Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Namaku Yessica Effendi



Waktu adalah musuh bagi orang-orang yang tak bisa memiliki 24 jamnya secara utuh seperti kami.


Aku menghentikan kegiatan menari Garbaku. Untungnya aku memiliki kebiasaan membiarkan ponsel tetap melekat di tanganku saat aku menari dengan musik. Ada pengumuman di grup UKM Media yang kuikuti. Hari ini tanggal merah, pertemuan yang dadakan sekali. Aku langsung mengganti pakaian dengan gamis dan bergegas menuju kampus. Untungnya ini adalah waktuku, jadi bisa menghadiri pertemuan pertama ini sendiri.


Aku berjalan terburu-buru mencari ruangan yang kutuju dengan kedua tanganku sedikit mengangkat rok gamisku karena ini sedikit kepanjangan. Aku tidak mau terinjak ujung gamisku sendiri dan jatuh mencium lantai.


Ini awal semester empat, aku memutuskan untuk mulai mengikuti unit kegiatan mahasiswa. Sebenarnya aku ingin mengikuti yang lain juga, tapi aku sudah bisa membayangkan kalau aku akan terkendala karena waktu.


Aku berhenti di depan pintu ruangan yang kucari dan langsung masuk ke dalamnya sembari menunggu kedatangan yang lain. Sepi. Sangat sepi. Aku tidak heran karena jam karet sudah menjadi identitas dari bangsa ini. Karena ini pertemuan pertama, sesuai dengan pengalamanku ikut ekskul maupun organisasi di SMA, biasanya pertemuan pertama hanya akan diadakan sesi perkenalan.


Sudah hampir 10 menit berlalu, untung saja aku ini orangnya penyabar tidak seperti kakak kembarku. Muncul pemikiran apakah aku salah masuk ruangan. Aku keluar untuk memeriksa sekali lagi papan label yang ada di depan. Aku membuka grup WA untuk mencocokkannya. Sebuah pesan yang dikirim oleh kontak yang dinamai dengan satu titik. "Fakultas Teknik, Ruang F44.81, hmm sudah benar."


Aku kembali berjalan masuk dengan pandangan yang masih fokus ke layar karena aku sedang membaca struktur organisasinya. Di sana tertulis kalau UKM ini diketuai oleh Reyndra Jayantaka dengan wakil ketuanya Rudrava Mahardian, sekretaris mereka adalah Zivara Kayana.


Aku sedikit menyunggingkan senyum membaca nama itu, karena aku teringat dengan sungai yang menjadi bagian dari masa kecilku. Sungai Kayan.


"Apa baru kamu yang hadir?"


Pertanyaan tiba-tiba yang memecah keheningan itu sangat mengagetkanku sehingga membuat segala lamunanku tentang masa kecil menjadi buyar. Suara tadi membuatku refleks mengalihkan pandanganku ke arahnya.


Di ambang pintu, seorang laki-laki menatapku datar dan dia mengenakan pakaian serba hitam, dia memasukkan tangan kirinya ke saku celananya. Penampilannya, caranya berdiri, dia mengingatkanku pada ia yang sangat aku cintai.


"Iya, Bang," jawabku. "Saya sempat mengira kalau salah ruangan."


Dia tidak menjawabku. Menyebalkan. Dia mengambil satu kursi dan membawanya ke luar. Tiba-tiba masuk seorang gadis dengan sedikit berlari.


"Eh, sudah ada orang rupanya."


Aku merasa lega karena sekarang aku punya teman sesama wanita di sini.


"Yang lain ke mana? Pertemuan pertama sudah terlambat semua."


Sepertinya dia juga punya masalah dengan anger management control persis seperti orang yang aku cintai.


Gadis itu sedikit memicingkan matanya seperti sedang memastikan sesuatu. "Bang ...?" Dia nampak seperti tidak yakin. "Bang Taka?"


Laki-laki itu memalingkan wajahnya ke samping. Sangat kesal nampaknya.


"Kamu gak lihat ini jam berapa?"


"Satu dua lima."


"Nah," gadis itu menggerakkan telunjuknya memukul ruang hampa, "coba kamu lihat waktu yang kamu ketik di grup."


Laki-laki itu membuka ponselnya. "Empat belas tiga puluh?!" Dia sedikit terperanjat dengan apa yang dia baca.


Gadis dengan kulit kuning langsat itu tersenyum. "Kebiasaan kamu memang salah ketik."


Dia salah ketik dan aku salah mata. Aku menyesali keputusanku untuk datang lebih cepat karena takut terlambat, ternyata aku datang terlalu cepat.


