dia mengira ini laki-laki dari mana.


“Yohanes?” Dia melihat kalung yang tergantung di leher Bang Yohan.


Bang Yohan lega, hampir saja dia membekap mulut Zinnia tadinya. “Kau tahu aku ternyata.” Bang Yohan mencengkeram kepalanya karena kesal. “Kenapa harus berteriak.”


Jawaban Zinnia sesuai dengan tebakanku barusan. Bang Yohan membawa satu kursi yang ada di belakang untuk Zinnia duduk.


“Pantas Yessi tidak mau lepas jilbabnya.”


Aku tertawa karena kartuku yang tidak mau terlihat ganteng di hadapannya sudah terbuka.


“Orangnya ketawa di belakang.”


“Belum tidur juga ternyata dia.”


“Kau kenapa bangun?”


“Mencari Yessi kukira dia hilang ke mana.”


Bang Yohan paham kekhawatirannya. “Tahu dari mana ini aku?”


“Kalung salibmu.”


“Tebakan yang kebetulan tepat.”


“Kenapa?”


“Bisa jadi itu Krist.”


Bang Yohan dan Krist sama-sama menggunakan kalung salib, kalung Krist di sampingnya ada tulisan Immanuel.


“Krist?” tanyanya heran. “Bukannya kalian Y semua?”


“Yanish. Krist Immanuel Yanish.”


Zinnia bertanya berapa anggota laki-laki dalam Y System dan apakah hanya Bang Yohan dan Yanish.


“Ada satu lagi.” Bang Yohan menceritakan Abang tertua kami. “Bang Yuxuan.”


Zinnia sempat mengira kalau Bang Yohan yang tertua di system ini. “Katolik juga?”


“Taoism. Oh, ya,” Bang Yohan ingat kalau dia belum mengetahui siapa gadis yang ada di hadapannya ini, “siapa namamu?”


Zinnia nampak berpikir sebelum menjawab itu. “Zinnia.”


“Yakin?”


Anggukannya terlihat ragu. Bang Yohan masuk ke dalam kamar dan membawa ke luar selimut yang dia ambil dari lemari.


“Anak gadis tidak boleh tidur larut malam.” Bang Yohan memberi isyarat pada Zinnia untuk kembali ke kamar dengan menunjuk pintu menggunakan dagunya. “Aku akan tidur di luar.”