Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Bukan, Aku Adek Kembarnya



Aku meraih ponselku untuk mematikan alarm yang berbunyi. Aku menyipitkan mataku untuk memastikan ini hari apa. "Minggu?" Aku melihat tanggalnya untuk memastikan ini hari Minggu yang mana. Ternyata aku tidur selama empat hari, cukup lama untuk posisi seorang host di dalam system.


Aku turun dari spring bed untuk berwudhu kemudian salat subuh. Selesai salat, aku menyadari sesuatu, ternyata rumah ini sudah bersih. Aku memikirkan apa yang kamu lakukan selama empat hari tanpa aku, kuharap ada yang lain menemanimu kemaren. Apa kamu kesepian membersihkan rumah sendiri tanpa mendengar ocehanku? Tentu saja orang sepertimu tidak akan merasa kesepian.


Kita baru tiba di Yogyakarta seminggu lalu. Setelah sibuk dengan urusan ini dan itu, aku memang belum sempat membersihkan rumah. Seperti biasa kamu selalu mendahuluiku seakan kau memang tak mengizinkan aku untuk melakukannya. Kata pemiliknya, kontrakan ini sudah tidak ditempati selama tiga bulan sejak penyewa yang terakhir pindah.


Aku mengecek barangkali ada pekerjaan yang tersisa yang bisa kuselesaikan. Ternyata buku di lemari belum tersusun semua. Aku tersenyum membayangkan kamu yang kelelahan karena tak biasanya kamu tak biasanya kamu meninggalkan pekerjaan yang belum selesai seperti ini.


Aku mengambil sticky note yang ditempel di atas kardus dan membaca isinya. "Baby Girl, kardusnya udah aku bukain semua, tinggal disusun aja. Tolong, ya, Sayang."


Aku menutup wajahku yang sepertinya sudah memerah ini, menahan salting karena membaca catatan yang kau tinggalkan itu. Padahal itu tidak berisi pesan romantis, kalau kamu ada di sini, kamu pasti akan tertawa.


Aku mengeluarkan buku-buku dari dalam kardus yang melanjutkan pekerjaanmu yang belum selesai. Setiap buku punyamu yang kuambil itu mampu membuat lengkungan terbentuk dari bibirku, sebelum menyusunnya ke lemari, aku akan mencium dan memeluknya dulu. Jadilah pekerjaan menyusun buku itu lama selesainya.


Sekali lagi, kalau kamu ada di sini, kamu pasti akan tertawa lebar dengan tingkahku. Novel-novelku sendiri tak terlalu menarik. Aku bisa menyusunnya dalam waktu cepat karena tak ada agenda peluk, cium, dan salting terlebih dahulu.


Setelah itu aku menyeret kardus yang berisi sepatu menuju ke rak. Aku menyusunnya di sana. Kita memutuskan untuk membawa masing-masing sepasang alas kaki, aku menghitung jumlahnya untuk memastikan tak ada yang tertinggal. "Pas, sembilan."


Aku mengecek ke bagian-bagian lain barangkali ada pekerjaan lagi yang bisa kulakukan. Ternyata semuanya sudah bersih. Lantai atas juga sudah dipel. Lantai atas ini sangat luas karena hanya satu ruangan tanpa sekat apapun. "Cocok untuk dance dan ngonten," katamu.


Kurasa karena lantai atas inilah kamu memilih rumah ini dan langsung membayar sewanya full untuk satu tahun ke depan. Aku melihat ke dinding dan pelafon, benar-benar bersih dari sarang laba-laba. Tak heran kau meninggalkan pekerjaan menyusun buku itu karena memang sudah banyak sekali yang kau kerjakan seorang diri.


Aku membuka lemari hitam besar yang didesain menyatu dengan tembok. Di dalamnya baju-baju kita sudah tersusun sangat rapi. Bajuku dan bajumu perbedaan warnanya kontras sekali. Aku penyuka warna kuning namun untuk pakaian aku lebih menyukai warna-warna pastel, tapi kamu serba hitam. Entah kenapa kamu suka sekali memakai hitam-hitam.


Ah, sepertinya aku ingat. "Hitam itu elegant, Baby Girl." Itulah jawabanmu saat kutanyai waktu itu.


Aku melihat pintu samping untuk menuju balkon di mana ada tempat menjemur pakaian. Aku tahu apa yang bisa aku lakukan. Aku turun ke bawah dan merendam semua pakaian kotor. Sembari menunggu rendaman, aku memutuskan untuk menyetrika baju-baju yang akan dipakai untuk kuliah selama satu minggu ke depan.


Aku menyetrika lima lembar gamisku, tiga lembar celana hitammu, lima lembar kaos hitam dan kemeja hitammu. Kalau bepergian dalam waktu lama kamu memang lebih suka mengenakan kemeja karena bahannya yang adem. Tak lupa aku juga menyetrika jilbab-jilbabku dan juga jilbab hitammu.


Aku menggantung semua baju yang sudah rapi itu ke paku yang ada di dinding. Aku turun ke bawah untuk mencuci pakaian dan mandi. Jam di dinding hampir menunjukkan pukul sepuluh saat aku selesai melakukan semua tugas berberes ini.


Perutku yang keroncongan membuatku tersadar kalau aku memang belum makan apa-apa sejak tadi. Bahkan, aku lupa membuat kopi. Ritual rutin pagi hari yang tak pernah kutinggalkan.


Aku mengecek lemari makanan untuk melihat apakah kamu memasak sesuatu.


Ternyata tidak ada apapun, aku berlari ke kamarku dan mencabut ponsel dari pengisi catu daya meski baterainya baru terisi setengah. Aku membuka aplikasi berlogo hijau untuk memesan Go-food.


