Yesseh: Y System'S Core

Yesseh: Y System'S Core
Tenggelam



“Bawa baju ganti, kan?” Kayana membalikkan badannya ke belakang melihat ke arah ketiga laki-laki yang sedang duduk di bangku tengah ini.


“Bawa lah, Na, kan kita nginap,” jawab Bang Rudra.


Bang Reyndra sedari tadi hanya diam dan berusaha tidur, dari gelagatnya sepertinya dia mabuk perjalanan. Bang Rudra duduk di tengah-tengah mereka.


“Bang, nama potongan rambutnya apa?” tanya Bang Rudra saat melihat Bang Yohan menyugar rambutnya menggunakan kedua tangan.


“Kurang tahu, Rud.” Bang Yohan mengatakan kalau dia memberikan video referensi ke tukang cukurnya. “Udah agak panjang juga ini.”


“Tetap ganteng kok, Bang.”


Aku tertawa dari dalam sini melihat respon Bang Yohan yang kaget sekaligus geli.


“Itu muka kenapa, Bang?”


“Jangan dekat-dekat, Rud.”


“Aku normal, Bang, suka cewek.”


Bang Yohan juga tak mau kalah mengatakan kalau dia juga normal dan suka cewek. Aku hanya tertawa melihat keributan mereka berdua.


“Udah, kita diketawain Yessi dan Kayana.”


“Yessi bisa lihat aku gak, Bang?”


“Bisa, dia co con gak jauh di belakang soalnya.” Bang Yohan menjelaskan tentang co consciousness sedikit lebih banyak pada lelaki yang baru saja memujinya kegantengannya tadi.


Bang Rudra mengajak Bang Yohan ikut potong rambut selepas mereka pulang dari pantai. “Ke salon langganan kami berdua.” Dia menunjuk dirinya dan sahabatnya yang sudah tepar itu bergantian.


Bang Yohan mengatakan dia setuju dan akan ikut, karena rambutnya juga sudah panjang dan poninya juga selalu mengenai mata.


“Tapi salon khusus cowok sih, Bang.”


Bang Yohan tertawa dan mengatakan dia juga tak sudi masuk salon khusus wanita.


“Atau kita cari salon yang tanpa gender aja, Bang.”


Bang Rudra memang peramai suasana, biasanya dia selalu collab denganku. Mereka sampai dan langsung menuju penginapan yang sudah mereka pesan.


“Mual, Reyn?” Bang Yohan memberikan air putih pada Bang Reyndra.


“Iya, Bang.” Dia mengambil itu dan langsung meminumnya setelah mengucapkan terima kasih.


Mereka memutuskan untuk melihat pantai setelah mual yang dirasakan Bang Reyndra sedikit mereda. Mereka memesan tiga kamar dan sekarang kami sedang beristirahat di kamar masing-masing. Bang Rudra dan Bang Reyndra berada di kamar yang sama.


“Abang bisa berenang?”


Abangku mengatakan kalau dia belum tahu karena belum mencobanya secara langsung. Aku dan Yesseh sendiri tidak bisa berenang karena tidak tahu teknik pernapasan yang benar.


“Bang, nanti hati-hati sama boleran.”


Bang Yohanku bertanya apa itu boleran dan aku menjelaskannya. “Boleran juga disebut dengan rip current atau arus pecah, adalah alasan kenapa orang-orang bisa hilang ditelan arus lautan.”


“Bisa tahu itu boleran, gimana?”


“Bukannya kalau tenang artinya aman?”


“Yang nampak tenang bisa berubah menjadi sesuatu yang paling mematikan.”


Bang Yohan bertanya apa solusinya kalau sudah terlanjur masuk ke dalam boleran itu.


“Jangan berenang melawan. Percuma, akan terus tertarik ke palung laut.” Aku menjelaskan solusi untuk keluar dari boleran adalah berenang ke sisi kanan atau kiri sampai benar-benar keluar dari arus pecah itu, barulah bisa berenang kembali ke arah pantai.


Aku pernah sekali tertarik ombak waktu mandi di pantai bersama anak-anak ngaji, untungnya aku kembali selamat karena didorong kembali ke pantai oleh ombak yang baru datang. Saat itu untung saja aku tidak masuk area boleran. Ini kali pertama Bang Yohan ke pantai makanya aku memperingatkan bahaya apa saja yang mungkin dia hadapi, apalagi aku belum tahu apakah Bang Yohan punya kemampuan berenang yang mumpuni.


Mereka keluar setelah salat Asar, Bang Yohan sengaja memilih kaos dan celana warna hitam agar kalau itu basah pakaiannya tidak tembus pandang. Bang Rudra dan Kayana sudah bermain air sedari tadi, Bang Yohan masih berada jauh dari sisi pantai dan masih sangat kering. Dia memerhatikan mereka bertiga seolah dia adalah seorang abang yang sedang menjaga adek-adeknya.


