
“Mampir lagi, ya.” Aku melambaikan tanganku ke Zinnia yang sudah duduk di ojek pesanannya.
Aku masuk ke dalam dan bersiap-siap karena semalam Kayana meminta kami membantunya memasak di rumah untuk anniversary pernikahan orang tuanya. Aku sengaja memilih menggunakan jilbab instan agar lebih praktis dan tidak mengganggu kegiatan memasakku nanti.
Aku naik ke jok belakang driver yang sudah menungguku dan mengangguk ketika dia mengorfirmasi apakah tujuanku sesuai dengan map atau tidak. Besok pemilu, sekarang semuanya sibuk mempersiapkan segalanya untuk persiapan pencoblosan.
Sudah ada Bang Reyndra dan Bang Rudra di dalam, Bang Rudra membalas sapaanku dengan semangat berbeda dengan yang satunya. Aku bertanya pada Kayana tugas apa yang bisa kukerjakan.
“Bik.” Aku menganggukkan kepalaku membalas sapaan dari asisten rumah tangga rumah ini.
“Bantu Reyndra aja, tuh.” Nampak dari air muka Bang Rudra kalau dia memang sengaja meledekku.
Laki-laki itu fokus memotong-motong semua bahan masakannya, dari caranya menggunakan pisau aku sangat yakin orang yang selalu mengenakan kaos dan celana hitam itu mahir memasak.
“Ada yang lain, ha ha ha, yang lebih menantang gitu?” Aku menolak usulan itu. Aku mana cocok berpasangan dengannya, bisa-bisa aku harus menyegel khodam reog yang ada dalam diriku ini.
“Bantu Rudra bikin adonan kue aja.”
Usul itu kusetujui dengan langsung mengambil posisi di hadapan Bang Rudra dan ikut membuat adonan kue yang sama sesuai dengan arahan laki-laki yang menjadi partnerku saat ini.
Sepertinya kami akan membuat banyak, aku menebak mungkin masakan ini akan diberikan kepada anak-anak di panti asuhan.
“Abang pasti gak bisa masak, ya?”
Bunyi mikser juga ikut serta bergabung ke dalam obrolan kami. Aku sengaja menaik turunkan alisku untuk meledeknya.
“Emang Yessi bisa?”
“Bisa.”
“Masak air,” celetuknya seperti tidak terima kalau skill-ku berada di atasnya.
“Gak air doang, ada bahan lain,” jawabku dengan kepedean yang berada di puncaknya.
“Apa?” Nampaknya dia mulai penasaran dengan skill yang kupunya.
“TELOR!”
Tawa kami berdua langsung pecah dengan lawakan receh tak bermutu yang baru saja kulontarkan. Kami berdua susah payah menahan mikser ini agar adonannya tidak belepotan ke mana-mana.
“Kenapa lagi kalian berdua?” Bang Reyndra menegur kami berdua yang masih tertawa.
“Biasa, emang udah setelan pabrik.” Bang Rudra penasaran apakah Yessehku juga receh sama sepertiku.
“Yesseh humornya gelap. Terus recehnya dia bukan karena dia ngelawak.” Aku bingung menjelaskan hal ini. “Dia membawakan sesuatu hal yang serius, tapi bisa terkesan lucu."
Aku juga menjelaskan kalau ada seriusnya Yesseh yang terlihat lucu, ada juga yang bisa menyebabkan kematian.
“Berarti dia gelap luar dalam, ya.”
“Betul.” Aku menjawab dengan semangat karena istilah itu sangat tepat. “Tapi dia masih punya sisi terangnya, Bang.”
Aku memastikan kepada Bang Rudra apakah sahabatnya itu benar-benar jago masak atau tidak.
“Jago dia. Lebih jago dari Nana.”
“Nana?”
“Nana itu panggilan dari Bang Taka.”
Aku mengangguk paham. Yang aku masih tidak paham adalah Bang Reyndra merupakan anggota dari keluarga ini, tapi dia tidak tinggal di sini. Aku sengaja tidak menanyakannya karena ini merupakan privasi.
“Reyndra susah didekati awalnya.” Bang Rudra cerita kalau hanya Bang Taka yang menyambutnya dengan sangat bersahabat di awal.
“Tahu mereka DID gimana?”
Ternyata sebelum mereka berdua bercerita, Bang Rudra sudah tahu lebih dulu. Dengan usahanya yang gigih membuktikan kalau dia bisa menjadi sahabat yang baik, makanya sekarang Bang Reyndra menerimanya. “Reyndra itu cuek-cuek care.”
“Udah selesai?” Bang Reyndra memeriksa pekerjaan kami berdua. “Yessi sana salat duluan.” Bang Reyndra memberitahukan di mana letak kamar mandinya, kami akan salat bergantian karena harus menjaga masakan.