Setelah lama menggulir layar untuk memilih makanan, akhirnya pilihanku jatuh kepada nasi uduk ayam geprek. Aku menunggu pesananku sampai sambil menggulir beranda Facebook, sesekali tertawa karena meme-meme lucu yang ada di sana.


Tingkah orang-orang yang ada di list pertemananku juga tak kalah lucu dan aneh. Sebenarnya, kamu pasti sangat tahu kalau aku merupakan bagian dari orang-orang yang kusebut aneh itu tadi.


Drivernya sudah di depan, aku bisa melihatnya dari kaca. Aku memakai atasan mukenah karena malas sekali naik ke atas, hal seperti ini sangat biasa saat masih mengontrak di Padang dulu, saat kita masih di Ma'had.


"Pesanan atas nama Yessica Mayasari?"


"Bukan, aku adek kembarnya."


"Ini pesanan punya kakaknya."


"Makasih, Om." Aku mengambil kantong plastiknya dan masuk ke dalam.


Saat sedang asyik menikmati makananku, ada mobil pick up berhenti di depan rumah dan membunyikan klakson berkali-kali. Suara bising itu membuatku menjadi kesal. Aku berdiri dan mencuci tanganku di wastafel dan keluar dengan menarik gagang pintunya sedikit lebih kuat.


"Benar ini rumah Yessica Mayasari?" tanya seseorang yang berada di bek belakang sambil memegang secarik kertas. Aku menebak sepertinya kertas itu berisi alamat.


Aku mengangguk pelan karena tak merasa memesan paket apapun. "Benar."


Aku tahu mereka mengantarkan barangmu, jadi aku membuka pintu lebar-lebar agar mereka bisa membawanya masuk. Sepertinya itu berat, di-packing dengan kayu.


Mereka berdua saling pandang. "Ini yang kemaren ke gudang, kan?"


Aku menggeleng. "Aku adek kembarnya."


"Sudah dibayar lunas."


Aku mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih dan mengantar mereka berdua ke depan. Setelah menutup pintu, kantuk menyerangku. Aku hilang.


Tadi siang ada pegawai ekspedisi yang datang ke sini, ternyata yang mereka antarkan adalah cermin full body. Ukurannya lumayan besar, pantas kamu datang langsung ke gudang. Karena kamu tidak ada di rumah, jadilah aku yang menerima.


Kamu bukanlah orang yang suka mematut diri di depan cermin seperti ini. Pasti itu digunakan untuk menghafal gerakan. Kamu itu memang pencinta tarian, tarian moderen lebih teparnya. Tentu saja tebakanku tidak meleset, karena sekarang aku di sini sedang melihatmu menari.


Wajah serius itu, senyum khas yang lebih cocok disebut dengan seringai itu, gesture tubuh itu, melihat pantulan dirimu dari cermin yang sedang serius melakukan gerakan pasti selalu bisa membuatku senyum-senyum sendiri di belakang sini.


Apalagi ketika kamu melakukan kesalahan, kamu pasti akan tersenyum dan tak jarang tertawa. Adalah kejadian yang langka karena biasanya hanya terjadi di dua keadaan, saat kamu sengaja meledekku atau saat kamu melakukan kesalahan seperti tadi.


Sisanya, tawamu lebih sering muncul di saat-saat yang menurutku tidak pantas untuk ditertawakan. Tidak ada lucunya sama sekali.


Intinya aku suka. Aku suka saat kamu melakukan kesalahan itu, bahkan hal itulah yang paling kutunggu. Aku lebih menyukai kumpulan draf yang berisi kegagalan-kegagalanmu daripada video yang sudah diedit sempurna itu.


"Gimana UKM-mu?" Pertanyaanmu yang tiba-tiba itu membuyarkan fokusku dari kegiatan yang amat aku sukai.


"Alhamdulillah, lancar." Aku menjawab singkat karena tak ada hal menarik yang bisa kubagikan denganmu. "Cuma sesi perkenalan, itupun yang datang cuma sepuluh orang."


"Ada yang ganteng, gak?" Pertanyaan itu pasti kau lontarkan untuk menggodaku, terlihat dari caramu tersenyum sambil menaikturunkan alismu.


"Ada." Aku menahan senyum.


Kamu terkekeh karena pasti sudah menebak jawaban apa yang akan aku keluarkan. "Dasar," katamu.


"Dia mirip kamu, Bang," kataku.


"Hmm."


"Dance centermu gimana, Bang?"


Kamu yang tertarik dengan dance, tapi malah memutuskan untuk bergabung ke UKM Riset karena tidak ada UKM tari modern di kampus kita. Kamu tidak sepertiku yang lebih menyukai tarian tradisional.


UKM Riset memang cocok untukmu yang suka pembahasan berat. Berbeda denganku, tulisan dan pembahasanku cenderung ringan makanya aku lebih memilih bergabung ke UKM Media. Untuk dance, kamu mengambil solusi dengan ikut kelas dance di luar kampus.


"Membosankan, Baby Girl."


Aku sudah bisa menduganya. "Kamu harus mulai berteman, Bang."


"Aku tidak membuat pertemanan."


Aku diam, tidak menjawab lagi karena percuma saja. Khotbahku pasti akan sia-sia persis seperti yang sudah-sudah.


Kamu kembali menyalakan musik untuk melanjutkan kegiatan marking-mu. Aku sangat hafal kebiasaanmu, kamu akan memutar full volume bass yang ada di speakernya.


Selera musik kita sangat berbeda, tapi aku tetap menikmatinya. Maksudku, menikmati yang lain. Karena saat musik itu diputar, itu adalah tanda bahwa aku bisa kembali melanjutkan sebuah kegiatan yang sudah menjadi hobi. Memandangi dirimu.


"Bang ...."


"Iya?"


"I love you."