Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Dormant



Sudah hari terakhir UAS dan sekalipun Yesseh tak bangun untuk mengerjakan UAS ini sendiri. Aku juga sudah mencoba memanggil-manggilnya barangkali dia memang sedang melakukan silent treatment padaku. Aku tahu dia takkan meninggikan suaranya untuk menunjukkan kemarahannya.


Tapi sama sekali tidak kurasakan tanda-tandanya. Aku sedang fokus mengerjakan essay di hadapanku dan saat aku melihat pulpen hitam yang sedang kumain-mainkan ini, aku sadar gelangku, lebih tepatnya gelang Yesseh yang merupakan pemberian dariku sudah tidak ada di pergelangan tangan kanan ini.


Aku berpikir di mana gelang itu berada, semoga itu tidak jatuh ataupun hilang. Bisa-bisanya aku menyadari hal ini. Pantas saja aku merasa tidak ada bunyi yang lain---bunyi gelang yang membentur badan laptop, selain bunyi yang kuhasilkan dari tombol keyboard saat aku mengerjakan tugas atau mengetik novelku di laptop.


Aku sudah tidak fokus mengerjakan essay ini dan ingin langsung cepat-cepat pulang mencari gelangku yang hilang. Begitu waktunya habis, tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkan kertas ini di atas meja dan keluar dari ruangan dan pulang.


Aku langsung mencari keberadaan gelang yang harganya tidak mahal ini ke lemari, baskom tempat pakaian kotor, dan tempat-tempat yang mungkin saja bisa kutemukan apa yang sedang kucari ini di sana. Di lantai bawah tidak ada, aku langsung berlari menaiki tangga dengan mengangkat gamisku menuju ke lantai atas.


Aku menemukan benda berkilau karena terkena sinar matahari dari ventilasi. Gelangnya kutemukan dalam keadaan terputus. Hatiku langsung sakit dan mataku langsung berair membayangkan Yesseh sangat marah sehingga menarik dan melempar gelang ini.


Aku membawanya ke bawah sambil menangis dan memeriksanya apakah aku bisa memperbaiki gelang ini sendiri. Sepertinya aku tak bisa karena rantainya kecil-kecil dan aku tak memiliki alatnya. Aku memutuskan untuk menyimpannya saja di lemari dan takkan mengaitkannya ke pergelangan tangan ini lagi.


Yesseh memang sangat mengerikan kalau sudah dikuasai amarah. Tapi aku memakluminya karena aku juga sangat kurang ajar karena tidak percaya padanya. Hanya karena core lain yang fusion, aku menganggap kalau dia juga akan melakukan hal yang sama.


Aku memutuskan untuk menunggu Yessehku kembali dan akan menerima semua kemarahannya. Selama kepergiannya aku harus menjaga system ini, karena aku adalah host berarti tanggung jawab system berada di tanganku. Sebelumnya meski Yesseh bukan host, tapi dialah yang selalu memegang tanggung jawab di system ini, hanya saja karena dia sedang tidak ada, tanggung jawab berpindah ke tanganku selaku orang yang memiliki paling banyak waktu.


Ada Bang Yohan dan Kak Yaren di sini dan sedang menghiburku, mereka juga tahu kepergian core kami sejak beberapa hari lalu. Aku bisa menebak sepertinya Yesseh benar-benar dormant. Aku harus kuat. Aku meminta izin kepada mereka berdua untuk istirahat dan tidur sebentar.


Saat aku bangun lagi, aku mendengar Bang Yohan dan Kak Yaren sedang mendiskusikan tentang PPL. Aku bertanya pada Bang Yohanku ini hari apa.


“Sabtu. Ini lagi bahas PPL sama Yaren. Abang kira kamu dormant juga, dek, dek.”


“Dua bulan.” Bang Yohan menghela napasnya. “Udah baikan?”


Ternyata aku tidur selama itu, apa itu tandanya aku sangat terpukul karena ditinggal kakak kembarku.


“Yesseh mana, Bang?” Aku mencoba memastikan apa Yessehku sudah kembali.


Ternyata Yesseh belum kembali, karena aku dormant selama dua bulan, posisi host sekarang dipegang Bang Yohan dengan Kak Yaren sebagai co-hostnya. Aku menanyakan bagaimana PPL yang mereka jalani, mereka berdua tak pernah berurusan dengan perkuliahan, aku sangat khawatir mereka kelimpungan.


Bang Yohan menjelaskan kalau Kak Yaren yang bertugas mengajar di kelas karena Bang Yohan tak mau mengenakan seragam wanita dan memakai jilbab. Aku mengatakan besok aku akan mulai mengambil alih tugas PPL itu.


“Biar kakak aja, Dek.” Kak Yaren menyarankan agar aku istirahat dulu dan memercayakan semua urusan ini pada mereka berdua karena hanya tersisa dua minggu lagi.


“Nanti kamu bantu cek laporannya aja.”


Aku menyetujui pembagian tugas ini. Aku meminta maaf pada karenaku yang lemah membuat mereka berdua harus kerepotan menyelamatkan perkuliahan.


Untungnya functional multiplicity dalam system kami bisa terbilang baik. Kami memang akan kesulitan mengerjakan hal-hal yang bukan di bidang keahlian kami, tapi itu tak membuat kami pasrah sehingga melepaskan tanggung jawab.


Aku sangat bergantung pada Yessehku. Aku selalu berlindung di balik punggungnya. Bersamanya aku selalu merasa aman karena dia adalah core yang selalu meneriakkan, “aku akan menaungi kalian.”


Bang Yohan kalau kami akan mengambil KKN alternatif sehingga tak mengharuskan kami untuk di tinggal di tempat KKN itu dan bisa pulang ke rumah. Waktu yang akan terbuang memang akan lebih lama, tapi setidaknya hal itu akan membuat kami jauh lebih nyaman. Terutama untuk Bang Yohanku, dia tidak akan mau tidur di kamar yang penuh wanita.