Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Hasil Diagnosis



Yesseh tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai menghentikan kegiatan push up-nya dan langsung memegang pergelangan tangan kanannya. “Gelang mana, Baby Girl?”


Rasa bersalah langsung menjuluri seluruh tubuhku karena sudah mengira dia yang memutuskannya.


“Sayang?”


“Di lemari,” jawabku lemah dan memberi tahunya kalau gelang itu sudah lama putus sejak awal dia menghilang dan belum sempat kuperbaiki.


“Kamu pasti ngira aku yang mutusin.” Dia terkekeh karena paham sekali dengan sifat overthingking-ku. “Semarah-marahnya aku takkan menghancurkan barang pemberian kalian.”


Dia mengatakan sepertinya gelangnya nyangkut di celananya karena terakhir kali dia memang memakai celana yang di sampingnya ada kancing besinya. Dia memeriksa gelang itu dan mengatakan tidak bisa memperbaikinya sendiri. “Abis isya kita perbaiki gelangnya ke … itu,” dia bingung apa nama tempatnya.


“Bengkel gelang?”


Dia tertawa. “Pokoknya itulah, tempat reparasi gelang.” Dia menaruh gelang tadi kembali ke lemariku. “Sekalian beli es tebu dan lihat lampu-lampu. Aku juga udah lama gak dengar ocehan kamu.” Dia mengatakan aku bisa menceritakan apapun yang sudah kami lewati selama pikniknya kemaren.


Dia membuka laptop dan membaca sebuah dokumen.


“Akhirnya dibaca juga itu DSM Lima.”


Kami sudah berbaikan jadi aku sudah tak takut lagi untuk bercanda dengannya.


“File yang diunduh secara ilegal lewat internet, sia-sia sekali jika tidak dibaca.”


Aku sangat merindukan setiap pilihan katanya yang khas itu. Padahal sudah sekian lama dokumen itu dia abaikan. Sekarang dia membukanya untuk mempersiapkan materi apa saja yang akan dia sampaikan untuk seminar nanti.


“Dua lima tujuh.” Dia membaca daftar isi dan langsung menggulir mencari halaman itu. Dia membacanya sekilas karena kami sudah bosan berkutat dengan bagian ini. Dia beralih ke bagian Differential Diagnosis. “Personality disorder.” Dia kembali ke daftar isi untuk melihat berada di halaman pembahasan mengenai gangguan kepribadian.


“Lima enam lima.” Dia langsung menggulir lagi ke bawah mencari halaman itu. “Paranoid, skizoid, skizotipal---"


Dia mengambil kertas dan pulpen saat membaca di bagian gangguan kepribadian skizoid yang dijelaskan menggunakan bahasa Inggris itu. “Is a pattern of detachment from social relationship and restricted range of emotional expressions.”


Dia menimbang bagian itu dan memutuskan untuk mencarinya agar bisa membaca kriterianya secara rinci dan mencatat poin-poinnya. “Personality disorder cluster A.” Dia berhenti menggulir saat menemukan bagian gangguan kepribadian skizoid dan mulai membaca bagian itu.


Semua yang tertulis di sana sangat related dengan gambaran seorang Yesseh. Dia membuka mesin pencari dan mengetikkan kata kunci menggunakan bahasa Inggris. Yang ingin dia cari adalah apakah pengidap skizoid memiliki keinginan untuk membunuh orang lain.


“Ayang, gak boleh self diagnose.”


“Aku tahu, Sayang.” Dia mengatakan hanya penasaran.


Aku tahu Yessehku bukan orang yang mudah menyerap sesuatu dan mudah melekatkan label-label tertentu pada dirinya.


“Besok kita ke Dokter Syifa, Baby Girl.”


Aku sangat menyetujui hal itu. Dia memang kembali dengan senyum sumringah, tapi senyum sumringah yang tidak bisa dikatakan sebagai hal baik. Aku juga memberi tahunya kalau hari Senin dia harus menghadap dosen pembimbing untuk kembali mengajukan judul skripsi. “Judul yang aku ajukan selalu ditolak.” Aku mengeluarkan sebuah cengiran yang lebar.


Dia tertawa. “Kenapa gak bilang dari tadi?” Dia mengatakan kalau begini alurnya, berarti jalan malam harus ditunda dulu karena dia akan mencari judul skripsi semalaman penuh.


Aku setuju dan mengatakan memang harus memprioritaskan skripsi kami dulu.


“Awas ditolak juga.” Bang Yohan nimbrung.