Aku melihat dia mengetikkan sesuatu dan bersamaan dia menjatuhkan tangannya ke bawah, pesan baru masuk di grup. "Oh, jadi dia pemilik nomor dengan nama titik itu," batinku. Aku sangat yakin, dia ketuanya. Kalau tebakanku tidak meleset, gadis itu mungkin adalah sekretaris. Berarti mereka berdua adalah seniorku.


Dia mengumumkan perubahan jadwal ke jam dua tepat. Berarti aku harus menunggu setengah jam lagi. Aku sudah merasa jenuh di ruangan ini. "Kak, Bang, saya izin ke kantin."


Mereka berdua mengangguk. Ada seseorang yang ikut berjalan di belakangku. Ternyata dia ikut keluar sambil menggeret kursi tadi dan duduk di depan di samping pintu.


Aku berjalan menelusuri koridor kampus dan mengambil kesempatan untuk melihat-lihat seisi fakultas teknik ini. Kalau tak ada kepentingan, aku tak akan menginjakkan kakiku ke sini lagi.


Tiga semester sebelumnya kegiatan pembelajaran dilaksanakan via daring, karena wabah yang melanda satu dunia.


Tenggorokanku yang sedari tadi terasa kering tampaknya sudah tak bisa lagi diajak kompromi, aku pergi mencari kantin. Mencari kantin, yang ketemu malah bengkel otomotif. Setelah mengikuti papan petunjuk yang ada, akhirnya kantin itu kutemukan.


"Air mineral dua, Bu."


Ibu kantin mengambil dua botol air mineral ukuran sedang dari etalase dan menyodorkannya padaku. "Ini, Nak."


Aku langsung mengambil dan membuka satu tutup botolnya setelah aku membayar, aku memilih duduk di bangku panjang sebelum meneguk airnya hingga habis setengah. Sepertinya ini adalah perpaduan antara capek dan sangat kehausan.


"Es teh satu, Bude." Seorang lelaki berkemeja biru yang sudah mengambil sebotol teh dingin dari kulkas itu menaruh uang di atas etalase. "Uangnya pas, ya, Bude."


"Iya, Rudra." Bude mengambil uang itu dan menaruhnya ke dalam laci.


Mereka berdua berbincang dan nampak sangat akrab. Aku teringat dengan nama yang kubaca di struktur organisasi, aku pura-pura tidak tahu saja kalau dia senior dan pengurus inti di UKM-ku. Aku teringat satu hal, tadi aku cukup lama melihat-lihat, benar saja, sekarang pukul dua kurang satu menit.


Aku langsung berlari sambil memegang satu botol air. Aku sudah tak peduli dengan bayangan diriku jatuh mencium lantai karena terinjak ujung gamisku sendiri. Bayangan dihukum karena telat saat latihan ekskul BARATA di SMA ternyata lebih mengerikan. Sama seperti latihan BARATA, saat ini aku juga lari tunggang langgang, padahal sedikitpun tak terdengar teriakan senior dan meneriakkan angka satu sampai tiga dengan suara yang menggelegar.


"Dikejar setan di mana?"


"Begitukah caramu menyambut juniormu yang berusaha tepat waktu?" batinku.


"Sedang mengharapkan apa?"


Nampaknya dia mengerti dengan ekspresiku saat aku mengetahui ternyata baru sedikit anggota yang sudah berada di ruangan. "Siapa namamu?"


Pertanyaannya itu menghentikan langkahku yang ingin masuk ke dalam, aku membalikkan badanku untuk menjawab pertanyaannya.


"Yessi," jawabku sedikit kesal karena laki-laki itu bahkan tak membalikkan badannya sedikitpun. "Kenapa, Bang?"


"Yessica Mayasari?" Dia bertanya tanpa menoleh. Nadanya terdengar sangat datar.


Pertanyaan yang sangat simple itu mampu membuatku terdiam. Aku bingung harus menjawab apa.


"Ya, sudah. Masuklah."


Aku mengangguk meski dia tak bisa melihatku. Ingin sekali kukepalkan tinjuku dan kuarahkan padanya. Namun, aku tak punya cukup keberanian untuk membuat masalah dengan senior di hari pertama.


Kegiatan ini mau dimulai tapi anggotanya baru ada lima. Cukup keterlaluan. Kami menunggu sebentar lagi dan saat sudah berkumpul sepuluh orang, dia memulai membuka kegiatan ini. Tebakanku tak meleset, kami melakukan sesi perkenalan, harusnya dibarengi dengan pembacaan proker, tapi tak memungkinkan.