Bang Reyndra bergeming menatap ke arah lautan sana, entah apa yang dia pikirkan. Dia bahkan jarang sekali bersuara sejak pagi. Dia mulai berjalan.


“Reyn, udah bisa berenang?”


Teriakkan Bang Rudra refleks membuat Bang Yohan bergerak mendekat ke arah sana. Bang Rudra memberi tahu kalau yang jago berenang adalah Bang Taka dan Reyndra memiliki trauma terhadap laut. Apa dia sedang menguji sesuatu, kemampuan Jayantaka yang mungkin saja sudah dia miliki.


Lama dia tak muncul. Bang Yohan bertanya padaku apa area sana adalah boleran, aku menjawab bukan. Bang Rudra langsung ikut menyelam karena khawatir pada sahabatnya. Kayana ikut khawatir, agak lama Bang Rudra juga tidak muncul. Bang Yohan ikut melompat mencari karena dia tahu pasti ada yang salah.


Setidaknya aku bisa sedikit lega, kemampuan renang Bang Yohan lebih baik daripada kami berdua, tapi di mana mereka berdua, mata ini sudah pedih karena berusaha untuk tetap terbuka di dalam air. Aku merasa mulai kehabisan napas, aku tidak tahu bagaimana caranya naik ke permukaan karena Bang Yohan menghilang. Pantas saja rasa kehabisan oksigen ini terasa sangat nyata, sekarang akulah yang benar-benar sedang fronting di dalam laut ini.


Sekelebat bayangan Yesseh tenggelam waktu kecil terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku rasanya sudah tidak terhubung lagi dengan dunia nyata. Aku berharap ada malaikat penolong yang akan menyelamatkan kami bertiga. Atau setidaknya salah satu di antara Bang Reyndra ataupun Bang Rudra. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku merasakan ada seseorang yang melingkarkan tangannya di pinggangku.


Saat aku kembali membuka mataku, wajah Kayana dengan mata yang sangat sembablah yang pertama kulihat. Aku memintanya mencarikan sesuatu yang bisa menutupi kepalaku.


Aku melihat kedua lelaki ini juga ikut pingsan di sisi kiri dan kananku. Aku ingin bertanya siapa yang berhasil menyelamatkan kami saja aku masih tidak sanggup. Aku memutuskan kembali memejamkan mataku seolah aku sedang berbaring di atas spring bed empuk saat ini.


Nyaman sekali. Lega sekali rasanya ternyata aku masih berada di dunia. Aku belum siap menemui kematian. Aku lebih-lebih belum siap lagi untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Padahal, aku tidak mukallaf, tapi bayangan kehidupan setelah kematian masih selalu membuatku merinding. Air mataku sampai jatuh membayangkan hal mengerikan itu.


Aku mendengar lelaki di sebelah kananku merintih. Bang Reyndra sudah siuman, tinggal menunggu Bang Rudra. Aku sendiri masih berbaring lemah di sampingnya, aku masih belum mau menggerakkan badanku. Aku heran kenapa Bang Reyndra harus masuk ke air kalau dia punya trauma dengan laut. Aku berharap itu tadi bukanlah rencana bunuh diri.


Kami kembali ke penginapan dengan kondisi badan bagian depan yang kering karena berjemur lama di bawah terik matahari sore dengan badan bagian belakang yang kotor karena pasir dan basah. Aku tak peduli kalau aku sekarang sedang berjalan dengan penampilan Bang Yohan. Persetanlah terlihat ganteng di mata orang-orang.


Aku mencari pakaian yang bisa kupakai di dalam tas yang Bang Yohan bawa. Dia benar-benar hanya mempersiapkan satu jilbab siapa tahu ada anggota perempuan yang fronting. Sedangkan untuk baju dan celana, dia hanya membawa punyanya. Terpaksa aku memakai kaos pendeknya dan mengenakan kemeja sebagai outer, aku terpaksa memakai celananya juga karena dia tidak membawa satupun rok untukku, aku juga lupa mengatakan hal itu padanya. Sekarang, penampilanku mirip Yesseh, karena baik Yesseh maupun Bang Yohan keduanya sama-sama menyukai warna hitam.


Kami berempat berencana ingin makan malam di luar. Aku kaget saat berbalik sehabis mengunci pintu, ada Bang Reyndra dan Bang Rudra yang sudah menunggu kami berdua karena kamarku dan Kayana bersebelahan.


“Makasih.” Bang Reyndra berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan mereka berdua.


Aku langsung membulatkan mataku dan menganga saat mendengar itu.


“Tolong bilangin ke Bang Yohan.”


Mulutku mungkin menganga lebih lebar dari yang sebelumnya karena dia mengira Bang Yohan yang menyelematkan mereka berdua.


“Reyn …,”


Kami bertiga refleks menoleh ke arah Kayana yang entah baru balik dari mana.


Wajah Kayana nampak sangat heran.


“Kamu yang bawa mereka berdua keluar dari laut.