“Jangan meragukan otakku yang jenius ini.” Dia merentangkan kedua tangannya. Jumawa. Tak lupa dia memuji dance Bang Yohan yang ada di akunnya saat menggantikannya menjadi tulang punggung system ini.


Bang Yohan ikut jumawa karena tak biasanya adek perempuannya yang selalu lupa gender ini memujinya.


Aku mengkhawatirkan satu hal. Dua hari Yesseh menghilang tanpa kabar di waktu bimbingan yang sudah aku dan dosen sepakati.


“Gimana rasanya ngurus system?” Yesseh menaik turunkan alisnya berkali-kali sengaja meledek abangnya.


“Sialan kau, lama amat perginya.” Bang Yohan menceritakan kesulitan apa saja yang harus dia hadapi, yang paling menyebalkan adalah dia harus terpaksa menggunakan topeng untuk menjadi Yesseh.


“Kagak kepincut gadis desa waktu KKN kan, Han?”


“Ini anak kalau ngomong suka sembarangan.”


Yesseh terbahak dan berhenti menggoda abangnya karena azan berkumandang.


Sesuai dengan yang Yesseh katakan, esok paginya dia kembali menemui Dokter Syifa.


“Bagaimana kabarmu, Yesseh?”


“Baik, Dokter.”


Mereka sedikit berbincang karena ini pertemuan pertama setelah sekian lama Yesseh menghilang. Beliau menyerahkan kertas berisi beberapa diagnosis dan


Yesseh membacanya. Dia hanya bereaksi mengeluarkan senyum miringnya.


“Apa saya sedang berada di kasir Alfamart?”


Tertulis empat diagnosis di sana meliputi Dissociative Identity Disorder, Schizoid Personality Disorder, Intermitten Explosive Disorder dengan tulisan suspect di sampingnya, serta Gender Dysphoria.


“Kenapa anda harus menuliskan DID di sini?” Yesseh menunjuk diagnosis yang ditulis dengan tulisan tangan yang berada di urutan paling atas itu.


“Aku harus menuliskannya dengan lengkap.” Dokter Syifa mengatakan memiliki rencana untuk merujuk Yesseh pada temannya.


“Teman?”


“Di Guangdong.”


Yesseh tersenyum miring dan sedang menebak-nebak siapa yang sudah membocorkan rencananya. "Darimana anda tahu?”


“Yohan mengatakan kalian berencana pergi ke Sichuan.”


Yesseh hanya mengangguk-angguk setelah mengetahui siapa biang keroknya. “Intermitten itu apa?”


“Sebuah kelainan yang ditandai dengan emosi yang meledak-ledak meski penyebabnya hanya masalah sepele.”


“Oh,” dia mengangguk sebentar, “jadi penyakit sialan yang satu itu ini namanya.” Dia menunjuknya menggunakan ujung kuku telunjuknya. “Suspect?”


“Diagnosisnya belum final.”


“Kenapa anda menulis gender dysphoria?”


“Menurut pengakuan yang lain, kau selalu lupa gendermu.”


Yesseh mengatakan kalau itu bukan gender dysphoria.


“Lalu apa?”


Sudah lama sekali aku tidak melihat Dokter Syifa memijat keningnya.


"Kenapa kau sangat santai?”


“Meski anda menuliskan seribu diagnosis di sana, aku akan tetap santai.”


“Kenapa bisa?”


“Karena yang kurasakan tetap sama.”


Dokter Syifa mengangguk paham dengan pola pikir klien yang sudah lama tak menjumpainya ini.


“Terapi apa yang harus saya jalani?”


“Aku lupa menulis asexual same *** attraction di sana.”


Yesseh tertawa dan mengatakan kedua hal itu bukanlah hal penting.


“Kau benar-benar mengingatkanku padanya.”


“Siapa?”


“Temanku.”


“Baik, Dokter," dia berdiri, "saya tidak tertarik dengan teman anda.” Dia pamit pergi karena sesi mereka habis.


Karena hari masih sore, Yesseh memutuskan untuk pergi ke tempat reparasi. Dia sudah merencanakan ini, pantas saja dia mengambil sesi sore hari. Kami menungguinya karena tukang reparasinya mengatakan tidak butuh waktu lama untuk memperbaiki gelang itu. Benar saja, bahkan kami menunggu tak lebih dari lima menit. Yesseh mengambil gelang itu dan langsung membayar jasanya kemudian pergi mencari masjid terdekat. Sebentar lagi masuk waktu Maghrib.


Kami akan santai jalan-jalan malam ini karena dia sudah menemukan judul untuk skripsinya malam tadi.


“Tahsin imamnya tadi bagus, ya, Sayang?”