"Mentoleransi keterlambatan adalah hukuman bagi orang-orang yang tepat waktu," katanya sebelum membuka ini tadi.


"Namaku Reyndra Jayantaka." Dia selaku ketua memperkenalkan diri pertama kali.


"Nama saya Rudrava Mahardian. Saya suka es teh."


Aku mengulum senyum karena itu. Sepertinya yang dia maksud adalah menyukai es teh dan suka menggoda ibu kantin.


Ternyata ketua dan wakilnya itu berada di kelas yang sama. Fakultas teknik, jurusan teknik otomotif dan keduanya berada di semester 6.


"Nama saya Zivara Kayana."


Benar dugaanku, yang satu itu ternyata sekretaris. Pantas saja dia dan penghuni kutub utara itu terlihat akrab.


Setelah pengurus inti, barulah kami para anggota yang sekarang hanya hadir sebanyak 7 orang ini ikut memperkenalkan diri. Aku berada di kursi paling ujung, jadi aku berada di giliran terakhir. Saat giliranku semakin dekat aku menjadi semakin gugup.


Aku berdiri. "Namaku Yessica Effendi---


Jantungku berhenti sedetik karena aku keceplosan. Aku menggigit bibirku dan melanjutkan seolah tak terjadi apa-apa. "Bisa dipanggil Yessi. Aku berada di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Di sini saya bergabung ke divisi kepenulisan, karena aku suka menulis." Aku menganggukkan kepalaku sekali sebagai isyarat aku sudah selesai.


"Yessica Effendi?"


"Mampuslah aku," batinku. Entah seperti apa ekspresiku saat ini. Aku berusaha tenang semaksimal mungkin.


"Tapi yang tertulis di sini ...," sekretaris itu melemparkan pandangannya ke arahku setelah melihat kertas absen, "Yessica Mayasari?"


"Yessica Mayasari Effendi," jawabku cepat.


"Oh, nama belakang."


Aku tidak berbohong, tapi juga tidak bisa dikatakan jujur.


Sesi perkenalan selesai. Dia mengumumkan di grup kalau sisanya tak perlu lagi datang. Aku membuka ponselku dan memesan Gojek.


"Yang di kantin tadi, ya?" Bang Rudra menghampiriku.


"Iya, Bang. Yessi." Aku mengulangi namaku sekali lagi siapa tahu dia sudah lupa. Mudah bagi junior mengingat pengurus inti, tidak sebaliknya.


"Aku Rudra. Rudrava, Dian, terserah mau panggil apa, asal jangan Mahardi."


"Tadi, katanya terserah, tapi ternyata ada pengecualian," batinku. Orang ini sangat bersahabat. Dia juga menjelaskan kenapa namanya berunsur kehinduan, yang memberikan nama itu adalah penggemar serial dewa-dewa.


"Saya duluan, ya, Bang Rudra." Aku pamit padanya setelah mengobrol sedikit. Aku takut ojek onlineku sampai dan dia menunggu lama.


Aku sengaja tidak menyapa dua orang pengurus inti yang masih nampak sibuk membahas sesuatu itu.


"Yessica Effendi!"


Aku menghentikan langkahku padahal aku baru saja ingin berlari. Tanpa berbalikpun aku sudah tahu siapa yang memanggilku. Aku membalikkan badanku dan menunggu dia menyampaikan alasan kenapa dia memanggilku.


Dia hanya berdiri di sana sambil melihat sesuatu yang berada di genggamannya. Dia menoleh ke arahku dan memicingkan matanya seolah sedang memastikan sesuatu dan menatap sesuatu yang ada di tangannya itu lagi. Aku bisa melihat gerakan mulutnya dari sini yang mengatakan satu kata. "Bukan." Gelengannya tetap terlihat meski samar.


Akhirnya dia berjalan ke arahku dan berhenti saat jarak kami sudah sekitar tiga langkah. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu mengangkat genggaman tangannya sehingga wajahnya tak nampak lagi oleh mataku. Tepat ketika dia membuka tiga jarinya, sebuah benda jatuh dan menjuntai dari sana. Kalung dengan liontin berbentuk setengah, ada simbol warna hitam di tengahnya yang melambangkan feminimitas. Yin.


Aku membuka telapak tangan kananku di bawah liontin itu. Dia menaruhnya perlahan di sana tanpa sedikitpun kulitnya mengenai kulitku.


"Kalungmu ... tadi jatuh."