Untuk sekedar menjaga, aku bisa diandalkan. Aku langsung berwudhu dan memakai mukenah yang sudah Kayana siapkan sebelum dia keluar pergi ke warung tadi.
“Saudara-saudara,” aku mendatangi mereka sambil mengangkat rok mukenah yang sudah terlanjur kupakai, “harap jangan ada yang memukul pundakku.”
“Siapa yang mau pukul pundakmu?” Bang Reyndra menggeleng tak habis pikir.
“Bibik?” Aku menoleh pada bibik dan suaraku terdengar cempreng.
“Kan ada laki-laki di sini, Non.”
Benar juga, aku lupa kaidah yang satu itu meski yang kukhawatirkan sekarang adalah yang satunya lagi.
“Baiklah,” aku kembali membalikkan badanku menuju, “salat dulu.”
Selesai salat, gantian aku yang menggantikan kedua laki-laki itu menjaga masakan kami yang sangat banyak. Untunglah Kayana sudah kembali dari warung dan membantuku, dia juga sedang uzur.
Kami selesai di sore hari menjelang asar. Aku memutuskan untuk salat di sini saja. Kayana juga membungkuskanku makanan yang sudah kami masak. Aku menenteng kantong di tangan kananku.
Kos Bang Reyndra ada di sekitar sini, Bang Rudra menginap di sana, sekarang mereka merasa bertanggung jawab atas keselamatanku hingga ojek yang kupesan datang.
“Sepi amat.”
“Kan emang selalu sepi, Rud.”
“Biasanya gak sesepi ini, Reyn.”
“Ada yang nyaleg. Paling kumpul di sana.”
Aku hanya diam menguping kedua lelaki di belakangku ini. Tidak bisa dikatakan menguping juga, wajar kalau terdengar karena jarak kami tak terlalu jauh.
Dari arah depan aku melihat keributan, ada seorang anak laki-laki yang lari dikejar beberapa orang.
“Lagi?”
Mendengar Bang Reyndra mendengkus aku sadar ada yang tak beres dengan anak itu. Dia memperingatkanku untuk menyingkir dari sisi jalan dan kembali masuk ke rumah. Aku mau, tapi badanku tak bisa digerakkan.
Aku pikir aku terkena shock karena melihat seseorang berlari ke arahku memegang pisau. Ternyata aku mengalami disosiasi dan ada orang lain yang mengambil alih. Aku berharap itu Bang Yohan atau Bang Yuxuan, karena berbahaya untuk anggota lain.
Dia menyeringai. Aku rindu pemilik seringai itu, tapi dia tak harus datang di saat yang seperti ini. Karena dia yang datang, aku lebih mengkhawatirkan orang yang ada di hadapannya yang sekarang dia sambut dengan senyum sumringah. Dia berhasil menghindar dan menangkap pergelangan tangan anak itu, tak peduli lagi kalau yang dia cengkeram adalah tangan lawan jenis.
Dia meregangkan lehernya dengan memutarkan 360 derajat. “Pisaumu berkarat.” Dia tertawa melihat pisau dapur itu. “Awas tetanus.”
Aku bangun lagi dan posisiku sudah ada di atas tempat tidur dan keadaan ruangan sudah sangat gelap. Sepertinya ini sudah malam, tanpa berpikir panjang aku keluar dari kamar dan menyalakan lampu.
Saat aku melewati cermin full body, aku melihat penampilanku yang serba hitam, tanpa melihat kalung siapa yang sedang tergantung di leher ini, aku sudah bisa tahu hanya dengan melihat tali hitamnya. “Yang?” Dia benar-benar kembali.
Aku memerhatikan kuku tangan yang sudah dia potong ini, aku mengendusnya untuk mencari bau sesuatu. Wangi. Aku menuju tempat cucian kotor, tidak kutemukan pakaian yang tadi kupakai di sana. Aku langsung naik ke atas dan membuka pintu balkon, langsung disambut dengan gamisku yang sudah tergantung dalam keadaan yang lembab. Dia mencucinya.
Aku juga menemukan sepatu dan juga tas dalam keadaan yang sama. Dia mencuci semua yang tadi melekat di badanku. Aku turun ke bawah lagi untuk mengambil ponselku karena ingin menanyakan sesuatu pada Bang Reyndra ataupun Bang Rudra, kuharap mereka berdua belum tidur.
“Tidur,” intonasi suaranya sangat terdengar kalau dia masih tenggelam. Dia mencengkeram ponsel yang sedang berada di tangan ini kuat-kuat dan menaruhnya dengan sedikit tekanan di meja, “tidurlah, Yessica Effendi.”