"Iya, Ayang."


Kami sempat mengaji dengan guru bersanad. Lidah kami belum fasih dan masih sangat berantakan untuk urusan tahsin, tapi telinga ini sudah peka dengan kesalahan bacaan. Masjid di sini sangat bersih, wangi, dan nyaman. Dia betah dan memutuskan untuk menunggu di sini hingga waktu Isya tiba.


“Jam segini belum ada lampu-lampu.”


Aku menyetujuinya.


Dia mengambil Al-Quran tanpa terjemah, sepertinya dia tidak ingin menangis di sini. Percuma saja, kami sempat belajar bahasa Arab sebentar di Ma'had sehingga dia bisa sedikit mengetahui arti ayat yang sedang dibacanya. Air matanya menetes.


"Maafkan hamba-Mu, ya Rabb, karena kemaren telah kalah."


Setelah salat Isya, dia langsung melipat mukenahnya dan menggantungnya dengan rapi di gantungan yang tersedia. Dia menghela napas melihat sepatunya kotor terinjak-injak. Dia mengeluarkan kunci motornya dari saku celananya. Motor Yesseh kembali membelah jalanan Jogja.


“Fokus ke depan, Sayang.”


Aku lupa. Kepalaku adalah kepalanya. Mataku adalah matanya.


“Maaf, Ayang.”


Setelah membuatku puas melihat lampu-lampu, kami pergi ke tempat es tebu. Hujan tiba-tiba turun tepat saat dia mengaitkan es tebu itu di pengait motornya. Dia kembali melajukan motornya dan aku tahu dia tidak menuju ke arah jalan pulang.


Dia memarikirkan motornya di sisi jalan dan menaruh jaket yang sudah dia lepaskan ke jok motornya. Dia malah menaiki pagar jembatan dengan melompat kecil dan itu membuatku terkejut. Dia menatap arus sungai yang sedikit deras di bawah jembatan ini. Dia bergeming.


“Tidak baik berlatih keseimbangan di sana di hari hujan begini.” Suara berat seorang laki-laki yang sudah sangat kukenal.


Yesseh tidak menjawab dan benci kedatangannya karena dia tidak mau diganggu.


“Aku tidak bisa berenang. Kalau kau jatuh, aku akan ikut melompat. Kita tidak akan selamat melainkan akulah yang akan ikut mati bersamamu.”


“Sungai Kali Code tidak dalam.”


“Kalau begitu jangan korbankan kepalamu.”


Yesseh bereaksi dan mengambil ancang-ancang untuk melompat.


“YES!” Dia panik.


Yesseh melompat ke belakang. Perbuatannya itu membuatku jantungku hampir lepas. Sepertinya jantung milik laki-laki di belakangnya itu juga sama.


“Kenapa kau di sini?” tanyanya kesal pada laki-laki yang sedang memakai jaket hitam itu.


“Jembatan ini, tempat di mana kau menendangku pertama kali, dia memanggilku.”


Yesseh tersenyum miring. Dia berdiri dan mendekat ke pagar jembatan untuk kembali melihat arus sungai. “Bagaimana rasanya dipahami oleh keluargamu?”


“Kedua orang tuaku meninggal saat kecelakaan kapal di laut. Hanya aku yang tersisa.”


“Sorry.” Yesseh sedikit merasa tidak enak dengan itu. “Yang kumaksud adalah ayah dan bundamu.”


“Rasanya membahagiakan karena tak ada yang harus kututupi.” Dia menyodorkan jaketnya pada Yesseh. “Ayo, kita pulang.”


“Aku sudah basah. Kuyup. Jaketmu tak berguna untukku.”


“Hujannya sangat deras.” Dia tak menarik tangannya. “Aku tak mau tubuhmu langsung dihantam hujan.”


“Aku bawa jaket.” Yesseh menunjuk jaket yang ada di atas joknya.


Lelaki itu akhirnya menarik tangannya. “Bagaimana dengan keluargamu?”


Tangan Yesseh menengadahi air hujan yang sangat deras ini. “Yesseh itu tidak ada. Yohan itu tidak ada. Yaren itu tidak ada.”


“Apa yang kau katakan?”


“Aku tidak mengatakan apapun.”


“Seharusnya kau mau mengatakan apa.”


“Akulah Yesseh. Aku Yessica Mayasari.” Yesseh tersenyum sambil memainkan-mainkan air hujan yang jatuh menabrak telapak tangannya. “Mamaku bahkan tak bisa mengenali putrinya dengan benar.”


“Apa kau sedih?”


“Kesedihan tak diciptakan untukku.”